Madelin Wanita Tangguh

Madelin Wanita Tangguh
29. Rencana Baru Penyihir


__ADS_3

"Kau ingin ke mana?" Jonatan melirik Nyonya Lily dari kaca spion mobilnya.


"Terserah. Bawa saja, aku ke tempat sepi yang kau ketahui," ujar Nyonya Lily tenang.


"Baiklah."


Setelah itu Jonatan mengendarai mobilnya sedikit lebih laju dari sebelumnya. Dia harus menghemat waktu.


Jonatan membawa Nyonya Lily ke sebuah gereja tua terbengkalai. Ia sengaja memilih lokasi itu, karena ia tahu, bahwa Nyonya Lily sendiri sudah mengenal tempat itu dengan baik.


"Turun!" perintah Jonatan.


Maka Nyonya Lily akhirnya turun dari mobil Jonatan. Setelah ia turun, Jonatan memintanya wanita tua itu untuk masuk ke dalam gereja tersebut.


"Berdirilah di atas mimbar itu!" perintah Jonatan. "Dan akui semua dosamu di sana. Ucapkan dengan lantang karena aku ingin mendengar, suara pendosa sepertimu, dapat terdengar di telingaku dengan jelas."


Nyonya Lily mengikuti perintah dari Jonatan. Kakinya bergetar mengikuti menaiki mimbar. Dan matanya bisa melihat dengan jelas, bagaimana Jonatan duduk di salah satu bangku, yang biasanya digunakan jemaat.


"Aku ... aku Lily Quin, tidak pernah membunuh Arabela. Aku bersumpah demi Tuhan, tidak pernah membunuh teman baikku yang sudah aku anggap seperti keluarga sendiri," ucap Nyonya Lily lantang.


Jonatan mendesis. "Dasar tidak tahu malu," gumamnya muak.


"Di hadapan Tuhan, aku berani bersaksi bahwa aku tidak pernah bisa membunuh orang paling berharga dalam hidupku." Nyonya Lily kemudian terisak-isak. "Tuhan ampuni aku namun jangan kau buat teman baikku, Arabela semakin tersiksa di alam baka sana."


"Hentikan sandiwaramu, aku muak." Jonatan berdiri dia lalu berjalan ke arah mimbar. "Terlihat dengan sangat jelas, bagaimana wajahmu itu berbohong di depanku. Aku tahu, bahwa kau yang membunuh Nyonya Arabela. Kau memberinya racun dan membuat tubuhnya semakin lemah. Tapi bisa-bisanya kau berbohong, dan sanggup membawa-bawa Tuhan di sini." Jonatan semakin mendekat dan Nyonya Lily semakin gemetar ketakutan.


"Aku sengaja membawamu kemari, agar kau bisa sedikit mengingat perilaku burukmu. Tempat ini merupakan, tempat pertama kali kau dan Nyonya Arabela bertemu. Aku pikir, dengan membawamu kemari, hatimu akan sedikit terketuk. Namun aku salah. Iblis tetap iblis, tidak akan pernah mungkin berubah menjadi malaikat." Kini Jonatan sudah berdiri tepat di depan Nyonya Lily. "Kau bisa ucapkan kata-kata terakhir, sebelum aku menghilangkamu untuk selamanya," ujar Jonatan sembari menodongkan pistolnya tepat, di depan wajah Nyonya Lily.

__ADS_1


Tidak ada balasan. Nyonya Lily hanya diam. Ia bahkan terlihat menunduk.


Jonatan menarik seulas senyum licik. Tanpa ragu, dia menembak Nyonya Lily dengan pistolnya.


DOR


Satu peluru jatuh. Dan tidak lama kemudian, tubuh seseorang jatuh bersimbah darah.


"Keparat!"


Nyonya Lily tersenyum puas. Dia berhasil melukai Jonatan. Wanita itu rupanya diam-diam menyimpan pistolnya di celana. Cukup lama dia berpura-pura ketakutan, namun kali ini jelas ia menunjukkan sosoknya yang asli.


"Kata-kata terakhir?" Nyonya Lily menodongkan pistolnya tepat di depan dada Jonatan.


Jonatan mengerang kesakitan. Nyoya Lily menembak bahunya. Setengah mati ia mencoba bangkit namun rasanya susah sekali.


***


Alis Tuan Fred terangkat sebelah. Ia merasa heran, mengapa di meja kerjanya terdapat sepucuk surat dengan bercak berwarna merah seperti darah.


Pria itu sebenarnya ingin membuang surat tersebut. Baginya mendapat surat teror seperti ini bukanlah hal yang baru. Ia sudah sering mendapatkan surat berisi ancaman yang kerap kali mengganggunya. Namun karena ia sudah terbiasa, ia hanya mengabaikannya.


Namun entah mengapa kali ini, ia justru memiliki keinginan untuk membuka surat tersebut. Firasatnya seperti mengatakan bahwa ada sesuatu yang perlu, ia ketahui dari surat itu.


Maka tangannya terulur untuk mengambil surat itu, ia lalu membukanya dan membaca isinya. Setelah membaca surat itu tangannya sedikit bergetar.


"Tidak mungkin ... bagaimana mungkin aku bisa membiarkan seorang pembunuh hidup di dalam keluargaku selama ini." Tuan Fred tanpa sadar meremas isi surat tersebut. Namun di salah satu tangan lainnya, ia memegang selembar foto yang merupakan bukti kejahatan, yang dilakukan oleh Nyonya Lily pada istri tercintanya yaitu Arabela.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin aku menikahi seorang wanita yang telah membunuh istriku sendiri?" gumam Tuan Fred tidak percaya.


***


"Aku ingin kau bekerja untukkku secara khusus kali ini," ujar Flora tegas.


Seorang laki-laki muda, dengan wajah khas Asia Timur yang enak dipandang. Terlihat duduk santai di sofa, sembari menghisap rokok dengan nikmat. Penampilannya modis dan ia memiliki kesan anak nakal.


"Apa kau ingin aku melakukan sesuatu? Apa kali ini adalah pekerjaan kotor?" tanya laki-laki muda itu agak malas.


Flora tersenyum. "Jangan terlihat malas seperti itu. Pekerjaanmu kali ini, akan jauh lebih menarik dari sebelumnya. Dan untuk pekerjaan barumu ini, aku akan memberikan bayaran yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Ini akan terasa menyenangkan untukmu, percayalah padaku."


"Kau selalu bermulut manis seperti ini. Cih, aku jadi muak denganmu."


Flora mengambil amplop dari tasnya. Lalu menyodorkannya pada laki-laki itu. "Nike ... aku harap kau menyukainya. Di dalamnya ada cek dan surat berisi tugasmu yang harus kau lakukan."


Nike mengambil amplop itu dengan malas. Ia lalu melirik sekilas ke dalam amplop itu. Dan benar saja jumlah cek yang diberikan oleh Flora, benar-benar tidak main-main nilainya.


"Apa ****** selalu bertingkah seperti ini?" Nike mengayun-ngayunkan isi amplop tersebut. "Baiklah, aku akan melakukannya. Lagi pula bayaranmu cukup bagus kali ini." Nike kemudian menyimpan amplop itu di jaketnya. Dia bangkit berdiri, mematikan rokoknya lalu membuangnya dengan sembarangan. "Namun jangan terlalu senang dulu. Jika tugas kali ini, terasa tidak menyenangkan untukku, maka aku tidak akan pernah ragu untuk berhenti di tengah jalan. Bayaran mahalmu tidak akan berlaku untukku. Kau juga tidak boleh mengambil kembali uang yang sudah kau berikan padaku."


"Tenang saja. Aku percaya diri, tugas ini akan menjadi sangat menyenangkan untukmu." Flora menatap Nike yang sudah berbalik dan berjalan menjauh darinya. Dari belakang terliaht punggung anak muda itu berjalan dengan langkah malas. Flora hanya tersenyum melihatnya, ia terlihat tidak tersulut sama sekali, meski Nike terus bersikap kurang ajar padanya.


"Aku percaya kau akan menemukan sesuatu yang menarik Choi Nike," gumam Flora puas.


"Kau bicara dengan siapa tadi?" Tiba-tiba saja Sam muncul dengan nampan berisikan buah di tangannya. Terlihat tangan kiri pria itu diperban.


"Ah rekan kerjaku. Bisa dibilang pegawai kesayanganku. Dia masih muda dan sifatnya pemberontak sekali. Aku baru saja memberinya pekerjaan baru, dan ia jutru mengomel," keluh Flora.

__ADS_1


"Harusnya kau lebih tegas." Sam meletakkan nampan tersebut di depan Flora. "Makanlah aku sudah memotong buah kesukaanmu."


__ADS_2