
Dan pesta di malam itu berakhir cukup kacau. Namun beruntunglah pertengkaran, yang dilakukan oleh Sam dan Jonatan tidak benar-benar menghancurkan pesta. Pertengkaran mereka berhasil diredam oleh Madelin.
Malam itu Madelin pulang ke rumah sendirian. Sam tidak ikut pulang bersamanya. Setelah pertengkaran itu, Sam menghilang begitu saja.
Madelin sendiri bahkan pulang ke rumah setelah diantar oleh Jonatan. Pada awalnya, ia menolak namun setelah mendapati Sam menghilang, dan entah berada di mana, akhirnya Madelin mau tidak mau menerima tawaran Jonatan. Ia sadar diri, berlama-lama di pesta hanya akan membuatnya semakin malu.
***
Villa Flora
"Minumlah ini Sam." Flora menjulurkan jus apel kesukaan Sam, yang seperti biasa sudah dicampur narkotika di dalamnya.
Sam tersenyum tipis. Mengambil gelas tersebut dari tangan Flora, dan menghabiskan jus apel itu dalam sekali teguk. Dan setelah ia meminum jus tersebut, ia membaringkan dirinya di sofa empuk milik Flora.
Flora kemudian memangku Sam. Sembari mengelus-elus rambut pria itu. Ia mulai membicarakan kembali, kejadian buruk yang ia alami di pesta.
"Aku tahu ini mungkin, terdengar kurang menyenangkan bagimu. Namun, Madelin tidak sengaja menyiramku dengan minumannya. Alhasil gaun yang aku kenakan, menjadi kotor. Madelin sedikit ceroboh malam ini," cerita Flora.
"Tolong maafkan Madelin, ia pasti tidak sengaja melakukannya. Apa kau ingin, agar aku mengganti gaunmu?"
"Aku tidak butuh ganti rugimu melainkan, pembelaan darimu Sam. Kau benar-benar buruk dalam memahami wanita." Flora pura-pura merajuk.
Sam terdiam, dia bangun dari pangkuan Flora. Ia lalu mengecup pipi Flora, dan memeluknya erat. "Maaf-maaf ... karena diriku yang bodoh ini, tidak bisa memahamimu dengan baik."
"Dasar kau yang bodoh ini, justru selalu berhasil mencuri hatiku." Flora bersemu merah dan terlihat ia menikmati rayuan tersebut. Flora sadar diri, bahwa ia selalu saja mudah termakan bujuk rayu Sam, karena ia sendiri terlanjur menyukai pria itu.
Flora lalu mengeluarkan bungkusan plastik kecil dari, tas kecil miliknya. Ia lalu membuka bungkusan itu dan menyerahkan sebuah pil kecil berwarna merah pada Sam.
"Apa ini?" tanya Sam penasaran.
"Obat tidurku. Ini aman, aku mendapatkannya dari dokter pribadiku. Aku rasa kita berdua sama-sama lelah. Kita berdua pasti akan kesulitan tidur. Karena itu aku memberikannya padamu. Percayalah padaku obat ini aman," kata Flora membujuk Sam.
"Baiklah kalau begitu aku ambil obat ini." Sam mengambil obat itu lalu meminumnya. Dia terlihat sama sekali tidak curiga. Tidak lama setelah menelan obat itu, Sam langsung jatuh tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Flora tersenyum mendapati Sam tidak sadarkan diri. Obat yang ia berikan pada Sam, sebenarnya merupakan narkotika yang jauh lebih tinggi kadar zat di dalamnya. Dan obat itu, khusus ia miliki dan memiliki harga sangat mahal. Obat itu akan membuat penggunanya langsung tidak sadarkan diri saat meminum dan tidak lama akan mengalami delusi setelah bangun.
"Flora ... menga ... mengapa ... aro ... aromaa ... di ... kam ...r ... ini ... sa ... ngat ... ma ... nis ... se... kali?" tanya Sam terbata-bata. Pria itu dalam keadaan setengah sadar mulutnya dipenuhi dengan air liurnya yang banjir dan juga matanya terpejam sebelah. Pria itu seperti dalam keadaan mabuk.
Flora tertawa. Mengecup pipi Sam sekilas. Lalu memeluknya erat-erat dan berbisik di telinganya seperti ini. "Nikmati saja semuanya ini sayang," bisiknya dengan suara gembira.
Sam hanya mengangguk-angguk seperti orang bodoh. Ia mengiyakan Flora, dan tidak lama ia merasa bahagia dan tertawa seperti orang gila. Di mana tawanya itu, juga ikut disambut oleh tawa Flora yang semakin menggelegar.
***
"Darimana saja kau?" tanya Madelin khawatir, begitu melihat Sam pulang dalam keadaan kacau.
"Tidak penting. Biarkan aku masuk." Sam menerobos masuk ke dalam rumah.
Madelin hanya bisa menghela nafas. Ia sadar, bahwa suaminya pulang dan menguarkan aroma yang menusuk hidungnya.
Setelah selesai mandi, Sam kemudian duduk di meja makan. Ia menunggu Madelin menyiapkan sarapannya.
"Tunggu sebentar." Madelin kemudian mengambil roti panggang yang sebelumnya, ia buat.
"Apa-apaan ini?" Sam terlihat tidak senang mendapati roti panggang tersebut tersaji di depannya.
"Memangnya ada yang salah?" Madelin heran dengan tingkah laku suaminya itu yang kasar.
"Aku tidak ingin makan." Sam menjauhkan piring tersebut darinya. "Hanya ada roti panggang seperti ini? Rasanya aku tidak mungkin memakannya."
"Bahan-bahan di rumah hampir habis. Kau juga belum memberiku uang belanja." Madelin berusaha bersabar menghadapi perilaku aneh Sam.
Sam mengeluarkan dompetnya lalu menghempaskan uang di meja makan. "Ini! Seharusnya kau tahu cara menghemat menggunakan uang. Apa kau tidak sadar diri dengan kondisi keuangan kita saat ini?" tanya Sam dengan agresif.
Madelin mengambil uang itu dan berniat untuk tidak meladeni Sam. Tingkah laku Sam di pagi hari ini benar-benar membuatnya jengkel setengah mati.
***
__ADS_1
PRANG
Madelin melempar piring yang ia tengah cuci. Muak ... muak perasaan itu sudah memenuhi dalam dirinya. Bisakah ia melewati situasi saat ini? Sam bertingkah seperti orang bodoh. Tidak bisa menjadi kepala keluarga yang baik. Namun selalu memerintahnya dengan seenak jidat.
Jujur saja kesabaran yang ia miliki kian menipis. Dan di tengah segala kepenatan itu maka munculah nama yang paling ia benci muncul dalam daftar panggilannya.
"Halo Ibu, ada apa?" tanya Madelin berusaha sesopan mungkin. Meski ia muak, dan sadar bahwa wanita tua itu hanya akan menambah masalah baginya.
"Aku ingin pergi ke rumahmu. Jadi bereskan dengan benar, rumah jelekmu itu. Karena aku benci dengan debu-debu yang menempel di setiap perabotan rumahmu." Nyonya Lily rupanya ingin datang berkunjung ke rumahnya.
Madelin merasa jengkel. Ia benar-benar tidak ingin bertemu dengan Nyonya Lily. Namun ia tahu, tidak ada jalan lain untuk menghindari ibu mertuanya yang selalu suka mengatur dan menyuruh-nyuruh tersebut.
"Baiklah Ibu, tapi mohon jangan terlalu lama. Saya punya banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan." Madelin mencoba menjalin bahasa sopan dengan ibu mertuanya.
"Tentu saja, aku tidak ingin mengganggumu terlalu lama. Aku selalu tahu, bahwa kau selalu saja sok sibuk wanita kampung," jawab Nyonya Lily angkuh.
Madelin menghela nafas. Entah kenapa, setiap kali ia berhubungan dengan ibu mertuanya selalu saja menjadi sulit. Meskipun begitu, Madelin berusaha untuk tetap tenang dan tidak menunjukkan kesalahan atau kejengkelannya.
***
Nyonya Lily tiba di rumah Madelin dengan mobil mewahnya. Madelin menyambut ibu mertuanya di depan rumah. Meskipun begitu, hatinya terus berdegup kencang.
"Bagaimana kabarmu, Madelin? Sepertinya kau terlihat sangat kusut. Apa itu karena kejadian semalam saat di pesta?" tanya Nyonya Lily mengintimidasi.
"Semuanya baik-baik saja, terima kasih." Jawab Madelin dengan tenang.
"Mmm ... sekarang kau benar-benar jatuh miskin dan itu terlihat dari rumahmu yang jelek ini. Bagiamana rasanya tinggal di tempat jelek seperti ini?" Nyonya Lily melirik ke sekeliling rumah Madelin. Ia terlihat tidak senang dengan keadaan rumah tersebut.
Madelin merasa tersinggung. "Ini rumah kami, Ibu. Meskipun tidak seindah rumah kami yang dulu, tapi kami merasa nyaman di sini."
Nyonya Wulandari hanya mengangguk seolah-olah dia tidak peduli dengan kata-kata Madelin. "Marilah masuk, aku ingin melihat ke dalam rumahmu."
Madelin menggigit bibirnya. Ia tahu, bahwa ini akan menjadi hari yang menyebalkan baginya. Namun, ia tidak punya pilihan lain selain menerima kedatangan ibu mertuanya tersebut.
__ADS_1