
Madelin diam tidak menanggapi. Wanita tua itu terus mengomel. Madelin muak.
"Kau sebaiknya cepat pergi. Aku benar-benar tidak sudi, memiliki menantu hina sepertimu." Nyonya Lily mengetuk-ngetuk kening Madelin tidak sopan. "Kau bahkan otakmu ini, benar-benar tidak berfungsi dengan baik. Kau harusnya sadar, melihat bagaimana keadaan saat ini terjadi. Harusnya sudah lama bercerai dengan Sam!" Dan setelah puas mengetuk-ngetuk kening Madelin, Nyoya Lily lantas mendorong Madelin sampai membuat wanita muda itu, nyaris terpelanting.
"Ibu sudahlah hentikan semua ini." Sam menarik Nyonya Lily. Pria itu bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana istrinya dipermalukan juga direndahkan habis-habisan. Namun ia tidak berbuat apa-apa dan cenderung menonton seperti orang dungu.
Nyonya Lily kemudian menjambak rambut Madelin dengan kuat lalu menariknya, dan memaksa Madelin untuk melihat wajah tuanya yang dipenuhi keriput, dan make-up menor. Dengan tenaganya seperti badak bercula satu. "SEMAKIN AKU MELIHAT WAJAHMU, AKU HANYA MENEMUKAN RASA MUAK DAN BENCI. BAGAIMANA MUNGKIN ADA WANITA MISKIN YANG HIDUP DI DALAM KELUARGAKU? AKU MENGUTUKMU SAMPAI KE DALAM KUBURANKU!" Ia lalu menghempaskan tubuh Madelin ke lantai. Wanita muda itu terjatuh dan terlihat kesakitan.
Nyonya Lily yang masih belum puas. Kemudian menarik tangan Madelin. Ia kembali hendak melakukan kekerasan. Sampai Sam menahannya.
"Ibu aku mohon hentikan sudah!" Sam menahan ibunya. Namun Nyonya Lily yang sepertinya tengah dirasuki oleh setan gila. Entah mengapa, wanita tua itu tiba-tiba saja memiliki kekuatan sapi gila.
"PERGI JIKA AKU MELIHAT WAJAHMU LAGI AKU AKAN MEMBUNUHMU ******!" maki Nyonya Lily yang masih berusaha meraih Madelin, tubuh wanita tua itu sedang ditahan sangat kuat oleh Sam.
Madelin berusaha bangkit dengan tubuh yang dipenuhi rasa sakit. Ia berusaha kabur. Ia tidak tahu pergi ke mana, namun saat kakinya melangkah pintu rumahnya, ia mendengar suara langkah kaki beringas seperti seekor gajah mengamuk. Tentu saja itu merupakan langkah kaki Nyonya Lily, yang dipenuhi nafsu kemarahan ingin mengintai dirinya.
Menyedihkan Madelin harus pergi dari rumahnya sendiri. Padahal, rumah yang sekarang ia tempati bersama Sam saat ini, adalah rumah yang ia beli dari hasil tabungannya. Sam bahkan, tidak mengeluarkan uang sedikit pun, dan rumah ini meski kecil adalah rumah yang dibeli sepenuhnya dengan menggunakan uang tabungan Madelin.
Madelin menggigit bibirnya sendiri, menahan semua emosi yang membuncah di dalam hatinya. Ia lalu mendobrak pintu, dan berlari menerjang gelapnya malam. Di saat semua orang tertidur pulas, Madelin justru diusir dari rumahnya sendiri. Sungguh malang dan juga ironis.
***
DRAP DRAP DRAP
Madelin terus berlari, ia tidak tahu harus pergi ke mana. Satu-satunya di dalam kepalanya adalah pergi sejauh mungkin dari rumah. Sampai, akhirnya ia berhenti ketika nafasnya hampir habis. Rasa lelah juga nyeri memenuhi tubuhnya. Rasanya ia hampir pingsan.
__ADS_1
"Hosh ... hosh ... hosh ...." Madelin mengatur nafasnya. Dia melihat keadaan di sekitarnya yang sangat sepi. Saat ini, ia berada di jembatan yang di bawahnya terdapat aliran sungai deras.
"Apa yang kau lakukan di sini Nona?" Tiba-tiba saja seorang pria asing muncul berpakaian mencolok muncul, dan mendekati Madelin.
Madelin mundur selangkah. Pria itu terlihat sangat mencurigakan baginya. Ia takut, pria itu akan berbuat macam-macam padanya. Madelin kembali memasang ancang-ancang untuk melarikan diri.
"Ngapain capek-capek lari Nona. Ini sudah malam, seharusnya kau beristirahat di ranjang yang empuk, bukannya malah berlarian seperti orang gila di sini." Muncul pria lainnya yang bertubuh gendut menangkap tangannya.
"LEPASKAN!" Madelin meronta-ronta seperti orang gila, namun yang ia dapatkan justru suara tawa menggelegar dari dua pria asing tersebut.
"Ck. Simpan tenagamu Nona. Kami berdua hanya ingin mengantarmu pulang. Jadi tolong menurut," ujar pria berpakaian mencolok tersebut.
Madelin langsung menggigit tangan pria bertubuh gendut itu. Lalu ia kembali mencoba melarikan diri, namun sayang ia mudah sekali tertangkap.
Pria gendut itu kini bahkan mencengkeram tangannya, lebih keras dari sebelumnya.
Setelah mulut Madelin diikat dengan tali. Pria berpakaian mencolok itu mengambil ponsel pintarnya. Ia lalu melakukan panggilan dengan seseorang.
"Apa perlu sampai sejauh ini?" Pria itu terdengar cukup kaget.
"Cepat lakukan saja. Lagi pula, aku sudah membayarmu mahal." Suara di saa terdengar memerintah dengan tegas.
Samar-samar Madelin tampaknya mengenali suara tersebut. Ia tidak tahu secara pasti, namun ia cukup yakin bahwa suara tersebut jelas ia kenali degan cukup baik.
Pria berpakaian mencolok kemudian memberi kode, pada pria bertubuh gendut untuk melakukan sesuatu. Dan seketika firasat Madelin mengatakan akan terjadi sesuatu yang buruk.
__ADS_1
Benar saja, tubuh Madelin diseret paksa berjalan ke pinggir jembatan. Madelin bisa melihat betapa derasnya arus sungai malam itu.
"Apa kita seharusnya melakukan ini?" Pria bertubuh gendut terdengar cukup ragu.
"Kita sudah dibayar mahal. Jika, kita tidak melakukannya jelas maka kepala kita yang akan menjadi taruhannya. Lakukan saja!" bentak pria berpakaian mencolok tersebut.
"Baik."
Pria bertubuh gendut itu mendorong tubuh Madelin, wanita itu berusaha melawan namun sayang tenaganya kalah kuat. Madelin bahkan mencakar pria gendut itu.
"KAU HARUS MATI AGAR KAMI BERDUA SELAMAT!" Pria berpakaian mencolok turun tangan, ketika mendapati rekannya itu kesusahan.
DUK
Madelin merasakan tubuhnya didorong dari atas jembatan ini. Ia kehilangan keseimbangannya dan jatuh ke bawah. Sebelum ia benar-benar jatuh, ia bisa merasakan tubuhnya melayang dan hembusan angin terasa begitu kuat menerpa kulitnya.
Kematian ... rupanya kematiannya datang dengan cara seperti ini. Madelin benar-benar kecewa dengan akhir hidupnya. Ia hanya mendapati seribu kekalahan telak di hatinya, dan belum sempat melawan.
Terima kasih untuk akhir yang buruk, selamat tinggal untuk dunia yang aku benci ....
***
"Telah ditemukan tubuh seorang wanita tak bernyawa pagi hari ini, di Sungai Thames. Diduga wanita tersebut terjatuh saat di malam hari, dugaan kematian saat ini adalah bunuh diri. Tidak ditemukan adanya bekas luka yang mencolok di tubuh wanita tersebut ," lapor pembawa acara di pagi hari ini.
Sam menatap layar televisi lekat-lekat. Entah mengapa hatinya merasa semakin gelisah ketika mendengar berita tersebut. Ia sejujurnya sangat takut, jika wanita tersebut adalah Madelin.
__ADS_1
"Tuhan tolong jaga Madelin, semoga saja itu bukan Madelin," gumam Sam pelan. Ia terus menyebut nama Tuhan, dan berharap korban tersebut bukanlah Madelin.
"Kau terlihat sangat khawatir. Apa kau mengira bahwa wanita itu adalah Madelin. Sejujurnya, jika itu benar bukankah itu artinya berita bagus untukmu? Kau bisa mendapatkan alasan perceraian yang bagus. Istrimu meninggal dan kau resmi berpisah dengannya," ucap Nyonya Lily tenang sembari menyeruput teh lemonnya.