
"Ah tidak apa-apa. Aku hanya merasa kurang sehat akhir-akhir ini. Lagi pula mana mungkin orang gila sepertiku jatuh sakit dalam keadaan menyedihkan?" Jonatan mencoba menutupinya. Meski ia sedikit takut Madelin mengetahuinya. Karena terlihat di mata Jonatan, sorot mata Madelin terlihat begitu tajam seolah-olah menguliti dirinya.
Tidak mungkin, ia tahu pertengkaran yang terjadi di antara diriku dan Nyonya Lily saat itu bukan? pikir Jonatan was-was. Mustahil Madelin mengetahui pertengkaran itu terjadi.
"Kau baik-baik saja, mengapa kau terlihat cemas?" Madelin masih memperhatikan Jonatan lekat-lekat. "Apa kau merasa gugup karena aku, terus memperhatikanmu? Ini tidak terlihat seperti dirimu yang biasa," ujaar Madelin.
Jonatan tertawa canggung, dia tidak tahu harus menutupinya seperti apa. Namun akan menjadi sangat berbahaya jika seandainya Madelin mengetahui hal tersebut.
"Mungkin hanya perasaanmu saja. Tidak apa-apa, bagaimana kau sudah menentukan pesanan yang ingin kau makan?" Jonatan berusaha untuk mengalihkan perhatian Madelin.
"Tentu saja sudah." Madelin menunjuk ke arah menu yang sudah ia inginkan. Dia tersenyum namun senyumannya terlihat sedikit aneh dan tidak tulus. Jonatan sendiri tidak menyadari bagaimana, dengan halusnya Madelin tengah mengejek dirinya.
***
"Sampai jumpa, Jonatan." Madelin melambaikan tangannya pada Jonatan. Dia sudah naik ke dalam mobil Micel.
"Baik Tuan, saya permisi." Dengan sopannya Micel mengucapkan salam pada Jonatan.
"Iya hati-hati," kata Jonatan pelan.
Micel mengangguk, setelah itu ia masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai mobilnya.
Jonatan diam-diam terusĀ memperhatikan Micel dengan curiga ia terlihat sedikit mencurigai asisten pribadinya tersebut. Ada rasa tidak suka, di hatinya begitu melihat Micel menjadi sangat dekat dengan Madelin. Namun Jonatan tahu betul bahwa, itu bukanlah perasaan cemburu namun sebuah rasa cemas berlebih.
***
"Kau?" Mata Mark membulat besar begitu melihat, Tuan Luke berjalan melintas di depannya. Tangannya otomatis reflek terkepal dan bersiap untuk menonjok.
Tuan Luke berhenti dan menatap orang yang sepertinya mengenali dirinya. Sejenak Tuan Luke tampak terlihat, seperti mengingat-ingat sosok di depannya itu.
__ADS_1
"Kau lupa denganku?" Mark menggigit bibirnya kesal. Ia berusaha menahan emosinya yang meluap-luap.
"Wajar jika aku hampir melupankanmu. Kau hanyalah manusia perusak hubungan orang lain. Wahai tukang selingkuh dan perebut istri orang." Tuan Luke memandang rendah Mark.
Mark melempar kaleng minumannya dan nyaris mengenai Tuan Luke. "Bahkan kata-katamu masih terdengar kurang ajar, meski statusmu sudah naik sekarang. Aku bertanya-tanya di mana kau mendapatkan rasa kepercyaan diri yang begitu tinggi? Jujur saja, jika aku menjadi sepertimu, aku benar-benar merasa malu karena menumpang harta dari seorang wanita kaya raya. Kau lebih mirip laki-laki simpanan."
Tuan Luke menarik kerah baju Mark. "Mulutmu masih saja terdengar seperti orang yang tidak pernah disekolahkan. Kau tidak pernah bisa meninggalkan asal dari tempatmu berada, meski kau merasa levelmu tinggi. Kau masih bajingan," maki Tuan Luke.
"Hahaha ... gayamu masih selalu sama bajingan!" Mark menunjuk ke arah pipinya sendiri. "Tonjok saja aku, ayo perlihatkan gaya bertarungmu wahai pria sok elegan."
Tuan Luke hendak menonjok Mark. Namun, Mark dengan cepat menghindarinya.
***
Nike tersenyum lebar, begitu pengarah gaya menyuruhnya berpose. Laki-laki muda itu berpose dengan luwesnya. Pekerjaan ini sudah begitu melekat dalam dirinya. Sehingga tidak ada sedikit pun kata kaku cocok, untuk disematkan pada laki-laki ini.
Madelin sendiri kagum melihat Nike berpose dengan begitu luwesnya. Dan begitu ia, sibuk mengamati Nike, ia tidak sadar bahwa gilirannya sudah dipanggil. Kali ini, ia harus berpose bersama Nike, untuk mempromosikan pakaian untuk pasangan.
Madelin tersenyum. "Tentu. Begitu juga denganmu jangan sampai kau terpesona denganku," balas Madelin penuh rasa percaya diri.
Nike sedikit terkejut, namun ia dengan cepat kembali fokus pada pekerjaannya. Sepertinya, Madelin bukanlah sembarangan wanita, ia nyaris saja tersihir pesona Madelin seolah-olah wanita itu seperti memiliki daya tarik yang begitu kuat yang membuat laki-laki terikat padanya hanya dengan melihat matanya.
Setelah itu Madelin dan Nike, melakukan beberapa sesi foto bersama yang cukup mesra untuk menunjukkan pesona mereka masing-masing. Terutama saat ini mereka akan mempromosikan pakaian yang memiliki tema pasangan untuk edisi hari kasih sayang.
Selesai sesi pemotretan, Nike yang berencana mengajak Madelin untuk makan siang terkejut mendapati seorang laki-laki dengan setelan kantor rapi tiba-tiba saja mendatangi wanita itu.
"Madelin, ayo pergi makan siang bersama." Jonatan tiba-tiba saja muncul.
"Ah baiklah. Ayo Nike, kau harus ikut bersamaku." Madelin mengajak Nike.
__ADS_1
"Tunggu ini hanya untuk kita berdua!" tegas Jonatan.
Madelin mengerutkan keningnya. "Kalau begitu lain kali saja."
"Tidak ... baiklah dia boleh ikut." Jonatan menunjuk ke arah Nike. "Siapa dia?"
Nike yang sepertinya paham bahwa Jonatan merupakan, pria yang posesif tersenyum usil. Ini akan terasa menyenangkan untuknya.
"Madelin, bisakah kau membelikanku kopi kaleng di luar? Aku sangat haus," rengek Nike manja.
Madelin mengangguk mengiyakan. "Baiklah. Kebetulan aku juga ingin keluar membeli susu dingin." Ketika Madelin ingin pergi, tiba-tiba saja Jonatan menahan tangannya. "Ada apa?" tanya Madelin.
Jonatan menggeleng. "Biar aku saja atau aku ikut denganmu."
"Tidak usah. Aku akan cepat kembali. Tunggu saja di sini bersama dengan Nike. Lagi pula kau harus berkenalan dengan rekan kerjaku. O ya dia anak yang baik, dan pintar bergaul kau harus bisa akrab dengannya." Setelah mengatakan hal tersebut, Madelin langsung pergi begitu saja meninggalkan Jonatan bersama dengan Nike.
Nike tersenyum usil. Dia mendekati Jonatan lalu dengan sengaja menyenggolnya, membuat pria itu merasa risih dengannya.
"Apa kau tidak kau perkejaan lain, yang bisa kau lakukan selain mengusik orang lain?" Jonatan berusaha untuk menahan dirinya. Tidak mungkin ia membuat keributan di tempat umum seperti ini. Selain itu pula, ia tidak ingin terlalu menganggapnya sebagai, pria yang tidak punya etika.
"Aku yakin, kau bukanlah pria yang suka menahan dirinya. Aku yakin, orang sepertimu justru paling terbiasa menggunakan kekerasan untuk membuat orang-orang di sekitarmu merasa tidak nyaman. Aku benar bukan?" goda Nike.
Mata Jonatan menatap Nike dengan nyalang. Benar saja, ia tengah menahan amarah dalam hatinya.
"Sepertinya tebakanku barusan, memang tidak salah. Kau tipe orang yang tidak bisa menahan dirinya sendiri. Kau itu mirip seperti banteng yang, disodorkan kain merah dan siap menyerang lawannya dengan mudah." Nike lalu tertawa terbahak-bahak, dia benar-benar ingin melihat Jonatan marah.
"Kau, setan kecil!" desis Jonatan murka.
"Kau baru saja berkata kasar. Bagaimana mungkin perempuan seperti Madelin, menyukai laki-laki dengan mulut kotor seperti ini. Aku yakin, selera Madelin lebih bagus dari ini. Aku tidak bermaksud menyindirmu, jangan dimasukkan ke dalam hati," tukas Nike dengan cepat. "Tapi kalau pun juga, kau ingin melampiaskan rasa amarahmu padaku, juga tidak menjadi masalah. Itu lebih baik daripada menahan dan memendannya sendiri, seperti menahan kotoran di perutmu." Nike benar-benar terus mengompori Jonatan.
__ADS_1
Jonatan hampir meledak. Namun beruntung Madelin segera muncul, wanita itu berjalan dengan cepat dan kini ia sudah berdiri di antara Jonatan dan Madelin. "Apa kalian sudah berbicara satu sama lain? Mustahil rasanya, kalian berdua hanya terus berdiam diri terus, selama aku meninggalkan kalian."
"Tentu saja kami, berdua mengobrol dengan baik. Kau bisa percaya denganku. Aku yakin, kata-kataku barusan cukup membuatnya merasa terhibur. Kau bisa lihat wajahnya bahkan sampai memerah seperti itu, karena terlalu banyak tertawa. Bukankah itu benar?" bohong Nike.