
Flora menarik Sam ke dalam pelukannya. Dia memeluk tubuh kurus laki-laki itu, yang bahkan bergetar karena kedinginan.
"Hentikan perdebatan ini. Sebaiknya kau segera mengeringkan tubuhmu." Flora menepuk-nepuk pundak Sam.
Sam sama sekali tidak bergerak, ia hanya diam. Sampai akhirnya ia mendorong tubuh Flora dan nyaris membuat wanita itu terpental jauh.
"Jika kau tidak bisa mendengarkan kata-kataku maka jangan ganggu, keputusan terakhirku." Sam kemudian mencekik lehernya sendiri. Laki-laki itu ini ingin mati bunuh diri di depan Flora.
Flora berusaha menjauhkan tangan Sam. Namun Sam sendiri terus memberontak seperti orang kesurupan.
"Apa kau bahkan tidak memikirkan anak kita nantinya? Kau lupa aku sedang mengandung anakmu!" seru Flora marah. Namun ia masih berusaha mencoba melepaskan tangan pria itu dari lehernya sendiri. Dengan usahanya yang cukup keras, akhirnya Sam berhasil melepaskan tangannya dari lehernya sendiri.
"Aku tidak peduli soal itu. Kau bohong soal itu. Kau mengelabuiku dan berpura-pura sedang mengandung anakku. Aku membencimu bahkan sampai aku mati!" teriak Sam murka. Ia menatap tajam Flora. "Hentikan semua perilaku kotormu ini!"
"Aku tidak pernah berbohong Sam!" tangan Flora hendak menggapai Sam, namun dengan cepat laki-laki itu kembali menepisnya.
"Hentikan semua kebohongan yang telah kau lakukan!" tuntut Sam.
Flora diam sesaat dia tertunduk. Tidak terdengar apa pun dari mulutnya. Kini yang tersisa hanya ada keheningan dan suara helaan nafas yang terdengar sangat begitu berat.
"Harusnya kau mengerti sumber segala penderitaanku. Keegoisanmu adalah maut untukku," ucap Sam. "Kau harus mengakhirinya, kau harus bertanggung jawab untuk semua dosamu. Akhirilah semuanya sampai di sini!"
Flora mengangkat wajahnya. "Kau berisik sekali Sam. Kau benar-benar laki-laki yang tidak tahu rasa terima kasih. Pantas saja Madelin membuangmu. Kau harusnya merasa bersyukur juga terhomat karena diriku mau merawatmu sebagai pasangan alih-alih hanya sebagai laki-laki simpanan." Tangan Flora kini terulur dan menyentuh permukaan kulit Sam yang terasa kasar. "Jaga bicaramu di depan tuanmu sendiri." Flora mencekik leher Sam dengan sangat kuat.
Sam menendang-nendang udara. Kekuatan dari wanita itu bukan main terasa sangat mengerikan. Entah mengapa sisi untuk membela dirinya sendiri muncul. Bukankah seharusnya ia merasa dengan senang hati, jika saja Flora membiarkannya untuk dibunuh?
"Hahh ... huft ... haaah ...." Sam yang mulai kehabisan nafas. Melirik ke samping dan mendapati pecahan cermin di dekatnya dengan cepat, tangannya meraih pecahan cermin tersebut dan mengayunkannya ke arah Flora.
CRAT
__ADS_1
Darah segar mengucur dari pipi Flora. Namun sayang upayanya itu sia-sia. Meski ia sudah melukai Flora, tetap saja wanita itu belum melepaskan tangannya dari lehernya.
"Kkkhhh ... kau ... k ... kau ... be ... nar ... be ... nar ... ib ...lis!" Sam terbatuk-batu dan hingga akhirnya ia perlahan pandangannya mengabur dan mendapati kesadarannya mulai menghilang secara perlahan, sampai semuanya terlihat menjadi sangat gelap.
***
"Apa kau yakin akan hidup bahagia bersama denganku?" Sam menatap Madelin lekat-lekat.
Madelin tersenyum ia meraih tangan Sam. "Tentu saja. Aku sudah memilihmu." Madelin yakin telah memilih laki-laki yang tepat dalam hidupnya.
"Terima kasih karena sudah memberiku rasa kepercayaan." Sam tersenyum tulus. Ia benar-benar merasa bahagia sekarang.
Saat Sam hendak mengecup pipi Madelin, tiba-tiba saja terjadi keanehan. Madelin menghilang dan kini sosoknya berganti dengan Flora.
"Terima kasih karena sudah memilihku, kau adalah milikku!" Flora menarik tengkuk Sam lalu mengecup bibir laki-laki itu cepat. Seulas seringai lebar muncul di wajah wanita cantik itu.
Sam terkejut setengah mati, ia mendorong wanita itu menjauh. Mengusap bibirnya yang basah akibat kecupan dari sosok yang tidak ia inginkan.
Sam merasakan sesak yang begitu luar biasa di dalam dadanya. Paru-parunya terasa seakan-akan pecah akibat tenaga badak dari wanita tersebut.
Akibat rasa sesak itu, Sam tersentak. Matanya kini terbuka lebar. Ia bangun dan tersadar dari bunga mimpinya yang kelewat sangat mengerikan. Diam-diam matanya melirik ke sebelah dan mendapati sosok Flora yang berbaring tidak jauh darinya.
Samar-samar Sam masih ingat terakhir kali, dirinya masih berada di kamar mandi. Dan entah mengapa sekarang tiba-tiba saja, tubuhnya sudah berada di atas tempat tidur. Entha bagaimana cara wanita itu bisa, membawa dirinya kembali ke kamar. Meski tubuhnya kurus, Sam ingat bahwa Flora bertubuh lebih kecil darinya.
"Jangan melirikku seolah-olah seperti ingin lari dariku. Ingat aku tidak akan pernah melepaskanmu, begitu saja." Flora mengancam dengan mata terpejam. Sepertinya wanita itu sengaja tidak tidur dan terus mengawasi dirinya.
Sam menghela nafas berat. Berakhir sudah hidupnya yang dipenuhi dengan kebahagiaan. Ia bahkan kesulitan untuk mati, akibat wanita itu. Dan sekarang ia sadar bahwa telah dijadikan, sebagai anjing peliharaan oleh Flora.
"Peluk aku!" perintah Flora pada Sam.
__ADS_1
Sam tahu, ia harusnya menolak atau paling tidak mengucapkan kata-kata penolakan. Namun entah mengapa tubuhnya bergerak sendiri tanpa ia mau. Tubuhnya memeluk Flora dan mulutnya tidak melontarkan kata-kata penolakan juga kata-kata tajam. Apakah sekarang dirinya telah sepenuhnya patuh pada Flora? Atau ini perasaan putus asa yang teramat dalam, sehingga membuat dirinya tidak bisa melanggar perintah dari wanita tersebut.
"Cium aku!" Dan kembali lagi Flora memberi perintah pada Sam.
Dan satu kecupan telah Sam berikan di pipi Flora.
"Tidak di situ namun di sini!" tunjuk Flora mengarah pada bibirnya yang berwarna merah muda.
Sam tidak menolak, ia langsung mengikuti kemauan Flora.
Flora tersenyum puas. "Aku sebenarnya tidak terlalu senang, melihatmu menjadi penurut seperti ini. Karena aku tahu ini bukanlah ketulusan yang berasal dari hatimu. Namun aku merasa lega karena kau, mau mengikuti permintaanku. Ini bayaran yang pas untuk semua yang telah aku lakukan, untuk mendapatkanmu." Flora memainkan rambut Sam.
Sam diam tidak melawan. Dia hanya menatap Flora dengan tatapan kosong. Kini sudah tidak tersisa sama sekali, binar mata dari laki-laki itu. Matanya terlihat kosong seolah-olah nyawanya telah menghilang begitu saja.
"Sam kau tahu, bahwa kau sangat berharga untukku? Katakan padaku kata-kata yang dapat membuatku merasa senang," pinta Flora dengan manja.
"Aku mencintaimu," ucap Sam dengan suara datar.
"Apa aku adalah wanita yang satu-satunya kau lihat di dalam hidupmu?" tanya Flora lagi.
"Tentu."
"Kau tahu apa statusmu di mataku?" Flora memandangi Sam lekat-lekat. Ia mengusap-usap rahang laki-laki itu dengan lembut.
"Kekasihmu, suamimu, laki-lakimu, pelayanmu, dan juga anjingmu," jawab Sam datar.
"Itu bagus. Kau anak pintar," ujar Flora puas. Ia lalu memberikan satu kecupan lagi dan ciuman itu berada di leher Sam.
Sam masih tidak bergeming sama sekali. Laki-laki itu benar-benar sudah mati rasa. Ia tidak melawan. Dan membiarkan wanita itu bahkan meninggalkan jejak kemerahan di lehernya.
__ADS_1
Berakhir sudah ... neraka ini akan ia terus rasakan sampai ia mati.