
"Lakukan saja itu, jika kau merasa bahwa dirimu sanggup melukaiku," ucap Flora tenang. Ia justru sengaja merebut gunting Sam, dan hendak menusuk bola matanya sendiri. "Aku akan melakukan ini, dan membuatmu senang. Apa kau tahu, bahwa aku sedang mengandung anakmu?"
Sam terkesiap. "Kau hamil?"
Flora tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, mengayunkan gunting itu ke arah bola matanya.
CRAT
Darah segar mengalir dan terlihat gunting itu dipenuhi darah.
***
"Madelin, aku tidak keberatan jika kau lebih memilih tinggal bersama denganku. Lagi pula memiliki seorang teman di rumah, terasa jauh lebih menyenangkan ketimbang tinggal seorang diri," ucap Micel.
Madelin menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa merepotkanmu terus menerus. Lagi pula, jika aku tinggal di rumahmu aku tidak hanya membuat repot, namun juga aku merasa tidak nyaman jika seandainya Jonatan mengunjungimu."
"Mungkin kau benar soal Jonatan. Meski jika saja seandainya, kau tetap lebih memilih tinggal bersama denganku, aku masih bisa membuatmu tidak terlihat oleh Jonatan. Pria itu juga tidak bisa berkuasa seenak jidat di rumah orang lain. Pasti setidaknya dia harus tahu apa itu privasi kenyamanan orang lain." Micel mengambil sebuah biskuit dari piring.
"Tetap saja itu akan merepotkanmu pada akhirnya. Sebaiknya, aku menjauhi pria itu dari awal, itu jauh lebih praktis dan menguntungkan kita berdua. Lagi pula, kita berdua masih bisa saling bertemu. Dan aku juga bekerja di tempatmu, kita pasti sering bertemu nantinya." Madelin menghibur Micel.
Micel mengangguk lemas. Sejujurnya dia agak kecewa dengan keputusan Madelin, di mana wanita itu lebih memilih untuk tidak tinggal bersama dirinya. Selama Madelin masih tinggal bersama dengannya, entah mengapa ia merasa nyaman. Dan rasa nyaman itu merupakan perasaan yang sangat berharga untuknya karena ia nyaris tidak pernah merasakan rasa nyaman itu lagi dalam hidupnya.
"Kau terlihat kecewa. Apa keputusanku membuatmu sedih?" tanya Madelin lembut. Madelin yang peka dengan perasaan Madelin, merasa tidak enak.
__ADS_1
"Aku tidak bisa bohong ya rupanya. Ah tapi itu keputusanmu dan aku harus menghargainya. Kalau dipikir-pikir itu merupakan keputusan yang terbaik untuk kita berdua. AKu tidak boleh egois dan memaksakan perasaanku di sini. Aku paham dengan situasimu yang menyulitkan." Micel tersenyum. Sepertinya ia mencoba menerima keputusan Madelin meski ia agak sedikit keberatan.
"Terima kasih karena sudah mau mendengarkan keputusanku. Kau yang terbaik." Madelin memeluk Micel erat. "Lain kali kita berdua harus pergi makan kue coklat kesukaanmu. Aku akan mentraktirmu nanti jika aku sudah mendapat gaji," hibur Madelin tulus.
"Hahaha ... iya karena itu kau harus bekerja dengan giat. Aku tidak akan memberimu gaji jika kau malas. Kau harus mendapat gaji, agar aku bisa makan kue coklat," sahut Micel. Micel merasa senang mendapat pelukan juga perlakuan hangat dari Madelin.
Madelin melepaskan pelukannya lalu mengusap-usap kepala Micel dengan lembut. Mungkin ini hanya salah satu cara, yang dapat ia lakukan untuk menghibur Micel. Dia tahu betul Micel sudah menjalani kehidupan yang berat. Dan ia butuh seseorang untuk menghiburnya. Dia tahu Micel hidup dalam rasa kesepian setelah semua, yang ia miliki menghilang. Satu-satunya yang hanya Madelin bisa berikan untuk Micel adalah kasih sayang yang tulus.
***
DUK
"Halo Nyonya Lily, bukankah ini kebetulan sekali, bahwa kita bertemu di sini?" Jonatan tersenyum nakal.
Tidak ingin terlibat atau ikut campur, maka Nyonya Lily memutuskan untuk mengabaikan Jonatan. Dia dengan sengaja menghindari laki-laki itu, namun apa daya usahanya itu harus berujung sia-sia. Jonatan sudah lebih dahulu, menarik tangannya.
"Lepaskan!" Nyonya Lily berusaha untuk menarik kembali tangannya. Namun semakin ia berusaha menghindari Jonatan, justru bertingkah sebaliknya. Ia semakin menjadi-jadi.Bahkan ia dengan sengaja menarik tangannya ke atas dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Apa ini masih kurang? Atau kau mau aku bersorak sembari mengatakan bahwa di sini ada 'pembunuh', apa itu yang kau mau?" ancam Jonatan dengan suara halus. Alih-alih terkesan seperti seorang mengancam, dia justru berbicara dengan halus. Namun jelas di balik perilakunya yang terkesan tidak mengancam tersebut, tersirat jelas adanya ancaman nyata di sana.
Mata Nyonya Lily terbelalak, dia kaget setengah mati mendengar ancaman Jonatan. "Aku akan mendengarkanmu. Berhenti mengancamku dengan perilaku bodohmu ini."
"Kalau begitu kau bisa ikut denganku? Kebetulan aku masih sanggup berbicara halus denganmu." Jonatan kembali menunjukkan senyumnya. Namun jelas bahwa itu bukan merupakan senyum yang baik. Itu merupakan senyum jahat.
__ADS_1
***
"Hujan ... sayang sekali aku tidak membawa payung," keluh Tuan Luke begitu ia, keluar dari mobilnya. Pria itu lalu berlari dan menggunakan tangannya untuk melindungi kepalanya dari hujan. Dan begitu ia hampir sampai di depan kantornya, tiba-tiba saja matanya tidak sengaja menangkap sebuah objek yang sangat begitu ia kenali.
"Sera?" Tuan Luke terkejut setengah mati, mendapati putrinya yang telah tiada, baru saja berjalan melewati dirinya dengan cepat.
Tuan Luke hendak mengejar sosok yang ia kira sebagai Sera tersebut. Namun sekretarisnya tiba-tiba saja menahannya.
"Maaf Pak, tapi Anda harus segera masuk ke dalam karena sebentar lagi, rapat akan dimulai." Sekretaris itu segera mengarahkan Tuan Luke untuk segera masuk ke dalam.
"Ah ... baiklah," ucap Tuan Luke sedikit lesu. Sejujurnya ia benar-benar penasaran dengan sosok yang ia lihat secara tidak sengaja barusan.
***
"Aku tahu bahwa kau yang membunuh Nyonya Arabela, bukankah itu benar?" Jonatan memainkan sedotannya lalu ia memandang, Nyonya Lily malas. "Kupingku hari ini terasa begitu panas. Aku harap, kau tidak membuat banyak alasan bodoh, yang membuatku merasa muak mendengarkannya."
Nyonya Lily menggigit bibirnya keras, bahkan ia tidak menyadari bahwa darah segar mulai mengucur dari sana.
"Wah ... wah. Jangan terlalu gugup seperti itu. Aku jadi merasa tidak enak denganmu." Jonatan mengambil tisu lalu menyeka bibir Nyonya Lily yang berdarah. Setelah itu, ia mengibas-ngibaskan bekas darah yang menempel pada tisu tersebut. "Bahkan darahmu berbau sangat busuk, aku merasa semakin geli denganmu.
"Cukup!" Nyonya Lily tanpa sadar, ia memukul meja dengan sangat keras. Berkat aksinya itu, beberapa orang melihat ke arah meja mereka.
"Terima kasih karena sudah sengaja memancing perhatian orang lain di sini. Betapa beruntungnya aku." Jonatan tertawa puas. "Kau harus merekam aksiku dengan baik." Jonatan hendak berteriak namun Nyonya Lily segera mencegah perbuatan Jonatan semakin jauh.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan mengakuinya, tapi tidak di tempat ini. Tolong bawa aku ke suatu tempat yang sepi. Setidaknya tolong dengarkan aku satu kali ini saja. Karena aku akan mengakui semua perbuatanku." Nyonya Lily memelas di depan Jonatan.