
"Bukankah seperti ini lebih baik. Maksudku aku sangat ingin agar kau lebih bersikap terbuka dengan yang lainnya. Sifatmu itu benar-benar pengekang Jonatan, sungguh tidak baik," tutur Madelin kesal.
"Kau merasa tidak nyaman dengan sifatku ini, Madelin?" tanya Jonatan canggung.
"Tentu. Wanita mana pun, akan memberikan kata-kata serupa. Kau itu seharusnya tahu, bagaimana cara mengontrol sisi posesifmu itu. Buanglah sifat tersebut jauh-jauh karena tidak akan ada wanita yang menyukainya," sahut Nike tiba-tiba.
Mendengar kata-kata Nike, alhasil Jonatan terlihat sedikit menyesal.
Dia merasa diserang dari dua arah sekaligus. Dia menarik nafas dalam-dalam mencoba meredakan emosinya sebelum akhirnya menjawab, "Maafkan aku jika sikapku membuatmu merasa tidak nyaman. Aku tidak bermaksud mengontrolmu, Madelin. Hanya saja, aku peduli padamu."
Madelin melepaskan nafasnya pelan, mencoba meredakan kemarahannya. Dia mengerti bahwa Jonatan memiliki niat baik, namun sifat posesifnya terkadang membuatnya merasa terkekang. "Jonatan, aku tahu kamu baik hati. Tapi kamu juga harus tahu bahwa cinta bukanlah tentang pemilik dan milik. Kita harus saling percaya dan memberi kebebasan satu sama lain."
Nike mengangguk setuju, "Madelin benar, Jonatan. Kamu harus belajar melepaskan rasa posesifmu. Itu bukanlah cinta sejati. Cinta sejati memberi kebebasan dan ruang untuk tumbuh. Jangan biarkan sifat posesifmu menghancurkan hubunganmu dengan Madelin."
Jonatan terdiam, dia melirik diam-diam ke arah Madelin dan mendapati wanita itu, masih menatapnya dengan tatapan tajam.
Nike berdehem. "Aku rasa sebaiknya kita sudahi saja acara berkumpul kita saat ini. Bukankah sebaiknya kita bertiga pulang? Aku yakin, Madelin pasti sudah merasa kelelahan setelah selesai bekerja, Jonatan tolong antarkan Madelin pulang ke rumahnya." Nike bangkit berdiri dari kursinya. "Aku duluan. Masih ada yang harus aku kerjakan setelah ini," katanya berpamitan.
__ADS_1
Setelah Nike pergi, Madelin ikut bangkit berdiri. Sementara Jonatan masih diam di kursinya. "Apa kau masih ingin berlama-lama di sini? Apa kau tidak ingin pulang?" tanya Madelin.
"Aku tidak ingin membuatmu merasa tidak nyaman denganku. Karena itu aku tidak berani, mengantarkanmu pulang," jawab Jonatan pelan. Siapa sangka laki-laki macan ini, bisa berubah menjadi seekor kucing di depan Madelin.
Madelin nyaris tertawa keras, jika saja ia tidak ingat dirinya sedang di luar. Sembari menahan tawanya, dia kemudian membujuk Jonatan agar mau mengantarkannya pulang.
"Kau masih terbawa dengan suasana tadi? Aku tidak menyangka rupanya laki-laki sepertimu bisa saja, membawa perasaan seperti ini. Tenang saja, untuk sekarang aku sedang tidak ingin berdebat atau merajuk di depanmu. Tolong antarkan aku pulang Jonatan, jika kau tidak keberatan," pinta Madelin dengan suara tenang.
Jonatan terkejut mendengar Madelin meminta dirinya untuk mengatarkannya pulang. Padahal ia pikir, Madelin akan mengabaikannya begitu saja dan langsung pulang. Rupanya Madelin sendiri terlihat masih memberinya kesempatan.
***
Malam hari itu, Jonatan terlihat berdiri di depan jendela kamarnya. Malam itu, ia membiarkan angin malam mengusap wajahnya dengan halus. Membiarkan dinginnya angin malam itu, mengelus pipinya dengan lembut. Di dalam heningnya malam itu, ia mulai memikirkan kejadian yang terjadi di kafe sebelumnya. Ia teringat bagaimana kata-kata Madelin dan Nike terus memenuhi benaknya. Seakan-akan kata-kata itu, terasa begitu mengganggu isi pikirannya dan membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih.
Dalam pikirannya terjadi sebuah perang batin yang terus berkecamuk dan memporak-poranda dunianya.
Apa aku begitu egois, sehingga membuat dirinya merasa terluka? pikirnya.
__ADS_1
Jonatan mulai memikirkan bagaimana tindakannya selama ini, yang telah ia perbuat di depan Madelin. Selama ini, ia tidak pernah memikirkannya dengan dalam-dalam. Baginya cara yang sudah ia lakukan untuk menunjukkan rasa sukanya pada Madelin, adalah hal yang tepat. Ia tidak terlalu memikirkan, bagaimana tindakannya itu ternyata rupanya, terasa begitu bar-bar dan membuat Madelin merasa tidak nyaman dengannya.
Sejenak ia mencoba memikirkannya lagi untuk lebih dan lebih ... memahami dirinya sendiri. Dan oh ... rupanya itu benar bahwa dirinya egois. Ia mulai menydari bahwa rasa posesif dalam dirinya membuat Madelin merasa tidak nyaman dengannya. Meski telah muncul sedikit saja, perasaan untuk memperbaiki diri tersebut, tiba-tiba saja muncul kata-kata penyangkalan di dalam hatinya.
Mengapa? Mengapa harus merasa tidak nyaman? Bukankah ini caraku agar aku bisa melinduginya. Jika aku tidak peduli dan melindunginya, bukankah itu artinya aku sama sekali tidak mencintainya? Dia bukanlah semilir angin yang lewat begitu saja dalam hidupku, dia adalah nafas kehidupanku yang harus aku, jaga dengan sepenuh hati. Karena itulah, sifat melindunginya yang terlalu berlebihan merupakan cara terbaik yang bisa Jonatan lakukan, untuk menunjukkan cintanya pada Madelin.
Rasa cemburu dan posesif, yang kerap kali tidak bisa ia kontrol tersebut juga bukanlah sepenuhnya kehendak dirinya. Ia seringkali melakukan itu dengan tidak sadar. Di mana ketika perasaan cemburu dan posesif itu, muncul karena selama ini ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Madelin tidak pernah mendapati perasaan cinta yang tulus. Baginya Madelin adalah wanita cantik yang kurang beruntung dalam percintaan. Wanita itu sungguh malang ... Jonatan sendiri sangat ingin melimpahkan rasa cinta yang menyebar luas di dalam hatinya hanya untuk wanita itu.
Rasa cinta yang nyaris berujung obsesi itu semakin menjadi, ketika Madelin justru berakhir dengan Sam. Laki-laki paling bajingan yang pernah Jonatan temui di dalam hidupnya. Jonatan yang merasa semakin cemburu dan khawatir ketika Madelin lebih memilih Sam. Jonatan tahu bahwa Madelin dan Sam tidak akan pernah bisa bersama, baginya kedua hubungan mereka hanyalah seperti stasiun sementara yang tidak akan berlama-lama. Jonatan percaya mereka berdua hanyalah ditakdirkan untuk bertemu bukan untuk bersama karena sejatinya Madelin ditakdirkan untuk bersama dengannya.
Meski begitu tetap saja Jonatan merasa sangat ketakutan jika saja suatu hari nanti, Madelin akan kembali meninggalkan dirinya. Persis seperti ketika wanita itu lebih memilih menikahi Sam ketimbang dirinya. Dan ... Jonatan tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi untuk kedua kalinya dalam hidupnya. Niatnya sudah begitu bulat untuk mengurangi sifat posesif di dalam hatinya. Ia rela melakukan hal tersebut agar Madelin tidak meninggalkan dirinya untuk kedua kalinya.
Dia tidak kembali merasa gagal dalam mempertahankan Madelin yang sudah berdiri tidak jauh di depan matanya. Dia merasa bersalah karena telah membuat Madelin merasa tidak nyaman dengan sifatnya. Ia tidak ingi hubungannya dengan Madelin berakhir menjadi sia-sia.
Dia harus mau merubah sifat buruknya itu. Meski ia sadar diri bahwa, ia harus melawan keinginan egois dalam hatinya. Namun sedikit pemikirannya yang terbuka, mengatakan padanya bahwa Madelin bukanlah burung cantik dalam sangkar yang selamanya ia bisa kurung. Burung itu pasti tidak akan bahagia meski, ia menawarkan banyak kemewahan dalam sangkar yang megah tersebut. Burung tersebut akan jauh merasa lebih bahagia ketika ia, rela membiarkannya terbang tinggi dan hidup dengan bebas di alam sana.
***
__ADS_1