Madelin Wanita Tangguh

Madelin Wanita Tangguh
9. Tikam Aku dari Belakang


__ADS_3

Sam mengangguk. "Baiklah. Ayo kita pergi ke sana."


Ketika Madelin dan Sam menyeberang jalan. Flora hanya menatap malas ke arah dua orang tersebut. Raut wajahnya terlihat begitu kacau.


"Yah ... Sam, benar-benar payah," keluh Flora dengan suara yang terdengar kesal.


Nyonya Lily merasa tidak enak hati pada Flora. "Aku tidak tahu, bahwa wanita sialan itu akan mengacau dan berani berbicara seperti itu di depanmu. Aku akan menegurnya dengan keras nanti."


Flora berbalik memandang Nyonya Lily dengan wajah terlihat tidak percaya. "Anjing liar sepert dirinya, tidak akan mudah dijinakkan. Anda tidak bisa menjinakkan seekor anjing liar, hanya dengan menggertaknya saja." Dia lalu membuang nafasnya dan terlihat agak sedikit frustasi. "Wanita itu agak sedikit gila," sambungnya.


"Kau tenang saja. Aku akan melakuka apa pun untuk membuat wanita itu menjadi tunduk. Kau bisa percaya padaku." Nyonya Lily masih berusaha untuk membuat Flora yakin.


"Lakukan apa yang bisa Anda lakuka. Saya akan terlalu peduli dengan hasilnya. Karena jelas hal-hal seperti ini, pasti hanya akan mengecewakan," ungkap Flora sinis. Dia melirik ke arah Nyonya Lily dan terlihat meremehkannya.


"Kau bisa percaya padaku. Pegang-kata-kataku." Nyonya Lily memukul-mukul dadanya dan berusaha untuk membuat Flora percaya. Karena mau bagaimanapu juga, ia sudah berjani untuk memisahkan Sam dan Madelin.


Flora tertawa sinis. Memainkan ujung rambutnya dan kembali sibuk memikirkan rencana jahat di dalam kepalanya.


***s


"Madelin?" sapa Jonatan ceria, begitu melihat kehadiran sosok Madelin toko buku.


Madelin sedikit terkejut. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan Jonatan di sini.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Madelin dingin.


"Mencari buku, tentu saja. Tidak mungkin, aku makan di sini." Seperti biasa Jonatan dengan gaya santainya berbicara seperti itu pada Madelin.


Sam mendengus, dia menarik tangan Madelin dan berusaha menghindari Jonatan.

__ADS_1


"Ah rupanya kau bersama dengan Sam ya. Kebetulan aku sangat ingin bertemu dengannya." Jonatan mengalihkan padangannya ke arah Sam.


"Apa kau memerlukan sesuatu dariku?" tanya Sam ketus.


"Ya. Aku memiliki keperluan denganmu. Mengenai keperluan itu, akan sangat menguntungkanmu. Jadi, bisakah kau tidak bersikap kasar pada orang yang ingin membantumu sobat?" Jonatan menyentuh bahu Sam dan memamerkan senyum kudanya.


Sam menepis tangan Jonatan dari bahunya. Menatapnya tajam dan menunjukkan aura permusuhan. "Orang sepertimu membantu? Aku tidak yakin, bahwa kau benar-benar melakukannya dengan tulus. Kau pasti mengincar sesuatu dariku!" tuduh Sam sengit.


"Aku tidak ingin apa-apa darimu. Aku bisa memahami posisimu yang sedang sulit. Aku tidak berniat, menginjak-injak seseorang yang telah jatuh." Jonatan mendekatkan wajahnya pada Sam. "Aku benar-benar tulus membantu. Tapi akan sangat disayangkan jika bantuan ini diabaikan. Aku bisa menjanjikanmu untuk kembali ke posisimu dengan cepat. Kau hanya perlu menerima tawaranku saja, dan terima beres. Kau bisa percaya padaku karena aku ini adalah teman baiknya istrimu." Jonatan menekankan kata-kata terakhirnya.  "Madelin pasti sebelumnya sudah menceritakan tawaranku sebelumnya padamu. Mark Zen adalah orang yang sengaja aku carikan khusus untukmu, dalam membantu bisnismu yang sedang jatuh. Kau mendapat pelayanan khusus dariku Sam. Kau benar-benar sangat beruntung." Jonatan tersenyum cerah.


Sam tahu bahwa ia benci dengan keadaannya saat ini. Namun ia tidak bisa mengabaikan fakta tawaran dari Jonatan cukup menggiurkan. Lagi pula Madelin sendiri sudah menceritakan sebelumnya pada dirinya mengenai tawaran ini. Dan ia sendiri, sadar sudah mengatakan di depan Madelin telah mengiyakan keputusan ini, meski saat itu ia hanya mencoba untuk mengelak.


"Jika kalian memang benar ingin membahas hal ini, kita bisa pergi bersama di tempat lain. Tampaknya tidak akan enak jika, mengobrol di tempat seperti ini," ujar Madelin.


Jonatan tersenyum lembut. "Aha kau benar Madelin. Sebaiknya kita pergi ke kafe di ujung sana. Kebetulan di sana ada menu pai keju kesukaanmu. Aku akan mentraktir kalian." Jonatan terlihat sangat bersemangat.


Madelin melirik ke arah Sam, dan terlihat jelas di matanya, bahwa Sam benar-benar terlihat menahan emosinya. Urat-urat di wajahnya nampak sangat jelas.


***s


Sam diam tidak menjawab. Namun tangannya sibuk mengiris-iris potongan daging sampai berukuran sangat kecil.


"Kau tidak akan bisa memakan daging dengan ukuran sekecil itu," tegur Madelin sembari menyodorkan sendok pada Sam.


Sam terkejut, ia tidak menyadari perilakunya tersebut. Setelah ia mengambil sendok dari Madelin, ia lalu menatap Jonatan tajam. "Baiklah aku sepakat. Tapi kau harus ingat kesepakatan ini benar-benar memiliki batasan yang kuat. Hanya karena aku menerima bantuanmu, bukan berarti aku menjadi bawahanmu dan menuruti kemauanmu!" Sam menatap tajam Jonatan. "


Jonatan tersenyum santai. "Tentu saja. Tidak ada majikan atau bawahan di sini. Aku hanya menawarkan ketulusan. Lagi pula, istrimu yang cantik Madelin, sendiri juga tampaknya telah menyetujui kesepakatan ini." Jonatan mengalihkan pandangannya ke arah Madelin.


Madelin yang merasa ditatap langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Jelas bahwa Jonatan sedang ingin bermain mata dengannya.

__ADS_1


"Aku rasa sampai di sini saja pembicaraan kita. Lagi pula aku sudah menyetujui keinginanmu. Dan berhenti mencoba melirik-lirik istriku terus!" bentak Sam yang muak dengan perilaku genit Jonatan.


Sam lalu menarik tangan Madelin dan meninggalkan Jonatan begitu saja. Sementara Jonatan hanya tertawa puas.


***


"Kau membuat perjanjian dengannya?" tanya Flora sembari menyisir rambut Sam yang tidur di pangkuannya.


Sam mendesah dan terlihat frustasi. "Iya. Aku menerima tawaran dari bajingan itu. Tawarannya sangat menarik sampai-sampai aku tidak bisa melepaskannya begitu saja." Sam benar-benar tidak habis pikir dengan dirinya sendiri. Dia membenci Jonatan namun ia justru malah berakhir, dalam kesepakatan untuk menerima bantuan dari pria tersebut.


"Kau tidak perlu terlalu membawanya ke dalam hati. Selain itu juga ini hanya merupakan kesepakatan bisnis. Tapi kau harus tetap berhati-hati dengan pria itu," kata Flora memberi peringatan pada Sam. "Semua ini akan menjadi lebih mudah, jika saja kau mau menerima tawaranku untuk membantu bisnismu alih-alih melakukan kerjasama dengan pria bajingan itu. Aku masih tidak mengerti mengapa kau menolak tawaranku." Flora terdengar kecewa.


Sam bangun dari pangkuan Flora, lalu mengusap wajah Flora lembut. "Aku tidak bisa membuatmu kerepotan karena masalahku. Aku sudah terlalu mengandalkanmu dan aku sadar diri, tidak pernah memberimu balasan yang serupa."


"Kau merasa minder dengan kemampuanmu sendiri?" tanya Flora penasaran.


"Sangat buruk sebenarnya aku mengakuinya, namun itu memang benar adanya," tutur Sam kecewa.


Flora langsung menarik Sam ke dalam pelukannya. Dia memeluk pria tersebut dengan erat. "Bersabarlah karena aku, akan membantumu untuk keluar dari masalah ini. Kau hanya perlu terus bersama denganku dan semua masalahmu akan beres."


"Aku percaya padamu, Flora," ucap Sam yang merasa nyaman di dalam dekapan Flora.


***


"Lihatlah ular itu sangat pandai merayu. Namun dia malah memasang topeng dan bertingkah seolah-olah aku berada di dalam kapal yang sama dengannya." Jonatan mengamati layar ponsel pintarnya dengan kesal.


Dia sudah memasang penyadap pada ponsel pintar milik Flora, dan memata-matai wanita tersebut.


"Jika dia pikir, dia bisa bermain dengan aman, maka aku akan memberikan kejutan yang menarik untuknya. Tunggu saja Flora," gumam Jonatan.

__ADS_1


***


__ADS_2