
Dayana hanya diam terpaku ketika ia melihat mertuanya memarahi Zahri habis-habisan ketika Ronny sedang berada di kantor siang itu. Bunda Lidya membanting semua perlengkapan makan yang terbuat dari keramik itu karena telah disentuh oleh Zahri. Ada rasa iba di hati Dayana saat Zahri memunguti pecahan piring itu. Namun, rasa sakit hatinya menghalangi moralitasnya untuk sekedar memperdulikan.
"Silahkan kau adukan pada Ronny. Maka saat itu juga saya hapus nama Ronny dari keluarga ini".
"Dasar tak tau malu, berani-beraninya merusak kebahagiaan di rumah ini" pekik bunda Lidya sambil berlalu.
Ketika bunda Lidya melangkah keluar, ia jadi salah tingkah melihat Dayana yang berdiri mematung tak jauh dari pintu dapur.
"Ehh.. hehehe... Kamu lihat semua y nak" tanya bunda cengengesan.
Dayana memandang lekat wajah ibu mertuanya yang begitu membela dan melindungi dirinya. Membuatnya merasakan kasih sayang dan perlindungan seorang ibu pada putrinya yang sudah lama sekali ia rindukan.
Mata Dayana berkaca-kaca, bibirnya bergetar menahan tangis haru. Tak tahan lagi Dayana menghambur kepelukan sang ibu mertua.
"Ehh.. kenapa kamu menangis nak"
"Ada apa, sayang" tanya bunda Lidya cemas
Dayana merenggangkan pelukannya menggelengkan kepalanya cepat.
"Kamu takut lihat bunda marah-marah seperti tadi?" Tanya bunda Lidya kembali.
Dayana juga memberi jawaban dengan gelengan kepala lagi.
"Lalu apa sayang??"
"Ya sudahlah kalo kamu gak mau cerita sama bunda, kita balik ke kamar saja ya, istirahat. Bunda temani kamu sampai tidur"
"Kamu jangan nangis lagi, ya. Cupp ..cup.. sayang" elus bunda pada rambut hitam panjang Dayana.
Dilain sisi, Zahri tak sengaja melihat adegan harmonis antara istri pertama suaminya dan ibu mertuanya saat ia akan membuang kepingan kaca dari piring yang bunda Lidya pecahkan. Ia begitu cemburu melihat Dayana dihujani cinta dan kasih sayang dari ibu mertuanya tersebut. Namun saat ini tak ada yang bisa dilakukannya.
Mungkin inilah hukuman untukku karena mencintai suami milik wanita lain. Jika aku berada diposisi Dayana, mungkin saja aku sudah membunuhnya. Hahh.. tapi aku takkan pernah menyerah begitu saja. Aku dan mas Ronny saling mencintai, tak ada yang merebut apapun dari siapapun. Aku menerima menjadi istri kedua tanpa menuntut mas Ronny menceraikan Dayana, lalu mengapa dia tidak menerimaku sama seperti aku menerimanya. Tidak..tidak... Bukan aku yang egois, tapi Dayana lah yang tidak menerima, jika suaminya jatuh cinta pada wanita muda sepertiku. Aku bukan wanita jahat.
Zahri bermonolog dengan dirinya sendiri. Meyakinkan diri bahwa ia tidak salah. Apalagi suami mereka mau bersikap adil dan membagi waktu.
Malam hari ketika semua anggota keluarga kecuali ayah Jo yang sedang dalam perjalanan pulang dari luar kota, telah menyelesaikan makan malam mereka dan kembali ke kamarnya masing-masing, Dayana yang hampir terlelap mendengar suara kegaduhan dari kamar bunda Lidya.
"Kamu benar-benar anak durhaka Ronny"
"Beraninya kamu bentak ibu kandungmu sendiri hanya demi pelakor murahan itu?"
"Lebih baik kau pergi dari rumah ini"
"Aku tak sudi punya anak sepertimu"
__ADS_1
Bentak bunda Lidya sambil menahan sakit di hatinya, jauh lebih sakit yang ia rasa yang tertancap di hati dari pada rasa nyeri di jantungnya.
"Bunda... Bukan itu maksud Ronny"
"Zahri sedang hamil, bunda tidak boleh bersikap begitu kasar pada istriku" Ronny berkilah.
"Lalu aku siapamu, mas" tanya Dayana menatap tajam berjalan perlahan ke arah Ronny yang langsung kikuk terdiam seribu bahasa.
"Kenapa kau mendadak diam? Bukankah kau barusan begitu lantam pada ibu kandungmu sendiri? Setitik darah saja saat melahirkanmu saja, takkan mampu kau membalasnya" Dayana berjalan perlahan tapi pasti mendekat.
"Apa kau begitu paham bagaimana rasanya tak memiliki ayah dan ibu?"
"Bagaimana kau begitu tega bersikap kasar pada orangtuamu sendiri, yang tak akan pernah mencelakakan anaknya. Yang selalu memberi perlindungan sejak kau lahir"
"Apa kau tau, mas. Binatang saja tau cara berterimakasih"
"Lalu, apa masalahmu sebenarnya. Kau tidak terima bunda menolak kehadiran istri barumu? Bukankah kau menikah dengannya tanpa persetujuan kami. Lalu, mengapa kau memaksa kami harus menerimanya".
"Sepanjang hidupku, aku tak pernah melihat seorang laki-laki pengecut dan egois sepertimu" cecar Dayana bertubi-tubi mengingatkan kesalahan Ronny dengan gaya dan intonasi suara yang penuh keanggunan. Menatap tajam ke dalam netra lawan bicara.
"Day.. aku..." Kata-kata Ronny terpotong begitu Dayana mengangkat tangannya ke arah pintu mempersilahkan Ronny pergi dari kamar bunda Lidya.
"Bundaku masih sakit, aku tak ingin bunda bertambah sakit karena masalah yang kau timbulkan" ucap Dayana datar memalingkan wajahnya dari Ronny.
2 tahun lebih mereka menikah, tak satu kali pun Dayana menghakiminya dengan tatapan penuh kebencian.
"Dayana, kenapa kau berubah seperti ini"
Gumamnya menyalahkan Dayana atas kesalahan dirinya sendiri.
Ahh Ronny, seharusnya pernyataan itu lebih tepat kau ajukan pada dirimu sendiri.
"Ronny..." Tegur ayah Jo yang baru sampai.
"Kenapa kau duduk disini?"
"Ohh, ayah sudah pulang"
"Bagaimana hasilnya, yah. Sudah bisa terealisasikan?" " tanya Ronny yang kaget dan berusaha mengalihkan arah pertanyaan.
"Jawab pertanyaan ayah tadi"
"Ada apa?" Tanya ayah Jo serius.
"Aahh, gak ada apa-apa kok, yah. Cuman lagi nungguin ayah disini sambil melamun" jawab Ronny ngasal.
__ADS_1
Ayah dan anak itu menghabiskan 1 jam membicarakan hasil kerjasama mereka dengan pihak asing untuk ekspor produk mereka ke negara lain.
.....
Pagi ini cuaca sedang mendung. Ayah Jo dan Ronny telah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali. Karena mereka harus menyambut tamu penting dari Australia yang akan bekerja sama dengan perusahaan mereka.
Bisnis ayam siap saji dengan berbagai bumbu khas menarik perhatian pembisnis asing tersebut. Namun, ayah Jo adalah orang yang jeli. Sebelum ia menyetujui kerjasama itu, terlebih dahulu ayah Jo mencari tahu identitas calon rekan bisnisnya. Dari alamat rumah, keluarga, tetangga, riwayat pekerjaan bahkan tentang financialnya.
Sudah jadi hal umum bagi pembisnis untuk mendalami karakter, kemampuan dan riwayat hidup koleganya. Ayah Jo mendirikan perusahaan itu dimulai dari titik nol seperti Dayana yang berjualan menggunakan sepeda keliling komplek.
Karena semangat dan kerja keras Dayana itulah menjadi daya tarik sendiri di mata ayah Jo. Menimbulkan perasaan ingin melindungi Dayana layaknya putri kandung sendiri seperti yang ia nantikan hadir ditengah keluarga mereka.
Namun, kesehatan bunda Lidya menjadi alasan yang tak mungkin membuatnya untuk hamil lagi. Ayah Jo pun merelakan mimpinya untuk memiliki anak perempuan.
Dayana terhambat untuk hamil efek dari benturan hebat diperut saat menyelamatkan istrinya. Menambah rasa bersalah, kasihan dan sayang pada Dayana.
Secara tak langsung, bunda Lidya sebagai penyebabnya. Bagaimana mereka tidak kecewa begitu dalam pada Ronny, tak bisakah Ronny sedikit saja melihat kebelakang, bagaimana tulusnya Dayana yang hampir kehilangan nyawa demi menyelamatkan orang asing. Ibu kandungnya sendiri, yang bisa saja jika Dayana, istri yang telah disakitinya itu tidak datang tepat waktu, mungkin hari ini mereka hanya mengenang bunda Lidya sebagai orang yang sudah tiada.
Sungguh Ronny terlalu gegabah dan egois dalam mengambil keputusan. Maka dari itu, ayah Jo belum memberikan kuasa penuh padanya untuk menjalankan perusahaan mereka.
Kembali pada Dayana yang telah selesai merapikan kamarnya. Ia ingin menghirup udara segar diluar. Dayana memutuskan keluar dari kamar setelah merampungkan kegiatan bersih-bersih tubuhnya dengan berendam air hangat sejenak demi merilekskan anggota tubuhnya yang sakit.
Beberapa hari ini Dayana merasa tubuhnya sangat mudah lelah. Terlalu banyak fikiran berat yang membuatnya stress mengakibatkan tubuhnya juga ikut stress.
Sebelum ke teras rumah, Dayana meminta pada mbak Ita salah satu PRT mereka untuk membuatkan jus Alpukat. Dayana menunggu sebentar sambil sedikit bercengkrama dengan mbak Ita.
"Ini jus alpukatnya non" mbak Ita menyuguhkan jus tersebut dengan sebungkus keripik kentang kesukaan Dayana.
"Wuiihhh, cantik bener y mbak warnanya. Ngilerr deh" puji Dayana pada mbak Ita sebagai cara berterimakasih Dayana.
"Mbak bawain ya, non" tawar mbak Ita.
"Gak usah mbak, saya saja yang bawa. Makasi ya mbak" tolak Dayana halus.
"Ya udah, mbak lanjut kebelakang ya non"
"Kalo butuh sesuatu lagi, mbak di ruang Laundry, non" ujar mbak Ita melanjutkan tugas bagiannya yang selanjutnya.
"Huu...umm" angguk Dayana ringan.
Meskipun saat ini Dayana dikelilingi. PRT yang mempermudah pekerjaan rumah tangganya, tapi ia lebih sering memasak atau membuat minumannya sendiri. Jika Dayana meminta tolong, itu tandanya ia sudah kelelahan dengan aktifitasnya.
Dayana pun berlanjut melangkahkan kakinya menuju pintu masuk rumah. Dan mulai menikmati cemilan ringannya. Dayana mencoba menenangkan dirinya dengan tidak mengingat masalah yang sedang dihadapinya. Namun, itu begitu sulit untuk dilakukan.
Dayana tengah termenung sendiri duduk di teras rumah. Ia terlihat semakin hari semakin kurus. Tak ada sinar keceriaan di wajahnya seperti dulu. Meskipun Ronny tetap memperlakukannya dengan baik, namun hatinya belum mampu untuk berdamai dengan takdirnya. Ia tak menyadari ada cairan merah mengalir dari celah kakinya, sampai bunda Lidya datang dan menjerit seketika saat melihat kondisi Dayana.
__ADS_1