
Dua hari kemudian..
Inspeksi dadakan terjadi di pabrik tempat mereka produksi produk yang keluarga Barata pasarkan. Dayana diperkenalkan oleh ayah Jo sebagai pimpinan tim produksi bagian pengolahan bahan.
Tim tersebut khusus mengolah bumbu rahasia untuk setiap produk yang mereka pasarkan berjumlah 10 orang.
Semua kru produksi sangat terkejut ketika pagi itu mendadak mereka diminta berkumpul di aula besar serba guna tempat para karyawan pabrik beristirahat makan siang atau coffee break.
Terlihat di atas podium berjejer beberapa pimpinan perusahaan yang terdiri dari Johan Barata, selaku pemilik dan direktur perusahaan, Ronny Barata Manager Pemasaran, Larasati Barata Manager keuangan yang sekaligus sepupu dekat Ronny, Bima Prakarsa HRD perusahaan dan sekaligus Dayana beserta beberapa orang kepercayaan Dayana di restoran pribadi miliknya.
“Selamat pagi semua” Sekretaris perusahaan membuka suara.
“diantara kita semua mungkin sudah tak asing lagi pada sosok wanita yang berdiri dihadapan kita semua saat ini”
“namun, saya akan memperkenalkannya sekali lagi” ujar sekretaris tersebut.
“ beliau adalah Dayana, menantu pemilik perusahaan sekaligus istri dari pak Ronny manager pemasaran kita”
Suara bisik-bisik pun terdengar, memuji kecantikan Dayana serta kemolekan tubuhnya yang seperti gadis belia.
“Hari ini, beliau akan resmi bergabung dengan kita sebagai mandor tim pengolahan bahan”
Suara gemuruh bisik bisik kembali terdengar, dan beberapa orang merespon gugup situasi tersebut. sampai seorang mandor bagian mesin mengacungkan tangan untuk bertanya.
“maaf bu Lina, izin bertanya” pintanya
“silahkan” ujar sekretaris perusahaan yang bernama Lina tersebut.
“bagaimana dengan mandor pengolahan bahan yang lama, kenapa diganti?” tanyanya
Para kru pun melihat ke kanan kiri menebak-nebak apa yang terjadi saat itu.
Sekretaris melihat kepada direktur perusahaan, yaitu Johan Barata. Kemudian ayah Jo meminta mikrofon yang ditangan sekretaris tersebut, agar ia saja yang menjelaskan langsung secara detail.
“selamat pagi semua” ayah Jo berdiri tegak dengan auranya yang berwibawa.
“pagi paaaakk..” sambut seluruh kru pabrik
“untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita bisa minta kepada mandor yang lama berserta 2 orang kru nya untuk naik ke atas podium” titah ayah Jo secara gamblang.
__ADS_1
“naik secara terhormat atau perlu bantuan?” sarkas ayah Jo menatap tajam
Seketika kru yang lainny memberi celah untuk mandor lama tersebut untuk berjalan ke depan. Tapi mandor yang disebut tersebut diam mematung. Suasana hening seketika…
Tampaknya sang mandor telah mengetahui kenapa posisinya digantikan secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan sebelumnya. Tubuhnya bergetar hebat, keringat dingin mengalir dari pelipisnya.
Akhirnya salah seorang kru mulai paham bahwa mandor punya kesalahan yang sangat fatal, jika tidak pimpinan mereka Johan Barata yang terkenal baik selalu mengutamakan hak hak buruh pabrik, takkan mungkin berlaku kejam seperti ini.
Berdasarkan sifat direktur mereka yang penyayang dan tak segan-segan turun tangan sendiri membantu pekerjanya bahkan mengunjungi mereka saat sakit, maka sudah dipastikan sesuatu hal besar sedang terjadi.
Seseorang tersebut mendorong tubuh si mandor, Edi untuk maju mempertanggungjawabkan kesalahannya.
“cepat buruan sana. Kami mau kerja nyari duit, bukan nonton anda berdiri disini” kesal seseorang tersebut.
Akhirnya semua yang didekat mandor tersebut mendorongnya ke depan bersama 2 orang yang bekerjasama dengan si mandor.
Mereka bertiga panik sehingga tanpa sengaja tersungkur di depan podium. Seluruh buruh pabrik tersebut tertawa melihat mereka terjungkal.
Perlahan-lahan ketiga orang tersebut bangkit dengan rasa malu yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Rasanya mereka ingin bersembunyi dilubang gelap agar orang lain tak dapat melihat wajah mereka.
“Perhatian semuanya…harap kembali tenang” sekretaris memberi intruksi agar mereka semua diam mendengarkan penjelasan dari direktur mereka.
“seperti yang kalian semua tau, bahwa saya berusaha keras agar perusahaan tetap berdiri”ayah Jo berhenti sejenak memandang keseluruh aula tersebut.
“saya akan bertanya pada semua yang ada disini, apakah kalian pernah merasa di rugikan?” tanya ayah Jo sendu
“tidaaakk” jawab para buruh kompak “apakah hak hak pekerja pernah kami tunda atau potong?” ayah
Jo kembali bertanya
“tidaaakk” seru para buruh sekali lagi “ataukah kalian pernah terluka perasaan atau harga diri oleh sikap kami?”
“tidaaak pak, seluruh pimpinan di perusahaan ini sangat baik” pekik seorang buruh
“ya benar… gak pernah pilih kasih” sambut yang lain
“tapi saat ini… disini… hatiku terlukai oleh pengkhianatan dan kami punya bukti konkritnya” suara ayah Jo berubah menahan emosi, matanya memerah melirik 3 orang pengkhianat di dekatnya.
“apaaaa…?” buruh kembali berbisik-bisik
__ADS_1
“tuh kan bener kubilang, pasti ada sesuatu deh” ujar seseorang
“mampuss kan… kualat kalian, udah miskin, sombong pula” kata yang lainnya
“iya tuh, selama ini kayak dia yang punya pabrik…eh ternyata kutu dalam air” sahut yang lainnya
Ketiga orang tersebut tak mampu berkata-kata, mereka hanya bisa menundukkan kepalanya. Percuma untuk membela diri saat itu, pasti karena ada bukti makanya perilaku mereka ketahuan. Mereka manahan diri dari tambah malu dengan diam saja menerima semua. Dengan begitu, mereka yakin akan dibebaskan tanpa tuntutan.
“seperti yang kita ketahui, pihak pesaing memilik produk yang kualitas dan rasanya sangat mirip dengan produk kita. Mereka lah yang membocorkan resep tersebut” ungkap Dayana mengambil alih pembesar suara tersebut dari ayah Jo. Karena melihat ayah Jo gemetar menahan gejolak emosinya, Dayana tidak ingin
ayah Jo menahan semua sendiri, beban keluarga harus ditanggung bersama.
“mereka bersama pihak pesaing ingin menghancurkan mimpi kita semua, menghancurkan tempat ini yang telah kita bangun atas rasa kepercayaan dan mensejahterakan hidup keluarga kita”
“mereka bukan hanya akan menghancurkan kami, tapi menghancurkan perekonomian kita semua” imbuh Dayana berapi-api
“mereka hanya mementingkan perut sendiri tanpa pedulikan nasib keluarga kalian kelak”
“dan mulai hari ini, saya Dayana akan bekerja bersama dengan kalian semua dengan resep rahasia kita yang baru, dan akan berada dibawah pengawasan saya sendiri bersama 4 orang yang telah lama bekerja dengan saya”
“mohon dukungan dan bimbingan dari kalian semua, terimakasih”
Dayana menutupnya langsung tanpa memperpanjang waktu. Ia tak ingin membuang banyak tenaga dan waktu hanya sekedar untuk berbasa basi seperti itu.
Dayana kini resmi memasuki pertempurannya sendiri, maka ia harus mempersingkat waktu untuk melangkah lebih banyak.
Riuh suara buruh bertepuk tangan menyambut kedatangan Dayana untuk bergabung diperusahaan itu. Ketika sekelompok kru pabrik itu bubar, setiap orang dari mereka memandang takjub serta kasihan pada keluarga Barata. Mereka bersikap adil dan baik, tapi dikhianati begitu kejam oleh orang-orangnya sendiri.
"baiklah, semua udah pada jelas dan paham ya kondisinya?" tanya sekretaris tersebut yang bernama Lina
"sudaaahhh..."kembali jawaban kompak terdengar.
"ok kalau gitu dipersilahkan untuk beraktifitas kembali ya, sampai jumpa lagi" pinta Lina sopan melambaikan tangan disambut oleh para buruh.
Polisi yang menunggu diluar aula membawa Ketiga orang tersebut ke kantor polisi dengan bukti yang ada ditangan Ronny. Sepertinya kali ini ketiga orang tersebut salah perhitungan, mereka sedikit memberontak dan memohon pada Johan Barata untuk dilepaskan.
Biasanya ayah Jo akan melepaskan orang-orang yang bersalah padanya. Namun kali ini ia harus bersikap sedikit kejam. Langkah ini diambil untuk memperkuat bukti kesalahan dan kejahatan Zahri agar bisa mengambil penuh hak asuh Lala.
"Lala, kamu harus kuat nak. Bersabarlah sampai bunda menjemputmu" gumam Dayana lirih menatap langit cerah diatas
__ADS_1