
Purnomo mengepal tangannya kuat menahan amarah yang tertuju pada Ronny. Zahri mempererat pelukannya pada ibunya, menangis sesegukan.
Di saat itu pula akhirnya Ronny tiba dengan ketakutan yang luar biasa. Awalnya Ronny ingin memberitahukan bahwa ia sudah memiliki istri. Tapi Zahri menolak Ronny untuk jujur pada Purnomo dan Mitha. Agar kedua orangtuanya tidak menolak pernikahan mereka berdua.
Sudut mata bu Mitha menangkap sosok Ronny yangberdiri kaku diambang pintu.
"Ayah..." Ujung dagu bu Mitha mengarah ke pintu masuk .
Sontak ayah Zahri berjalan cepat ke arah Ronny, tanpa aba-aba sebuah pukulan dari Purnomo sukses mendarat di pelipis Ronny.
"Maaaaasss..." Teriak Zahri berlari kepada Ronny, ia menggunakan tubuhnya untuk membentengi suaminya tersebut.
Dayana sontak berdiri, ia khawatir dengan kondisi suaminya, tapi ketika ia akan melangkah. Tubuhnya ditahan oleh bunda Lidya. Bunda menggelengkan kepalanya agar Dayana menonton saja drama yang terjadi saat itu.
"Minggir Zahri....ayah harus beri pelajaran pada penipu ini" titah ayah Zahri penuh amarah.
"Gak .. ayah. Mas Ronny g pernah bohong" bela Zahri yang bersikukuh melindungi suaminya sedang tarik menarik dengan ayahnya.
Dayana mengikuti perintah bunda Lidya untuk duduk diam. Dan mempertimbangkan kehamilannya.
"Minggir kataku..." Bentak Purnomo menghempaskan tubuh Zahri yang ditangkap ibunya.
Ronny tak melawan saat ayah mertuanya itu memukulinya bertubi-tubi. Zahri terlepas dari pegangan ibunya. Ia kembali melindungi suaminya yang sudah terkulai lemah dilantai.
"Cukup ayah...hikss..hikss"
"Hentikaaan...hiks..hiks" Zahri menangis tersedu-sedu.
Purnomo mengusap kasar wajahnya, ia begitu marah sehingga membuat wajahnya begitu merah.
"Bukan mas Ronny yang salah"
"Zahri yang larang mas Ronny jujur ke ayah ibu..hikss"
"Harusnya Zahri yang ayah pukul, bukan mas Ronny...hikss.." Zahri menatap sendu wajah suaminya yang sudah babak belur itu.
"Sekarang juga kemasi barang-barangmu. Ikut pulang dengan kami" perintah ayahnya.
"Gak...ayah"
"Zahri gak mau pisah sama mas Ronny" tolaknya
"Ayah...zahri mohon" kini Zahri memeluk kaki ayahnya untuk memohon pengampuan bagi mereka.
"Zahri, dimana harga dirimu. Kau tak diterima disini nak" tambah ibunya
"Beri kami waktu, yah" ratap Zahri kembali.
"A..ayah...Ronny minta maaf"
"Ta..tapi demi anak kami, be..beri kami waktu perbaiki semuanya" Ronny berusaha untuk berdiri tegak, Zahri segera membantu Ronny untuk berdiri.
"Aku sudah mengatakan keputusanku" tegas sang ayah.
"Keputusan apa" tanya suara seseorang yang baru saja tiba didepan pintu masuk.
"Ada apa ini?" Tanya ayah Jo kembali.
Ayah Jo melangkah masuk, ia begitu terkejut saat melihat wajah putranya penuh lebam dan mengeluarkan darah diujung pelipisnya.
Namun, sedetik kemudian ayah Jo langsung mengerti saat ia mengedarkan pandangan disekelilingnya. Dayana dan istrinya duduk diam menonton pertandingan gulat antara Ronny dan Purnomo.
Saat Purnomo mencoba mengatakan sesuatu, ayah Jo mengangkat sebelah tangannya , Purnomo tak perlu menjelaskan apapun.
"Selesaikan masalah kalian diluar. Putriku butuh ketenangan" putus ayah Jo tanpa menoleh.
Ayah Jo melangkah meninggalkan mereka yang tercengang Purnomo fikir, ayah Jo akan balik melampiaskan emosinya ketika wajah putranya sudah tak berbentuk lagi.
Sedangkan Ronny tak berharap banyak dengan kehadiran ayahnya. Ia tahu bahwa ayahnya sama sekali takkan menjadi penengah mereka.
__ADS_1
"Ayo nak...istirahat dikamar"
"Tak perlu melihat hal yang memperburuk kesehatanmu" pinta ayah Jo mengelus lembut rambut Dayana.
"Ayah benar, sayang. Kita masuk kamar ya" bunda Lidya memapah tubuh Dayana perlahan.
Dayana menuruti perintah ayah bundanya. Tak dipungkiri, hati Zahri begitu cemburu melihat perhatian mertuanya hanya tertuju pada Dayana.
Sama halnya yang dirasakan kedua orang tua Zahri, hati mereka berdenyut sakit melihat perbedaan perlakuan antara Dayana dan putri mereka.
Setelah Dayana dan dua orang tua masuk ke kamar Dayana, kembali Drama tersebut berlanjut.
"Ayah, jangan salahkan mas Ronny"
"Zahri yang memaksa mas Ronny dari awal, agar tak cerita tentang pernikahan pertamanya" Zahri mulai menjelaskan dengan tatapan sendu di matanya itu.
Purnomo menggeleng kepala tak percaya dengan ucapan putrinya barusan.
Plak...
Zahri terhuyung kebelakang menerima tamparan keras sang ayah.
"Kenapa kau begitu bodoh Zahri"
"Aku menyekolahkanmu agar kau mampu melihat yang benar dan yang salah"
"Kau membuat kami sungguh malu" hardik Purnomo.
Mitha tak mampu berkata apapun. Ia juga menyalahkan Zahri atas keputusan bodohnya itu.
Ronny memohon maaf pada kedua orangtua Zahri. Ia menolak paksaan ayah dan ibu mertuanya untuk menceraikan Zahri, begitu juga Zahri yang bersikukuh untuk tetap menjadi istri Ronny. Sungguh Ronny tak mampu melepaskan Zahri yang saat itu telah mengandung anaknya.
"Tadinya aku ingin memberi kejutan untukmu, tapi saat sampai disini, malah aku yang sangat terkejut".
"Aku telah gagal mendidikmu" kata-kata itu tertuju pada Zahri, membuat Zahri begitu terluka saat mendengarnya.
"Cukup..." Ucap Purnomo menghentikan Zahri.
Hati Purnomo begitu terluka sehingga tak ingin mendengar apapun lagi dari Zahri dan Ronny.
Kedua orang tua Zahri pulang begitu saja, tanpa kata atau pamit pada besannya.
Mereka butuh waktu untuk dengan tenang mencerna tiap kejadian yang tak mereka sangka-sangka hari ini.
Mungkin jika mereka tidak berencana datang diam-diam, bisa saja mereka tak akan pernah tahu sampai kapan pun perihal pernikahan putri mereka. Yang ternyata menjadi perebut suami wanita lain.
Mereka sungguh malu, mau ditaruh dimana wajah mereka kelak jika kerabat dan seluruh orang dikampung mereka mengetahui sebenarnya tentang pernikahan putri mereka.
Di kamar Dayana...
"Sayang..."
"Apa kau baik-baik saja" ayah Jo memastikan jantung istrinya tidak kenapa-kenapa.
"Bunda baik-baik saja kok, yah"
"Dayana lah yang perlu kita khawatirkan" ujar bunda menyentuh perut Dayana yang sudah terlihat membuncit.
"Dayana, ok bun" senyum tipisnya terukir, namun matanya berkata lain.
"Dayana, tetaplah hanya fokus dengan kehamilanmu" ayah Jo memposisikan diri duduk ditepi kasur Dayana berhadapan dengan istrinya yang juga duduk bersandar di sebelah menantu mereka.
"Ini impianmu kan nak"
"Biarkan Ronny menerima hukumannya" tegas ayah Jo memberi keputusan.
Kedua wanita kesayangan ayah jo mengangguk setuju menerima keputusan yang sudah ia buat. Mereka yakin apapun yang suami dari bunda Lidya itu beri, itu adalah hal yang terbaik untuk mereka.
Setelah beberapa waktu, akhirnya Dayana kembali tenang. Bunda Lidya serta ayah Jo juga kembali ke kamar mereka di lantai atas meninggalkan Dayana sendirian mendengar lagu klasik untuk memberi efek relaksasi.
__ADS_1
Dayana tak tahu akan berbuat apa ke depannya. Ia semakin kecewa terhadap Ronny. Kenapa mau saja dipaksa untuk berbohong.
Dayana tak sanggup memikirkan hal lain lagi saat ini. Ia harus fokus dengan kehamilannya. Meskipun hati kecilnya sangat ingin mendapat sentuhan dan perhatian suami ditiap waktu mengiringinya melewati masa kehamilan yang tak mudah.
Di kamar lain ...
Zahri tengah merawat luka-luka yang diberikan ayahnya pada wajah dan perut Ronny.
Ronny meringgis kesakitan, namun perih yang Ronny rasakan tidak sepedih luka yang dirasakan oleh Dayana.
"Maafin aku mas" lirih Zahri
"Ini semua salahku" Zahri menundukkan kepala mulai menitikkan air matanya lagi.
"Sudahlah, yang berlalu biarlah berlalu"
"Kita akan mulai semua dari awal"
"Maukah kau bersabar melewati ini semua" tanya Ronny pada madu Dayana itu.
"Aku mau mas, asalkan bersamamu, aku bisa lewati setiap badai" jawabnya yakin
Sejenak ke lima orang dirumah itu, tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Sementara di bagian belakang rumah Johan Barata, terjadi percakapan panas antara 3 orang PRT mereka.
"Iihhh, aku makin gemes deh mbak sama non Zahri itu" ujar mbak Susi pada mbak Ita.
"Iya ya. Kupikir orangtuanya tau dia itu istri kedua" sahut mbak Ita setuju.
"Gara-gara dia, mas Ronny mulai berbohong" ujar mbak Susi kembali.
"Iya, ditambah lagi. Dia juga yang maksa nutupi mas Ronny udah punya istri" imbuh mbak Ita lagi
Mang Darman mengangguk anggukan kepala mendengar kedua temannya bergosip.
"Mang Darman, ngangguk terus dari tadi"
"Mang Darman gak greget nonton drama gratis tadi" ujar mbak Ita menyenggol tangan mang Darman.
"Eeh.. lah, saya mau komentar apa mbak"
"Saya juga kasihan melihat keluarga ini gak seharmonis dulu" ujarnya lesu.
"Tapi kembali lagi, kita ini cuman pembantu. Gak bisa ikut campur, cuman bisa doain yang terbaik buat majikan" nasehat mang Darman bijak.
"Iya sih mang"
"Kita ini memang babu, tapi kita gak pernah dianggap babu sama ibu dan non Dayana" mata mbak Ita mulai berkaca-kaca.
"Gak pernah nemu majikan sebaik ini dan sehormat ini sama kita" tambahnya lagi.
Kata-kata yang di utarakan oleh mbak Ita dibenarkan oleh kedua orang temannya itu. Masing-masing dari mereka punya pengalaman pahit dengan majikan sebelumnya.
Tidak seperti majikan mereka saat ini, yang memperlakukan mereka seperti kerabat. Kemanapun majikannya pergi, pasti tak lupa membawa oleh-oleh buat mereka juga.
"Sudah...sudah. Kembali kerja"
"Sudah sore, kita belum masak makan malam nih" ujar mbak Susi memotong lamunan mereka masing-masing.
Makan malam hari itu begitu sepi. Mereka masing-masing memilih makan di kamar untuk menghindari diri satu sama lain.
Ronny dan Zahri makan dikamar mereka, sedangkan Dayana, bunda Lidya serta ayah Jo makan dikamar Dayana.
Ketika makan malam diantar ke kamar Dayana, ketiga PRT tersebut meminta izin untuk makan bersama disana.
Ayah Jo tidak keberatan, setidaknya kehadiran mereka bisa menambah semangat menantu kesayangannya itu.
Mereka duduk lesehan di ambal tebal dikamar yang estetik itu. Sedangkan Dayana tetap diharuskan duduk di tepi kasur.
Mereka berenam menikmati makan malam dengan kehangatan. Senda gurau dan aksi saling ejek antara PRT membuat suasana malam itu penuh keceriaan. Seakan tak pernah terjadi apapun siang itu.
__ADS_1