Madu Manis Milik Suamiku

Madu Manis Milik Suamiku
Episode 32


__ADS_3

Dirumah Zahri, Lala sudah bisa menyesuaikan dirinya. Lala sudah mulai melanjutkan pendidikannya dengan home schooling yang diatur oleh Zahri.


Lala, Ia mulai memasang jebakan sedikit demi sedikit dengan mengandalkan wajah polosnya.


Dipermukaan Lala tampak seperti bocah penurut, tapi ketika targetnya sedang lengah, maka ia akan berubah seperti kancil yang licik.


Seperti kemarin, ia memasukkan obat pencahar milik neneknya ke makanan dan minuman Zahri dan neneknya Mitha.


Lala berlagak tidak tahu apa-apa saat melihat Zahri dan neneknya mondar mandir seharian ke toilet sampai mereka dehidrasi.


Hari berikutnya saat masih subuh, Lala turun dari balkon kamarnya, kemudian Lala mengempiskan dua ban mobil milik Zahri dan menyembunyikan kuncinya sehingga ia terlambat ke pertemuan penting sampai kehilangan kerjasama dengan penanam modal yang baru.


Niat Lala untuk mengerjai Zahri begitu kuat menghilangkan rasa phobianya pada ketinggian ataupun kegelapan.


"Bu, besok bangunkan aku lebih cepat ya. Aku ada janji ketemu Investor asing besok jam 9" pesan Zahri pada ibunya saat mereka makan siang.


"Ok" jawab bu Mitha singkat.


Lala dengan santai dan bersikap acuh di meja makan tersebut sedang tersenyum licik di hatinya. Idenya untuk menggagalkan pertemuan penting Zahri sekali lagi muncul di otak kecilnya yang punya segudang akal jahil.


Sore itu disaat Zahri sedang menyusun proposal untuk ia bawa besok di ruang kerjanya, Lala menyelinap masuk ke kamar neneknya.


Di kamar tersebut terdapat obat tidur yang di sering diminum bu Mitha saat ia kesulitan untuk tidur pada malam hari.


Lala berjingkat pelan masuk ke kamar tersebut, Mitha sedang berada di kamar mandi saat Lala masuk ke kamarnya. Seperti biasa rutinitas sore Mitha tiap pukul 5 sore ia mandi kemudian bersiap-siap masak untuk makan malam.


Dengan cepat Lala mengantongi beberapa butir kapsul obat tidur di saku celananya. Kemudian Lala berpura-pura main bonekanya di atas kasur neneknya itu.


Cekleeekkk....


"Eh, Lala. Nenek kaget ada kamu disini" ujar Mitha yang memang kaget ada orang lain dikamarnya.


"Nek, malam ini Lala mau ayam goreng, nasi goreng pedas sama dadar ya" pintanya polos


"Oohh, jadi kamu kesini mau request makan malam?" Kata Bu Mitha tanpa kecurigaan apapun.


"Iya..." Lala tersenyum polos kembali tapi sisi lain Lala tersenyum licik.


Bu Mitha mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan hair dryer. Saat itu ia melihat jam di dinding sudah pukul 6 sore. Waktunya ia menyiapkan makan malam untuk dirinya, Zahri, Lala dan babysitter yang hanya bertugas mengurus segala keperluan Lala.


"Ok kalau gitu nenek ke dapur dulu ya siapin request nya kamu" bu Mitha meletakkan sisirnya kembali di meja rias.


Saat bu Mitha hendak membuka pintu, Lala pun kembali berseru.


"Nenek, Lala bantu ya. Lala mau buat hiasannya" rengek Lala dengan maksud tertentu.


"Waahh, senang sekali nenek dibantu cucu semanis kamu" puji bu Mitha tulus.


Ia bersyukur bahwa Lala telah menerimanya sebagai neneknya. Meskipun Lala tetap tak mau menyebut Zahri sebagai ibu kandungnya. Bu Mitha tak memaksakan sebutan tersebut. Menurutnya Lala secara perlahan akan menerima Zahri sebagai ibu kandungnya.


Jika saja bu Mitha mengetahui maksud dari perubahan sikap Lala kepada mereka berdua. Lala bukan anak yang patuh dan manis jika ada seseorang yang akan menyakiti bundanya. Lala akan berubah menjadi iblis kecil yang melindungi bundanya dari siapapun.


Di dapur Lala memperhatikan neneknya meracik bumbu nasi goreng. Sambil sesekali berceloteh tentang kesehariannya di sekolah bersama Danta kakaknya.


Bu Mitha dengan senang hati mendengar cerita dari cucu kesayangannya, padahal Lala saat itu sedang berakting sewajarnya.

__ADS_1


"Hii ..hii.. kalau udah besar nanti, Lala pasti jadi artis sinetron nomor satu 😏" gumamnya pada dirinya sendiri


"Lala, kenapa kamu senyum-senyum gitu?" Tanya neneknya heran.


"Ehh... Gak napa-napa nek. Lala cuman ingat dengan temen Lala yang pup di celana, hehehe" alasannya sembarangan.


"Oohhh gitu. Lucu ya temen kamu"


Bu Mitha lanjut menumis bumbu dan mulai memasukkan bahan bahan lainnya satu persatu.


Beberapa saat kemudian...


"Selesai..." Bu Mitha tersenyum puas makanan yang di request khusus cucunya itu telah selesai.


"Tunggu nek. Biar Lala yang taruh dipiring" cegah Lala saat neneknya akan memasukkan nasi gorengnya ke mangkuk besar.


Lala kemudian mengambil satu mangkuk besar dan satu mangkuk kecil dari tempat piring dan meletakkan 4 buah piring makan di samping kompor tanam dapur tersebut.


"Kamu mau apa dengan mangkuk itu, Lala?" Mitha bingung


"Mau Lala cetak nek" terang Lala.


Setelah selesai mencetak nasi ke masing-masing piring. Lala kemudian meminta neneknya untuk mengambil timun dan tomat sebagai pelengkap.


Saat neneknya sedang sibuk mencari apa yang diminta Lala, disitulah kesempatan Lala menaburi obat tidur di 3 piring dengan cetakan mangkuk besar.


Lala membuka cangkangnya dengan cepat, menaburi dua kapsul untuk masing masing nasi goreng di piring tersebut.


Kemudian Lala mengantongi kembali cangkang kapsul yang sudah kosong tersebut.


Lala tersenyum nakal, merasa bangga dengan dirinya sendiri.


Lala melanjutkan menyusun ayam goreng dan telur ke dalam piring disaat yang sama neneknya akhirnya menemukan 1 buah timun terakhir di tumpukan sayur.


"Loh, Kamu sudah selesai Lala? Cepat sekali" puji bu Mitha bangga.


"Bukan Lala yang cepat, nenek yang kelamaan" sahut Lala sembari menaik turunkan alisnya.


"Hahaha ...kamu ini gemes nenek lihat tingkahmu" seru bu Mitha mencubit pipi tembam Lala.


"Aahhh nenek. Tangan nenek bau udang" Lala mengusap usap pipinya risih.


"Oh iya, masih bau amis udang ya, hehehe..." Ia lupa mencuci tangan dengan jeruk nipis untuk menghilangkan bau udang saat ia meracik bumbu nasi goreng.


"Nenek potong sayurnya dulu ya. Habis itu kita letak piringnya di meja makan" bu Mitha mencuci timun dan tomat bergantian. Lalu memotong tipis secukupnya dan menempatkannya ke dalam piring.


"Yeeayayyy.... Jadi cantik kan nek kayak di restoran bunda" ucap Lala girang yang dibuat buat.


"Hmmmm..." Bu Mitha menjawab dengan berdehem saja.


Jika itu adalah orang lain, bu Mitha pasti memarahi orang tersebut jika menyebut nyebut nama Dayana.


Tapi ini adalah cucunya sendiri, tak mungkin ia bertindak gegabah dan dibenci oleh Lala sehingga menjauhkannya dari cucunya tersebut.


"Yok, bantu nenek angkat piring piring ini ke meja" ajak bu Mitha.

__ADS_1


"Ok..." Lala hanya mengangkat piring nya sendiri yang sudah dicetaknya dengan mangkuk kecil dan ayam goreng bagian paha kesukaannya.


Sudah hampir pukul 7 malam saat mereka mennyelesaikan kegiatan masak memasak.


Bu Mitha berjalan ke ruangan kerja Zahri. Mengetuk pintunya.


Tokk..tokk..tok..


"Zahri, udah waktunya makan malam" bu Mitha tetap dibalik pintu tak berniat membukanya.


"Iya bu, sebentar" sahut Zahru dari dalam.


Setelah mendapat jawaban, bu Mitha kembali lagi ke meja makan. Duduk disana menunggu yang lain datang.


Babysitter Lala muncul tepat waktu. Ia pulang tepat saat jam makan malam. Siang tadi si babysitter izin keluar ke supermarket membeli beberapa barang kebutuhannya.


"Hmmm...wangi bener bu. Istimewa sekali ya makan malam hari ini" ucapnya jujur.


"Iya donk, ini menu makan malam khusus permintaan princes kecil kita" ungkap bu Mitha senang.


"Oohhh.. non princess ya yang masak?" Goda babysitternya.


"Lala cuman bantu makan aja mbak" sahutnya cuek.


Tak lama kemudian Zahri masuk ke ruang makan. Kemudian mereka pun mulai makan malam.


"Bu, jangan lupa besok ya bangunin aku lebih cepat" Zahri mengingatkan.


"Iya, ibu udah pasang alarm. Kamu juga ya setel alarm kamu" titah ibunya.


"Iya bu. Aku masuk kamar duluan ya" pamit Zahri pada semua orang disana.


Setelah selesai makan malam, mereka kembali ke kamar masing-masing. Lala tidur ditemani babysitternya.


Malam itu, Lala tersenyum senyum sendiri membayangkan kehebohan yang dibuatnya esok hari.


"Hii..hii... Lihat aja besok. Rumah ini akan bergoncang dengan teriakan tante kunti 😈 "


Keesokan paginya, pukul 6 pagi alarm bu Mitha dan Zahri bunyi bersamaan. Tapi tak ada satu dari mereka yang mematikan alarm tersebut.


Masing masing dari mereka masih tertidur pulas di bawah selimut hangatnya.


Hingga beberapa jam kemudian Zahri mulai terbangun ia menguap merenggangkan otot badannya yang pegal, lalu Zahri mengambil ponselnya untuk melihat jam.


Dengan mata yang masih mengantuk, Zahri mengucek matanya agar penglihatannya menjadi jelas.


Zahri mengedipkan matanya berulang ulang memastikan angka jam di ponselnya tersebut.


"I...ini...udah siang????" Mata Zahri sukses membulat melihat sudah jam 10 di layar ponsel canggihnya.


Lalu puluhan panggilan dan pesan singkat dari asistennya Gilang serta investornya muncul di layarnya.


"Ibuuuuuuuuuuuuu....." Teriakkan Zahri begitu kencang membangunkan penghuni rumah yang lainnya.


Bu Mitha dan babysitter tersentak bangun mendengar teriakan Zahri. Mereka bergegas menuju kamar Zahri untuk melihat apa yang terjadi.

__ADS_1


Sedangkan Lala tetap di kamarnya tertawa terpingkal pingkal sampai sakit perut.


haiii semua... dukung karya aku ya dengan like n komen. pintu kritik dan saran terbuka lebar gaaeess.. love u all 😘😘😘


__ADS_2