Madu Manis Milik Suamiku

Madu Manis Milik Suamiku
Episode 15


__ADS_3

Malam hari ayah Jo dan bunda Lidya seperti biasa, menemani Dayana makan malam dikamarnya.


"Bun, gimana tadi hasil cek kandungan Dayana" tanya ayah Jo


"Hasilnya bagus, yah"


"Perkembangan baby D begitu pesat" jawab bunda sambil sibuk mengunyah daging rendang favoritenya.


"Baby D?? " Ayah Jo bingung


"Iya, ayah... Baby D"


"Mau cewek atau cowok yang lahir, kami sepakat namanya harus dimulai dari huruf D" ucap bunda Lidya mantap.


"Oohhh ...." Ayah Jo hanya ber O ria menanggapi penuturan istrinya.


Lagi asyik-asyiknya mereka ngobrol, pintu kamar Dayana diketuk.


"Ini yang gedor pasti mbak Susi lagi nih" bunda Lidya berdiri untuk membuka pintu.


"Apalagiiii sihh mbak....eh loh, mau ngapain kalian kemari??" Tanya bunda Lidya yang awalnya mau pura-pura marah, malah jadi marah sungguhan saat melihat dua orang yang berdiri dihadapannya.


"Bun, ka..kami berdua ingin berbicara dengan Dayana"


"Tolong izinkan kami ketemu" mohon Ronny pada bundanya.


"Tidak bisa..." Tolak bunda Lidya tegas.


"Kalian berdua memang gak tau malu ya, masih untung kalian dikasi numpang dirumah ini" ucap bunda kasar karena masih tak ingin berdamai dengan keduanya.


"Bun ..tolonglah sekali ini saja" Ronny berlutut dikaki bundanya.


"Setelah ini, apapun keputusan Dayana. Ronny akan terima dengan pasrah" Ronny mengeratkan pelukkannya dikaki sang ibu kandung yang telah disakitinya.


Ayah Jo menghampiri mereka di pintu kamar tersebut.


"Bun, sudah... Sudah"


"Dayana memberi izin mereka bicara sebentar" ayah Jo berusaha menenangkan istrinya itu.


Jika hal itu adalah tentang Dayana, bunda Lidya memang menjadi super protektif. Tak mudah untuk menjadi seorang Dayana yang orangtuanya tewas menjadi korban tabrak lari saat usianya masih sangat kecil. Bunda paham sekali rasanya tak memilik orang tua atau sanak saudara yang bisa menjadi tempatnya berlindung. Karena bunda Lidya juga adalah anak yatim piatu yang dibesarkan di panti asuhan.


"Tapi...ayah." bunda kekeh tetap menolak


"Sudahlah bunda, kita serahkan keputusan pada mereka" ujar ayah Jo kembali


Bunda Lidya berbalik melihat Dayana yang bersandar di kepala ranjang dengan menutupi perutnya menggunakan selimut dan bantal.


Dayana mengangguk yakin pada bundanya. Ia telah siap mendengar apapun dari mereka. Hatinya telah lelah menangis, sepertinya stok airmata Dayana telah terkuras habis.


"Ok kalau begitu... Tapi ingat, jika kalian berani membuat Dayana menangis, akan kupastikan kalian kuusir malam ini juga" bunda Lidya memberi ultimatum pada Ronny dan Zahri.


Ronny bergegas berdiri mengucapkan terimakasih pada bundanya.


Ronny dan Zahri masuk ke kamar Dayana yang estetik dan serba lengkap itu. Ronny baru kali ini melihat bagian dalam kamar yang dirancang seperti kamar type studio mewah.


"Day ..." Ronny melangkah mendekati Dayana

__ADS_1


"Tak perlu jarak terlalu dekat untuk bicara denganku. Telingaku tidak tuli" Dayana langsung memasang tembok penghalang bagi mereka berdua.


Zahri menarik lengan Ronny yang terpaku mendengar peringatan Dayana.


"Baiklah..." Ronny menghela nafas berat.


"Day, mas dan Zahri. Sungguh ingin memohon pengampunanmu" ucap Ronny tanpa berbasa basi lagi


"Ckk...huh" bunda berdesis kesal, ayah Jo menepuk nepuk pelan bahu istrinya. Agar  tenang dan tak ikut campur.


"Mas Ronny benar mbak. Disini akulah yang bersalah.. aku yang tak mau mas Ronny jujur pada semuanya. Aku takut tak mendapat restu" Zahri mulai mengungkapkan perasaannya. Ia mencoba menahan air matanya.


"Aku rela dijadikan alas kaki dirumah ini, asalkan mbak mau maafin aku" ujar Zahri pasrah.


"Apaaa...alas kaki? Jadi kain pel rumah ini saja kau tak pantas" sambar bunda Lidya yang sangat muak mendengar suara Zahri.


"Bundaaa..." Ayah Jo memberi peringatan kedua.


"Kalau bunda gak bisa nahan diri lagi, kita keluar saja" ancam ayah Jo yang sukses membuat bunda Lidya cemberut dan terdiam.


"Benar yang bunda katakan. Aku terlalu kotor, hingga menjadi kain pel rumah ini saja tak pantas...hikss"


Bunda Lidya memutar bola matanya menatap jijik pada Zahri.


"Day, tak bolehkah kami meminta kesempatan untuk memperbaiki ini semua?" Tanya Ronny berharap.


Dayana  tak mengubah posisi duduknya yang terus menatap selimut diujung kakinya saat mereka berbicara. Ia berfikir, teringat pesan pamannya sebelum pamannya pulang ke rumah.


~Berlian tidak seketika menjadi permata mahal nan elok ketika muncul kepermukaan, ia perlu di asah dan dibentuk sedemikian rupa agar bernilai tinggi~


~dan gunung takkan menjadi rendah ketika ia menundukkan puncaknya~


"A..aku, akan menerima semua hukuman darimu sepanjang hidupku. Asalkan kau menerima mas Ronny dan Izinkan aku berada disisimu melayanimu, meski nanti  harga diriku mbak injak, aku rela" Zahri harus melakukan semua ini karena permintaan ayahnya.


Bahkan saat mengucapkan kalimat itu, Zahri sebenarnya sangat tak rela jika ia akan menerima penghinaan terus sepanjang hidupnya. Namun apa daya, perintah ayahnya tidak bisa ditolak agar ia mendapat pengampunan dari ayahnya dan diterima kembali masuk ke dalam keluarganya.


"Dayana, tolong pahami situasi mas"


"Memang cara mas salah, tapi apakah keinginan mas juga salah?" Ronny tetap bersikeras bahwa yang ia lakukan itu untuk memperpanjang silsilah keluarga Barata.


Bunda terlonjak kaget mendengar penuturan Ronny yang sungguh sangat egois itu. Alasannya hanya untuk menutupi kesalahan fatalnya.  Ia ingin bergerak mencabik-cabik wajah tak tahu malu putranya tersebut.


Tapi, ia teringat segera ultimatum suami yang masih merangkulnya erat agar tak bergerak menyambar Ronny dan Zahri.


Begitupun Dayana yang berdecak muak dengan alasan Ronny yang masih sah menjadi suaminya.


Dayana menggeser bantal yang menutupi perutnya. Membuka selimut yang membungkus perut hingga kakinya. Kemudian ia menurunkan kedua kakinya berdiri  menghadap Ronny.


Mulut Ronny menganga lebar saat ia melihat perut buncit Dayana yang berjalan selangkah demi selangkah ke arahnya.


"Dayana...kamu..." Ronny tak tau harus marah, malu atau bahagia.


Plakkk....


Sebuah tamparan keras tepat mendarat di wajah tampan Ronny. Lalu ia mengambil langkah mundur tiga langkah menjauh dari Ronny.


Ronny tercengang mendapat tamparan itu. Tak perlu kata-kata, tamparan yang Dayana berikan menjelaskan semuanya.

__ADS_1


Bunda Lidya tersenyum puas dengan tamparan wajah dua kali lipat yang diberi Dayana.


"Yesss...Itu baru namanya menantuku" bisiknya girang melirik suaminya dengan senyum sumringah.


Sedangkan  ayah Jo berdecak tak mengerti, kenapa putranya itu begitu keras kepala dengan alasannya yang menurutnya bodoh dan gegabah.


Lutut Ronny lemas seketika ia berlutut tak percaya ini adalah mimpi atau nyata. Ternyata selama ini Dayana telah mengandung bahkan sebelum ia mengenal Zahri.


Ronny pun tak mampu berfikir lagi, haruskah ia menyesal dengan pernikahannya bersama Zahri. Ronny terlihat sangat rendah di mata istri pertamanya itu. Ia bertanya-tanya, apakah Zahri tidak mengetahui sama sekali tentang kehamilan Dayana. Bukankah mereka lebih banyak menghabiskan waktu dirumah??


Sekarang, kenapa Ronny mempertanyakan Zahri. Bukankah keputusan menikah adalah kesepakatan bersama. Ia hanya dipaksa tak jujur dengan pernikahan pertamanya, bukan dipaksa menikahi Zahri.


Zahri menunggu pasrah keputusan untuknya dari Dayana. Jika saja ia tidak terikat sumpah pada ayahnya. Pasti ia takkan memiliki keberanian untuk menghadapi Dayana saat ini.


Dayana yang telah kembali menyelimuti setengah tubuhnya itu, menarik nafas panjang. Dayana bukanlah orang yang egois seperti mereka. Di awal memang Dayana menyalahkan dirinya sendiri sebelum ia tahu bahwa dirinya telah hamil.


"Baiklah..." Pola Nafas Dayana telah kembali teratur setelah beberapa saat ia menenangkan diri.


"Aku akan memberi kesempatan dan memaafkanmu sebagai sesama wanita yang sedang hamil".


"Selama kau disini, aku pastikan bunda tidak akan mengintimidasimu. Semua ini bunda lakukan karena ia melindungiku sebagai putrinya. Takkan ada satu orang ibu pun yang rela putrinya disakiti, bunda adalah sosok ibu yang terlalu penyayang dan lembut" Dayana tersenyum pada ibu mertuanya tersebut.


"Tapi...tidak untukmu mas" tegas Dayana ketus.


"Entah sampai kapan, tapi aku tak tau, apakah hatiku mampu menerima kehadiranmu lagi" ujarnya lirih.


Ronny menerima keputusan yang Dayana berikan. Sebagai seorang pria sekaligus suami. Ia telah kehilangan harga dirinya dimata wanita yang sangat ia cintai itu.


Suasana rumah jauh lebih tenang sekarang. Sejak Dayana telah mengungkapkan perasaannya untuk berdamai dengan kenyataan bahwa suaminya telah menikah kembali. Zahri spontan memeluk Dayana menangis haru, ia berterimakasih Dayana mau membuka hati dan menerimanya.


Entahlah, atmosfer rumah itu mendadak berubah dalam waktu sepersekian detik begitu kata maaf terucap dari bibir cantik Dayana.


Pelukan yang diberikan Zahri pada Dayana, belum mampu dibalasnya. Tangannya tak tergerak sedikitpun. Terkadang ia merasa kasihan pada madunya itu yang tiap hari mendapat perlakuan sinis bunda Lidya.


Hati Dayana begitu lembut melihat airmata seseorang tumpah. Tapi ia juga tak mengerti, saat Ronny menatapnya dengan cucuran air mata, ia tak bergeming sedikitpun. Malah semakin jijik melihat pria itu menangis padanya.


Dan lagi-lagi trio kepo menguping dibalik celah pintu yang tidak tertutup rapat. Mereka saling merangkul terharu menyaksikan sendiri kemurnian hati salah satu majikan kesayangan mereka.


"Non, Dayana"


"Sarangheo..." Ucap mbak Susi pelan sembari membuat pola love pada dua jarinya.


Mang Darman menyeret kedua temannya kembali kebelakang. Tempat istirahat PRT dan melanjutkan gosip disana.


Baju daster mbak Ita sudah basah untuk menghapus air matanya yang tak kunjung berhenti.


"Mbak Ita, ini udah seember air matanya keluar" goda mang Darman.


"Hati aku tuh sakiiitt mang, sakitnya tuh disinii" tunjuk mbak Ita ke dadanya.


"Non Dayana kita itu kok punya hati sebaik itu siihh, huuuu..uuu"


"Aku, terharu banget mang. Punya majikan kayak non Dayana" imbuhnya masih di sela-sela tangisnya.


"Iya, mbak. Aku juga" mbak Susi juga tak mau kalah.


"Sejak malam ini, aku putuskan untuk tetap setia mendampingi majikanku Dayana apapun yang terjadi"  mbak Ita mengangkat telapak tangan kanannya seperti seseorang yang dimintai sumpah setianya saat pelantikan jabatan.

__ADS_1


"Huu...umm. aku juga" mbak Susi masih tak mau kalah dari mbak Ita. Ia melakukan hal yang sama dengan teman seprofesinya itu.


Mang Darman menghela nafas heran melihat sikap kedua temannya itu yang kadang akur, terkadang seperti si kancil dan buaya. yang satu cerdik, yang satu mudah diusilin.


__ADS_2