
Bunda dengan telaten menyuapi makan Dayana yang harus bedrest untuk waktu 1 bulan. Kondisi kandungannya yang lemah, serta janin yang tidak berkembang dengan baik akibat malnutrisi, Dayana yang terbaring lemah terpaksa harus menerima perlakuan khusus itu dari ibu mertuanya.
****
Tiga hari kemudian....
Akhirnya Minggu siang itu Dayana kembali ke rumah. Ayah Jo mendorong kursi roda Dayana masuk. Bunda Lidya serta ayah Jo menjadi sangat protektif terhadap dirinya.
Dayana tak merasa kehilangan suami saat perhatian kedua mertuanya selalu tertuju padanya. Mungkin karena ia sangat merindukan saat-saat bersama almarhum kedua orangtua kandungnya.
Bagaimana dengan Ronny???
Ronny memang tidak diperkenankan oleh mereka untuk datang menjenguknya atau sekedar mengetahui tentang kehamilannya.
Bunda Lidya dan ayah Jo memang sengaja memberi Ronny pelajaran agar dia makin merasa bersalah, jika dia masih punya sedikit hati. Biarkan dia tahu sendiri setelah melihat perut Dayana yang membesar. Biar dia tahu bagaimana rasanya diabaikan perasaannya.
"Kita sudah sampai, nak"
"Aaahhh..leganya udah pulang ke rumah" seru bunda Lidya masuk duluan setelah mbak Susi membukakan pintu untuk mereka.
Ronny dan Zahri sedang duduk di meja makan menyantap menu makan siangnya saat ketiga orang tersebut masuk. Bunda Lidya yang melihat Zahri duduk disana, membuang muka dengan pandangan jijik dan angkuhnya. Zahri menundukkan kepala melanjutkan sisa makanannya.
Dayana dibawa masuk ke kamar tamu disamping ruang makan dan dapur. Kamar itu memiliki jendela yang lebih besar. Menghadap ke taman kecil dekat gazebo rumah. Ada kolam ikan kecil tepat didepan jendela kamar. Rencana awal dibuatlah kamar tersebut memang untuk bunda tempati ketika Ronny dan Dayana memilik anak.
Sekarang, karena Dayana telah mengandung cucu mereka dan tak boleh terlalu banyak bergerak untuk beberapa waktu, bunda meminta mbak Ita dan mbak Susi untuk membersihkannya dan memindahkan beberapa barang milik Dayana ke kamar itu.
"Bagaimana kamarnya Day" tanya ayah Jo.
"Sangat nyaman, yah" sahutnya senang karena telah kembali ke rumah.
"Seperti kamar hotel ya yah" sahut bunda
"Ad dispenser air panas, kulkas kecil, perlengkapan makan dan stok cemilan sehat di pantry kecil" ayah Jo dan bunda Lidya yang baru merenovasi kamarnya mendadak setelah mengetahui kehamilan Dayana yang bermasalah.
Mereka tak ingin Dayana terlalu banyak bergerak jika ia ingin minum atau makan sesuatu.
"Ayah, bunda. Terimakasih telah menyayangi dan melindungi Dayana selama ini. Dayana sangat bersyukur" pandangan Dayana mulai berkabut karena matanya dipenuhi air yang mulai menetes teratur.
"Dayana, putriku. Kami melakukan semua ini demi kebahagiaan kami sendiri. Saat melihatmu terseyum bahagia, kami lebih merasa bahagia nak" terang bunda membuat keadaan semakin haru.
"Bundamu benar Dayana. Kamu seperti putri yang kami impikan selama ini"
"Namun bunda g bisa hamil lagi karena tumor rahim yang dideritanya".
"Jadi, jangan sungkan lagi pada ayah dan bundamu jika kau membutuhkan sesuatu. Katakanlah...ayahmu ini masih mampu untuk penuhi semua keinginanmu" ujar ayah Jo hangat sambil membelai rambut Dayana penuh kasih.
"Emmhhh..."Dayana tak sanggup lagi berkata-kata. Hatinya kini dipenuhi kebahagiaan atas perhatian kedua mertua yang sedang memeluknya.
Suasana penuh haru tertonton dengan jelas oleh mata Ronny yang mengintip aktifitas ketiga keluarganya di dalam melalui pintu kamar yang sedikit terbuka itu. Hatinya terenyuh menyaksikan keharmonisan mereka. Ronny rindu masa-masa itu, ketika mereka berempat berbagi tawa dan kasih sayang bersama.
Tanpa Ronny sadari, Zahri juga melihat Ronny yang mengusap airmatanya berulang kali saat ia berdiri didepan pintu kamar yang baru saja Dayana masuki.
"Apa yang ada dipikiranmu, mas"
"Belakangan ini kau begitu murung, sikapmu tak seperti biasa padaku. Apa kau nyesal nikahi aku, mas"
Zahri melangkah masuk kembali ke dalam kamar yang berhadapan dengan kamar baru Dayana itu. Hatinya sangat sakit saat melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa suaminya Ronny menangis seperti seseorang yang menyesali perbuatannya sehingga membuat hubungannya dengan istri pertamanya jauh.
"Ok..kita udahi ya acara tangis-tangisannya. Sekarang waktunya kamu makan siang" sela ayah Jo
"Aahh... Iya. Bunda hampir lupa. Kalau gitu kita makan bareng disini ya".
"Biar mbak Susi bawain kesini makanannya" anjur bunda Lidya.
"Ok.. juga itu bund. Kita bisa sekalian awasi Dayana biar ngabisin makanannya" canda ayah iseng berakting kesal, Dayana terkekeh kikuk.
__ADS_1
Tak lama kemudian mbak Ita dan mbak Susi mengantar makanan ke dalam. Ayah Jo menarik sesuatu dicelah kecil pantry yang bisa digeser menjadi meja dan bangku minimalis.
Mereka makan dengan nikmat sembari bersenda gurau. Ronny mendengar sesekali tawa bahagia mereka dari dalam kamarnya bersama Zahri.
Zahri memilih tidur siang mengabaikan Ronny yang sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri.
***
Sebulan telah berlalu. Perut Dayana sudah mulai membuncit. Bobot badannya juga naik drastis. Berkat perhatian dan dukungan mertuanya, Dayana tidak terlalu sulit melewati hari demi hari kehamilannya.
Dayana pun tidak merasakan ngidam layaknya wanita hamil lainnya. Bunda begitu bahagia melihat perkembangan Dayana yang semakin sehat dan berisi. Selama sebulan itu juga tak ada keributan berarti yang dialami keluarga itu. Ketenangan itu membuat ayah Jo dan Ronny bersyukur, berharap kondisi rumah mereka akan menjadi lebih baik kedepannya.
Dayana tak pernah keluar kamar selama sebulan itu. Aktifitasnya seharian hanya sekitar kamar dan teras kamar. Ini kehamilan pertamanya, ia harus sangat berhati-hati. Jika ia kehilangan suaminya, setidaknya ia memiliki cinta anaknya kelak. Tak lupa denganĀ kasih sayang mertuanya yang membuatnya bertahan.
Sore itu, Ronny pulang dengan tergesa-gesah ketika ia mengetahui mertuanya tiba dikota itu untuk memberi Zahri kejutan.
Sebelumnya Zahri sudah mengatakan pada orangtuanya jika ia tinggal bersama orang tua Ronny. Purnomo mengetahui alamat mereka dari berkas perjanjian kerjasama antara keduanya. Maka dari itu, Purnomo beserta istrinya langsung menuju ke kediaman keluarga Barata dengan membawa buah tangan khas daerahnya.
Ding...dong..
Suara bell rumah berbunyi. Mbak Susi bergegas membuka pintu.
"Selamat sore..." Sapa Purnomo
"Selamat sore pak. Maaf bapak cari siapa ya" tanya mbak Susi ramah.
"Zahri dirumah?" Tanya wanita disebelahnya Purnomo
"Maaf, bapak siapanya ya?" Mbak Susi balik bertanya.
"Kami, orang tuanya" jawab Purnomo
"Ohh.. kalau begitu silahkan tunggu disana" mbak Susi mempersilahkan duduk kedua orangtua Zahri.
Jiwa muda mbak Susi yang geregetan dan paling membenci poligami pun bergejolak hebat. Sampai-sampai ia tak sadar menyuruh kedua tamu tersebut masuk dengan nada ketus dan pandangan tak bersahabat seperti beberapa detik yang lalu.
"Mbak Susi..." Panggil bunda Lidya yang berjalan menuruni tangga.
"Iya, bu" mbak Susi berbalik badan saat akan mengetuk pintu kamar Zahri.
"Tolong buatkan jus jeruk dan alpukat ya. Antar ke kamar Dayana" pinta bunda.
"Baik, bu. Saya panggil dulu non Zahri. Orang tuanya berkujung" imbuh mbak Susi.
"Apaaa....berani-beraninya mereka datang kesini" geram bunda.
Bunda Lidya berjalan cepat menghampiri dua tamu yang tak diundang tersebut diruang tamu.
"Eehhmmm... Kalian orang tua perempuan itu" tanya bunda Lidya tanpa basa-basi.
Purnomo dan Istrinya kaget mendengar suara yang begitu ketus terdengar dari belakang mereka.
"Kami, orang tua Zahri. Bu" jawab Purnomo masih dengan sopan.
Purnomo dan istrinya bertanya-tanya dengan perlakuan wanita dihadapan mereka terhadap besan keluarga Barata. Karena mereka sebelumnya sama sekali belum pernah bertemu. Di pernikahan Ronny dan Zahri, Ronny mengakui bahwa kedua orangtuanya berada diluar negeri.
"Saya ibu dari Ronny. Putra yang tau diri itu" hentak bunda Lidya dengan kasar.
"Ma..maaf bu. Kenapa sikap ibu seperti ini pada kami"
"Apakah kami atau putri kami membuat kesalahan" tanya Purnomo kembali masih dengan kesopanannya.
"Yaa....dia bersalah karena masuk ke keluarga ini".
"Dia telah merebut putraku dari menantuku Dayana. Seperti itu kalian mendidiknya? Untuk menjadi perebut suami wanita lain?" Suara bunda Lidya semakin meninggi.
__ADS_1
Zahri terpaku ditempat tepat dibelakang bunda Lidya.
"Zahri ... Ada apa semua ini nak. Jelaskan pada ibu" mata bu Mitha sudah berkaca-kaca mendengar hinaan dari bunda Lidya.
Bunda Lidya berbalik badan melihat ke arah Zahri yang langsung menunduk tidak berani membalas tatapan mata bunda Lidya.
"Apaaa...."
"Apa yang mau kau jelaskan. Bahwasanya kau adalah pelakor?" Bentak bunda Lidya kembali.
"A...yah dan ibuku, ti..tidak tau apa-apa, bun" Zahri terbata-bata berusaha mengeluarkan suara yang tercekik dikerongkongannya.
"Zahri..."
"Jelaskan pada kami nak" Purnomo akhirnya tak sabar karena belum mendapat jawaban dari putrinya.
"Ciiihhh ..." Decak bunda Lidya jijik
"Bawa pergi putri kalian dari sini. Sejak ada dia, kebahagiaan kami hancur"
"Menantuku hampir saja keguguran karena perempuan sial*n ini" umpat bunda Lidya semakin tak sabar.
Zahri tersentak mendengar perkataan terakhir bunda Lidya.
"Dayana hamil??? Bukankah dia tidak bisa hamil? Apa mas Ronny bohong sama aku selama ini?? Tapi untuk apa mas Ronny bohong??"
Zahri menangis memohon pada bunda Lidya untuk tidak memisahkannya dari Ronny yang secara hukum sah sebagai suaminya.
"Bunda... Hikksss..Tolong beri kami kesempatan...hikss"
"Aku tak mau berpisah dari mas Ronny...hikss" Zahri berlutut dihadapan sang ibu mertua yang menurutnya kejam dan tak adil padanya.
Dayana terbangun karena suara keributan terdengar mengusik telinganya.
"Ada apa ya, Kenapa ribut sekali diluar"
"Apa bunda bertengkar lagi dengan Zahri?"
"Tapi kedengarannya ada suara asing" gumam Dayana bertanya pada dirinya sendiri.
Dayana bangkit dari kasur, Ia mencoba mempertajam pendengarannya dibalik pintu kamar. Ternyata benar ada orang lain disana yang bertengkar dengan bundanya.
"Apa maksud semua ini" pekik Purnomo akhirnya tak tahan melihat perlakuan bunda Lidya pada putri semata wayangnya.
"Anda juga seorang wanita, tega sekali menyakiti wanita yang sedang hamil muda seperti ini" kilah Purnomo membela putrinya karena ia masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Hhaahh... Anda juga tau dengan hal itu kan? Kenapa kata-kata anda barusan tidak anda tanyakan ke pelakor ini" balas bunda Lidya tak mau kalah.
Bu Mitha melangkah mengangkat Zahri yang masih berlutut di hadapan besannya itu. Bu Mitha menangis memeluk Zahri yang terlihat sangat menderita dengan pernikahannya. Tidak seperti yang selama ini ia ceritakan pada mereka tentang kebaikan keluarga Ronny padanya. Semua berbanding terbalik dengan kenyataan yang kedua orang tua Zahri saksikan langsung.
Zahri tak menyangka sama sekali, kehadiran orangtuanya yang mendadak itu memicu kembali kemarahan ibu mertuanya.
Dayana yang mendengar suara keributan itu segera keluar kamar. Dayana belum kuat untuk berjalan cepat, ia masih lemah namun memaksakan diri untuk melerai dan menenangkan ibu mertuanya.
"Bunda.." seru Dayana dari belakang.
"Aduh sayang, kenapa kamu keluar dari kamar" bunda langsung meraih tubuh Dayana agar tetap seimbang saat ia berdiri.
"Ada keributan apa bunda?" Tanya Dayana masih belum begitu paham dengan duduk persoalan tadi.
Bunda Lidya memapah Dayana untuk duduk di sofa. Kemudian ia menatap bengis kedua orang tua Zahri.
"Perkenalkan. Dayana, menantuku. Istri sah Ronny Barata sejak dua tahun lalu" terang Bunda Lidya.
Bagai tersambar petir Purnomo dan Mitha akhirnya paham dengan kemarahan besannya itu. Ternyata selama ini Ronny berbohong kepada mereka.
__ADS_1
Purnomo mengepal tangannya kuat menahan amarah yang tertuju pada Ronny. Zahri mempererat pelukannya pada ibunya, menangis sesegukan.
Di saat itu pula akhirnya Ronny tiba dengan ketakutan yang luar biasa. Awalnya Ronny ingin memberitahukan bahwa ia sudah memiliki istri. Tapi Zahri menolak Ronny untuk jujur pada Purnomo dan Mitha. Agar kedua orangtuanya tidak menolak pernikahan mereka berdua.