Madu Manis Milik Suamiku

Madu Manis Milik Suamiku
Episode 25


__ADS_3

Siang harinya bunda Lidya membagikan oleh-oleh yang ia bawa dari kota kepada seluruh keluarganya disana.


Lastri dan nenek Mirna mendapatkan sebuah liontin emas masing-masih seberat 10 gram yang sudah ia siapkan jauh - jauh hari. Dan dua set pakaian bagus untuk acara formal.


Awalnya Lastri menolak tapi bukan Lidya Sumitra namanya jika tak bisa memaksakan kehendaknya.


Diruang tamu Lastri yang dibantu Mang Darman dan mbak Susi mulai menyiapkan keperluan piknik sore nanti ke sungai. Rencananya mereka akan bangun tenda disana dan mengadakan pesta barbeque. Berhubung cuaca sedang bagus.


"Bun, di sungai nanti gak ada buaya kan?" Tanya Lala polos.


"Gak ad, sayang" jawab Dayana sambil menyelipkan termometer digital di ketiak Lala.


"Siapa bilang gak ad, ada kok buayanya " sela bunda Lidya


"Yang bener, oma. Lala takut" ucap Lala bergidik ngeri


"Tuh buayanya, udah nongol duluan" bunda Lidya melirik Ronny yang keluar dari kamar.


"Itu kan anak oma" sahut Lala


"Iya..papa kamu tuh buayanya. Buaya darat...ahhahahahaa" bunda Lidya terkekeh garing sendiri dengan leluconnya.


Ronny terbelalak kaget sindirian halus bundanya. Ia hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Ayah ...nanti ayah cosplay jadi buaya ya" pinta Lala polos.


"Loh, kenapa?" Ronny bingung


"Mana tau ada buaya betina yang mendekat, akkwkaka" canda Lala tak kalah garing dengan omanya.


Oma dan Lala mengangkat tangan untuk high five . Mereka berdua memang kompak jika soal mengganggu Ronny.


Suara bip dari termometer digital menandakan pengukuran suhu telah selesai.


Suhu badan Lala sudah menurun tidak seperti kemarin. Dan kini Lala sudah mulai berinteraksi dengan keluarga seperi biasanya. Hanya saja masih sedikit takut dengan orang yang baru dikenalnya.


Biasanya Lala bisa dengan mudah akrab saat ada keluarga yang baru saja ia kenal. Dayana berharap putrinya Lala akan tumbuh dengan baik tanpa membekas trauma di ingatannya.


Pukul 3 sore, waktunya mereka pergi piknik ke sungai. Nenek Mirna tinggal dirumah bersama Lastri.


Suami Lastri yang bernama Nanang ikut bersama rombongan piknik dan akan kembali ke rumah pada malam harinya. Nanang menggunakan sepeda motor mengikuti mobil yang dibawa Ronny.


Anak anak bermain air dipinggir sungai itu. Mereka terlihat sangat bergembira menikmati sore hari.


Dayana, bunda Lidya dan Mbak Susi menyiapkan bahan-bahan untuk pesta barbeque dan steamboat malam itu, diracik dan dimarinasi agar bumbu meresap dengan baik ke daging ayam dan kambing yang akan dibakar.


Setelah selesai dengan aktifitas racik meracik, maka ketiga wanita tersebut ikut turun ke sungai bermain air, sementara para pria membangun tenda untuk mereka tidur nanti.


Sore yang bahagia itu membuat Lala sedikit melupakan traumanya. Sifat usil dan bawel kembali muncul tatkala ia melihat seekor ikan melompat-lompat di tengah sungai tersebut.


"Lala jangan ke tengah" larang bundanya

__ADS_1


"Sebentar bun" Lala tak berhenti melangkah melewati bebatuan sungai. Ronny melangkah lebih cepat di belakang Lala.


"Lala... Kamu itu gak bisa dibilangin ya" Ronny mengangkat tubuh kecil putrinya itu ke bahunya dengan sigap.


"Iihhh ayaaaahhh... Kasian itu ikannya" Lala kesal berontak turun dari gendongan ayahnya.


"Kenapa ikannya?" Tanya Ronny terus berjalan ke tepi sungai.


"Lala mau nolong ikan tenggelam" ucapnya polos


"Ikan memang hidup di air, Lala"


"Kamu jangan cari alasan aneh" tukas Ronny gemas.


Lala cemberut, padahal ia mau mencoba berenang mengikuti arus sungai tapi digagalkan oleh ayahnya.


Lala tak mengerti jika tubuhnya itu masih kecil. Mana mungkin sanggup menahan arus sungai meskipun tidak begitu deras arusnya.


Lala berfikir jika ia punya tekad kuat maka semua hal pasti akan ia lewati dengan mudah. Sungguh naif sekali bocah polos itu.


Sore yang indah ini bunda Lidya membuat rujak dan air lemon menjadi cemilan penggugah selera bagi keluarga yang sedang liburan tersebut. Bahkan Lala dan mbak Susi bisa adu cepat dalam lomba makan rujak.


"aaaaahhh, ada buayaaaa" teriak Lala tiba-tiba menunjuk ke arah sungai.


semua orang secara refleks melihat ke arah yang ditunjuk dengan wajah yang sudah pucat ketakutan.


Mereka mengamati area sekitar yang Lala tunjuk, tapi tidak ada pergerakan apapun.


"Lala.... kamu itu kurang ajar sekali ya" teriakan oma nya menggelegar membuat burung-burung yang hinggap di pohon sekitar mereka berterbangan.


Ternyata Lala dengan liciknya membawa sepiring besar isi rujak menjauh dari keluarganya itu untuk dimakannya sendiri.


Lala bersembunyi di balik tenda kecil yang dipasang ayahnya. Lala terkikik geli sendiri tak menghiraukan ocehan marah omanya.


Ditengah aktifitas bahagia ini, mereka tidak menyadari bahwa seseorang sedang mengintip mereka.


"Aku akan segera menghancurkanmu Dayana" geramnya mengeretakkan gigi


****


Ding...dong


"Selamat sore pak Bayu..silahkan masuk, sudah ditunggu di ruang kerja" sapa mbak Ita ketika membuka pintu rumah.


"Terimakasih, mbak" jawab Bayu sopan


Paman Bayu segera menuju ruang kerja Johan Barata. Ia mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Masuk.." sahut ayah Jo dari dalam.


"Selamat sore pak Jo" Bayu mendatangi ayah Jo yang masih mengecek beberapa file ditangannya.

__ADS_1


"Sore juga pak Bayu" balas ayah Jo menyambut tangan Bayu sebagai besannya.


"Bagaimana perkembangannya" tanya Bayu tanpa basa -basi.


"Benar kecurigaanmu selama ini"


"Mereka bersembunyi dengan baik selama ini. Sepertinya takdir langsung menuntun kita untuk membuat benteng pertahanan" ujar ayah Jo sayu.


"Sampai kapan kita bisa kita sembunyikan ini dari Dayana".


"Menurutku, lebih baik Dayana dan Ronny tau yang sebenarnya agar mereka juga mempersiapkan diri untuk melindungi diri mereka sendiri dari tragedi besar" saran paman Bayu


"Mungkin setelah mereka kembali berlibur, kita akan menceritakannya. Kita perlu bukti lebih banyak lagi" sergah ayah Jo


"Detektif yang ku sewa, belum bisa menangkap fotonya wajahnya dengan jelas"


Ayah Jo memberi beberapa lembar foto dan membuka rekaman di flashdisknya.


"Si gila itu menutup wajahnya dengan masker. Sehingga tak mudah dikenali" imbuh ayah Jo.


"Sekarang dia telah membangun usahanya sendiri. Menjadi saingan bisnis keluarga ini"


"Pantas saja ia langsung menargetkan perusahan Barata dihari mereka memulai usaha. Ternyata si gila itu ingin menghancurkan dari luar dan dalam keluarga yang sempat ia singgahi" Keluh ayah Jo panjang lebar.


"Bagaimana dengan alamatnya? Apa sudah dapat? Aku akan meminta tolong beberapa kenalanku" Desak Bayu agar lebih mempercepat langkah antisipasi.


"Ini dia alamatnya" ayah Jo mengirimkan alamat ke ponsel paman Bayu.


Diing...


Notifikasi pesan masuk, Bayu buru-buru membacanya. Lalu tersenyum kesal..


"Tenyata dia tak pernah jauh selama ini" gerutu Bayu


"Benar, dia telah mengawasi kita selama ini" wajah ayah Jo berubah gelap.


"baiklah, aku harus pamit sekarang pak Johan"


"aku harus memulai bagianku sendiri" ujar paman Bayu menyemangati diri.


"baiklah pak Bayu. Tolong bantuannya..." ointa ayah Jo merendah.


"Dayana adalah putriku. kewajibanku melindungi kebahagiaan dan nyawanya" sahut Bayu tegas.


Bencana apalagi yang akan menimpa keluarganya. Rasanya, tubuh tuanya sudah lelah dengan tragedi yang datang silih berganti.




***haiii semua... dukung karya aku ya dengan like n komen. pintu kritik dan saran terbuka lebar gaaeess.. love u all 😘😘😘***

__ADS_1


__ADS_2