Madu Manis Milik Suamiku

Madu Manis Milik Suamiku
Episode 19


__ADS_3

Hari berganti hari...


Sudah beberapa bulan kesibukan dirumah Barata adalah mengurus dua anggota keluarga terpenting dirumah itu.


Ditambah dengan kehadiran baby D yang diberi nama Danta Anggara Barata.


Kehadiran baby D memberi semangat baru untuk Dayana dan bunda Lidya kembali pulih seperti sediakala.


Dayana pulih lebih cepat dari bundanya atas perawatan Zahri serta ahli Fisioteraphy yang rutin datang. Dayana bersyukur Zahri telah bersedia merawatnya, bunda serta putranya dengan sangat baik meskipun ia juga tengah hamil tua.


"Non, ini susu nya diminum dulu" mbak Susi meletakkan segelas susu coklat hangat khusus menyusui.


"Emm..makasi banyak loh mbak Susi. Maaf ya udh ngerepotin" bukan sekali dua kali Dayana berkata seperti itu.


Pagi itu, Dayana sedang duduk dibawah sinar mentari pagi untuk berjemur bersama bunda Lidya dan putranya yang sudah semakin menggemaskan. Sudah 4 bulan usia baby Danta. Tentu saja berat tubuh baby Danta semakin naik. Yang membuat Dayana masih memerlukan baby sitter untuk membantunya menggendong Danta.


Dayana sekarang udah bisa berjalan seperti biasa, hanya saja tidak boleh terlalu jauh atau mengangkat beban lebih dari berat badannya sendiri.


Sedangkan bunda Lidya, masih proses pemulihan. Sudah bisa duduk dikursi roda dan berbicara meskipun terbata-bata.


Bagaimana hubungannya bunda dengan Zahri? Hmmm...bunda masih belum mempercayai Zahri.


"Ayoo bu...sesuap lagi..aaa" mbak Ita menyuapkan satu sendok terakhir sarapan bunda.


Dayana tersenyum senang bunda menghabiskan sarapannya. Beginilah cara baru Dayana untuk membujuk ibu mertuanya makan. Makan ditemani oleh cucunya.


"Mbak, bunda. Aku jalan dulu ya" Zahri pamit pagi itu untuk memeriksakan kandungannya.


"Ahh ..iya. hati-hati" sahut Dayana tersenyum.


"Anak ayah, Danta kecilll"


"Ayah kerja dulu ya sayang... Mmuuahh" Ronny juga ikut pamit pergi


"Day, mas berangkat kerja dulu ya" kini gantian kening Dayana dicium.


"Ehhmm..." Dayana menjawab dengan dehem saja.


Dayana belum menerima sepenuhnya Ronny untuk kembali. Ia terlalu sibuk menata hatinya yang sudah terlanjur hancur. Dayana ingin lihat sampai sejauh mana Ronny akan berusaha mengambil hatinya kembali.


Bunda melirik sorot mata Zahri saat Ronny mengecup kening Dayana. Ada percikan sengit yang tertangkap oleh mata tua bunda Lidya yang masih tajam itu. Atau mungkin itu hanya perasaan bunda Lidya saja?


"Mbak Susi, tolong bawa Danta masuk ya. Minta tolong babysitter mandikan sekalian" pinta Dayana.


"Siiiaapp boss.. sini sayangku Danta. Sama mbak Susi yang cantik duluuu..."


"Nanti udah gede, jadi pacar mbak Susi saja ya. Udah terbukti cakep & setia maksimal loohh" celoteh mbak Susi pada baby Danta yang kini dalam gendongannya kembali masuk ke rumah.


"Ee..eehh, kepedean banget si kamu Susi. Mas Danta gede, kamu udah keriputan" sela mbak Ita yang mengekor dari belakang mendorong masuk kursi roda bunda Lidya.


***


Di rumah sakit...

__ADS_1


"Zahri, kamu gak apa-apa kan sendirian?" Tanya Ronny memastikan.


"Iya, mas. Aku aman kok. Kamu pergi saja nanti telat rapatnya" usir Zahri halus.


"Ya, udah. Nanti kirim pesan ke mas ya" pinta Ronny masih gak tega ninggalin Zahri sendiri.


"Ok.." Zahri mengedipkan sebelah matanya tanda setuju.


Ketika Zahri masuk ke dalam, ia sudah melihat ibunya duduk diantara pasien dokter Monica.


"Bu..." Sapa Zahri lembut.


"Ibu udah lama nunggu?"


"Ohh.. gak kok. Belum 10 menit" sambut bu Mitha


"Gimana kondisi ayah, bu?" Zahri melihat raut wajah ibunya berubah menjadi sendu. Mereka menghela nafas kecewa bersama.


Beberapa bulan lalu, disaat yang sama dengan musibah yang menimpa keluarga Barata, Purnomo juga mengalami satu musibah.


Bayu, paman Dayana menyeret Purnomo ke kantor polisi terdekat.


Belasan tahun lalu, tabrakan maut yang menghilangkan nyawa orang tua kandung Dayana adalah Purnomo.


Ketika itu, Purnomo sedikit mengebut mengendarai truk untuk membawa istrinya Mitha ke rumah sakit yang melahirkan Zahri.


Purnomo yang saat itu sangat panik, kehilangan kewaspadaannya dalam mengendalikan setir. Demi menghindari pembatas jalan disebelah kirinya, ia membanting setir ke kanan terlalu keras. Sehingga menabrak mobil yang ada didepannya. Mobil yang keluarga kecil Dayana kendarai.


Kerusakan mobil yang mereka tumpangi sangat parah. Orang-orang sekitar bergegas menolong mereka semua. Purnomo membatu saat melihat lumuran darah berceceran. Ia berniat menolong orang-orang yang didalam mobil tersebut.


Purnomo kehilangan jejak keluarga Dayana ketika ia menunggui Mitha melahirkan. Tapi ia ingat wajah pria yang menyupir mobil yang ia tabrak, Bayu.


Bayu, benar-benar terpukul saat Purnomo mengakui semuanya apalagi saat ia mengatakan bahwa dirinya adalah ayah kandung Zahri.


Bayu merasa tak sanggup lagi menahan amarahnya selama bertahun-tahun yang telah ia sembunyikan rapat-rapat didepan Dayana. Apa lagi penderitaan yang Dayana kini rasakan mereka juga yang berikan.


Kasus kecelakaan maut tersebut kembali dibuka. Purnomo tak lagi menghindar, ia memang berniat menyerahkan diri. Tapi kenapa tidak sejak dulu Purnomo serahkan dirinya kepada hukum? Kenapa baru sekarang Purnomo muncul?.


Sejak Purnomo mendekam dipenjara, kesehatannya pun menurun. Bu Mitha tinggal dirumah yang dikontrak Ronny saat menikahi Zahri. Demi memudahkannya untuk mengunjungi suami tercinta setiap harinya.


"Zahri, bagaimana dengan Dayana. Apa dia udah tau semuanya?" Bu Mitha cemas


"Dayana, sampai sekarang gak tau tentang masalah ini, bu" sahut Zahri lirih.


"Baguslah, ibu takut kalo Dayana dan ibu mertuamu tau, bisa habislah kamu" bu Mitha semakin menambah gusar Zahri.


"Sepertinya, paman Dayana juga gak punya niat cerita dalam waktu dekat ini" sambungnya


"Kamu lihat sendiri kan, kondisi mental dan kesehatan Dayana belum sepenuhnya pulih"


"Pasti, paman Dayana memikirkan hal itu" bu Mitha sedikit bisa bernafas lega


"Iya, bu. Seminggu lalu paman Dayana mampir ke rumah. Aku takut paman keceplosan makanya aku ngumpet dikamar menghindari muncul masalah baru" terang Zahri.

__ADS_1


"Bu, temani aku jenguk ayah habis ini ya, aku kangen ayah, sekali ini saja. Kumohon" bujuk Zahri yang tak pernah diberikan izin oleh suami dan bundanya untuk datang mengunjungi Purnomo. Demi kebaikan Zahri sendiri, mereka harus sedikit menjaga jarak.


Bu Mitha menatap kesedihan yang mendalam di netra putrinya tersebut. Ia sedikit bimbang dengan keputusan itu.


"Buuuu...." rengek Zahri kembali


"Kamu harus minta izin suamimu dulu" tegas bunda.


Percakapan mereka berakhir saat salah seorang asisten dokter Monica memanggil namanya.


"Bu Zahri Sakura" panggilnya..


"Saya, sus" Zahri mengangkat tangannya berdiri.


"Ayo, bu" Zahri memegang tangan bundanya saat berjalan masuk. Perut besarnya itu sedikit menyulitkannya bejalan dengan benar.


"Selamat siang, bu Zahri" sapa dokter Monica ramah.


"Siang juga bu dokter" Zahri menjawab dengan riang.


"Apakabar hari ini bu, ada kendala?" Tanya dokter cantik tersebut.


"Sedikit kesulitan tidur bu" Zahri menjawab sambil menimbang berat badannya.


Dokter melakukan beberapa pemeriksaan pada Zahri.


"Bayi dalam keadaan normal ya bu, posisinya juga sudah bagus. Mungkin takkan lama lagi ibu akan melahirkan".


"Mau intip jenis kelaminnya gak bu?" Tanya dokter Monica kemudian


"Biar jadi kejutan saja deh, bu dokter" sela Zahri sebelum ibunya bicara. Karena ibunya ingin mengetahui jenis kelamin bakal cucunya.


"Ok, baik. Udah selesai ya bu" dokter Monica menulis resep vitamin yang harus dikonsumsi Zahri.


"Ibu, untuk kesekian kalinya saya ingatkan ya. Jaga pola makan dan usahakan istirahat yang cukup. Tekanan darah ibu hari ini sangat tinggi, kondisi ini bisa fatal bu. "


"Konsumsi bayam, brokoli, wortel, susu kedelai dan nasi diganti jadi nasi merah ya bu agar tidak terjadi pre eklamsia" saran dokter


"Apa itu pre eklamsia, dok?" Tanya bu Mitha yang tak paham istilah medis


"Pre eklamsia adalah Komplikasi kehamilan berpotensi berbahaya yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, bu"


"Dapat terjadi setelah usia kehamilan 20 minggu pada wanita yang tekanan darahnya biasanya normal. Hal ini dapat menyebabkan komplikasi serius, bahkan fatal, bagi ibu maupun bayi" jelas dokter Monica serius


"Jadi, tolong perhatikan dan persiapkan mental bu Zahri dengan baik untuk trimester akhir ini ya" dokter Monica tersenyum setelah menjelaskan semua pada bu Mitha.


"Baiklah, bu dokter. Terimakasih banyak bantuannya" Zahri beranjak untuk pamit.


"Sama-sama, bu" Sahut dokter Monica membalas jabatan tangan Zahri dan bu Mitha


"Sampai ketemu lagi, bu dokter" Zahri keluar melambaikan tangannya dengan riang.


"Bu, aku udah dapat izin mas Ronny. Sekarang bawa aku ketemu ayah, ya" Zahri kembali membujuk ibunya.

__ADS_1


"Ya sudah, dasar keras kepala" gerutu bu Mitha pada anak semata wayangnya itu.


Halllooo readers... Jangan lupa dukung novel pertama aku ini dengan like n komen ya. Sekalian promosi juga novel aku yang judulnya "Psikopat Cinta Yang Kejam" terima kasih banyakk😘😘


__ADS_2