
BAB 20
Tibalah waktu melahirkan bagi Zahri. Sikapnya banyak berubah setelah terakhir kali ia mengecek kandungannya tempo hari. Entah apa yang menyebabkan Zahri begitu berubah. Bahkan pada Ronny, Zahri tak terlihat seperti biasanya. Ronny pun tak menjelaskan apapun karena ia sendiri tak tahu kenapa Zahri begitu berubah.
Sekarang Zahri tidak tinggal lagi dirumah keluarga Barata. Ia memilih untuk pulang ke rumah yang Ronny sewakan untuknya hidup bersama ibunya, Mitha. Ronny membagi waktunya untuk kedua istri. 3 hari bersama Dayana, 3 hari bersama Zahri.
Seperti biasanya, Dayana tak menghiraukan Ronny pulang atau tidak ke rumah Barata tersebut. Hati Dayana seakan terkunci rapat untuk bisa terbuka lagi pada Ronny. Meskipun Ronny telah berulang kali memohon maaf padanya, tapi pikiran picik Ronny dengan segala keegoisannya membuat Dayana enggan memaafkannya.
Ddrrtttt...drrttt....
Ronny menatap layar ponselnya, nama Zahri muncul dilayarnya.
"Halloo...kenapa sayang" Ronny menjawab panggilan itu dengan santai.
"Ron... Zahri sepertinya akan melahirkan"
"Ibu..bawa ke rumah sakit, kamu nyusul ya" Mitha berbicara dengan lancar dan terdengar panik.
"I..iya bu. Ronny nyusul" Ronny pun langsung bergegas menutup file-file pekerjaan ditangannya.
"Gimana bu?" Tanya Zahri yang menahan mulas diperutnya.
"Ok..beres" jawab Mitha santai.
Lalu mereka pun menuju ke rumah sakit yang berbeda dengan rumah sakit biasa tempat Zahri mengecek kandungannya.
"Kamu yakin bisa lakukan ini Zahri?" Tanya ibunya penuh makna.
"Aku yakin dan sangat siap bu" ucapnya dengan mata yang menyala-nyala.
"Ibu khawatir, nak" Mitha menyentuh pipi Zahri yang sudah terlihat pucat.
"Bu, lakukan saja yang aku minta"
"Sisanya, serahkan padaku ya bu" bujuk Zahri.
"Baiklah, ibu hanya bisa mendo'akanmu" ucap Mitha yang masih sangat cemas.
Zahri bersikeras untuk melahirkan secara normal. Padahal dokter sudah mengajurkan cesar saja, untuk meminimalisir komplikasi selama persalinan.
__ADS_1
Setelah menandatangani surat keterangan bahwa, Zahri yang ngotot untuk melahirkan normal agar pihak rumah sakit tidak dituntut jika terjadi sesuatu pada Zahri, ia pun dibawa keruangan khusus bersalin.
Keesokan harinya...
Ronny menghampiri dan memeluk Dayana yang sedari tadi menatap kosong pintu kamar Zahri. Para rekan kerabat yang datang untuk menyampaikan ucapan belasungkawa sudah pulang satu persatu. Ia tak menyangka Zahri pergi begitu cepat meninggalkan seorang putri yang saat ini terlelap damai dipangkuannya. “ Zahri…. Madu Manis Milik Suamiku. Aku akan merawat putrimu seperti anakku sendiri. Aku berjanji” bisik batinnya pedih.
Zahri... Meninggalkan seorang putri yang sesaat baru ia lahirkan. Saat proses melahirkannya secara normal terjadi komplikasi dikarenakan pre eklamsia.
Jenazah Zahri dibawa ibunya langsung ke kampung halamannya setelah keluar dari rumah sakit. Bahkan Ronny pun dilarang mengantarkannya dengan alasan, ia harus menjaga putri yang Zahri tinggalkan padanya. Itu permintaan terakhir dari Zahri sendiri.
Kini rumah keluarga Barata diliputi suasana duka. Beberapa kerabat jauh memilih menginap dirumah tersebut selama beberapa hari. Paman Dayana, Bayu juga datang. Mengucapkan turut berduka cita pada Ronny.
"Ronny, dimana ayahmu" tanya Bayu melihat sekeliling ruangan.
"Ayah ada diruang kerja paman. Sedang berbicara dengan koleganya" jawab Ronny
"Kalau begitu, setelah ayahmu selesai. Katakan pada ayahmu paman ingin ngobrol sebentar" ucap Bayu menepuk ringan bahu Ronny sebelum melangkah keluar duduk bersama saudara-saudara Ronny yang lain.
Pernikahan kedua Ronny memang sudah diketahui oleh keluarga besar Barata. Mereka cukup menyayangkan keputusan Ronny yang terkesan terburu-buru tanpa memikirkan perasaan keluarganya yang lain. Namun, mereka tak bisa ikut campur dengan masalah saudara tertua anak dari Lingga Barata, kakek Ronny.
"Non, Dayana. Danta udah waktunya nyusu nih. Dari tadi rewel terus" ujar baby Sitter yang menggendong putranya.
"Titip bentar ya, ki" pinta Dayana.
"Tenang saja mbak, Kikan udah profesional loh" ujarnya bangga.
Dayana tersenyum menanggapi ucapan Kikan.
Kikan merupakan sepupu Ronny yang tinggal di kampung halaman mereka. Kikan lulusan akper yang terakreditasi A. Nilai yang ia peroleh semasa mengenyam pendidikan juga cukup baik. Setahun ia bekerja di salah satu klinik dekat kampusnya dulu.
Tapi sekarang ini, Kikan diminta khusus oleh ayah Jo untuk bekerja merawat istrinya dengan gaji dua kali lipat. Kikan pun menyetujui, dengan begitu ia bisa lebih dekat dengan Dayana dan bibi yang selama ini membantu biaya sekolahnya yang terbilang cukup mengeluarkan banyak biaya bagi kedua orangtuanya yang berpenghasilan pas-pasan.
Diteras rumah, paman Bayu masih asyik ngobrol dengan adik-adik dari besannya, Johan Barata. Sesekali ia melirik ke dalam untuk melihat apakah mertua Dayana tersebut sudah selesai dengan teman bisnisnya.
Tak lama kemudian Ronny mengantar tamu ayahnya keluar, lalu menemui paman Bayu untuk mengajaknya bertemu ayah Jo.
"Ayah, paman Bayu disini" Ronny masuk keruang kerja bersama Bayu.
"Silahkan duduk, Bayu" ayah Jo bangkit dari kursi kerjanya menyambut Bayu untuk duduk di sofa panjang diruang kerja itu.
__ADS_1
"Saya perlu bicara dengan, mas Jo berdua saja". Ungkapnya tanpa basa-basi.
Ayah Jo melirik Ronny yang masih berdiri dipintu masuk dan memberi kode untuk keluar. Ronny mengangguk mengerti.
"Apa yang ingin dibicarakan paman Bayu? Kenapa terkesan rahasia banget ya?" keluh Ronny bingung
Setelah memastikan pintu tertutup rapat, paman Bayu menanyakan perihal kematian Zahri yang Johan Barata ketahui. Ayah Jo menjelaskan semua hal yang sampai ketelinganya sampai bagaimana ibu Zahri menginginkan putrinya dikuburkan dikampung halaman mereka saja.
Bayu mengerutkan kening mendengar penjelasan dari ayah Jo.
"Ada apa, Bay. Kenapa kau terlihat gusar?"ayah Jo melihat ada yang tidak beres pada Bayu
"Aku akan bercerita sedikit tentang masa lalu Dayana, mas"
"Semoga, setelah ini kau akan mengerti bagaimana harus melindungi Dayana"
"Jujur, Aku tak bisa lagi mempercayakan Dayana pada putramu, Ronny" ungkap paman Bayu terang-terangan.
"Baiklah, ceritakan dengan teliti. Aku punya banyak waktu jika ini menyangkut Dayana".
Bayu mengangguk yakin dengan perkataan pria dihadapannya itu. Ia sudah melihat jelas bagaimana kedua mertua Dayana memperlakukan keponakan satu-satunya.
Bayu menceritakan sedetail-detailnya tentang masa lalu yang berkaitan dengan masa depan Dayana nanti.
"Huffthhh..." Ayah Jo menghela nafas berat dan memijit keningnya yang mendadak sakit.
"Aku tak menyangka ada kisah berat dikeluarga ini"
"Putraku itu memang tak bisa diandalkan" terang Johan Barata kecewa.
"Hanya ini yang bisa kusampaikan saat ini. Aku akan membantumu, mas Jo"
"Bagaimanapun sampai aku mati, Dayana akan tetap menjadi tanggungjawabku" paman Bayu tersenyum pahit dengan takdir yang Dayana tanggung.
Tugas Bayu yang ia emban sejak lama dan berharap agar Ronny yang melanjutkan untuk melindungi Dayana, kini sudah kandas diawal perjalanan hidup Dayana yang baru.
Kini ia terpaksa membagi beban pikiran bersama besannya yang sangat menyayangi keponakannya Dayana.
haiii semua... dukung karya aku ya dengan like n komen. pintu kritik dan saran terbuka lebar gaaeess.. love u all 😘😘😘
__ADS_1