
Dirumah yang Zahri tempati terdapat sebuah ruang kerja yang ditata rapi. Meskipun tidak terlalu besar, ruangan tersebut terlihat estetik dan cukup nyaman. Duduk di kursi empuk membelakangi jendela ruang, terlihat wanita itu sedang sibuk dengan laptopnya.
Cekleekk…
“Zahri” bu Mitha begitu saja tanpa mengetuk pintu
“ya bu” sahut Zahri tanpa mengalihan pandangannya dari laptop untuk mengecek email perusahaan yang masuk.
“Lala masih gak mau makan, kalau gini terus Lala bisa sakit”
“kamu harus lakukan sesuatu”tegas ibunya.
“huuffthhh…anak ini benar-benar keras kepala” ujar Zahri kesal
“kalau kamu gak mau kehilangan Lala, kamu harus perlakukan dengan baik. Bukan dengan cara memberi tekanan, tapi kasih sayang. Kamu paham itu kan” cecar bu Mitha memarahi Zahri.
Braaakkk…
Mitha pun keluar dengan membanting pintu kasar. Putrinya yang dulu patuh dan lembut berubah menjadi seperti ini, Kasar dan tak sabaran bahkan pada ibunya sendiri. Didalam hatinya, ia kadang takut jika Zahri
melampaui batas. Namun, perasaan dendamnya jauh lebih besar dari rasa kemanusiaannya.
Zahri melangkah keluar dari ruang kerjanya menuju kamar Lala. Sudah 2 hari Lala dikurung di kamar tersebut.
“ayolah non, makan dikiiitt aja pun jadi. Nanti non Lala sakit loh” bujuk babysitter yang menemani Lala. Lala masih tak bergeming, tetap meringkuk dibawah selimut.
“Lala masih gak mau makan juga?” tanya Zahri pada babysitter yang kaget karena tak mendengar langkah majikannya itu masuk.
“enggak mau juga bu” akunya
“sini, biar aku coba” Zahri mengambil piring nasi dari tangan Nisa babysitter Lala
Nisa bergeser kebelakang sedikit memberi tempat untuk majikannya mendekati Lala yang masih mogok makan.
“Lala sayang, kalo kamu mau habiskan nasi ini, kamu boleh telepon bunda kamu deh” bujuknya
Seketika Lala membuka selimutnya, dan menatap lekat ke netra lawan bicaranya saat itu.
“tante janji?” matanya berbinar penuh harap sembari mengangkat jari kelingkingnya ke Zahri
“huu..um” angguk Zahri ringan
__ADS_1
“kalo bohong, Lala bunuh diri aja” ancam Lala licik
Zahri terperangah mendengar kalimat yang di ucapkan Lala, tapi ia harus menahan amarahnya saat ini demi mendekatkan diri pada Lala dan bisa merebut Lala dari tangan Dayana yang pasti akan membuat istri pertama Ronny tersebut menderita.
“baiklah..deal” Zahri menautkan kelingkingnya pada jari mungil Lala
Dengan cepat Lala memakan habis semua yang ada didalam piring tersebut dengan wajah yang ceria.
“apa yang kau katakan pada putriku sehingga dia membenciku Dayana, aku akan membalas perbuatanmu” Zahri menggeram
“Lala udah selesai, mana ponselnya. Lala mau hubungi bunda” tagih Lala menatap tajam Zahri
“Lala minum dulu ya” Nisa memberikan segelas air pada Lala yang meminum beberapa tegukan saja
Zahri menghela nafas berat, dan kemudian menekan nomor Dayana yang masih ia simpan dulu.
Drrttt….drtt…
“hmmm…privat number?” gumam Dayana saat melihat layar ponselnya
“hah..aku tau ini kau Zahri” Dayana tersenyum sinis
“hallo…” Dayana menjawab telepon di detik-detik terakhir
“Lala sayang. Kamu baik-baik aja kan nak” Dayana terdengar menahan harunya bisa mendengar suara Lala setelah berhari hari
“iya bunda.. jemput Lala bunda. Lala gak mau disini ada tante kunti bundaaa..Lala takut hikksss” Lala mengadu panjang lebar.
“sialan anak ini, menyebutku tante kunti, dasar durhaka” umpat Zahri dalam hati
“Lala, jangan takut sayang. Bunda pasti akan jemput Lala” Dayana mencoba menenangkan
“Lala, tante Zahri itu bunda kandung Lala. Kamu nurut ya nak” terang Dayana dengan wajahnya yang sendu
“Lala anak yang pintar kan, dalam waktu dekat bunda dan ayah akan jemput kamu. Harus sabar ya sayang” imbuhnya
“gaaakkk… Lala gak mau bunda yang lain, bunda Lala Cuma satu bunda Dayana” seru Lala dalam tangisnya.
“kamu mau sama bunda selamanya kan, sayang?” tanya Dayana penuh kasih sayang
“iyaaaa…hikss” jawab Lala
__ADS_1
“jadi kamu harus nurut yang bunda bilang ya. Bunda dan ayah lagi urus seseuatu biar Lala bisa sama bunda terus. Untuk sementara kamu harus patuh sama bunda Zahri ya sayang” bujuk Dayana
“bunda janji? Hikss…” tanya Lala akhirnya
“tentu sayang. Bunda gak mau kehilangan Lala putri kesayangan bunda” Dayana akhirnya tak mampu membendung air matanya lagi.
“Lala juga sayang bunda…hiksss” Lala menghapus lendir yang keluar dari hidungnya menggunakan selimut.
“Lala janji ya. Makan yang teratur, biar kuat buat kabur” Dayana sangat mengerti sifat putrinya tersebut kalau sudah ngambek pasti mogok makan berhari-hari persis seperti omanya.
“Lala janji bunda”isak tangis Lala mulai berhenti
“sini ponselnya. Waktu nelpon kamu udah habis” Zahri menyambar ponsel ditangan Lala yang masih terhubung dengan Dayana, suara ketus Zahri pun terdengar ditelinga Dayana, membuat Dayana menggeram.
panggilan tersebut langsung terputus begitu ponsel tersebut ditangan Zahri. Lala kembali memperlihatkan wajahnya yang muram.
Ia meringkuk kembali kedalam selimutnya mencerna semua perkataan bunda Dayana padanya. Tiba-tiba wajah tembam Lala tersenyum seperti seseorang yang baru saja mendapat ide cemerlang.
Zahri melangkah keluar dari kamar Lala setelah beberapa saat memperhatikan gerak gerik Lala yang mengukung dirinya dibawah selimut.
Saat menutup pintu kamar Lala, Zahri mendapat telepon dari asistennya.
“hallo…” sahut Zahri
“bu, mata-mata kita mereka sudah tertangkap. Apa langkah selanjutnya” ungkap asisten Zahri
“ancam, gunakan keluarga mereka” perintahnya
“baik” jawab asisten tersebut sigap.
“siaallll….aku akan membalas kalian keluarga Barata akan habis ditanganku, Dayana sampah. Aku takkan membiarkanmu hidup tenang” teriak Zahri mengamuk sambil membanting benda-benda disekitarnya.
Lala mendengar suara makian Zahri diluar kamarnya, Lala semakin bertekad untuk membantu melindungi Dayana dari dalam. Meskipun Lala masih kecil dan tak tau permasalahan apa yang dulu terjadi, Lala juga bukan anak kecil bodoh yang tak bisa membedakan kasih sayang yang tulus.
“bunda…Lala janji. Siapapun yang mau nyakitin bunda, Lala akan beri dia hukuman three thousand kali lipat” gumam Lala yakin masih dibalik selimutnya.
Berdasarkan sifat Lala yang penyayang meskipun nakal, ia takkan biarkan siapapun untuk menyakiti keluarganya khususnya bundanya, Dayana.
Didalam otak kecil milik Lala itu, ia sudah merancang banyak ide untuk memberi pelajaran pada wanita yang melahirkannya. Menurut Lala, Zahri tidak cocok disebut sebagai ibu. Karena takkan ada ibu yang tega meninggalkan anaknya sendiri bahkan berbohong padanya.
Lala ingat bahwa bu Mitha, neneknya pernah menghampirinya di sekolah dan bercerita tentang ibu kandungnya yang terpaksa meninggalkannya sewaktu bayi, tapi lain lagi pengakuan Zahri tempo hari yang mengatakan bahwa Dayana dan kelaurganya telah merampas Lala darinya.
__ADS_1
Sejak itu Lala tak ingin mempercayai kata-kata Zahri maupun Mitha neneknya. Yang ia yakini adalah kasih sayang bunda dan seluruh keluarganya itu nyata dan tulus untuk dirinya.