Madu Manis Milik Suamiku

Madu Manis Milik Suamiku
Episode 41


__ADS_3

“Sari…” panggil pak David pada seorang gadis muda yang menawan.


“ya, Daddy” gadis berparas cantik tersebut pun menghampiri.


“masukkan nama perusahaan ini ke dalam daftar hitam” titah sang ayah


tegas kepada putrinya sekaligus asisten satu satunya.


“baik ayah” jawab Sari patuh


Sari tak bertanya lebih banyak, karena berdasarkan pengalamannya yang


mendapingi sang ayah berbisnis, ayahnya akan mempriorotaskan akhlak calon rekan


bisnisnya baru kemudian berbicara tentang keuntungan.


***


Zahri sampai dirumah sudah tengah malam, ia masuk ke kamar putrinya mengecek kondisi Lala. Zahri berdiri disisi ranjang yang Lala tempati, Lala tampak sedang tidur sembari mengukir senyum manis di wajahnya. disamping Lala Nisa Juga terlihat terlelap damai dalam raung mimpinya.


Zahri kemudian keluar dari kamar putri kandungnya tersebut, setelah terdengar bunyi pintu tertutup, Nisa membuka matanya menatap pintu kamar dalam cahaya temaram itu.


“huuffttt… bahkan untuk sekedar memberi kecupan selamat tidur saja ia enggan. Apa pantas disebut sebagai ibu” keluh Nisa dalam pikirannya.


Nisa melanjutkan tidurnya kembali saat sebelumnya terusik dengan suara langkah Zahri yang masuk menggunakan high hells yang membuat suara ketukan bising di lantai dalam setiap hentakan kakinya.


Zahri duduk di depan meja riasnya menggunakan skincare malam setelah membersihkan diri terlebih dahulu. Ia mematut pantulan diri dari cermin itu dengan wajah cemas memikirkan asumsi Gilang sore itu ketika mereka menemui pak David dirumahnya.


“huhhh… bagaimanapun aku akan kejar sampai dapat”. Zahri menyeringai


Keesokan harinya di kediaman rumah pak David…


“ayah. Aku telah menghubungi bagian pemasaran perusahaan yang ayah tunjuk kemarin”


“aku juga telah membuat janji tiga hari lagi kita akan bertemu mereka disana”

__ADS_1


“kerja bagus Sari” puji ayahnya bangga.


“tapi ayah, ada satu yang aku bingungkan. Kenapa tiba tiba ayah ingin berinvestasi di perusahaan itu?”


“hmm… Ayah sudah mengikuti beberapa kali berita tentang perusahaan itu”


“ayah juga meminta orang lain untuk menyelidiki tentang pemilik perusahaan itu”


“hasilnya diluar perkiraan. Kepribadian pemilik perusahaan tersebut  lebih dari sekedar rumor yang beredar”


“hmm… ternyata ayah masih segesit yang dulu” seru Sari menggoda


“eehhh... kamu pikir tulang rapuh ayah ini sudah tidak berguna?” sungut pak David


“ayah masih kuat memikul karung beras dipundak tua ini” ujar pak David sombong


“iya.. iya Sari tau, karung berasnya doang kan? Gak sama berasnya” Sari mengerling mengganggu ayahnya kembali.


“hahaha… hahaha.. haha” Pak David tertawa lepas karena Sari menyadari kalimat jebakan dari ayahnya.


“kalau gitu Sari persiapkan dulu berkas berkas kerjasamanya ya, ayah santai disini aja”


Pak David memiliki seorang putri yang belum juga menikah karena sibuk mengurus bisnis dan juga dirinya yang sudah sakit sakitan itu.


Pak David mengkhawatirkan masa depan putrinya tersebut yang telah masuk usia 37 tahun. Putri semata wayangnya ini ditinggal ibunya saat berumur 15 tahun. Sejak itu Sari selalu diajak ayahnya itu kemanapun ia pergi berbisnis.


Sudah lama ia mencari pria yang tepat untuk putrinya, namun pak David belum menemukan sosok pria yang sederhana, tangguh dan tidak tamak dengan harta sesuai dengan kriterianya.


“mungkin nanti aku akan meminta orang itu untuk membantuku mencarikan pria yang mampu menggantikanku untuk menjaga putriku sampai akhir” gumam pak David lirih pada dirinya sendiri.


Sementara siang itu di perusahaan Barata riuh suasana penyambutan Johan Barata dan rekan mereka yang baru saja pulang dari luar negeri dengan menggenggam kontrak kerjasama yang cukup lama periodenya.


Para pegawai di kantor tersebut mendapat beberapa oleh oleh yang dibawakan oleh ayah Jo untuk mereka. Sekretaris ayah Jo dan beberapa karyawan ditugaskan membuat bingkisan kecil untuk dibagikan merata pada seluruh karyawan kantor.


Lagi lagi para pegawai bersyukur karena bos pemilik perusahaan tersebut begitu dermawan dan selalu mengingat serta menghargai kerja keras mereka.

__ADS_1


Setelah pesawat mereka mendarat, ayah Jo beserta pegawai yang ikut bersamanya memilih langsung ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan yang mereka bawa dari luar negeri. Agar keesokan harinya mereka bisa beristirahat penuh seharian untuk memulihan tenaga.


Hari sudah cukup sore saat ayah Jo telah merampungkan pekerjaan bersama staf keuangan yang ayah Jo ajak ke Amerika untuk mempelajari proposal kerjasama dengan Mr. Tyson.


Sesampainya di rumah, ayah Jo juga membagikan oleh oleh untuk keluarga serta ketiga ART mereka. Bunda Lidya mendapatkan tas bermerek lokal yang harganya tidak terlalu mahal namun kualitasnya bagus.


Bukannya pelit, hanya saja bunda Lidya memang tidak akan menerima barang barang mewah. Menurutnya itu hanya membuang buang uang saja tidak mengenyangkan perut hanya mengenyangkan hasrat untuk mengkoleksi barang barang mewah.


Ayah Jo sangat mengerti sifat istrinya yang satu itu, makanya ayah Jo tak pernah melirik wanita manapun selain bunda Lidya meskipun wanita diluar sana jauh lebih cantik


Pria seperti ayah Jo ini hanya membutuhkan pendamping hidup yang memiliki pribadi yang cantik luar biasa yang mampu hidup bersusah payah bersama.


Setelah selesai membagikan hadiah, Bunda Lidya menceritakan perihal pertemuannya dengan Lala yang hampir membuatnya masuk ke rumah sakit kembali. Ayah Jo tertawa terpingkal pingkal mendengar aksi nakal cucu perempuannya itu.


Kemudian bunda Lidya memberi sepucuk surat titipan Lala untuk opanya


~~ hallo opa tersayang, apa kabar opa hari ini? Lala kaaaangeeennn banget sama opa😉. Tapi Lala belum bisa pulang ke rumah sekarang. Tolong opa rahasiakan ya dari semua, opa janji ya ini rahasia kita berdua aja yang tau…


kemarin Lala yang buat gagal kerjasama tante Kunti.. eh. Maksudnya tante Zahri dengan uncle Mike.. hehehe. Lala pintar kan opa, siapa dulu donk.. cucu opa 😎.


Jangan jemput Lala dulu ya opa, Lala masih mau jadi detektif Conan versi gadis imut buat gagalin lagi semua rencana jahat tante Zahri😒. Opa percayakan kan sama Lala? Opa gak usah khawatir, Lala gak akan


disakiti sama tante Zahri kok, ada nenek dan mbak Nisa yang jagain.


Opa, Lala cuman bicarain ini sama opa aja. Pliiiiissssss jangan bocorin rahasia kita ini ya, janji kelingking ya opa. Nanti kalo ada info yang penting Lala akan hubungi kantor opa aja.


Opa  udahan dulu ya. Lala laper berat cium aroma kue dari dapur, nenek Mitha lagi buatin kue buat Lala. Jangan lupa minum obat cacing sebelum tidur ya opa, biar perutnya gak buncit lagi 🤣. Lala saaaaayaaaang sama opa.. 😘 ~~


Ayah Jo sebentar terlihat sedih kemudian tiba tiba tertawa saat membaca surat Lala yang ditulis tangan itu. Reaksi yang sama dengan seluruh keluarganya saat membaca pesan yang ditulis oleh bocah kecil yang nakal itu.


Ayah Jo melipat kembali surat yang Lala berikan dan langsung memasukkannya ke dalam kantong. Mereka semua tak bertanya tentang isinya, karena sudah jelas isinya kurang lebih sama pikir mereka.


Ayah Jo menyimpan dalam perasaan bangga terhadap cucu nya yang berani itu. Dengan usia yang sangat muda, ia menanggung beban keselamatan hidup keluarga Barata di pundaknya yang kecil itu.


Rasa bersalah, haru, bangga, sedih dan rindu berkumpul menjadi satu dalam hati ayah Jo yang merasa sudah sangat tua dan lemah tak seperti cucunya yang kuat dan tegar meskipun masih sangat kecil.

__ADS_1


Ayah Jo kemudian bertekad untuk menjadi lebih kuat dan semangat dalam menghalau serangan maupun ancaman Zahri. Ia takkan menyia nyiakan kesempatan ataupun perjuangan cucu kecilnya itu.


haiiii readers....***mumpung like\, koment itu gratis\, silahkan diklik tombol like nya yahhhh jika kalian suka dengan cerita ini\, jangan lupa berikan vote dan gift untuk novel recehku ini... ***


__ADS_2