Madu Manis Milik Suamiku

Madu Manis Milik Suamiku
Episode 27


__ADS_3

Diing...


Sebuah pesan masuk ke nomer ponsel ayah Jo. Ia segera membuka pesan didalamnya.


"Ini....huuffh"


"Apa yang kau rencanakan sebenarnya" ayah Jo menggumam sendiri memijat keningnya yang begitu pusing.


Di sekolah...


"Danta...." Dayana berseru memanggil Danta begitu ia masuk ke ruang kepala sekolah.


"Bunda..." Danta berlari menghambur ke pelukan bundanya, menangis.


"Danta salah bun, Danta gak bisa jaga Lala....hikss" ujar Danta menyalahkan diri disela tangisnya.


"Sudah nak, Danta udah coba yang terbaik" Dayana mencoba menenangkan Danta.


"Maaf bu. Ini kecerobohan kami kurang perhatikan pada siswa kami saat jam sekolah berakhir" kepala sekolah menunduk malu merasa bersalah.


"Ini bukan waktunya saling menyalahkan pak. Bagaimana dengan CCTV sekolah " Dayana secara bijak dan tenang mencoba menyelesaikan masalah.


"Sudah dibawa oleh pihak kepolisian bersama pak Ronny bu" jelas kepala sekolah tersebut.


Sebelum Dayana tiba, Ronny yang saat itu sedang dalam perjalanan menjemput anak-anak mendapat telepon dari sekolah, bahwa Lala telah diculik.


Ronny tiba bersamaan dengan pihak berwajib untuk menyelidiki motif penculikan.


Dikarenakan Danta masih sangat kecil dan takut mental nya terganggu, maka Ronny meninggalkannya di sekolah menunggu Dayana menjemputnya pulang.


Setelah mendengar secara detail peristiwa yang terjadi, Dayana membawa pulang Danta ke rumah.


Dirumah mereka langsung mendapat sambutan tangis dan panik dari bunda Lidya.


"Day...Dayana" bunda memeluk Lidya


"Dimana Lala cucu bunda" ucapnya pilu.


"Mas Ronny masih di kantor polisi memberi keterangan, bun" jawab Dayana lirih.


Saat ini Dayana sangat terpukul, tapi ia berusaha untuk tetap optimis, bahwa putrinya akan kembali dengan keaadaan selamat.


"Danta, anak pintar. Ganti bajumu dulu ya. Lalu turun makan" bujuk Dayana pada putranya.


"Mbak Susi temani ya, yok" mbak Susi menyadari dari tatapan Danta bahwa ia masih merasa sangat takut ditinggal sendiri.


Danta pun ikut mbak Susi dengan patuh. Mbak Susi hampir tak bisa menahan tangisnya saat melihat setitik air di ujung mata majikan kecilnya ini.


Tak lama kemudian, Ronny dan ayah Jo sampai di rumah bersamaan. Bunda Lidya dan Dayana yang sedang duduk diruang keluarga pun langsung menghampiri mereka berdua.


"Suamiku... Lala dimana..hiikss?" Bunda Lidya kembali menangis saat melihat ayah Jo masuk ke rumah.

__ADS_1


"Tenang sayang, Lala pasti baik-baik saja" ayah Jo terlihat sangat tenang.


"Bagaimana bunda bisa tenang, cucu ku diculik. Dan bunda gak tau apa yang penculik itu lakukan...hiksss...hikss" tangis bunda Lidya meledak kembali


Dayana pun tak kuasa membendung tangisnya lagi. Ronny memeluknya untuk memberikan ketenangan.


"Sudah sayang..kita pasti akan temukan Lala" Ronny mengelus punggung Dayana


"Mbak Ita, tolong buatkan teh hangat untuk kami semua" titah ayah Jo pada asisten rumah tangga mereka.


"Bunda... Kamu tenang saja. Lala baik-baik saja. Penculik itu tidak akan menyakitinya" terang ayah Jo yakin.


"Kenapa ayah bisa seyakin itu? Apa penculiknya menghubungi ayah? Apa dia salah satu saingan bisnis kita?" Tanya Ronny beruntun.


"Tutup mulutmu. Ini semua terjadi karena kebodohanmu sendiri" kilah ayah Jo geram.


"Apa maksud ayah?" Ronny tak mengerti kenapa ia disalahkan atas penculikan Lala putri kandungnya sendiri.


"Kita lihat saja sebentar lagi. Bukti dan saksi akan hadir disini" tukas ayah Jo tenang.


"Apa?? Benarkah??" Bunda merasa ada secercah harapan untuk menyelamatkan Lala.


"Hmmm...." Ayah Jo menanggapi bunda Lidya dengan senyum yakinnya laku kembali memeluk istrinya yang sedang bersedih hati tersebut.


Beberapa saat kemudian, Bayu datang bersama dua orang detektif yang ayah Jo sewa.


"Selamat sore semua" sapa paman Jo


"Bagaimana Leo, sudah dipersiapkan semua?" Tanya ayah Jo pada salah satu detektif tersebut.


"Sudah siap pak. Mari kita mulai saja" sahut Leo.


Leo membuka tas kerjanya dan memasang sebuah flashdisik di layar TV ruang keluarga Barata.


Anggota keluarga yang lainnya kecuali mbak Susi yang menemani Danta tidur, memperhatikan setiap gerakan Leo si detektif yang sudah tidak muda lagi itu.


Leo mengambil remote TV dan memilih menu media Player untuk memutar isi dari flasdisknya.


"Inilah penculiknya" Leo menampilkan gambar seorang wanita berambut gelombang berwarna bronze. Memakai masker di wajahnya sehingga anggota keluarga tersebut tak mengenali si pelaku.


"Si..siapa dia?" Bunda Lidya bertanya bingung


"Ayah, apa kita kenal dengan wanita itu?" Giliran Ronny bertanya.


"Kami tak begitu mengenalnya"


"Tapi kau yang sangat mengenalnya" sarkas ayah Jo tajam.


"Baik, kita akan putar video yang lain" ujar Leo


Kini layar TV tersebut memutar video yang direkam oleh mbak Susi dan mang Darman ketika berlibur di desa.

__ADS_1


"Itu bukannya bu Mitha?" Ronny terpekik kaget.


"Ayah??.." bunda Lidya semakin tak mengerti. Begitu pula dengan Dayana.


"Lihat sampai habis, bun" titah suaminya.


Video terakhir menampilkan kejadian pagi tadi dimulai dari sejak mobil yang Ronny dibuntuti sampai saat mobil si penguntit mogok dan rekaman terakhir saat Lala dibawa oleh sipenculik.


"Apa kalian semua sudah siap melihat wajah si pelaku?" Leo menekan tombol stop di remote TV


Seluruh keluarga mengangguk yakin menahan nafas melihat serius ke arah layar TV.


"Sebaiknya setelah ini, pihak keluarga menahan emosi dan harus mengikuti pengaturan dari kesepakatan keluarga. Jangan tergesah gesa bertindak sendiri. Akan sangat merugikan bahkan membahayakan diri". Imbuh Leo menerangkan


Setelah semuanya mengangguk mengerti dengan intruksi yang Leo berikan, maka Leo kembali memutar video saat wanita si penculik tersebut membuka masker di mobilnya untuk minum.


"ZAHRI..." Semua anggota keluarga terpekik kaget. Kecuali paman Bayu dan ayah Jo


"Apa yang sebenarnya terjadi, ayah?" Ronny bergetar tubuhnya menahan amarah tak mengerti.


"Kau penyebab tragedi yang terjadi saat ini" ayah Jo mendelik geram


"Paman akan menjelaskan semuanya" ujar paman Bayu datar.


'Tujuh tahun lalu...'' paman Bayu berhenti sejenak menatap dalam ke mata Dayana


"Orang tua Zahri datang menemui paman bersama Ronny untuk mengakui perbuatan masa lalu yang membuatku kehilangan kakak satu-satunya dan kau kehilangan orang tuamu, Dayana"


"apa??? ayah Zahri pelaku tabrak lari waktu itu, paman?" Dayana histeris mendengarnya.


"tenang sayang, tenang dulu" bunda Lidya memeluk Dayana agar kembali tenang.


Setelah Dayana dapat mengontrol emosinya, paman Bayu melanjutkan kembali.


"disaat yang sama ketika paman menyeret Purnomo ke kantor polisi, terjadi gempa yang membuatmu dan ibu mertuamu dalam kondisi yang cukup berbahaya"


"ternyata Purnomo kesehetannya memburuk ketika ia dijatuhi hukuman penjara selama 20 tahun lamanya"


"tak lama ia menghembuskan nafas terakhir dipenjara tersebut, dan Zahri menaruh dendam pada kita semua, khususnya padamu Dayana" terang paman Bayu.


"apaaa?? disini, Dayanalah yang dirugikan sejak kecil sampai dia masuk ke rumah ini, penderitaan yang Dayana rasakan ini karena mereka".


"harusnya mereka memohon maaf pada Dayana, kenapa malah mereka yang dendam. Dayana gak pernah mengusik hidup mereka, paman" emosi Dayana meledak seketika mendengar penuturan pamannya.


"lalu, dengan kematian Zahri?" apa itu juga dipalsukan?" sela Ronny.


"menurutmu?" tanya paman Bayu sinis


Ronny tertunduk lesu. ia tak mengira, bahwa Zahri sanggup melakukan semua itu. Padahal Ronny sangat memanjakan dan menyayanginya selama ini.


"Nasi jika sudah menjadi bubur masi bisa di olah Ronny. Tapi jika nasi yang sudah hangus cuman akan meninggalkan bau gosong" sarkas ayah Jo padanya

__ADS_1


haiii semua... dukung karya aku ya dengan vote, like n komen. pintu kritik dan saran terbuka lebar gaaeess.. love u all 😘😘😘


__ADS_2