Madu Manis Milik Suamiku

Madu Manis Milik Suamiku
Episode 18


__ADS_3

Pukul 03.15 dini hari....


Hanya ada ayah Jo dan Ronny yang menemani masing-masing istri mereka. Zahri sudah pulang malam itu juga mengingat kondisi Zahri yang juga sedang hamil muda.


Zahri memilih pulang menggunakan taxi. Karena mang Darman dirumah sedang demam tinggi efek trauma saat menyaksikan langsung kondisi kritis dua majikannya itu.


Bunda Lidya telah siuman...


Ayah Jo yang saat itu tertidur dikursi samping ranjang bunda Lidya, terbangun saat tangan istrinya yang ayah Jo genggam saat itu bergerak-gerak. Ayah Jo dengan sigap memencet tombol memanggil perawat.


"Istriku...sudah siuman?"


"Apa yang sakit sayang?"


Ayah Jo begitu bahagia istrinya telah siuman, bunda Lidya dihujani kecupan kasih sayang oleh suaminya. Mata tua pria itu terlihat lelah.


"Da..da..day" tanya bunda Lidya tergugu


"Dayana ada disebelahmu"


"Ia sudah melahirkan dengan selamat" terang ayah Jo


Bunda Lidya tak bisa menggerakkan kepalanya, terasa berat dan sakit sekali.


"Sudah, jangan dipaksakan".


"Kalian berdua baru saja selesai dioperasi. Kondisi Dayana juga sudah stabil" ungkap ayah Jo sedikit menutupi kondisi Dayana.


Bunda tersenyum lega. Ia ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi entah kenapa berat sekali mengucapkannya.


Tak lama kemudian, 2 orang perawat masuk ke ruangan mereka.


"Permisi pak, ada yang bisa kami bantu?" Tanya salah satu dari perawat tersebut.


"Istri saya udah siuman, sus" ujar ayah Jo membuat Ronny yang tidur disisi kasur Dayana terbangun karena ayah Jo sedikit berisik.


"Oh, baik. Kita periksa tekananan darah ibu Lidya sebentar ya pak"


"Silahkan, sus" ayah Jo menyingkir untuk memberi tempat perawat memeriksa bunda Lidya.


"Hallo, ibu Lidya. Saya Kartika. Apa ibu mendengar suara saya dengan jelas?" Tanya perawat muda yang bernama Kartika tersebut.


Bunda Lidya mengangguk pelan. Kemudian perawat tersebut memeriksa suhu badan, tekanan darah dan detak jantung bunda Lidya. Sementara rekannya mencatat semua.


Disaat bersamaan, Dayana juga siuman.


"Bun...da" lirih Dayana lemah.


Ronny menoleh ke asal suara


"Sus...ayo cepat periksa istri saya, istri saya juga siuman" pinta Ronny


Mata Dayana belum terbuka sempurna. Ia masih sukar membuka matanya dengan baik.


"Bunda..." Lirihnya lagi


"Day, ini ayah"


"Bunda baik-baik saja" ayah Jo menghampiri menggenggam lembut tangan Dayana yang tidak diinfus, memberikan ketenangan pada Dayana.

__ADS_1


Kedua perawat tadi kini beralih memeriksa kondisi Dayana. Kemudian mereka memanggil dokter kandungan Dayana yang sedang dinas malam saat itu melalui telpon kamar.


Tak lama kemudian dokter Monica masuk bersama asistennya.


"Hallo, bunda Dayana" Sapa dokter Monica.


"Selamat ya sudah menjadi ibu" ucapnya tulus.


Dayana tersenyum lemah, matanya masih terasa mengantuk. Mungkin itu efek obat bius yang belum sepenuhnya hilang.


Dokter melakukan beberapa pengecekan, dan menulis beberapa obat yang harus diberikan pada Dayana malam itu.


"Suhu badan bunda terlalu tinggi ya pak" jelasnya pada Ronny.


"Sudah saya resepkan beberapa obat untuk bunda Dayana. Dan selama saya masih memberi resep ini. Bunda dilarang memberi asi ya bun" nasehat dokter.


Dokter memberikan resep yang sedikit keras sesuai dengan kondisi pasien saat itu.


"Minum yang cukup setelah bunda bisa buang angin ya, bun" imbuhnya lagi


"Baik, dok" Ronny menjawab mewakili Dayana.


"Baik, jika begitu, saya kembali keruangan saya" dokter Monica mengundurkan diri.


"Bunda Lidya, semangat ya. Cepat sembuh" ujar dokter Monica memberi semangat kepada bunda Lidya yang selalu menemani Dayana untuk memeriksakan kandungannya.


Esok harinya hasil pemeriksaan lanjutan pada kedua pasien ibu dan anak tersebut sudah bisa dipastikan.


Bunda Lidya mengalami stroke sehingga membuatnya kesulitan bicara. Tubuh bagian kanannya juga tak bisa ia gerakkan. Ditambah lagi, ia baru menjalani pemasangan pen tulang dilutut kanannya. Bunda saat itu benar-benar tak berdaya seperti tubuh yang mati.


Ia ingin berada disisi Dayana untuk merawat putrinya tersebut. Tapi impiannya terpaksa ia kubur rapat-rapat.


Dayana tidak ingin merepotkan keluarganya lagi. Tapi takdir membawanya kembali ke saat-saat ketidakberdayaannya. Ia harus menerima perlakuan khusus lagi. Rasanya ia sangat benci dan tak ingin disentuh oleh pria yang masih berstatus sebagai suami sah nya.


Kedua wanita penting dalam keluarga Barata itu kini mengalami kelumpuhan ringan yang bersifat sementara. Dayana tak sabar menunggu waktu untuk dapat membelai putranya. Tapi saat ini belum mendapat izin dari dokter yang merawat putranya.


"Ayah...." Sapa Dayana lembut.


"Ada apa sayang?" Sahut ayah Jo tak kalah lembut.


"Kapan Dayana bisa menjenguk baby D?" Dayana menatap sendu ayah Jo.


"Segera sayang. Jika ingin cepat bertemu putramu, maka cepatlah sembuh" senyum ayah Jo padanya.


"Ayah, bolehkah tempat tidur bunda dan Dayana dirapatkan" pinta Dayana.


"Hmmmm...ok. ayo kita geser, Ron" perintah ayah Jo pada Ronny.


Dayana memang saat itu tidak bisa merawat bundanya. Tapi setidaknya ia masih bisa menggenggam tangan bundanya yang saat ini lebih parah kondisinya dibandingkan dirinya sendirinya.


Dayana ingin mengalirkan semangat lewat sentuhan kepada bunda Lidya untuk tetap percaya, bahwa mereka berdua akan sembuh.


"Dayana, kau sangat mengerti bundamu ini. Bunda juga ingin ranjang kita didekatkan agar bisa melihat wajahmu, nak" bisik hati suara bunda Lidya


"Bunda..." Dayana memalingkan wajah ke sisi bunda dan menggengam erat tangan bundanya.


"Ayo semangat... kita harus sembuh dan bermain dengan baby D" air mata haru meluncur manis dari sudut mata bunda Lidya.


Ayah Jo dan Ronny pun turut terharu menyaksikan interaksi kedua anggota keluarga terpenting dalam hidup mereka.

__ADS_1


"maafkan mas, Day" hati Ronny berbisik sendu


2 minggu sudah Dayana dan bunda Lidya dirawat. Siang hari ayah Jo dan Ronny akan digantikan oleh Zahri dan mbak Ita atau mang Darman dan mbak Susi untuk bergilir menjaga Dayana dan Bunda.


Zahri tahu, bahwa bunda Lidya tak kan sudi ia rawat, sehingga membiarkan mbak Ita yang membantu keperluan bunda Lidya. Sedangkan ia yang akan menjaga Dayana.


Seminggu ini Dayana sudah belajar duduk meskipun nyeri yang ia rasa dibagian panggulnya saat berusaha memposisikan tubuhnya untuk tegak bersandar. Setiap sore ia meminta bantuan Zahri untuk menemui putranya dikamar para bayi.


Zahri dengan perutnya yang sudah mulai membesar, mendorong kursi roda Dayana ke kamar bayi yang tak jauh dari kamar rawat Dayana dan bunda.


Mereka diizinkan masuk ke dalam oleh perawat yang menjaga para bayi diruangan khusus itu.


"Sayang, bunda datang nak"


"Apakabarmu hari ini, putra bunda yang kuat? " Dayana menyentuh pipi mungil bayinya yang sudah bertambah gemuk.


Baby D merespon sentuhan bundanya dengan senyuman manis dari bibir mungilnya. Matanya ditutupi oleh penutup mata khusus agar cahaya hangat yang dikeluarkan dari inkubator itu tidak merusak mata bayi.


30 menit Dayana mengajak bayi kecilnya itu berkomunikasi. Setelah itu mereka berdua harus kembali ke kamar rawat.


"Kau lihat senyum baby D, Zahri?"


"Menggemaskan ya" Dayana beberapa hari ini sudah lebih dekat dengan madunya. Komunikasi mereka lebih lancar dari hari-hari sebelumnya.


"Iya, mbak. Mirip mas Ronny" ungkap Zahri.


"Oh, ya. Selagi kau disini. Kenapa gak sekalian cek kandungan?" Tanya Dayana


"Eemmm...nanti saja deh mbak" tolak Zahri halus.


"Kenapa? Kau harus periksa secara rutin. Agar kesehatanmu dan kandunganmu baik-baik saja" Dayana mendesak Zahri terus dengan alasan kesehatan bayinya.


Akhirnya Zahri mengalah dan mengikuti kemauan Dayana. Zahri ingin mengatakan sesuatu hal yang sangat penting pada Dayana. Tapi hatinya ragu, takut jika saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membicarakannnya.


"Ayah,aku harus bagaimana lagi" keluhnya dalam hati.


Ronny dan kedua orangtua Zahri tak menceritakan kejadian saat mereka menemui paman Dayana. Mereka semua menutupinya. Sampai sekarang, Zahri tak bisa menghubungi ponsel ayahnya. Membuat beban pikiran yang diberikan pada dirinya oleh sang ayah bertambah banyak.


Setelah mendapat persetujuan Zahri, Kemudian Dayana mengajak Zahri bertemu dokter kandungannya Monica. Setelah beberapa saat diperiksa, dokter meminta Zahri untuk lebih memerhatikan apa yang ia makan. Karena tekanan darah Zahri cukup tinggi dikehamilannya yang baru masuk trimester kedua.


Dokter Monica meresepkan beberapa pil untuk mendukung kesehatan ibu dan calon bayi tersebut. Disamping itu, Dayana juga memeriksakan luka caesarnya sekalian.


"Luka luar sudah mengering dengan baik ya, bu. Selanjutnya jaga pola makan, dan konsumsi bahan makanan yang saya anjurkan. Agar luka dalam cepat sembuh.


"Baik, dokter. Terimakasih bantuannya selama ini" Dayana menjabat tangan dokter Monica , lalu ia pun pamit keluar bersama Zahri.


Sudah tiga minggu bunda Lidya dan Dayana dirawat. Akhirnya mereka diizinkan pulang dan melanjutkan perawatan dirumah saja.


Namun, untuk tidak untuk baby D. Mereka harus menunggu satu minggu lagi agar bisa membawanya pulang ke rumah.


Awalnya Dayana tak menolak, tapi ayah Jo berhasil membujuk Dayana menunggu dirumah. Sementara itu, Ronny yang tiap hari akan datang mengunjungi putra mereka.


Di rumah...


Zahri menatap bunda Lidya setelah selesai membersihkan tubuh mertuanya yang lumpuh itu, lalu mencium keningnya. Setelah itu ia masuk ke kamar Dayana untuk membersihkan tubuh Dayana yang kondisinya juga sama dengan ibu mertua mereka. Begitulah tiap hari aktivitas rutin Zahri sejak dibolehkannya Dayana dan bunda Lidya dirawat dirumah


Ada cairan bening dipelupuk mata bunda Lidya setelah Zahri keluar dari kamarnya. Entah apa yang dipikirkannya sekarang. Akankah bunda Lidya membuka hati untuk Zahri? Atau air mata itu adalah ekspresi kecewanya karena tak bisa mencegah Zahri menyentuhnya?


Hmmm...author juga bimbang mau nulis bagaimana "ungkapan hati ibu mertua"

__ADS_1


Kerusakan Ring tulang itu memang sakitnya luar biasa. Author udah pernah rasain waktu SMA, jatuh terduduk dibuat teman sekelas. 1 bulan lebih gak bisa jalan.. bahkan ngesot ke toilet pun harus berusaha keras😭. Sehat dan kuat selalu ya buat readers😘


__ADS_2