
Dayana membatalkan janji dengan dokter untuk memeriksakan kesehatan rahimnya. Rencana untuk segera program kehamilan pun terancam gagal.
Mereka berdua memutuskan untuk segera kembali ke rumah dan menunggu Ronny disana. Setelah sebelumnya mereka mencari bukti tentang perselingkuhan Ronny.
Ditengah perjalanan kembali ke rumah, bunda Lidya memperhatikan kesedihan mendalam yang ditahan oleh menantu kesayangannya itu. Terbersit penyesalan dalam hati bunda Lidya menikahkan Dayana dengan Ronny putranya yang tak tau diri itu.
Bunda Lidya meraih tubuh Dayana memberikan pundaknya yang sudah tua untuk putrinya bersandar.
Dayana merasakan kehangatan sang bunda. Ia tahu bahwa bunda juga terluka, namun Dayana tak ingin menambah lagi luka pada bundanya dengan melihatnya menangis. Sebisa mungkin, sekuat mungkin Dayana mencoba menahan air matanya yang berdesakan ingin keluar.
"Mas, mengapa kau begitu tega padaku"
"Jika kau menginginkan anak dan tidak mampu bersabar, kenapa tak ceraikan saja aku"
"kenapa kau tega mengkhianati janjimu"
"Kenapa kau berikan hitam dalam warnaku impianku"
"Kenapa kau lukiskan luka ditengah bahagiaku"
"Kenapa kau tambatkan paku pada dinding hatiku"
"Apa salahku mas... Aku menyadari kekuranganku. itu tak membuatku terluka, kau juga tau aku terluka. Tapi mengapa kau robek luka yang menganga itu"
"Aku membencimu mas, pernikahan kita juga atas kemauanmu" Dayana bergelut mesra dengan kepedihannya.
Percayalah, tak ada wanita yang rela dan menerima kebohongan suaminya.
"Hallo bun...kangen ya sama Ronny" goda Ronny yang belum mengetahui jika bunda Lidya dan istrinya Dayana, memergokinya tadi di rumah sakit.
"Diam kamu laki-laki brengsek. Saya tunggu kamu dirumah, sekarang juga!!!" tegas bunda Lidya dengan intonasi marah.
Deghh...
Ronny begitu terkejut ketika bunda yang sangat ia sayangi memakinya seperti itu. Tidak pernah sekalipun sepanjang Ronny hidup di dunia ini mendengar bundanya bersuara semarah dan sekasar itu.
__ADS_1
"A..apa yang terjadi pada bunda" pikirnya gugup menerawang kemana-mana dengan berbagai spekulasi.
"Ada apa mas..." Tanya Zahri yang muncul dari dapur untuk mempersiapkan makan siang.
"Mas harus segera pulang sekarang. Bunda meminta mas pulang, ada hal penting" jelas Ronny terlihat gusar.
Ketika Ronny memakai kaus kakinya, ia tidak memperhatikan jika terbalik memasangkannya . Itu karena ia terlalu khawatir dengan perkataan bunda Lidya. Tapi Zahri memperhatikan itu, namun saat melihat raut wajah dan perubahan sikap Ronny setelah menerima telepon, Zahri mengurungkan niatnya untuk menggoda suaminya.
"Mas balik dulu y" pamit Ronny berlalu pergi begitu saja tanpa menghiraukan uluran tangan Zahri.
"Ada apa sebenarnya"
"Kenapa mas Ronny begitu tergesah-gesah sampai-sampai dia mengabaikan aku" gumam Zahri sedih.
Zahri duduk di meja makan sendirian. Ia melihat satu persatu sajian yang sudah ia hidangkan untuk suaminya.
Sejak pagi Zahri sudah mulai menyiapkan semuanya, ia memang tak pandai memasak. Maka dari itu, tiap pagi Zahri akan menghubungi ibunya untuk mengajarkannya memasak.
"Sungguh berat menjadi madu yang hanya disimpan rapat dalam wadah yang disebut rumah"
"Hanya sedikit waktu untuk berbagi cerita bersama. Di kala malam, sisi kosong ranjangku begitu dingin. Tak ada kehangatan sama sekali"
"Terlalu lelah membagi cinta, berbagi ranjang. Apakah sebegitu berdosakah jatuh cinta pada pria milik wanita lain??"
Di rumah Johan Barata...
Seorang ayah yang selalu terlihat penuh kehangatan kini menampilkan sisi dinginnya. Bukan hal biasa yang mampu membuat ayah Jo kembali ke rumah siang hari.
Tap..tap..tapp..
Terdengar langkah terburu-buru masuk ke rumah. Ronny melupakan salam khasnya ketika sampai dirumah mereka.
"Ayah, bunda"
"Ada apa sebenarnya memanggil Ronny pulang mendadak gini" Ronny melihat satu persatu wajah ketiga anggota keluarganya yang duduk dengan raut wajah bias dari emosi hatinya masing-masing.
Ayah Jo, dengan aura dingin dan wibawanya. Bunda Lidya yang terlihat sangat marah. Dan... Dayana dengan wajah sembab menyisakan sedikit bekas air mata yang tertumpah hebat.
Tanpa basa-basi, ayah Jo menampilkan rekaman cctv rumah sakit tempat dimana Dayana memergoki perselingkuhannya. Ayah Jo menyambungkan flashdisk di Tv besar rumah itu, agar dapat dengan jelas Ronny melihat wajahnya terekam kamera di sana.
Terekam di sana gerak gerik Ronny dan wanita yang mendampinginya memasuki ruang dokter spesialis kandungan yang sama dengan dokter yang merawat Dayana. Ronny tak mampu berkutik dan menyembunyikannya lagi. Ronny tahu semua ini lambat laun pasti akan terungkap, namun ia tak menyangka akan secepat ini.
__ADS_1
Suasana hening begitu layar tv tersebut padam. Ayah Jo diam seribu bahasa menahan amarah dan kecewanya pada satu-satunya keturunan Johan Barata. Ia merasa sangat malu pada Dayana yang seharusnya mampu melindungi menggantikan ayah Dayana yang telah lama tiada.
"Zahri Sakura" Ronny mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan kebenarannya.
"Nama wanita itu Zahri"
"Zahri adalah istri kedua Ronny" lanjutnya
Kejujuran yang baru saja Ronny katakan bagaikan pedang halilintar yang menusuk jiwa Dayana serta bundanya. Bunda Lidya tak mampu menahan sakit akibat dari pengkhianatan putranya sendiri terhadap Dayana. Tubuh bunda Lidya bergetar hebat, ia pun jatuh tak sadarkan diri.
"Bundaa... Bundaa..banguun bunda " Dayana menggosok tangan bunda pelan dengan telapak tangannya, ia memeluk ibu mertuanya seraya menangis terus memanggil bunda
Ayah Jo dengan sigap memanggil ambulance.
"KAU..TETAP DITEMPATMU!!!" perintah ayah Jo berteriak ketika melihat Ronny berjalan cepat menuju bunda yang tak sadarkan diri.
Ronny benar-benar tak berdaya saat ini. Jika ia salah melangkah, mungkin saja ia akan dikeluarkan dari rumah itu bahkan keluarganya tak akan menganggapnya lagi.
Ambulance pun tiba, ayah Jo dibantu oleh petugas medis pria mengangkat tubuh bunda Lidya. Dayana ikut menemani bunda didalam ambulance. Petugas medis segera melakukan penanganan dengan memasangkan selang oksigen, mengukur tekanan darah bunda Lidya.
Sepanjang perjalanan, Dayana mengelus kepala bunda, berharap sang bunda merasakan kehadirannya disana.
"Bunda.., Dayana mohon kuatlah"
"Bunda udah janji akan terus menjaga Dayana"
"Dayana gak mungkin kuat tanpa bunda.. hiks..hikss"
Tak lama kemudian, ambulance sampai dirumah sakit, segera bunda dilarikan ke UGD untuk mendapat penanganan lebih lanjut.
Dayana harus menunggu diluar, ayah Jo baru sampai disusul oleh Ronny yang tak berani mendekati mereka. Sungguh ia sangat khawatir dengan kondisi bundanya.
Ronny frustasi dengan kondisi saat ini akibat dari perbuatannya sendiri. Rasa bersalah dan takut kehilangan bunda menjalar ke seluruh tubuhnya.
Ingin rasanya ia memeluk ayah dan istrinya, yang saat itu hanya mampu dilihatnya dari kejauhan, hanya untuk sekedar berbagi kekuatan.
Akan tetapi, ia sadar diri. Situasi ini ia sendiri yang ciptakan.
"Bunda...maafkan ronny"
"Bertahanlah bunda" gumam Ronny lirih.
__ADS_1
Duduk dikursi tunggu depan ruang UGD ayah Jo yang merangkul Dayana yang terus saja menangis. Seluruh tubuhnya bergetar hebat menumpahkan perasaan sakit yang datang bertubi-tubi .
Menantu dan ayah mertua itu tak henti-hentinya berdo'a untuk keselamatan seorang wanita tua yang sedang berjuang di dalam sana. Saling memberi semangat untuk percaya bahwa bunda Lidya akan baik-baik saja. Ayah Jo berulang kali menghapus air mata Dayana yang seakan tak ada habisnya untuk bunda Lidya, istrinya. Begitu juga Dayana menghapus air mata ayah Jo berulang kali karena memiliki ketakutan yang sama dengannya.