
Setelah menghabiskan makanan yang mereka pesan, seorang bidan yang bekerja di klinik tersebut datang untuk memeriksa Zahri kembali.
Tekanan darahnya sedikit naik dari sebelumnya. Wajahnya yang ketika dibawa ke sana sangat pucat, sekarang lebih terlihat segar. Zahri diberi suntikan vitamin agar kondisinya lebih cepat membaik.
Dengan mengikuti beberapa prosedur pengecekan akhirnya Zahri diperbolehkan malam itu pulang ke rumah oleh bidan di Klinik tersebut agar lebih merasa nyaman setelah bidan meresepkan beberapa vitamin untuk ia konsumsi.
Hanya saja, seminggu sekali Zahri diharuskan memeriksakan kandungannya selama masa trimester pertama dikarenakan ia mengalami defesiensi Albumin sebagai protein yang membawa vitamin, mineral menyebar sesuai fungsinya. Maka dari itu Zahri mengalami anemia parah.
Diperjalanan pulang Zahri memilih untuk diam menikmati suasana malam ibukota. Ia tidak terlihat ceria seperti biasanya. Entah apa yang dipikirkan mamah muda itu.
"Dek, kamu kenapa diam terus dari tadi. Kamu masih merasa sakit? Kita rawat inap di rumah sakit saja gimana? Mas takut kamu pingsan lagi sementara mas bekerja. Apalagi gak ada yang nemeni kamu. Nanti kalau dirumah kamu kenapa-kenapa gimana coba, atau kita sewa asisten rumah tangga?" Anjur Ronny menunjukkan sikap over protektifnya.
Bagaimana tidak, ini pertama kalinya Ronny akan menjadi seorang ayah setelah beberapa tahun ia menikah dengan Dayana.
Zahri memalingkan wajahnya pada Ronny sebentar, lalu kembali menikmati pemandangan di jalan dengan lampu berwarna warni ditiap tempat, warung, cafe atau baliho yang dikelilingi lampu kelap kelip.
"Gak usah mas"
"Aku gak nyaman ada orang asing dirumah" tolaknya halus
Ronny menghela nafas pasrah dengan keputusan Zahri. Ronny bagaimana pun harus membuat Zahri merasa nyaman dengan kehamilannya yang pertama ini. Namun dilain sisi Ronny mengkhawatirkan kondisi Zahri. Harapannya tinggal pada persetujuan ayahnya.
"Aku harus bicara pada ayah. Bagaimanapun Zahri sedang mengandung cucunya" gumamnya dalam hati.
Sesampainya mereka di rumah, Zahri memilih untuk langsung tidur setelah membersihkan dirinya.
"Mas, aku langsung bubuq ya. Masih pusing banget" keluh Zahri saat menaiki kasurnya.
"Ya udah, sini mas pijat kami sampe bubuq" ajak Ronny menarik lembut tubuh Zahri kepelukannya lalu membaringkannya perlahan dan mulai memijat kepala Zahri yang pusing.
Setelah memastikan Zahri telah lelap masuk ke alam mimpinya, Ronny berjingkat pelan turun dari ranjang, mengambil ponsel di nakas sebelahnya. Kemudian ia menuju teras rumah duduk disana.
Ronny menimbang- nimbang sebentar, takut dengan keputusannya nanti akan semakin merusak segalanya.
Jam dilayar ponsel menunjukkan pukul 9 malam. Biasanya ayah Jo masih menonton televisi. Akhirnya dengan tekad yang bulat, Ronny menekan nomer ayahnya tersebut.
Tuuutt...tuuuttt...
Nada panggil udah berbunyi 5 kali, tapi belum ada seseorang yang menjawab panggilannya.
Ronny tak menyerah, ia mencoba sekali lagi menghubungi ayahnya. Akhirnya di nada panggil ke empat, ayah Jo mengangkat ponselnya.
"Ada apa" ayah Jo menjawab dengan nada datar.
"Ayah, Ronny minta maaf sebelumnya karena tidak meminta izin terlebih dahulu pada bunda dan ayah, Terutama pada Dayana" Ronny berhenti sejenak mengambil nafas.
__ADS_1
"Ayah, Zahri adalah gadis yang baik. Dan sekarang ia sedang mengandung, hanya saja kondisinya saat ini sangat lemah" jelas Ronny panjang lebar
"Lalu apa maksudmu menjelaskan semua ini" ayah Jo sangat paham dengan karakter anaknya saat putra semata wayangnya itu berbicara serius dengannya. Pasti dikarenakan niat tertentu yang ingin disampaikannya.
"Ayah, izinkan Zahri tinggal bersama di rumah kita, agar aku bisa dengan mudah mengawasinya dan berbuat adil pada kedua istriku" mohon Ronny dengan nada suara getir, suara diseberang hening seketika. Ronny menatap layar ponselnya, panggilan masih terhubung, tapi belum ada tanda-tanda ayah Jo menjawab permintaannya, ia menunggu dengan sabar keputusan ayahnya.
"Huuhh... Berbuat adil katamu?" Ejek ayah Jo ketus.
"Sejak kau memutuskan untuk berhubungan dengan wanita itu dan melanjutkan sampai ke pernikahan, sejak itu pula kau sudah tidak adil pada putriku" cecar ayah Jo kesal dengan pemikiran putra bodohnya itu.
Ronny merasa tertampar dengan pernyataan ayahnya tersebut. Namun ia mencoba bersabar dengan kata-kata kasar ayahnya yang memukul tepat di wajahnya.
"Sebenarnya aku sangat menyesali keputusan kami untuk menikahkan putri kami denganmu" ucap ayah Jo kembali mengingat bagaimana ia dan istrinya menyakinkan Dayana untuk menikah dengan Ronny.
Dayana, gadis yatim piatu dengan trauma yang sangat menyakitkan dengan kematian kedua orang tuanya. Kemana Dayana harus melabuhkan rasa sakit hatinya jika bukan pada kedua mertua yang menjadi pelindung pengganti orang tuanya.
"Tapi baiklah, aku akan memberi satu kesempatan untukmu memperbaiki kekacauan besar yang kau buat. Tapi jika, Dayana merasa lebih menderita akibat sikapmu. Maka aku sebagai ayahnya akan turun tangan sendiri mengurus perceraian kalian dan mencoretmu dari daftar anggota keluarga Barata" tegas ayah Jo pada keputusannya.
Ronny menelan pahit kata-kata yang dilontarkan ayahnya. Begitu besar rasa kecewa yang ia torehkan pada hati kedua orangtua kandungnya tersebut. Sehingga lebih memilih memutuskan hubungan dengan dirinya.
"Baiklah ayah, Ronny menerima keputusan ayah" jawab Ronny pasrah
"Ta..pi" ucapan Ronny terpotong karena ayah Jo memutuskan sambungan sebelah pihak.
Ronny tertunduk lesu beberapa saat. Dayana memang wanita yang dijodohkan dengannya saat itu. Benar, bahwasanya ia jatuh cinta pada Dayana. Benar, jika akupun menyetujui pernikahan itu. Benar jika aku bahagia dengannya. Tapi bohong jika aku tidak menginginkan seorang penerus.
"Haiii..." Sapa seorang pria berjaket bahan jeans yang turun dari sepeda motor tersebut setelah melepaskan helm yang dipakainya.
"Haiii Theo, nongol juga akhirnya" sahut Ronny dengan senyum yang dipaksakan.
"Ada apa bro"
"Roman-romannya lagi kurang piknik nih" goda Theo ngasal.
"Apa sih... Aku lagi mumet ni" Ronny menyelonjorkan kakinya ke depan dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi menengadah ke atas.
"Mumet kenapa, Ron. Coba ceritain, mana tau aku bisa kasi solusi"
"Bisnis mu lagi ada masalah?" Tanya Theo penasaran.
"Bukan bisnis bro" ucap Ronny menahan getir. Ia duduk tegak kembali kemudian menceritakan semua kejadian yang terjadi beberapa waktu ini. Theo mendengarkan dengan seksama curhatan salah satu sahabatnya itu. Sesekali mengangguk tanda mengerti alur ceritanya.
"Apa aku berdosa jatuh cinta lagi, apa aku egois karena menginginkan keturunanku" ucap Ronny akhirnya.
Theo menatap dalam netra coklat sahabatnya itu. Kemudian menggeleng pelan penuh arti.
__ADS_1
"Ron, menyandarkan cinta pada seseorang bukanlah sebuah dosa. Tapi menancapkan paku berkarat hingga terluka dalam hati yang tulus mencintaimu itu adalah sebuah dosa pengkhianatan. Bukan kamu yang egois, hanya kamu yang tak sabar" Ronny tersetrum dengan penuturan Theo. Ia terdiam menatap lawan bicara dihadapannya itu.
"Lihatlah aku dan istriku. Sudah 7 tahun kami menikah. Tapi belum sekalipun istriku mengandung. Apakah aku yang salah atau dia yang salah bukan menjadi satu alasan membenarkan kita para pria berstatus suami untuk mencari yang kita perlukan diluar sana. Tak ada pembenaran dalam sebuah kesalahan. Jangan berkata akan berbuat adil jika diawali dengan sebuah kesalahan. Tak kan ada wanita yang akan sanggup menerima sebuah pengkhianatan" imbuh Theo lengkap.
"Ok bro, aku pulang dulu".
"Aku hanya sebentar singgah melihat keadaanmu" Theo bangkit dari duduk menepuk-nepuk pelan punggung Ronny untuk menyalurkan semangatnya.
Ronny menanggapi dengan anggukan kecil dan membiarkan Theo berlalu melajukan kuda besi putihnya tersebut. Lidahnya terlalu kelu untuk mendebat pendapat Theo.
"Kau benar Theo. Aku harus perbaiki kesalahanku" gumam Ronny lirih.
Ronny masuk ke rumah, mengunci pintu lalu mematikan lampu ruang tamu yang masih menyala. Pelan-pelan ia membuka pintu kamarnya yang tak sepenuhnya tertutup dilihatnya Zahri yang masih diposisi yang sama saat ia tinggal keluar tadi.
Ronny berjingkat pelan naik ke ranjangnya. Menatap sendu wajah Zahri yang berhadapan dengannya. Kemudian mengecup dalam kening Zahri.
Zahri menggeliat kecil membalikkan tubuhnya membelakangi Ronny. Lalu Ronny memeluk tubuh istrinya itu dari belakang mengesap aroma manis dari lotion yang digunakan Zahri.
Ronny mencoba memejamkan matanya untuk memasuki dunia mimpi. Setelah beberapa saat terdengar dengkuran halus dan irama nafas yg teratur dari Ronny. Zahri membuka matanya, menitikkan bulir-bulir hangat tak bersuara.
Zahri belum sepenuhnya terlelap saat Ronny keluar dari kamar. Zahri mengikuti dari belakang kemana suaminya pergi. Tadinya Zahri berfikir bahwa Ronny merasa lapar, sehingga Zahri berfikir akan menemani suaminya makan.
Namun, Ronny melangkahkan kakinya keluar rumah membuat Zahri penasaran. Ia mendengar semua perkataan Ronny pada ayah mertuanya, namun tak tau apa yang dikatakan ayah suaminya tersebut. Dan yang membuat Zahri terpukul adalah kata-kata yang dituturkan oleh Theo, sahabat Ronny yang menjadi saksi pernikahannya.
Zahri merasa menjadi wanita yang begitu buruk dan rendah dipandangan orang lain.
"Mengapa jatuh cinta itu begitu menyiksa seperti ini. Sebegitu besarkah dosaku menikah dengan suami milik wanita lain? Meskipun aku pernah mencoba menepis rasa itu, tapi semakin aku menjauh, semakin aku terperangkap didalamnya" ungkap Zahri pada dirinya sendiri di hati.
Keesokan harinya...
Setelah pembicaraan panjang dengan banyak pertimbangan antara Ronny dan Zahri. Akhirnya Zahri pasrah mengikuti saran suaminya. Ronny mengemas pakaian Zahri serta tak lupa vitamin yang diresepkan untuk ibu hamil tersebut.
Ronny telah memutuskan agar Zahri tinggal sementara dirumah besar keluarganya sampai ia melahirkan. Ia berharap, agar orang tuanya luluh dengan melihat kelahiran cucu pertama mereka. Sedangkan Dayana, ia sendiri yang akan mencoba membujuknya untuk menerima Zahri sebagai madunya.
Andaikan Ronny mengerti, bahwa membujuk seorang wanita memaklumi pengkhianatan suaminya dan menerima dengan lapang dada madunya, itu ibaratkan memintanya untuk berhenti bernafas secara perlahan. Jika saja sejak awal Ronny berkata jujur, mungkin saja tak akan berakhir menyakitkan seperti ini.
Matahari sudah mulai turun memadamkan panas cahayanya ketika Ronny dan Zahri sampai di rumah ayah Bundanya. Ini pertama kalinya Zahri menginjakkan kaki di tanah itu. Ada perasaan takut terbersit di wajah manisnya yang masih tampak pucat.
Bunda Lidya yang sebelumnya sudah ayah Jo jelaskan tentang situasi yang Ronny hadapi, menatap ke bawah dari jendela kamarnya tepat dimana Ronny dan Zahri berada.
"Hahh... Beraninya kau menginjakkan kaki di rumahku. Akan kubuat kau menderita seperti kau membuat putriku menderita"
"Tampangmu memang polos, tapi hatimu sungguh keji menjerat dan merebut suami milik wanita lain. Kau tak punya hati" bunda Lidya berdecak jijik pada sosok wanita muda yang papah masuk oleh putra yang sudah tidak diakuinya lagi.
Dayana saat itu duduk diruang TV membolak balik siaran yang yang di tampilkan dilayar datar itu. Sorot matanya tak ada tanda-tanda gairah hidup. Ia seperti tubuh yang tak bernyawa. Dayana ingin berontak tentang nasibnya yang buruk tapi kepada siapa dan bagaimana. Ia tak ingin mempermalukan kedua mertua yang melindunginya seperti putri kandung mereka. Dayana mencoba bertahan dan terpaksa harus menahan rasa sakit yang Ronny berikan untuknya demi kedua orang tuanya tersebut.
__ADS_1
Dayana yang ketika itu sedang menata hatinya dikejutkan dengan kedatangan Ronny yang menuntun masuk madunya ke rumah mereka dengan sangat hati-hati. Apalagi Dayana melihat 2 koper besar yang ia tau itu bukan milik suaminya didorong masuk oleh PRT rumah itu. Hatinya begitu sakit, saat ia sadar tujuan Ronny membawa wanita itu ke rumah untuk tinggal seatap dengannya. Sungguh Dayana tak sanggup.