Madu Manis Milik Suamiku

Madu Manis Milik Suamiku
Episode 24


__ADS_3

Lima belas menit mereka terus mendebatkan masalah yang sama. Dan ujung-ujungnya muter muter disitu juga. Akhirnya mereka terpaksa menelepon Ronny, si majikan untuk menjemput mereka.


Drrrtt....drrrrtt...


"Mas, ponsel kamu tuh ada yang nelpon" Dayana menunjuk ponsel di atas nakas yang nada dering nya sudah di silent oleh Ronny agar tak mengganggu anak-anaknya tidur.


Ronny mengalihkan pandangannya dari monitor laptop ke arah nakas di samping ranjang. Ronny berdiri mengambil ponselnya membaca nama yang muncul dilayar benda pipih yang canggih itu.


"Ya..haloo" jawab Ronny


"Emm...anu mas. Saya dan mbak Susi tadi habis jalan-jalan keluar. Eh tau - taunya nyasar mas" terang mang Darman malu.


"Ya ampun mang Darman. Memangnya sekarang posisinya dimana?" Tanya Ronny sembari menggelengkan kepalanya


"Persis di depan puskesmas ini mas" terang mang Darman.


"Ya udah... Tunggu disitu. Sebentar saya jemput" titah Ronny.


"Mas, ada apa?" Tanya Dayana heran kenapa mang Darman menelepon


"Tadi mang Darman dan mbak Susi jalan keluar. Eh gak taunya lupa jalan pulang" jelas Ronny terkekeh geli.


"Oohh... Gitu. Sana jemput cepat. Kasian mereka udah kecapean" Dayana merenggangkan perlahan tubuh kecil putrinya dari pelukannya.


Dayana belum bisa tidur karena tubuhnya masih menyesuaikan diri dengan suasana baru. Dayana terbiasa dengan udara ibukota, sehingga aroma malam sejuk dan bersih khas pedesaan pun ingin dinikmatinya lebih lama.


Jendela kamar tidur mereka disisip kawat nyamuk agar udara malam yang sejuk tetap dapat masuk ke kamar tapi tidak dengan nyamuk.


Rumah peninggalan kakek Ronny ini memiliki ciri rumah tempo dulu yang masih dipertahankan dan terjaga dengan baik hingga sekarang.


Dinding yang terbuat dari kayu berkualitas tinggi ditopang oleh dasar bangunan yang berlapis beton. Atap rumah juga membumbung cukup tinggi sehingga sirkulasi udara sangat bagus.


Rasanya Dayana betah berlama-lama tinggal di desa itu. Tidak seperti di kota yang masih akan ramai orang berlalu lalang di jalanan. Di desa itu pukul 9 malam, jalanan sudah sepi.


Apalagi rumah-rumah penduduk masih berjauh jauhan dibatasi oleh perkebunan sayur milik warga setempat yang ukurannya cukup luas. Ditambah persimpangan jalan 5 jalur membuat siapapun orang asing yang datang akan tersasar.


Dilain tempat, mang Darman dan mbak Susi yang masih jongkok di depan puskemas desa itu masih sibuk menerka-nerka kenapa wanita yang mereka ikuti itu ada di desa tersebut.


"Mang, apa kita kasi tau non Dayana aja ya?" Anjur mbak Susi.


"Ehh...jangan. Kasian non Dayana nanti makin banyak beban pikiran. Non Lala aja belum sembuh" cegah mang Darman


"Trus.. kalo ke ibu gimana? Kita gak bisa kasi tau masa Ronny dulu kan?" Ungkap mbak Susi cemas jika majikannya Ronny tau.


"Iya benar. Kita kan gak tau maksud dan tujuan wanita itu disini".


"Bisa jadi juga cuman mirip. Kayak mang Darman dengan Lee Min Ho" ucap mang Darman asal mengusap usap sendiri pipinya yang mulai keriput.


"Wuuiihhh... dari mana datang rasa percaya diri itu mang. Jijik aku aah" mbak Susi bergidik geli sendiri


"Hahaaahha... Ngiri ya boss" balas mang Darman tak tau malu.


"Bahhaaa..haaa.. sorry ya. Susi Kim kembarannya Suzy gak pernah Ngiri ( ke kiri) , selalu Nganan (ke kanan )" kilah mbak Susi dengan sombong.


" Beeehhh gak mau ngaku..." Mang Darman memicingkan matanya melirik sini mbak Susi.


"Eh.. aku ada ide mang. Gimana kalo kita lapor ke bapak aja. Biar bapak yang selidiki" ide cemerlang keluar mendadak dari pikiran mbak Susi.


"Iya...ya. Mang Darman setuju itu mbak. Kan jadi nimbulin misteri ya kenapa setelah kejadian waktu itu, langsung pindah rumah gak ada jejak" mang Darman mengangguk Setuju dengan saran mbak Susi kali ini.

__ADS_1


"Ok...kali ini kita bersatu melindungi keluarga ini" mbak Susi mengepalkan tangannya ke depan meyakinkan dirinya sendiri.


"Ehh itu mas Ronny kayaknya" mang Darman berdiri ketika melihat lampu mobil yang mendekat.


Mobil Ronny berhenti tepat didepan mereka. Mbak Susi dan mang Darman pun naik dengan tersipu malu.


"Maaf ya mas.. ngerepotin" ucap mang Darman tulus.


"Ya mau gimana lagi. Besok-besok bawa peta Dora ya manh, biar gak kesasar...hahaha" ejek Ronny pada kedua PRTnya..


"Dora udah pensiun mas, karena Emon udah jadi artis standUp comedy" sela mbak Susi mulai ngawur.


"Heeiiii baling-baling bambu" pekik mang Darman tiba-tiba.


Ronny menepuk jidat sendiri dengan kelakuan abstrak tak nyambung ala kedua PRT mereka yang sangat setia itu.


Sesampainya dirumah, mereka masing-masing membersihkan diri sebelum beranjak tidur. Jam sudah menunjukkan ke angka 10.35.


Mang Darman berfikir sejenak apakah baik bagi majikan tertua mereka menerima kabar seperti ini di malam hari.


Tapi saat melihat nomer ayah Jo sedang online. Maka ia pun memutuskan untuk bertanya terlebih dahulu.


Mang Darman ~Selamat malam pak, Ada hal penting yang harus saya sampaikan tentang seseorang yang selama ini kita cari ~


Johan Barata ~ katakan..~


Mang Darman mengirim sebuah video yang mereka rekam saat mengikuti wanita tersebut.


Johan Barata ~ ini...dari mana kalian dapatkan~


Mang Darman ~ kami merekamnya sendiri tadi saat mengikutinya sampai ke rumah. Tak jauh dari rumah disini~


Johan Barata ~ baiklah.. saya akan selidik. Terimakasih banyak sudah ikut berperan melindungi keluarga kita ~


Mang Darman meletakkan ponselnya. Hatinya tersentuh dan bahagia dengan perilaku manis majikannya yang sangat menghargai mereka sebagai pekerja rumah tangga.


Bagaimana pun mang Darman yang tak memiliki sanak keluarga sudah menganggap keluarga Barata adalah keluarganya sendiri.


Hidupnya yang berkecukupan sekarang adalah berkat pertolongan Johan Barata yang bersedia mengulurkan tangannya untuk membantu tukang pungut sampah seperti dirinya.


Begitu juga dengan yang dirasakan Johan Barata. Ia bersyukur memiliki pekerja yang bergerak cepat melindungi keluarganya tanpa ia perintah.


Ayah Jo kemudian mengirim video tersebut kepada seseorang kenalannya. Ia telah menyewa detektif swasta untuk menyelidiki hal tersebut.


Ayah Jo rela menghabiskan beberapa nominal uang untuk mempersiapkan segala kemungkinan. Apalagi hal ini ada hubungannya dengan keselamatan menantu kesayangannya.


Bagaimana dengan Ronny? Putra payahnya itu takkan mungkin bisa ia andalkan untuk hal seperti ini. Salahnya sendiri dulu membesarkan anak semata wayang dengan memanjakannya.


Ayah Jo juga mengirim pesan teks kepada paman Dayana untuk bersiap-siap. Menyiapkan mental, tenaga dan pikiran untuk berkolaborasi melindungi Dayana.


Ahh...entahlah. mengapa Dayana terus yang harus menerima penderitaan. Padahal Dayana tumbuh dengan baik tanpa menyakiti atau menyinggung hati orang lain.


*****


Keesokan paginya, sarapan sudah disiapkan oleh sepupu bunda Lidya. Mereka subuh-subuh sudah datang masuk lewat pintu belakang yang sengaja tidak dikunci.


Rumah nenek Mirna dan bunda Lidya itu berdekatan. Posisi rumah nenek Mirna tepat di belakang rumah mendiang ayah bunda Lidya. Di samping rumah tersebut ada jalan selebar 2,5 meter khusus kerumah nenek Mirna.


Lastri dengan cekatan menyiapkan menu sarapan. Rencananya mereka akan sarapan di halaman belakang rumah bunda Lidya yang menyatu dengan halaman depan rumah nenek Mirna.

__ADS_1


Tikar yang terbuat dari anyaman bambu pun sudah digelar. Aroma ubi goreng yang dimasak menggunakan tungku kayu bakar pun menyeruak harum ke hidung bunda Lidya yang baru saja selesai dengan rutinitas mandi paginya.


"Lastri..." Sapa bunda Lidya.


"Ini ubi roti kesukaanku kan" tanyanya yang terus menghirup dalam aroma wangi yang sudah sangat ia rindukan itu.


"Iya mbak, ini baru semalam sore di panen" jawab sepupu bunda Lidya tersebut.


"Rasanya pasti manis sekali...."


"Air liurku hampir meledak ngebayanginnya" seru bunda Lidya yang tak sabar menunggu ubinya matang.


"Panggil yang lain mbak. Kita sarapan sama-sama" pinta Lastri


"Oohh iya. Hampir lupa" bunda Lidya kembali masuk rumah dan memanggil semua anggota keluarganya keluar.


Suasana sarapan pagi mereka ramai dan terlihat sangat bahagia. Menu sarapan yang cukup sederhana terasa sangat nikmat jika dimakan bersama dalam keadaan hati yang senang.


Sampai satu kejadian onar melengkapi kebahagiaan keluarga tersebut.


"Lala, lepaskan. Ini milik oma" bunda Lidya dan Lala memegang satu ubi goreng terakhir yang ada dipiring.


"Oma, ini punya Lala" sahut lala menantang.


Keduanya saling memicingkan matanya sengit. Perebutan sepotong ubi pun terjadi dengan adu kekuatan tangan.


"Lala, lepasin gak"


"Oma, lepasin gak" Lala meniru ucapan bunda Lidya.


"Aduhh kok malah jadi rebutan sih. Kan bisa digoreng lagi" Ronny putus asa yang sudah berusaha melerai perebutan sepotong ubi tersebut.


"Bunda ngalah aja deh. Masih banyak kok dibelakang tinggal panen" bujuk Ronny.


"Ooh tidak bisa Ron. Letak kenikmatan ubi adalah di gigitan potongan terakhir ubi yang masih hangat itu" sahut bunda Lidya yang masih keukeh.


"Ya..Lala setuju" balas Lala masih tak mau kalah.


Slaapppp....


Kini potongan terkahir ubi tersebut hilang, berpindah tangan bukan ke tangan bunda Lidya ataupun tangan Lala.


Potongan ubi terakhir kini terbelah dua ditangan mungil Danta yang berada ditengah-tengah antara Lala dan bunda Lidya.


Dengan santai Danta memberi Lala dan omanya bagian yang sudah ia bagi dua tersebut.


"Sudah sama besar kan ukurannya. Ayo habiskan sekarang sebelum Danta berubah pikiran" ujar Danta tegas, setegas opanya, Johan Barata.


Lala dan Bunda Lidya menerima masing masing potongan ubi yang sudah mengecil tersebut, dan memakannya dengan wajah mewek tak rela.


Keluarga tersebut terbahak-bahak melihat keromantisan antara cucu perempuan dengan omanya.


"Persis seperti Lidya kecil" gumam nenek Mirna pada Dayana yang tersenyum manis disampingnya.


Tak jauh dari mereka duduk menikmati sarapan, ada sepasang mata yang mengamati mereka. Tapi ia tak berlama-lama disana karena sebentar lagi akan banyak petani yang akan berlalu lalang untuk pergi bekerja ke kebun masing-masing.


"Kau lihat saja, sampai kapan bibirmu itu akan tersenyum" ucapnya lirih penuh kebencian.


***

__ADS_1


Belum terungkap juga ternyata di episode ini. 🤭 Jangan lupa intip lagi ceritanya di episode berikutnya ya


haiii semua... dukung karya aku ya dengan vote, like n komen. pintu kritik dan saran terbuka lebar gaaeess.. love u all 😘😘😘


__ADS_2