
Tiiiinngg…
Suara notifikasi pesan masuk terdengar di ponsel Dayana yang masih sibuk menyiapkan bekal piknik untuk dibawa saat bermain di taman tak jauh dari komplek rumah mereka.
Dayana mengintip sedikit layar ponsel yang diletakkannya di meja.
“nomer tak dikenal?”
“siapa ya??” gumam Dayana pada dirinya sendiri.
Dayana lantas mencuci bersih tangannya untuk mengecek pesan yang baru masuk tersebut.
~ selamat siang, namaku Nisa babysitter Lala. Putrimu ingin bertemu anda secara diam diam di wisata bermain taman Keroppi 1 jam lagi. Mari bertemu di loket tiket wahana pintu kanan ~
Pesan singkat tersebut membuat hati Dayana terharu sekaligus berbunga bunga. Ternyata Lala kali ini berhasil mengingat nomer telepon dirinya.
Gadis kecil itu memang sangat sulit mengingat angka lebih dari 7 digit. Tapi coba saja uji ia dengan harga beberapa jenis makananan. Maka ia akan merincikan dengan lancar setiap harga dari berbagai jenis dan merek makanan berikut penambahan harga untuk ekstra topping.
“mbak Susi…tolong kemari sebentar” panggil Dayana riang dari jendela dapurnya yang berdekatan dengan
ruang Laundry.
“iya bentar non…” sahut mbak Susi mencuci tangannya yang penuh sabun.
“mbak… tolong bantu Danta siap siap ya. Cepetan dikit ya” pinta Dayana pada asisten rumah tangga mereka begitu mbak Susi masuk ke dapur.
“siiiaappp…juragan” seru mbak Susi melaksanakan perintah majikan favoritenya.
Dayana pun bergegas menambah porsi camilan yang akan dibawanya kemudian naik ke kamarnya di lantai dua segera meminta Ronny membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan cepat.
Ronny pun menuruti titah Dayana tanpa bertanya apapun. Dayana juga tak memberi informasi tentang Lala, ia membiarkan pertemuan mereka nanti sebagai kejutan.
Lima belas menit berlalu, Dayana, Danta serta Ronny telah selesai berkemas dengan perlengkapan piknik yang akan mereka bawa.
Saat mereka akan keluar rumah sebuah mobil taxi berhenti tepat didepan rumah, kemudian bunda Lidya turun dari taxi tersebut masuk ke halaman rumah mereka.
Bunda Lidya terlihat muram setelah tadi pagi keluar untuk mengunjungi salah satu teman arisannya yang masuk rumah sakit.
“loohh… bunda kok cepat pulang” tanya Ronny heran, karena biasanya setelah berkunjung ke rumah sakit, pasti ibu ibu arisan akan kumpul bersama menggosip ala emak emak kepo.
“bunda lagi males ngumpul. Pada sibuk membanggakan prestasi cucu cucu mereka” ungkap bunda Lidya jujur.
“bunda kan jadi sedih teringat Lala” imbuh bunda Lidya terlihat sedih.
“oohh begitu ceritanya” Ronny tersenyum jahil
“gini aja bun..ikut kami ke taman bermain yuukk”
“kalo bunda kangen sama Lala pas sendirian dirumah kayak gini bisa bisa bunda buat drama yang ngalahin sinetron ku menangis” goda Ronny pada bundanya.
__ADS_1
Plaaakkk….
“apa sih kamu…bunda gak selebay itu” ujar bunda Lidya kesal sambil toyor jidat Ronny pakai telapak tangan sakti bunda Lidya.
“duuuhh…sakit bunda” gerutu Ronny yang ditertawakan oleh Danta.
“eeiihhh…kamu malah ketawain ayah… terima ini” Ronny menggelitik pinggang kecil putranya yang semakin tertawa geli.
“cukup mas…kita gak punya banyak waktu. Ayo cepat” sela Dayana memisahkan Danta dan Ronny yang masih bergurau.
“kok buru buru gini sih”
“bunda kan mau ganti pakaian dulu” keluh bunda Lidya.
“bunda masih tetep fresh dan cantik kok”.
“Gak usah ganti baju bunda… masih wangi juga” desak Dayana menarik pelan tangan ibu mertuanya untuk segera masuk ke mobil.
“Day, kan dekat sih gak sampe lima menit”
“Kenapa harus buru buru sih?” Ronny bingung karena istrinya ini sejak tadi melakukan segala sesuatu dengan tergesa gesah.
“gak jadi ke taman, kita ke wisata bermain Taman keroppi…dan jangan banyak tanya?” ucap Dayana tegas membungkam mulut Ronny dan bunda Lidya. Kecuali Danta yang berseru gembira.
Ronny memasukkan barang barang bawaan ke dalam bagasi mobil lalu segera menyalakan mesinnya. Sejak Ronny mendapatkan maaf dari Dayana, Ronny tak berani membatah apapun perkataan atau titah ratu Dayana. Ia berubah menjadi suami yang penurut, bahkan tidak pernah berkumpul bersama sahabat sahabatnya di cafe seperti dahulu.
Ronny lebih memilih berkumpul dan menghabiskan waktu bersama keluarganya. Sesekali para sahabatnya yang akan berkunjung ke rumahnya, dan mereka memaklumi posisi Ronny yang tak ingin sedang berusaha berubah menjadi suami dan ayah yang baik seperti Johan Barata.
Hal ini menarik perhatian Ronny yang sejak tadi mengamati sikap Dayana yang aneh tidak seperti biasanya.
“Day… kamu senyum senyum terus dari tadi” seru Ronny
“kenapa?.. gak boleh lagi senyum senang?” tanya Dayana datar tanpa mengalihkan matanya ke bianglala wisata bermain taman Keroppi yang sudah terlihat dari posisi mereka.
“eehh… bukan gitu maksudnya” ujar Ronny kikuk
“duuuhhh…salah lagi. Repot deh kalo sang Ratu ngambek lagi. Bakal tidur dilantai lagi nih…hiks” gumam Ronny yang menerawang nasibnya setelah pulang nanti.
Dayana tak menggubris Ronny kembali, ia hanya fokus memperhatikan jalan ke arah wisata bermain tersebut.
Tak lama kemudian, Ronny dan keluarga sudah sampai di Taman Kerropi pintu masuk sebelah Kiri khusus untuk pengunjung yang ingin duduk lesehan serta membawa perbekalannya sendiri.
Dayana terlihat celingak celinguk ke kanan ke kiri seperti mencari sesuatu tanpa berniat membantu menurunkan perlengkapan piknik mereka.
“istriku ini kenapa sih dari tadi” Ronny mengernyitkan dahinya heran.
“Day.. Dayana.. “ Seru bunda Lidya menatap heran sikap aneh menantunya saat itu.
“Day… halloooo Dayanaaaaa” pekik Ronny memanggil Dayana di depannya yang fokus melihat sekeliling seperti tak pernah datang ke tempat itu.
__ADS_1
“ehh..apa sih mas?” tanya Dayana saat Ronny melambaikan tangannya ke arah wajah Dayana.
“kamu ini daritadi di panggil bunda loh” terang Ronny masih memasang wajah bingung.
“ ooh… maaf bun. Kalian duluan aja ya cari tempat yang nyaman”
“kamu mau kemana, sayang” sela bunda Lidya.
“Dayana ngantri tiket wahana dulu ya bun” ucap Dayana sambil berlalu pergi dengan cepat
“Dayana kenapa Ron?” tanya bunda Lidya heran
“entah bun... Sejak tadi Dayana bersikap aneh” jelas Ronny yang juga bingung.
“ya sudahlah… ayo cari tempat dulu. Nanti kita kirim pesan aja ke Dayana” ajak bunda Lidya.
Mereka segera membagi tugas, Ronny membawa keranjang besar yang berisi makanan dan sebuah payung piknik ukuran besar agar mereka tidak kepanasan duduk nanti.
Danta membawa alas duduk untuk mereka lesehan nanti. Sedangkan bunda Lidya menenteng sebuah tas spunbound berisi dua buah bantal kecil sambil menggenggam tangan Danta agar tidak ketinggalan.
Dilain tempat, tepatnya di depan loket Tiket wahana terlihat Lala yang sedang jongkok menunggu kedatangan bundanya. Disampingnya ada seorang wanita muda yang memegang sebuah tas berisi cemilan Lala. Kemanapun Lala ia akan selalu ingat makanannya tak boleh tertinggal.
“Lala…” seru Dayana saat mendekati Lala dengan mata berkaca kaca.
“bundaaaaaaa….” Pekik Lala menghambur ke pelukan sang bunda yang telah sangat ia rindukan.
Dayana menciumi wajah tembam Lala berulang kali, Dayana menitikkan air mata bahagianya yang tak bisa ia cegah lagi. Aksi Dayana tersebut berhenti ketika Nisa menghampiri mereka.
“bunda.. kenalin teman Lala, mbak Nisa” ucap Lala riang
“hai Nisa, Saya Dayana” Dayana mengangkat tangannya untuk berjabat tangan
“aku Nisa, babysitter Lala” Balas Nisa dengan senyuman hangatnya.
“terima kasih udah bawa putriku kemari” ujar Dayana tulus
“sama sama, bu” jawab Nisa ramah
“kalian Cuma berdua kesini?” tanya Dayana heran
“gak bu. Ada bu Mitha kami tinggal di pondok kanan”
“kakinya udah gak kuat jalan. Jadi banyak waktu untuk bawa Lala menemui kalian” terang Nisa
“aahh… kamu baik sekali. Sekali lagi terima kasih ya” Dayana mengelus lengan Nisa dan tersenyum manis.
“wahh…benar kata Lala. Bundanya yang satu ini bukan cuman cantik. Tapi akhlaknya juga baik” seru Nisa kagum Dalam hatinya.
Dayana kemudian membawa Lala dan Nisa menuju lokasi yang sudah diberitahukan letaknya oleh Ronny. Lala berceloteh sangat riang sepanjang jalan sambil berpaut manja di tangan bundanya.
__ADS_1
Nisa memperhatikan sikap Lala yang begitu bahagia dan tertawa lepas saat bersama dengan keluarga yang selama ini membesarkannya. Ia menghela nafas sedih saat pikirannya berbisik tak tega menyaksikan sendiri bocah kecil yang masih polos tersebut terjebak dalam lingkaran balas dendam yang ibu kandungnya buat.
"setiap orang yang bertemu pertama kali dan mulai ngobrol dengan wanita ini pasti juga bakal merasa nyaman" pikir Nisa menelisik Dayana membandingkannya dengan majikannya, Zahri.