
"Keluarga bu Lidya" panggil seorang perawat dari balik pintu UGD.
"Saya suaminya, suster" sahut ayah Jo sedikit gemetar berdiri menghampiri si perawat.
"Dokter menunggu anda diruangan dokter jaga. Sementara itu Pasien akan segera kami pindahkan ke ruang rawat. Anda bisa mengurus admistrasinya terlebih dahulu" ringkas perawat tersebut.
"Baik, suster terimakasih" ucap ayah Jo
"Ayah, sebaiknya Dayana saja yang urus administrasi bunda. Ayah temui saja dokter" saran Dayana untuk mempersingkat waktu.
"Iya, nak"
"Oh iya, ini KTP ayah dan bunda jika diperlukan" ayah Jo sempat mengambil dompet bunda saat akan pergi menyusul ambulance ke rumah sakit tempat biasa mereka cek kesehatan. Ayah Jo menyerahkan dompet bunda dari balik jaketnya ke Dayana.
Setelah itu, Ayah Jo bergegas menuju ruang dokter jaga. Dan Dayana pun menuju meja administrasi. Dayana berlalu begitu saja tanpa melirik sedikit pun Ronny yang berdiri mematung tak jauh dari mereka.
Diruang dokter...
Took..tokk..tok...
"Masuk.." jawab suara seorang wanita dibalik pintu
"Permisi dok. Saya suami pasien Lidya" ayah Jo memperkenalkan diri menjabat dokter dengan tangannya yang berkeringat dingin.
"Silahkan duduk pak. Saya dokter Maya, harap tunggu sebentar ya" dokter cantik itu mempersilahkan ayah Jo duduk, sementara ia masih membaca riwayat kesehatan pasien, bunda Lidya.
"Baik.." dokter mulai menjelaskan
"Dari rekam medis yang tercatat disini, bu Lidya pernah mengalami pengentalan darah. Akibatnya oksigen yang dibawa masuk ke jantung melalui aliran darah membeku. Kita biasa sebut Trombosis Arteri" dokter diam sejenak mengambil nafas.
"Jadi saya anjurkan dirawat oleh dokter spesialis jantung. Untuk penanganan lebih lanjut" saran dokter Maya pada ayah Jo.
Sebelumnya ayah Jo sudah membaca banyak artikel kesehatan tentang kasus pengentalan darah. Sebab itu sebelumnya dirumah, ayah Jo mengambil jarum pentul yang disimpan di kotak P3K, lalu menusukkannya ke 10 ujung jari istrinya hingga sedikit mengeluarkan darah. Sebagai pertolongan pertama agar darah yang mengental tidak membeku disalah satu pembuluh vena atau arteri yang menyebakkan stroke berat atau serangan jantung.
"Jadi, istri saya kena serangan jantung, dok?" Ayah Jo memastikan.
"Serangannya termasuk ringan pak, tidak beresiko berat" jawab dokter Maya.
"Kita patut bersyukur, pertolongan pertama yang anda lakukan tidak memperberat resiko atau kondisi pasien" imbuhnya
"Ahhhh.. saya lega mendengarnya, dok" hela nafas ayah Jo sekarang lebih ringan.
"Tapi sebagai dokter, saya tetap menyarankan agar pasien tidak stres atau melakukan kegiatan berat"
"Perbanyak konsumsi buah, sayur, dan air mineral yang cukup. Dan kurangi makanan berminyak ya pak" tambah dokter Maya mengingatkan agar ayah Jo berhati-hati dalam masa pemulihan bunda Lidya.
"Baik, dok. Saya akan ingat saran dokter" ujar ayah Jo puas mendengar hasilnya.
"Itu saja yang perlu saya sampaikan pada anda, pak. Semoga bu Lidya cepat kembali pulih" dokter Maya pun mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan ayah Jo.
"Terimakasih dokter atas bantuannya" sambut ayah Jo.
__ADS_1
"Sama-sama pak"
Ayah Jo keluar dari ruangan dokter jaga dengan senyuman yang mengembang. Ia merasa sangat bersyukur bahwa istrinya baik-baik saja. Kemudian, ayah Jo berjalan menyusuri koridor ke ruang UGD. Dayana sudah tidak berada disana. Ayah Jo melihat perawat yang membantu menangani bunda Lidya berjalan kembali ke arah ruang UGD.
"Sus, maaf. Istri saya diruang yang mana ya" tanya ayah Jo
"Oh.. ibu Lidya sudah kami antarkan ke ruang VIP no. 11 di lantai 3 pak" jawabnya ramah.
"Terima kasih, sus" ucap ayah Jo dibalas dengan anggukan dan senyuman ramah perawat tersebut.
Ayah Jo naik ke lantai 3. Kamar rawat inap bunda Lidya tepat disamping meja perawat yang bertugas jaga di lantai 3 itu. Ketika ayah Jo mendekat, langkahnya terhenti melihat Ronny duduk dibangku tunggu tak jauh dari kamar rawat istrinya.
"Ayah..." Seru Ronny ketika melihat ayah Jo mendekat, ia masih mengikuti kemana bundanya dibawa.
Namun, sang ayah malah mengabaikan keberadaannya. Ronny merasa kecewa, tapi ia sadar bahwa ayah bundanya saat lebih lebih kecewa pada dirinya.
Ia pun memutuskan untuk tetap menunggu diluar sampai ayahnya siap berbicara dengannya.
Di dalam kamar VIP no. 11 itu, bunda Lidya telah siuman. Dayana yang menggenggam tangan bundanya, tak habis habisnya mengucapkan syukur sambil menciumi punggung tangan ibu mertuanya yang kini terbaring lemah.
"Maafin bunda ya nak" ucap bunda Lidya lemah.
"Bukan bunda yang salah. Jangan ngomong gitu dong, bund" Dayana tersenyum pahit
"Bunda sekarang tidur lagi ya. Nanti makan malam datang, Dayana banguni. Bunda harus banyak istirahat sekarang" Dayana merapikan selimut dan memposisikan bantal bunda agar lebih nyaman.
Bunda Lidya menurut saja dengan perawatan menantunya itu. Tak lama, ayah Jo pun masuk. Dayana langsung memberi banyak pertanyaan tentang kondisi ibu mertuanya begitu ayah mertua duduk di sofa.
Beberapa jam kemudian, ayah Jo keluar dari kamar itu untuk membeli makanan bentuknya dan Dayana dikantin rumah sakit. Ketika ia membuka pintu, Ronny masih duduk disana dengan gusar.
"Ayah..." Ronny berdiri sigap begitu melihat ayahnya.
"Lebih baik 1 minggu ini kau tidak pulang kerumah" titah ayah Jo singkat.
Kemudian ayah Jo pergi tanpa memperdulikan respon Ronny yang kacau.
Empat hari berlalu setelah bunda Lidya masuk rumah sakit. Hari itu dokter sudah memperbolehkan bunda Lidya pulang ke rumah. Bunda Lidya masih lemah untuk berjalan, ayah Jo mendorongnya menggunakan kursi roda. Sementara itu, Ronny yang tiap hari datang ke rumah sakit sudah mengetahui jika bundanya akan pulang pada hari itu.
Dayana menghampiri meja kasir untuk membayar biaya perawatan bundanya. Tapi ternyata, biayanya sudah dibayar lunas oleh Ronny sebelumnya. Dayana tak mempermasalahkan hal itu. Lalu mereka pun langsung pulang ke rumah untuk beristirahat.
....
Zahri merasakan mual sejak 2 hari ini. Ia berfikir mungkin karena perutnya belum menyesuaikan dengan makanan fastFood ala kota metropolitan. Tapi demi keinginan suami yang mendadak request makanan, ia pun tetap bersemangat menyusuri jalanan pusat pasar tradisional untuk membeli beberapa bahan yang ia butuhkan.
Namun, ditengah kepadatan pasar tradisional itu, Zahri jatuh pingsan. Beberapa orang disana segera menolong wanita muda yang pucat pasi tersebut. Mereka mengantarkan Zahri ke kelinik terdekat.
Seorang ibu yang memiliki kios di pasar tersebut , masih menunggui Zahri yang belum sadar. Zahri pingsan telat didepan kios ibu tersebut. Ia meninggalkan kios yang dijaga anak dan suaminya. Rasa kemanusiaannya bangkit ketika melihat wanita muda tergeletak tak sadarkan diri. Tapi sudah menunggu lama, tak ada seseorang yang menghubungi ponsel yang terkunci milik wanita muda dihadapannya itu.
Hari sudah semakin sore, ketika ibu tersebut memutuskan untuk kembali ke kios, ponsel Zahri pun berdering.
"Hallo..."sapa ibu tersebut
__ADS_1
"Hallo, ini siapa ya. Dimana istri saya, Kenapa ponsel istri saya ada pada anda" ibu itu dicecar banyak pertanyaan dari Ronny.
"Aduhh mas, satu-satu nanya nya"
"Saya bingung mau jelasin dari mana"
"Datang langsung ke klinik umum Permata pasar Veteran, saya tunggu disini" pinta ibu tersebut langsung mematikan ponsel sambil mengerutu kesal.
Ronny mulai cemas saat mendengar Zahri berada diklinik. Ia pun melesat dengan kecepatan tinggi menuju ke klinik tersebut.
"Kenapa ujian datang bertubi-tubi seperti ini, semua jadi kacau" gumamnya pada dirinya sendiri.
Setengah jam kemudian Ronny sampai di klinik tersebut. Lalu ia langsung masuk ketika sebelumnya bertanya pada perawat yang duduk didepan.
Terlihat Zahri yang belum sadarkan diri setelah 4 jam yang lalu, dan duduk dikursi sebelah ranjang pasien seorang ibu seusia bunda Lidya masih dengan sabar menunggu disana.
"Maaf bu, saya suami pasien" kata Ronny
"Oohh kamu suaminya toh" ujar ibu tersebut menelisik Ronny dari atas ke bawah.
Ibu tersebut menyerang Ronny dengan rentetan kata-kata yang tajam. Memarahi Ronny tak becus menjaga istrinya yang sedang hamil muda. Ronny tak mengatakan apa-apa, hanya mengangguk-anggukkan kepala saat ibu didepannya terus menceramahinya.
"Ya sudah, saya harus balik ke kios. Udah kesorean" ucap ibu tersebut.
"Saya antar bu" tawar Ronny beramah tamah.
"Gak usah, dekat kok" tolak ibu tersebut sedikit menurunkan nada suara yang tadi berapi-api.
Ronny menyalami ibu tersebut dengan menyelipkan beberapa lembar uang. Namun, ibu tersebut menolaknya dengan tegas. Ronny pun berterimakasih dan berdo'a untuk kesehatan ibu itu.
Zahri melenguh sakit dikepalanya, ia mulai siuman. Zahri begitu kaget saat melihat sekelilingnya serta suaminya yang berada disana.
"Mas...kita dimana" Zahri mencoba duduk bersandar dikepala ranjang dibantu Ronny.
"Di klinik dekat pasar. Kamu tadi pingsan karena tekanan darah kamu sangat rendah" jawab Ronny singkat.
"Ohh, pantesan aku pusing banget" sahut Zahri.
"Haus mas.." Zahri meraih tangan Ronny untuk mengajaknya duduk di tepi ranjang.
"Mau minum apa?" Tanya Ronny sambil mengusap lembut kepala Zahri.
"Jus jeruk sama sate kambing 3 bungkus" pinta Zahri manja
"Itu kamu semua yang makan?" Ronny terkekeh geli
"Iya dong, aku laper. Kamu pilih makanan lain ya mas. Jangan minta punya aku" celetuk Zahri polos.
"Ok deh, mas pesan dari aplikasi z deh" Ronny mulai menelusuri resto yang memiliki review paling bagus didaerah terdekat dari Klinik.
Sambil menunggu makanan tiba, Ronny menceritakan tentang bagaimana Zahri ditolong para pemilik kios dan pelintas jalan di pasar itu. Sampai pada saat ia diceramahin habis-habisan oleh seorang ibu salah satu pemilik kios disana.
__ADS_1