Madu Manis Milik Suamiku

Madu Manis Milik Suamiku
Episode 17


__ADS_3

Ronny berlari meninggalkan Zahri dibelakangnya, menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang operasi. Sesampainya disana, ia melihat ayah Jo menatap nanar pintu rumah sakit dihadapannya. Ia merasa sangat takut jika kehilangan salah satu dari wanita yang tengah berjuang melawan maut diruangan itu.


Beberapa waktu yang lalu, Zahri yang mendengar kabar bunda Lidya dan Dayana dari PRT rumah Barata langsung berinisiatif datang menggunakan taxi lalu menelpon Ronny yang saat itu masih bersama kedua orang tua Zahri di rumah paman Dayana.


“ayah…” Ronny melihat keterpurukan ayah Jo, tak pernah sekalipun ia melihat ayahnya begitu hancur.


Tak lagi terlihat sosok ayah yang wibawa saat itu, hati Ronny pun berdenyut nyeri melihat kondisi ayahnya kini. Ayah Jo tak menoleh sama sekali, ia fokus menatap pintu ruang operasi itu dengan merapalkan segala do’a yang ia tahu.


Ronny duduk disebelah ayahnya tanpa berkata apa-apa. Ia juga berdo’a demi keselamatan 2 orang wanita tercinta yang tengah berjuang melawan maut, khususnya pada bayi yang dikandung Dayana, istri pertamanya.


Zahri ikut duduk disamping suaminya, menyodorkan dua botol air mineral. Ia menyikut lengan Ronny untuk memberikan sebotol pada ayahnya.


“ayah..minumlah” tawar Ronny untuk kesekian kali setelah beberapa jam menunggu.


Ayah Jo menggeleng pelan menolak apapun yang ditawarkan kepadany sampai kedua wanita yang dicintainya itu keluar.


Beberapa puluh menit kembali berlalu, dokter yang menangani bunda Lidya pun keluar. Segera ayah Jo berdiri ketika pintu operasi itu terbuka.


“dokter, bagaimana dengan istri dan menantu saya?” ayah Jo tak sadar bertanya dengan memegang erat dua lengan dokter sehingga dokter tersebut sampai meringgis kesakitan.


“sa…sabar pak. Tangan saya masih dibutuhkan pak” ujarnya sakit berusaha melepas cengkraman tangan ayah Jo.


“ahh…maaf dokter. Saya sangat panik” jawab ayah Jo mengurai cengkraman tangannya dengan cepat.


“ eehmmm…”dokter tersebut berdehem pelan membetulkan kacamatanya yang hampir jatuh.


“operasi istri anda lancar. Pen terpasang dengan baik.. namun cedera dibagian kepala istri anda masih dalam obsevasi rekan saya”


“kita saat ini hanya bisa berdo’a setelah melakukan semaksimal mungkin bagi kesembuhan pasien” lanjutnya


 “apakah istri saya mengalami akan hilang ingatan, dok?” tanya ayah Jo yang tak rela jika istri tercintanya melupakannya.


“ hmm..saya tidak bisa menjelaskan lebih lanjut tentang hal itu. Masih tahap pemantauan, pak” dokter tak berani memberi keterangan lebih lanjut untuk itu karena masih tahap obeservasi.


“bagaimana dengan istri saya, dok” kini giliran Ronny yang bertanya  cemas.


“untuk itu, saya mendengar informasi bahwa istri anda harus melahirkan lebih awal karena mengalami cedera ditulang panggul atau biasa kami sebut patah Pelvik ringan. Yang mempengaruhi air ketuban sehingga pecah”


“untuk kondisi istri anda, rekan saya yang akan menjelaskannya lebih lanjut”

__ADS_1


“permisi, saya harus menangani pasien lain” pamit dokter Ortopedi tersebut berlalu.


 Beberapa menit berikutnya bayi mungil yang berada di inkubator dibawa keluar oleh seorang perawat.


“cucuku selamat…” ayah Jo menangis harus, Ronny memeluk ayah Jo dan menangis haru bersama. Tak ada


kata yang keluar dari bibir Ronny. Suaranya tersendat di tenggorokannya. Mereka belum diijinkan menemui baby D.


Sebelumnya dalam ruang operasi, baby D sempat berhenti bernafas. Detak jantungnya sangat lemah. Begitu


juga dengan bundanya, Dayana. Sebab itulah proses penanganan baby D dan Dayana cukup lama. Bayi malang tersebut sudah mendapat ujian berat ketika ia mulai tumbuh didalam kandungan bundanya. Entah ujian apalagi yang akan terjadi ketika ia tumbuh besar.


 Tak lama kemudian beberapa perawat juga keluar dengan mendorong brankar bunda Lidya menuju kamar rawat inap. Ayah Jo bertanya kepada salah seorang perawat tersebut, kapan ia boleh menemui istrinya.


Sebelumnya saat ia mengisi formulir administrasi, Ia telah meminta kamar dengan 2 ranjang pasien untuk memudahkan mereka merawat keduanya.


Selang 15 menit berlalu, kini brankar Dayana juga didorong keluar dari ruang operasi menuju ke kamar inap yang sama dengan bunda Lidya. Dayana terkulai lemah, wajah cantik yang pucat pasi itu baru saja mendapatkan detak jantungnya kembali saat baby D mengeluarkan suara tangis untuk yang pertama kali. Semua yang berada di ruang operasi tersebut merasakan kekuatan cinta antara ibu dan anak tersebut.


Dokter Obgyn yang menangani Dayana buru-buru keluar tanpa memberi penjelasan kepada keluarga Dayana. Ia saat itu harus menangani pasien lain yang sedang menunggu diruang operasi lantai atas.


Hari ini, pasca gempa yang terjadi, semua dokter dan perawat sangat sibuk dengan begitu banyak pasien yang harus ditangani segera. Sehingga, dokter dokter bedah dirumah sakit itu harus rela hingga tengah malam menghabiskan waktunya untuk menyelamatkan pasien yang gawat darurat.


“ selamat malam” sapa dokter Heri, spesialis Neurologi.


“malam, dok” sahut ayah Jo dan Ronny kompak.


“saya cek sebentar pasiennya, ya pak” izin dokter Heri, sopan


“silahkan, dok. Mohon bantuannya” pinta ayah Jo ramah


 Sepuluh menit berlalu, ayah Jo dan Ronny harap-harap cemas dengan hasil pemeriksaan dokter Heri. Dokter Heri memeriksa secara teliti kedua ibu dan anak yang masih tertidur di ranjang pasien tersebut. Pemeriksaan pun selesai, setelah dokter Heri mengintruksikan beberapa hal pada perawat yang menemaninya.


 “bagaimana, dok” ayah Jo sudah berkeringat dingin menunggu jawaban.


“mari silahkan dokter, kita bicarakan sambil duduk” ajak Ronny yang melihat kelelahan diraut wajah dokter Heri.


“baik, saya mulai dari ibu Lidya dahulu ya” dokter melihat beberapa catatan pada file yang tertulis nama Lidya Sumitra.


“kami telah melalukan CT Scan pada kepala pasien. Terdapat satu titik pembekuan darah yang diakibatkan sebuah benturan keras”

__ADS_1


“titik tersebut menekan syaraf otak pasien. Kemungkinan terkecilnya pasien akan mengalami stroke ringan, atau yang paling parah kelumpuhan permanen”.


“apakah bisa disembuhkan, dok?” sela ayah Jo


“jika hanya stroke ringan, bisa sembuh dalam beberapa bulan dengan perawatan rutin”


“namun, tidak untuk lumpuh pemanen” imbuhnya menjelaskan


“kita berdo’a sama-sama ya pak” ujar dokter menepuk ringan bahu ayah Jo untuk memberinya semangat.


 “lalu bagaimana dengan putri saya, dok?” ayah Jo menahan suaranya yang bergetar


“putri anda sebelumnya mengalami patah tulang panggul ringan yang disebabkan cincin minor yang menopang tulang panggulnya rusak ringan, namun bisa disembuhan dengan pengobatan dan teraphy rutin”


“pasien mengalami pecah ketuban, dan kita hampir kehilangannya di meja operasi” dokter menjelaskan sedikit kejadian keajaiban yang ia dan rekan-rekannya alami pada Dayana dan bayinya tersebut.


Ayah Jo mendengarkan tapi airmatanya menerobos keluar dari pelupuk matanya.


“untuk beberapa saat, kemungkinan putri anda tidak bisa berjalan seperti biasanya. Butuh waktu dalam proses penyembuhannya”


“kami akan melakukan yang terbaik”


"kapan saya bisa bertemu cucu saya, dok" lirih ayah Jo


"untuk itu, bisa anda tanyakan pada dokter spesialis anak yang menangani cucu anda"


"baiklah, saya pamit dulu. Semoga kedua pasien segera pulih" do'a dokter itu tulus


Ronny melangkah perlahan ke ranjang tempat istrinya berbaring. Rasa penyesalan dan bersalahnya pada Dayana semakin bertambah.


"Day..."


"mas...hikss...suami yang sangat buruk"


"mas... tak bisa menjagamu dengan baik...hiikksss..."


"maafkan mas Day...hiksss" Ronny menciumi punggung tangan istrinya.


Ayah Jo menghela nafas lelah. saat ini ia tak ingin berkomentar banyak. ia harus berkonsentrasi dengan pengobatan istri dan menantunya itu nanti.

__ADS_1


Sedangkan Zahri, menangis pilu melihat suaminya meratapi kondisi Dayana. Ada rasa cemburu yang menjalar dihati Zahri. tapi ia sudah bertekad akan memenuhi janjinya pada ayahnya. Sehingga ia harus menekan egonya sendiri.


__ADS_2