Madu Manis Milik Suamiku

Madu Manis Milik Suamiku
Episode 40


__ADS_3

Sebuah keluarga kecil yang hampir terlibat insiden dikarenakan drama yang dibuat oleh Lala sebagai kejutan untuk ulang tahun omanya tersebut, Ronny pun bertanya pada Nisa tentang identitasnya.


 “oh ya.. kamu siapa. Kenapa bisa membawa Lala keluar dari rumah Zahri” tanya Ronny heran.


“ah.. saya lupa perkenalkan diri”


“ saya Nisa, babysitter yang dipekerjakan bu Zahri untuk menjaga nona Lala” ungkapnya.


“ dan untuk pertanyaan kedua, he..hee.. udah bisa ditebak ini idenya siapa kan?” tambahnya.


Semua orang serentak mengalihkan padangannya pada Lala yang sibuk menyuapkan bomboloni coklat ke mulutnya. Dengan polosnya Lala melirik dan melanjutkan mengunyah makanannya tanpa menghiraukan tatapan keluarganya.


Kembali mereka kompak menggeleng gelengkan kepala melihat kelakuan masa bodo nya Lala.


“oh iya Lala, kamu kenapa memutuskan lebih awal ngerayain ulang tahun oma, kan masih 3 hari lagi?” tanya bunda Lidya sambil mengelap dagu dan hidung Lala yang berlepotan coklat.


“oma, kesempatan gak datang dua kali loooh” jawabnya singkat, padat dan sok bijak.


Anggota keluarga Barata menatap Nisa menuntut sebuah penjelasan dari kalimat yang diucapkan Lala.


“begini, bun..” Nisa menyebut bunda Lidya dengan panggilan bunda seperti yang diperintahkan oma Lala tersebut.


“bu Zahri sedang keluar kota mengurus bisnis. Dan akan pulang sekitar tengah malam nanti jika sore ini urusannya selesai”jelas Nisa seraya membetulkan posisi duduknya.


“ooo…begitu” balas Dayana, Ronny dan bunda Lidya berbarengan.


Lalu mereka pun tertawa lucu karena moment yang langka tersebut.


“kak Danta, ayo kita main” ajak Lala yang merasa sudah cukup kenyang.


Dayana menyerahkan tiket bermain pada Nisa untuk membawa kedua anaknya bersenang senang bersama. Nisa serta kedua bocah cilik itu pun bergandengan tangan menuju lokasi wahana bermain.


“Lala .. kita main yang mana dulu?” tanya Danta sibuk melihat satu persatu wahana didepan mereka.


“rumah hantu” seru Lala santai yang membuat Danta sukses bergidik ngeri.


“iihh… jangan rumah hantu donk. Mbak Nisa takut loh” ungkap Nisa merinding


“mbak Nisa udah dewasa kenapa takut hantu sih kayak kak Danta aja, penakut” ejeknya yang mendapat jitakan kecil dikepalanya oleh Danta dibalas oleh Lala.

__ADS_1


“Lala yang masih gadis mungil yang imut gini aja gak takut hantu” sambung Lala heran.


“Mbak Nisa takut digigit hantu, non” Nisa memberi sembarang alasan.


“gigit balik hantunya mbak” jawab Lala santai


“trus kalo mbak Nisa dikejar hantu gimana?” Nisa memasang tampang pura pura takut.


“itu artinya, hantunya mau ungkapin cinta ke mbak Nisa, jangan ditolak ya mbak, kasian hantunya….  hahahahah” balas Lala dengan guyonan omong kosongnya.


Danta ikut terkekeh geli sementara Nisa sudah kehabisan kata kata meladeni ocehan Lala. Saat ngobrol dengan Lala, jangankan untuk menang berdebat, untuk seri saja susah.


“huuffth… “ Nisa menghela nafas pasrah


Lala dan Danta mencoba panjat dinding khusus anak anak sebagai wahan bermain pertama saat itu, kemudian dilanjutkan dengan ayunan raksasa yang bentuknya seperti kapal. Lalu Roller Coaster yang aman untuk anak seusia mereka. Tak lupa Nisa mengabadikan moment tersebut dengan kamera ponselnya.


Setelah merasa sedikit lelah Nisa, Lala dan Danta memutuskan menaiki bianglala sambil beristirahat, kemudian dalam situasi tersebut Nisa berkesempatan untuk mengambil beberapa foto kenangan bagi mereka bertiga.


Lala pun santai menikmati pemandangan dari atas sambil menikmati cemilan yang ia bawa diranselnya.


Nisa memfoto Lala sendirian dan mengirimkannya pada bu Mitha yang masih betah menunggu di pendopo seorang diri sambil memijat kakinya yang sakit.


Waktu sudah menjelang sore saat mereka menyelesaikan semua permainan disana. Kini saatnya mereka kembali ke tempat keluarganya berkumpul.


“gimana gak lelah, udah tiga jam kamu main terus” ucap Dayana mengelus rambut putrinya yang basah karena keringat.


“non, kita harus segera pulang. Nenek non udah nungguin tuh” Nisa mengingatkan.


“oh iya…” seru Lala


“kamu gak pulang sama oma aja, sayang” bunda Lidya sedih dengan perpisahan itu.


Lala menghampiri omanya Lala memeluk erat sembari membisikkan sesuatu


“Lala ada misi penting dirumah tante kunti. Oma tenang aja, Lala baik baik aja”


Bunda Lidya tercengang dengan perkataan Lala, mengerjapkan mata dan melongo.


“a..apa aku gak salah dengar ya barusan” bunda Lidya berfikir

__ADS_1


Lala berpamitan pada semua orang dan menyelipkan segepok surat pada bundanya. Tapi saat meninggalkan mereka beberapa langkah, Lala berhenti dan membalikkan tubuh mungilnya berlari kembali pada keluarga tercintanya.


Nisa diam ditempat dan berfikir jika Lala ingin memeluk kembali keluarganya saat itu ia bersiap melihat kembali moment yang mengharukan antara Lala dan seluruh anggota keluarganya. Namun, ekspektasi tak seperti realita.


Yang dipikirkan Nisa tak terjadi, justru Lala kembali untuk meminta bundanya membungkus bomboloni untuk dibawanya pulang ke rumah Zahri. Nisa menganga lebar lalu kemudian tersenyum geli. Lala memang tak mudah ditebak.


Wajahnya selalu tersenyum riang, namun hatinya penuh dengan luka. Nisa sangat iba dan khawatir dengan kondisi mental Lala di usia pertumbuhannya.


Setelah mendapatkan apa yang ia mau, Lala kemudian melambaikan tangan pamit untuk yang kesekian kali. Lala tersenyum bahagia karena hari ini ia bisa menghabiskan waktu bersama keluarganya.


Dilain tempat…


Disebuah rumah mewah kawasan elit, Zahri dan Gilang duduk berbincang santai saat mempresentasikan proposalnya kepada pria barusia 65 tahun.


Pria tersebut adalah seorang pembisnis legendaris yang sulit untuk ditemui. Zahri dan Gilang cukup beruntung saat itu karena beberapa waktu yang Lalu seorang kenalan memberitahukan bahwa pria paruh baya tersebut belum lama kembali dari luar negeri dan sedang berada dirumahnya.


Zahri sedang berunding serius dengan seorang investor mengenai proposalnya. Investor tersebut sebenarnya ingin membeli saham diperusahaan Barata. Karena ia mendengar berita bahwa perusahaan Barata sedang


menjulang tinggi diposisi teratas dan telah mengekspor produk ke beberapa negara.


Zahri masih dengan sabar membujuk investor tersebut untuk bekerjasama dengan perusahaannya. Zahri hampir hilang kewarasannya saat investor tersebut merincikan benefit yang akan ia peroleh dari perusahaan


Barata.


Gilang memberikan kode peringatan pada Zahri yang mulai bernada tinggi, sang investor tampak tak senang dengan nada suara Zahri yang sedikit berubah intonasi. Namun, dengan sopan investor tersebut mengambil proposal dari tangan Gilang dan meminta waktu untuk mempelajari proposal tersebut.


Zahri bernafas lega saat meninggalkan rumah pria tua yang bernama David tersebut. Ia menaruh harapan besar dengan kerjasama itu, namun Gilang menyadarkan Zahri agar tidak memiliki harapan tinggi atas proposal yang pak David terima.


Karena kemungkinan besar pak David hanya mengusir secara halus mereka berdua karena tidak ingin merusak imej seorang pembisnis legendaris seperti pak David. Zahri terperangah mendengar penilaian Gilang, ia pun menyesali kenapa tidak bisa mengontrol emosinya saat itu, namun ia berusaha untuk tetap optimis.


Diwaktu yang sama…


“Sari…” panggil pak David pada seorang gadis muda yang menawan.


“ya, Daddy” gadis berparas cantik tersebut pun menghampiri.


“masukkan nama perusahaan ini ke dalam daftar hitam” titah sang ayah tegas kepada putrinya sekaligus asisten satu satunya.


“baik ayah” jawab Sari patuh

__ADS_1


Sari tak bertanya lebih banyak, karena berdasarkan pengalamannya yang mendapingi sang ayah berbisnis, ayahnya akan mempriorotaskan akhlak calon rekan bisnisnya baru kemudian tentang keuntungan.


haiiii reader....   ***mumpung like\, koment itu gratis\, silahkan diklik tombol like nya yahhhh jika kalian suka dengan cerita ini\, jangan lupa berikan vote dan gift untuk novel recehku ini... ***


__ADS_2