Madu Manis Milik Suamiku

Madu Manis Milik Suamiku
Episode 43


__ADS_3

( mohon maaf selama sebulan ini gak update. berhubung author sedang morning sickness berat dan harus bedrest total. kesehatan author udah mulai membaik dan akan segera melanjutkan cerita ini. mohon dukungannya teman teman 🙏🏻🙏🏻 )


Namun, Gilang juga memberitahukan info lain yang membuat Zahri berencana licik, yaitu mereka juga akan bertemu dengan perusahaan Barata yang juga mendapatkan undangan tender untuk pengadaan makanan olahan nanti.


Melihat senyuman miring Zahri, Gilang berfirasat akan ada sesuatu hal yang akan dilakukan oleh Zahri yang akan merugikan perusahaan mereka.


****


Hari yang dinanti tiba. Ronny dan Dayana ikut serta dalam rapat untuk mempresentasikan produk mereka dihadapan pesaing lainnya. Masing masing membawakan materi yang cukup menarik bagi panitia pelaksana.


Pihak panitia kali ini terkenal tegas jujur dan adil dalam setiap keputusan yang mereka buat. Sehingga membuat pesaing yang hendak menjalankan trik kotor perlahan mundur menjaga posisi aman.


Ketika Dayana mempresentasikan keunggulan produk dan visi misinya ikut berpartisipasi dalam tender tersebut, sepanjang waktu itu pula Zahri menatap sinis Dayana yang mengacuhkan sorot mata Zahri.


Tatapan Zahri tersebut tertangkap oleh Gilang yang ikut mendampingi Zahri. Dan yang mereka tidak ketahui, dua orang dari 7 panitia pelaksana disana juga sedang memperhatikan gerak gerik Zahri yang tampak sangat membenci Dayana.


Mereka berdua memang bertugas untuk memperhatikan karakter masing masing peserta sebagai pondasi utama calon pemenang tender demi keamananan dan kenyamanan dalam kerjasama proyek nanti. Mereka tak ingin bekerjasama dengan seseorang dengan karakter atau perangai yang buruk. Mereka ingin proyek nantinya berjalan dengan lancar tanpa banyak drama dan siasat busuk.


3 jam rapat tersebut berlangsung dan masing masing peserta sudah selesai mempresentasikan produk mereka dengan baik.


Sebagian peserta telah meninggalkan lokasi meeting. Tinggallah Ronny dan Dayana yang masih berbincang dengan salah satu panitia yang ternyata adalah senior Dayana ketika SMA.


Sementara itu Zahri sedang menunggu diluar dengan gelisah kemunculan Dayana serta Ronny keluar dari ruang rapat.


Gilang diminta Zahri pergi terlebih dahulu untuk mengambil mobil mereka yang terparkir di lantai basement gedung tersebut kemudian menunggunya di depan pintu masuk.


Gilang sudah cukup lama menunggu, ia juga mencoba menelepon Zahri, namun Zahri belum mengaktifkan ponselnya tersebut, lalu ia memutuskan untuk masuk kembali menyusul bosnya.


Gilang memutuskan untuk berolah raga sedikit dengan menaiki tangga yang berada disamping lift tersebut menuju lantai 3 tempat mereka rapat beberapa saat lalu .


Di saat yang bersamaan, Dayana serta Ronny keluar dari ruang rapat dengan berjabat tangan saling memberi salam untuk berpamitan.


Dayana dan Ronny berjalan menuju lift menuju lantai parkir. Zahri yang muncul dari samping lift yang tepat berada di anak tangga turun paling atas membuat sepasang suami istri yang hendak pulang tersebut kaget.


"Huhh.. akhirnya kalian muncul juga" decak jijik Zahri dengan tatapan bencinya pada Dayana dan Ronny.


"Aku pikir, kalian akan lari melihatku" ujarnya kembali.

__ADS_1


Dayana tak memperdulikan perkataan yang Zahri lontarkan bahkan tak menganggap Zahri berada disana. Ronny yang melirik gugup pada Dayana memposisikan dirinya lebih dekat dengan istrinya tersebut. Ronny merangkul Dayana untuk menenangkan Dayana yang terlihat gemetar menahan marah.


Melihat perilaku pria yang pernah ia cintai mengabaikan dirinya, Zahri mengamuk tanpa memikirkan akibat Fatal dari keributan yang ia timbulkan.


Dengan kasar Zahri menghempaskan tangan Ronny dari pundak Dayana.


"Apa yang kau lakukan" bentak Ronny pada Zahri.


"Ooohh ... Berani sekarang kau membentakku, laki laki pengecut" balas Zahri melawan.


Tanpa jeda Zahri menarik kuat rambut Dayana sambil memaki maki wanita tersebut.


Dayan mencoba melawan dengan memelintir tangan Zahri lalu menghempasnya ke samping. Usaha tersebut berhasil, Zahri terdorong ke samping.


Namun, bukan Zahri namanya jika ia tidak memiliki akal licik. Zahri menjatuhkan dirinya sendiri ke tangga dibelakangnya yang menuju lantai dua.


Suara teriakan Zahri terdengar kuat menggema membuat orang orang yang berada di lantai 3 tersebut berhamburan keluar.


Di bawah sudah berdiri Gilang yang sempat menyaksikan keributan yang diawali oleh Zahri tersebut. Gilang dengan sigap menahan tubuh Zahri agar tak jauh terguling ke bawah.


Tak butuh waktu lama banyak orang yang berkerumunan ingin mengetahui apa yang terjadi.


"Jelaskan sekarang juga" titah Zahri menahan senyum liciknya.


Semua orang yang hadir disana kaget dan menatap Dayana penuh tanda tanya tak terkecuali sepasang tersangka itu sendiri.


Dayana menghela nafas tenang, ia mulai mengerti trik keji yang sedang dimainkan oleh Zahri. Semua itu tak lain hanya untuk membuat nama baik Dayana hancur.


"Jelaskan dirimu sendiri" jawab Dayana singkat tanpa mengatakan lebih.


Dayana dan suaminya berlalu dari sana tanpa memperdulikan tatapan sinis orang orang yang menggunjingnya disana.


Bagi Dayana, akan terlalu memakan waktu dan akan berakhir sia sia jika ia menjelaskan keributan yang sedang terjadi pada semua orang.


"Dayana, kamu baik baik saja" Tanya Ronny cemas saat mereka sudah masuk ke dalam lift.


Dayana tak menjawab suaminya yang mencemaskan dirinya. Ia malah mengambil ponselnya dan menghubungi senior yang menjadi panitia penyelenggara tender tersebut. Sungguh kebetulan yang menguntungkan mereka bertemu tak sengaja dan saling bertukar nomer ponsel.

__ADS_1


"Hallo Yana, baru saja kita bertemu. Ada kendala kah?" Tanya Ruben seniornya


"Kak Ruben, bisakah kita bertemu sebentar di lobby. Kami ada masalah besar" pinta Dayana lemah.


"Ohh.. baiklah. Kalau begitu kesana sekarang" jawab Ruben.


5 menit kemudian, suara pintu lift terbuka, keluar sosok laki laki muda berkacamata dengan kemeja lengan panjang berwarna biru muda terlihat kontras dengan kulitnya yang cerah.


Laki laki tersebut berjalan cepat ke arah Dayana dan suaminya yang duduk disalah satu sofa yang terlihat nyaman dalam ruangan itu.


"Hai... Yana. Ada masalah apa mencariku" tanya Ruben tanpa basa basi.


"Begini kak.... Bolehkah minta bantuanmu untuk meminta salinan rekaman CCTV dekat lift lantai 3" ucap Dayana.


"Hmmm... Untuk apa?" Ruben mengerutkan dahinya mengira ngira hal besar apa yang terjadi sehingga adik kelasnya tersebut membutuhkan salinan rekaman CCTV tersebut.


"Saya akan jelaskan semuanya" Ronny mengajukan diri untuk menceritakan hal yang baru saja terjadi pada mereka.


Ronny merasa bertanggungjawab atas peristiwa memalukan yang melukai ostri tercintanya itu yang tak akan mungkin terjadi jika ia tak pernah bertemu dengan Zahri sebelumnya.


Setelah menjelaskan sedikit, Ruben pun mengajak Dayana dan suaminya menuju kantor keamanan dan menemui kepala divisi tersebut meminta izin masuk dengan menceritakan maksud dan tujuan mereka disana.


Kepala Dayana sudah terlalu pusing, ia tak sanggup lagi melihat monitor yang begitu banyak diruangan yang berukuran 8 x 20 meter tersebut.


Ronny mendudukkan Dayana disofa kecil tak jauh dari ruang monitor. Ruben mengintruksikan salah satu sekurity membuatkan teh hangat untuk Dayana agar ia lebih rileks.


Kemudian Ronny dan Ruben masuk ke ruang monitor untuk melakukan pengecekan demi membuktikan ketidakbersalahan mereka.


Bukan hanya ruang monitor yang berada disana, terdapat deretan bangku berwarna putih senada dengan meja panjangnya, ada juga ruang istirahat yang biasa dijadikan tempat untuk tidur sekurity yang bergantian jaga, dapur mini, toilet serta tempat sholat. Cukup lengkap dan nyaman bagi petugas keamanan disana.


Di saat yang bersamaan, setelah membersihkan luka lecet dan lebam di kaki dan tangan Zahri yang dibantu oleh seorang pegawai wanita yang bekerja disana, Zahri masuk ke dalam mobil lalu tertawa penuh kemenangan.


Suara tawa yang membuat Gilang bergidik ngeri. Gilang melihat semuanya, namun bibirnya terkatup rapat tak berani membela Dayana secara terang terangan di depan Zahri.


Gilang semakin terjebak dengan permainan Zahri. Ia menjadi bimbang bahwa yang selama ini Zahri ceritakan bahwa keluarga Barata telah menindas dan merebut putrinya itu adalah bukan hal sebenarnya. Gilang merasa bahwa Zahri hanya menarik simpati dan memperalat dirinya untuk melakukan hal mencurangi lawan mereka.


"Aku gak bisa tinggal diam lagi. Aku harus mencari tahu kebenarannya sebelum aku terjerumus dalam bahaya" bisik Gilang dihati.

__ADS_1


haiii semua... dukung karya aku ya dengan like n komen. pintu kritik dan saran terbuka lebar gaaeess.. love u all 😘😘😘


__ADS_2