Madu Manis Milik Suamiku

Madu Manis Milik Suamiku
Episode 16


__ADS_3

Bunda Lidya terpaksa mengalah dengan keputusan Dayana. Meskipun didalam hatinya ia tetap tidak menerima Zahri sebagai istri kedua putranya. Setiap harinya bunda Lidya masih bersikap ketus dan tidak peduli pada Zahri.


Namun, Zahri kali ini tidak menanggapinya dengan serius lagi. Yang penting baginya, tujuannya sudah tercapai, mendapat maaf dari Dayana.


Sedangkan Ronny, ia masih tetap diabaikan Dayana. Banyak pasangan diluar sana yang bahkan sudah belasan tahun menikah belum juga memiliki keturunan. Tapi hidup mereka bahagia, tanpa ada keributan soal anak.


Drrrttt...drrtt....


"Hallo, ayah" Zahri menjawab panggilan teleponnya.


"Ya.. ayah..aku sudah melakukannya"


"Hmmm...iya. Dayana, dia mencoba menerimaku disini"


"Humm... Ya..ya baiklah. Aku menunggu disini"


Sambungan terputus. Tak ada yang tahu apa yang dibicarakan oleh ayah dan anak itu melalui sambungan seluler.


ar.


Zahri keluar kamar bersamaan dengan Dayana yang juga keluar dari kamarnya.


"Mbak...rapi bener pagi gini. Mau pergi ya?" Tanya Zahri ramah


"Iya, mau cek kandungan sekalian belanja keperluan baby D" sahut Dayana ramah


"Kamu mau ikut?" Ajak Dayana


"Ahh, gak dulu deh mbak. Ayah ibu mau mampir ke sini" tolaknya halus.


"Dayana, udah siap nak?" bunda sedikit teriak dari atas tangga.


"Udah, bun" Dayana terlihat sangat cantik hari ini. Midi dress polos berwarna hijau botol itu terkesan kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih.


Dayana menyerahkan dompetnya pada bunda Lidya yang hari ini berpenampilan lebih simple. Memakai celana jogger putih dan baju kaus lengan panjang senada dengan tas selempang yang ia kenakan.


"Gimana penampilan bunda? Udah kyk anak ABG kan?" Tanya bunda berputar melanggak lenggok memamerkan dirinya yang memiliki tubuh langsing tak seperti teman-teman seusianya.


Bunda memang sangat pandai merawat diri. Dayana terkekeh mengacungkan kedua jempolnya pada ibu mertuanya itu.


"Hayuukk ahh, kita let's go" ajak bunda meniru kata-kata anak muda zaman sekarang.


Sebenarnya bunda Lidya masih jengah berlama-lama didekat Zahri. Meskipun Dayana sudah mulai memaafkan dan menerimanya, bunda Lidya tak serta merta ikut memaafkannya.


Baginya, pengkhianatan putranya itu sangat menyakiti dirinya. Apalagi setelah ia mengetahui kebenarannya, bahwa Zahri lah yang tak ingin Ronny jujur


"Kami pergi dulu y, Zahri" pamit Dayana lembut


"Hati-hati dijalan, mbak" Zahri membalas melambaikan tangannya.


Zahri kemudian melangkah ke dapur untuk membuat beberapa cemilan saat untuk ia sajikan saat kedua orang tuanya tiba.


"Mbak Ita" sapa Zahri pada mbak Ita yang masih sibuk berberes dapur.


"Ehh... Ya non"


"Ada yang non butuhkan?" Tanya mbak Ita yang memang sikapnya biasa saja pada Zahri sejak awal.


"Huu..umm"


"Ada terigu, telur dam butter gak mbak?" Tanyanya


"Ada...non" mbak Ita bergegas mengambilkan apa yg diminta Zahri.


"Mau saya bantu, non" tawarnya.


"Saya saja, mbak" tolak Zahri.


Sudah satu jam lebih Zahri berkutat didapur. Ia memilih membuat bolu sederhana untuk ayah bundanya.


Tiiiinng...


Bunyi microwave tanda sudah matang. Zahri mengeluarkan cetakan bolu berbentuk segiempat tersebut dari oven. Mendinginkannya sebentar lalu kembali ke kamarnya untuk mandi.


Setengah jam kemudian, orang tua Zahri akhirnya tiba dirumah keluarga Barata. Ketiga orang tersebut sibuk bercakap - cakap sambil menunggu Ronny datang.


"Ayah, ibu" sapa Ronny saat masuk ke dalam rumah, melihat mereka yang sedang asyik bergurau tanpa menyadari kehadirannya.


"Ronny... Kau sudah sampai?"


"Duduklah sebentar. Kami ingin membicarakan sesuatu" Purnomo menegakkan punggungnya bersiap membuka sebuah rahasia besar.


Raut wajah Ronny berubah ubah setiap kali mendengar penjelasan ayah mertuanya. Sedih, kecewa, bimbang, takut, semua rasa itu menjadi satu.


Hati Ronny kembali bergetar saat mengingat bagaimana ia memperlakukan Dayana. Ia tak menyangka kehidupan yang Dayana alami sekarang ini adalah campur tangan dari ke empat orang dewasa yang duduk berbicara serius saat ini.


"Bagaimana Ronny, bisakah kau membantuku" ujar Purnomo akhirnya.


"Baiklah, Ronny akan membawa ayah pada paman Dayana" setelah menimbang nimbang beberapa saat, akhirnya Ronny menyetujui.


"Bagaimana denganku, jika telah Dayana mengetahui kebenarannya?" Zahri bertanya lirih pada ayahnya.


"Kau tak perlu takut, masalah itu Biarlah ayah yang menanggungnya" ungkap Purnomo.

__ADS_1


Ia bangkit dari sofa, mengelus rambut putrinya. Mengecupnya dan meminta maaf atas kesalahan masa lalunya. Sesaat mereka menangis bersama, bersiap-siap menerima resiko apapun yang terjadi.


Purnomo menguraikan pelukan putrinya, ia berpesan agar selalu ingat apa yang ia perintahkan pada Zahri kemarin. Tak perduli dengan situasi yang akan dia alami kelak.


"Apakah ini adil bagiku, kenapa aku harus ikut menanggung beban berat ini. Hiks..hikss" bisiknya terluka


Sejam kemudian, Ronny dan kedua orang mertuanya sudah sampai didepan bengkel paman Bayu.


"Paman" seru Ronny melambaikan tangan saat ia turun dari mobil.


Bayu yang saat ini masih bercelomotan oli bekas tersenyum gembira melihat kedatangan Ronny.


"Hai...nak Ronny. Apakabarmu" Bayu menghampiri.


"Sehat, paman. Bagaimana dengan paman sendiri?" Tanya Ronny balik.


"Seperti yang kamu lihat, otot tua ini masih berfungsi dengan baik" ujarnya tertawa sembari memamerkan otot lengannya yang kendur.


"Tumben, main kesini?" Bayu melirik ke dalam mobil, mengira-ngira siapa yang ada didalam dibalik kaca yang sedikit gelap itu.


"Eemmm...begini paman. Kita bisa bicara dirumah paman saja?. Ini sesuatu yang sangat penting" pinta Ronny gugup.


Apa dia ingin membicarakan pernikahan keduanya padaku?


Bayu berbicara dirinya sendiri, menerka-nerka sesuatu hal penting yang akan Ronny bicarakan.


"Ok... Tunggu sebentar" Bayu menoleh ke belakangnya


"Gus ... Tolong kamu lanjutin ya, paman ada tamu sebentar"


"Siiiiaappp ... Boss" jawab Agus, montir kepercayaan Bayu.


Tak lama kemudian, mereka sampai dirumah Bayu yang memang tak jauh dari bengkel motornya. Purnomo serta Mitha juga turun dari mobil. Kaki Purnomo sudah bergetar takut. Kemungkinan apa yang akan terjadi setelah Bayu mengetahuinya.


"Silahkan semuanya masuk, saya cuci tangan sebentar" pamitnya ke belakang.


Beberapa menit kemudian, Bayu kembali ke ruang tamu setelah berganti pakaian yang bersih.


"Kita sudah duduk disini. Lalu, apa yang ingin kalian sampaikan" aura kewibawaan Bayu terpancar saat ia menatap satu persatu orang yang ada dihadapannya sekarang.


"Emmmm....paman"


"Mungkin paman sudah tau tentang pernikahanku yang kedua bersama Zahri" Ronny langsung menundukkan wajahnya tak berani melihat kengerian dia wajah paman sang istri.


"Mereka adalah orang tua dari Zahri" tunjuk Ronny pada Purnomo dan Mitha yang sudah sejak tadi duduk gelisah.


"Lalu..." Tanya Bayu datar.


"Kami kurang mendidiknya" Purnomo melipat kedua tangannya memohon maaf atas nama putrinya.


"Itu saja?" Tanya Bayu kembali, datar.


Sikap Bayu yang tampak tenang tak terusik dengan perselingkuhan Ronny membuat Purnomo semakin dilanda rasa takut.


Yang ia pelajari selama hidupnya adalah, sesorang yang selama ini terlihat tenang, justru akan sangat berkali lipat menakutkan jika emosinya sudah dipuncak.


"Bukan padaku kalian minta maaf. Tapi pada putriku" tegas Bayu pada ketiga orang tersebut.


"Apa kalian sudah meminta maaf pada Dayana, dan apakah Dayana sudah memaafkan kalian?" Bayu tak mengalihkan sedikitpun tatapan matanya pada Purnomo.


Ia beranggap, seharusnya Purnomo menyelidiki latar belakang keluarga pria yang akan ia nikahkan dengan putrinya. Tapi Purnomo bertindak ceroboh sebagai seorang ayah.


"Kami belum..." Mitha mengeluarkan suara.


"Karena ada suatu hal yang ingin kami bicarakan terlebih dahulu ke pak Bayu" imbuhnya gugup


" Apa?? " Tanya Bayu yang masih sabar memasang tampang dinginnya.


Purnomo, Mitha dan Ronny saling berpandangan. Mitha menggenggam tangan suaminya erat, untuk menyalurkan kekuatan pada suaminya.


Cuaca diluar sejuk sedang turun gerimis. Tapi di dalam rumah tua itu, ketiga tamu Bayu bercucuran keringat.


***


Di lain tempat, Dayana sedang asyik memilih beberapa baju bayi biru mint dan putih. Menurutnya itu adalah warna universal yang manis bisa di kenakan untuk bayi perempuan ataupun laki-laki.


Tak lupa dengan beberapa perlengkapan mandi juga turut diborong senada dengan perlengkapan bayi lainnya.


"Huuffhhttt... Bun"


"Dayana udah capek. Minum dulu yok bun" ajaknya pada ibu mertua yang masih antusias mondar mandir cari baju-baju cantik buat calon cucunya.


"Kamu...haus?"


"Ya udah, kamu hubungi mang Darman ya, minta angkat belanjaan kita ke mobil"


Bunda tak menoleh Dayana yang berdiri disampingnya. Tetap fokus dengan baju bayi lucu yang ia pegang.


"Bunda mau bayar yang ini dulu .. cakep kan bajunya...uuuhh gemesssss" bunda Lidya memeluk gemas baju mungil berwarna putih dengan gambar gajah melamun tercetak dibagian depannya.


"Iya..bun" Dayana mencari tempat duduk yang sebelumnya ia lewati didalam toko baju tersebut.


Setelah Dayana menelepon mang Darman. Ia memperhatikan wajah ceria bunda Lidya yang terlihat sangat bahagia menanti kehadiran cucu pertamanya.

__ADS_1


Dayana mengelus perutnya yang semakin membesar itu.


"Kelak, jadilah anak yang berbakti. Jangan pernah menyakiti hati orang lain. Jagalah kehormatan dan kejujuranmu dengan baik, ya nak. Bunda akan selalu mendo'akanmu"


Gumam Dayana pada calon bayinya.


Gerakan halus dirasakan oleh Dayana. Dayana tersenyum, sepertinya bayi yang sedang tumbuh didalam rahimnya itu mengerti dengan ucapannya barusan.


Setelah mang Darman mengambil semua belanjaan mereka, Dayana dan bunda Lidya duduk di cafe favorite mereka Di lantai satu. Kini mereka duduk berhadapan. Bercerita tentang keseruan mereka saat berbelanja tadi.


Saat mereka menikmati minuman yang mereka pesan, Dayana merasa tiba-tiba pusing.


"Bund, pusing sekali kepala Dayana, rasanya bumi berputar kuat" Dayana memegang kepalanya hampir muntah.


"Day... Kamu gak apa-apa nak?" Bunda Lidya panik.


Belum lagi ia mendaratkan bokongnya ke kursi sebelah Dayana. Bangunan disekitar mereka berguncang. Orang-orang yang berada didalam mall tersebut panik berhamburan keluar.


"Gempaaa.....gempaa...ayo cepat semua keluar" teriak salah seorang sekuriti mall meminta semua pengunjung keluar dari bangunan megah itu.


"Dayana, ayoo nak.. kita harus keluar"


Bunda Lidya dan Dayana berjalan terombang ambing seperti didalam ombak besar. Mereka merapat ke dinding untuk berpegangan menjaga keseimbangan.


"Bunda duluan aja" pinta Dayana


"Gak.. mana mungkin bunda ninggalin kamu dalam kondisi begini" tolak bunda tegas.


Air mata kekhawatiran keduanya memuncak ketika satu persatu bagian mall itu roboh.


Mang Darman berteriak-teriak mencari keberadaan majikannya. Namun ia terhalangi oleh orang-orang yang berdesakan untuk menyelamatkan diri.


Buugghhh...


Kaki bunda Lidya tertimpa tumpukan dinding yang tumbang ke arahnya.


"Bundaaaa .... "Pekik Dayana


Mang Darman mendengar teriakan Dayana. Ia segera menerobos melawan arus manusia yang berlomba lomba itu.


Dayana mencoba mengangkat puingan dinding itu, tapi ukurannya cukup besar sehingga itu terlalu berat baginya.


Mang Darman tiba membantu Dayana mengangkat puingan yang menimpa bundanya.


Bunda Lidya yang sudah pingsan karena kepalanya terbentur lantai tersebut digotong oleh mang Darman dibantu seorang satpam.


Dayana masih berusaha untuk berjalan tegak diantara orang-orang yang berdesakan dipintu mall. Gempa telah berhenti, namun semua orang yang masih di dalam mall panik. Takut mall itu rubuh.


Dayana hampir sampai diluar ketika seseorang berteriak


"Awaaaassss....."


Bruuuggh...bughhh...


Tubuh Dayana tertimpa runtuhan. Beberapa orang pria bergegas membantunya.


"Bagaimana kondisinya'', tanya yang lain.


"Ibu ini pingsan, dia sedang hamil" sahut pria yang lain


"Ayo semua, kita bantu"


Mereka melindungi perut dan kepala Dayana agar potongan atap mall itu tidak semakin melukainya.


Mang Darman kembali masuk mencari Dayana setelah menitipkan majikannya yang masih pingsan dimobil mereka yang terparkir diluar, pada orang lain.


Mang Darman melihat sekelompok pria berkerumun berusaha memindahkan reruntuhan.


Jantungnya berdetak kuat, ia berlari cepat ke arah mereka.


"Non, Dayanaaaa" pekiknya semakin panik.


Mereka yang sedang berusaha memindahkan beban yang menimpa Dayana spontan menoleh ke arah suara mang Darman.


"Pak, tolong bantu saya bantu angkat majikan saya ke mobil" mohon mang Darman.


Salah satu pria muda yang membantu, sangat tak tega melihat kondisi Dayana. Hatinya tergerak untuk mengantarkan mereka ke rumah sakit.


"Sini...saya saja yang bawa mobilnya pak. Bapak jaga mereka di belakang" tawar pria muda itu yang melihat tangan mang Darman sudah gemetaran saat memasukkan kunci untuk menghidupkan mesin mobil.


"Te..terimakasih mas" jawab mang Darman.


Di jalan, suara ponsel bunda Lidya berbunyi. Ternyata sudah ada puluhan panggilan tak terjawab dari ayah Jo.


"Pak...ibu dan non Dayana...." Mang Darman menjelaskan kondisi keduanya yang tak sadarkan diri dengan suara isak tangisnya.


"Ya ampun non, begitu banyak kemalangan yang menimpa orang sebaik non Dayana" tanpa sadar Mang Darman mengucapkannya yang didengar oleh pria muda yang menjadi menyupir mobil mereka saat itu menuju rumah sakit terdekat.


Mereka sudah sampai di rumah sakit. Dayana dan bunda Lidya langsung di bawa ke ruang UGD untuk ditangani.


Suasana rumah sakit itu sangat ramai karena lonjakan pasien korban gempa yang terjadi baru saja. Namun, sebagai petugas medis mereka mengutamakan menyelamatkan kondisi pasien yang gawat darurat.


*readers yang cakep-cakep๐Ÿ˜˜... dukung karya ini ya dengan like n komen. jangan malu-malu๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿคญ๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰

__ADS_1


__ADS_2