
Waktu terasa berjalan dengan cepat. Kehamilan Dayana sudah masuk minggu ke 26. Namun, Ronny juga masih belum mengetahui tentang kehamilan Dayana. Zahri yang sudah mengetahuinya juga tak menyebutkan bahwa kehamilan Dayana lemah. Zahri berfikir, Ronny tahu dari awal.
Kehamilan Zahri yang baru memasuki usia kandungan 16 minggu sedikit merepotkan Ronny. Disela-sela pekerjaannya, ia harus menyempatkan diri untuk menemani Zahri yang kadang mendadak ingin makan sesuatu. Sehari bisa dua atau tiga kali Ronny mondar mandir mengantarkan makananan.
Jika yang mengantar makanan pesanannya ojol atau mang Darman, sudah pasti mamah muda itu akan ngambek seharian. Ronny benar-benar kewalahan dibuatnya.
Zahri sudah terlelap masuk ke alam mimpinya. Ronny masih juga belum bisa memejamkan matanya. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari.
Ronny berjingkat keluar dari kamar. Membuat secangkir teh panas untuk menjadi teman bergadangnya. Beberapa waktu ini, Ronny berulang kali mencoba mendekati Dayana. Tapi wanita yang masih sakit hatinya itu menolak tegas kehadirannya. Sungguh Ronny sangat merindukan kasih sayang istrinya, Dayana.
Ronny memandang jendela kamar Dayana yang berseberangan dengan gazebo tempat ia duduk.
"Day, mas merindukanmu. Sangat-sangat rindu"
"Tak bisakah kita kembali seperti dulu"
"Tak bisakah kau memberi mas kesempatan kedua?" Lirih ia rasakan sendiri kata-katanya.
Ronny merenung duduk sendiri di Gazebo taman rumah. Ia merasa bersalah pada kedua istrinya. Meskipun sejak awal Zahri mengetahui bahwa Ronny telah memiliki seorang istri, tapi mereka berdua yang sedang dimabuk asmara telah bersikap sangat egois dan jahat pada Dayana.
Yang tidak disadari Ronny adalah, Zahri memperhatikan Ronny yang sedang memandangi jendela kamar Dayana dari pintu dapur belakang yang menyambung ke taman samping rumah. Sepertinya Ronny tidak menutup pintu itu saat keluar.
Raut wajah rumit Ronny terlihat jelas tergambar. Zahri semakin yakin, dilema hati yang sedang dirasakan oleh Ronny adalah kerinduannya pada istri pertamanya. Hati Zahri berdetak pilu, melihat pria yang ia cintai, dijauhi oleh keluarganya sendiri akibat dari pernikahan keduanya.
"Mas, apakah aku harus pergi agar kau bisa kembali pada Dayana?. Tapi bagaimana jika kau tetap tidak diterima olehnya. Aku mencintaimu mas dan aku juga ingin memilikimu. Tak bisakah kau lihat, disini akupun hancur melihatmu dan aku diabaikan oleh orangtuamu sendiri. Aku juga ingin perhatian dan kasih sayang dari mereka"
Zahri memilih melangkah kembali ke kamarnya. Baginya ia sudah cukup mengerti situasi yang akan ia hadapi kelak. Hanya akan ada dua kemungkinan. Dibuang atau dipertahankan. Ia sudah siap dengan segala konsekuensinya.
Keesokan pagi...
"Day, kita hari ini akan cek kandunganmu"
"Bunda udah buat janji dengan dokter Monica" ujar bunda Lidya yang memang mengurus segala sesuatunya untuk menantu dan calon cucunya itu.
"Oh..ya. jam berapa kita pergi bun" tanya Dayana antusias.
"Jam 11 kita kesana ya. Nanti mang Darman yang anterin" katanya.
"Loh, ayah gak bawa mobil hari ini bun?" Tanya Dayana kembali sambil menyuap potongan roti isinya yang terakhir.
"Gak, tadi ayah sih yang sengaja tinggalin mobil biar kita gak repot cari taxi" jelas bunda Lidya.
"Ummm...." Dayana mengangguk paham
"Non, ini susunya. Dihabiskan ya non" mbak Ita menyodorkan segelas susu coklat hangat khusus ibu hamil pada Dayana.
"Mbak Ita seneng banget deh non, berat badan non Dayana naik pesat"
"Semoga dedek bayinya sehat terus ya, non" harapnya.
"Lihat..lihat perut non Dayana bergerak-gerak" mbak Susi kegirangan.
Ia menghampiri Dayana, mengelus elus perut buncit Dayana yang masih bergerak.
"Anaknya aktif ya, bund" ujar mbak Susi menirukan iklan di TV.
Mereka tertawa geli, melihat tingkah polah mbak Susi yang belum pernah merasakan bagaimana menjadi bumil. Ia memilih menjadi perawan tua, karena mantan tunangannya membawa seluruh hasil kerja kerasnya selama jadi TKW. Ia memiliki trauma sendiri. Usianya hanya 4 tahun lebih tua dari Dayana.
"Dayana .." suara seorang pria menghentikan senda gurau ke empat wanita itu.
"Loohh... Paman?"
"Gak ngabari mau datang. Kan bisa Dayana siapkan makanan kesukaan paman" Dayana menghampiri sang paman, memeluknya cukup lama.
"Kamu apakabar nak"
__ADS_1
"Bagaimana dengan kandunganmu?" Tanya paman Bayu.
"Semua baik-baik saja paman" Dayana tersenyum hangat pada paman Bayu.
"Ada apa paman?" Dayana melihat raut wajah yang tak biasa dari pamannya.
Bayu menatap lekat ke dalam netra keponakan satu-satunya itu. Ia merasa bimbang haruskah mengatakannya atau tidak.
"Katakan paman" desak Dayana
"Paman bermimpi tentang orangtua mu"
"Kau tau sendiri kan, setiap kali paman bermimpi tentang mereka, pasti sesuatu terjadi padamu" lirih paman Dayana.
Dayana menatap bunda Lidya, ia bingung harus mengatakan apa dan dimulai dari mana. Tapi memang firasat sang paman tak pernah meleset sejak ia dibesarkan oleh pamannya seorang diri.
"Apa yang terjadi Dayana"
"Kau masih menganggapku sebagai orangtuamu kan?" Dayana menundukkan kepalanya menghindari tatapan Bayu.
"Atau karena , paman ini orang miskin tidak sekaya keluarga barumu?" Setitik bening air mata menetes di pipi Bayu.
Dayana menggeleng kuat, ia menghambur kepelukan paman tercintanya.
"Jangan berkata seperti itu paman...hiksss"
"Sampai kapan pun, Dayana tetap butuh paman...hikss" Dayana tak akan pernah kuat menutupi sesuatu dari pamannya.
Justru pamannya lah yang lebih mengenal sifat dan sikap Dayana, dibandingkan dengan dirinya sendiri.
"Ceritakanlah, nak" pinta sang paman kembali.
"Maaf pak Bayu, biar saya yang menceritakan semuanya" bunda Lidya sudah tak bisa menahan lagi melihat air mata menantunya itu.
Bunda Lidya menceritakan secara detail satu persatu peristiwa yang menimpa Dayana. Awalnya paman Bayu sangat marah dengan semua yang Ronny lakukan pada putri kakak kandungnya itu.
"Kami mohon maaf pada pak Bayu"
"Karena tidak mendidik putra kami dengan benar, sehingga putri bapak terluka seperti ini" bunda Lidya merasa sangat malu saat menceritakan cerita pilu yang sedang terjadi tersebut.
Dayana memeluk bunda Lidya untuk menenangkan hati sang bunda. Paman Dayana sudah cukup mendengar dan melihat semuanya.
"Dayana, paman tak akan memintamu untuk pulang, karena dirimu adalah milik keluarga barumu"
"Tapi jika suatu saat nanti, kau sudah tak bisa menahan rasa sakit itu. Maka pulanglah nak, paman sendiri yang akan membawamu kembali" ucap paman Bayu sendu.
Dayana mengangguk mengerti, namun bunda Lidya malah semakin menjadi jadi suara tangisnya.
"Huaaawaaa.....hikss..hikks"
"Bunda...bunda kenapa?" Dayana merangkul ibu mertuanya itu mengelus elus lembut punggungnya.
"Bunda gak..hikss... mau kehilangan Dayana..hiksss"
"Bun...bunda gak mau Dayana pergi...huaaaaaa...hikss" isak bunda Lidya seperti anak kecil bergelayut dilengan Dayana.
"Duuhh bunda, kirain apa" Dayana menggeleng-gelengkan kepalanya heran dengan tingkah bundanya.
"Baiklah, paman akan pulang. Rasanya lega setelah mendengar kabar darimu" pamit paman Dayana.
"Iya paman...hati-hati di jalan" sahut Dayana membalas pelukan pamannya.
Bunda Lidya dan Dayana mengantarkan Bayu sampai ke pintu rumah. Tetapi mereka berpapasan dengan kedua orang tua Dayana. Paman Bayu sama sekali tak mengenali Purnomo.
Tapi Purnomo tak pernah lupa wajah Bayu, orang yang telah dicari-carinya selama bertahun-tahun. Setelah menyadari bahwa Bayu adalah orang uang dicarinya, Purnomo tak sempat lagi mengejar Bayu, ia telah menjauh pergi.
__ADS_1
Dilain sisi, bunda Lidya yang tak mengharapkan kedua orang tua Dayana datang lagi, ia mengacuhkan begitu saja Purnomo serta istrinya, Mitha.
"Mang Darman..." Teriak bunda Lidya memanggil.
"Ayoo kita pergi, sudah hampir telat"
"Iya, sebentar nyonya" sahut mang Darman ikut teriak dari belakang.
Bunda Lidya melengos pergi meninggalkan Purnomo dan bu Mitha. Mereka berdua, tak berharap bunda Lidya untuk sedikit lebih ramah pada mereka. Karena kesalahan besar itu berada dipihak mereka.
"Ayah...ibu tadi perhatiin ayah mau ngejar pria tadi. Apa ayah kenal?" Tanya bu Mitha tentang paman Bayu.
"Sepertinya, itu pria yang ayah cari selama ini bun. Ayah yakin gak salah orang" ujar Purnomo menjelaskan.
"Apaaaa?? Tadi sekilas bunda dengar, Dayana manggil pria tadi, paman" imbuh Mitha cemas tak karuan.
"Apa...???? Bunda gak salah dengar?" Tanya Purnomo balik
Mitha menjawab dengan anggukan kepalanya, yakin dengan apa yang ia dengar.
"Jadi ..Dayana adalah.."
Purnomo tak mampu meneruskan ucapannya. kata-katanya menyangkut di kerongkongannya. Jantungnya berdetak kuat seakan mau meledak.
"Ayaaahh...." Bu Mitha panik melihat suaminya hampir terjerembab ke samping.
Tubuh Purnomo bergetar hebat menerima pukulan bertubi-tubi dihatinya. Penyesalan masa lalu kini menghampirinya kembali. Sungguh ia tak mampu menampakkan wajahnya pada Dayana yang telah keluarganya buat menderita.
"Bu ...cepat panggil Zahri keluar"
"Ayah perlu bicara hal penting padanya" tintah Purnomo pada istrinya.
"Baik, ayah duduk dulu disini" Mitha memapah suaminya untuk duduk di bangku teras.
Tak lupa ia memberi suaminya air minum yang ia bawa dalam tasnya, agar suaminya merasa agak tenang. Kemudian Mitha masuk ke dalam rumah.
"Maaf, mbak. Saya ibunya Zahri"
"Minta tolong panggilkan ya mbak". Pinta bu Mitha ramah pada mbak Ita yang sedang berberes meja makan.
Permintaan itu di angguki oleh mbak Ita, ia lalu menuju kamar Zahri.
"Non, Zahri ..orangtua anda datang" ucapnya sembari mengetuk pintunya pelan.
"Sebentar aku keluar mbak" sahut Zahri yang didengar oleh ibunya juga yang berdiri tak jauh dari pintu kamarnya.
Cekleeekkk...
"Ibu...ibu gak kabari mau kesini?" Tanya Zahri, sambil mengecup punggung tangan ibunya.
"Ayah kamu mau bicara hal penting sama kamu" ujar Mitha tanpa berbasa basi lagi.
"Oh ya??? Dimana ayah bu?" Tanya Zahri yang tak menemukan ayahnya sekitarnya.
"Kita ngomong diluar saja, nak" pinta ibu Zahri.
Di teras rumah itu, terjadilah perbincangan serius antara Purnomo dan Zahri. Mereka sebentar berdiam diri saat mbak Ita mengantarkan teh pada orang tua Zahri. Bagaimana pun, mereka adalah tamu rumah yang harus dihormati.
Setelah hampir 1 jam menjelaskan semua hal, Zahri paham dengan keinginan ayah dan ibunya. Ia harus mematuhi apa yang ayahnya perintahkan padanya.
"Baiklah, ayah dan ibu pamit sekarang"
"Jaga diri kamu baik-baik, nak" ucap ayah Zahri yang merasa tak enak harus membebani putrinya seperti itu.
"Kamu yang sehat ya, nak" kini gantian ibu Zahri memeluknya.
__ADS_1
Zahri menatap kosong kepergian orangtuanya. Ia merasa, takdir tak adil padanya. Kenapa semua ini harus terjadi padanya. Entah, misteri apalagi yang akan terungkap. Ini yang terakhir atau ada kelanjutannya. Zahri tak berani terus memikirkannya.
*Dukung karya Author ya gaess...jangan malu-malu klik like n koment yaaaa 😁😁🤭🤭