Madu Manis Milik Suamiku

Madu Manis Milik Suamiku
Episode 11


__ADS_3

“Dayana…”


“kamu berdarah,


nak” pekik bunda Lidya begitu ia melihat wanita malang dihadapanya mengalirkan darah disela kaki putihnya.


Dayana melihat ke wajah bunda Lidya yang tengah memeluknya cemas. Dayana ingin mengucapkan sesuatu,


tapi suara itu tercekat ditenggorokannya.


Dayana tak lagimendengar suara pekikakn sang bunda, ia hanya menatap bunda lemah. Warna pandangan


mata Dayana tak lagi cerah seperti sebelumnya. Semakin lama semakin berkabut, lalu menjadi gelap.


“mang Darman…”


“mbak Ita…”


“mbak Susi, cepat


kemari” histeris bunda Lidya berteriak minta bantuan kepada 3 PRT nya.


Tergopoh-gopoh ketiganya berlarian menuju arah suara majikannya memanggil.


“cepat ambil mobil” titah bunda Lidya pada mang Darman


“i…iya bu” segera Mang Darman membuka garasi mobil setelah mendapat intruksi.


“kamu ambil selimut dikamar Dayana, dan dompet di kamar saya” tunjuknya pada mbak Susi yang masih


cukup muda dan lebih gesit.


“mbak Ita, segera hubungi suami saya” serunya pada PRT yang hampir seusianya.


 Mang Darman telah menempatkan mobil didepan teras rumah, agar tak terlalu  jauh jaraknya untuk mereka mengangkat tubuh nyonya mudanya. Bukan karenaia tidak mau bersusah payah, hanya saja usianya tak lagi muda dan tak sekuat dulu tangan dan pinggangnya mengangkat beban berat.


Mbak Susi menyusul menyerahkan dompet terlebih dahulu kepada bunda Lidya. Lalu menyelimuti tubuh


bagian bawah Dayana.


Sementara itu, mbak Ita belum juga berhasil menghubungi majikannya. Ia pun memutuskan untuk


membantu menggotong masuk Dayana ke dalam mobil.


“hati-hati, jangan sampai jatuh” ujarnya pada ketiga PRT mereka yang sangat bisa diandalkan itu.


Dayana duduk dikursi depan yang posisi sandaranya sudah diturunkan agar Dayana bisa berbaring. Bunda


Lidya berada tepat dibelakangnya.


Bunda Lidya bersyukur hari ini suaminya tidak membawa mobil. Sehingga tidak perlu menunggu lama taxi online.


Mereka memang bukan keluarga kaya raya apalagi keluarga sultan. Tak ada kemewahan yang berarti, mereka hanya pembisnis kecil yang baru mulai belajar berjalan.


“dayana…sayang”


“bertahanlah nak, bunda gak bisa kehilangan kamu..hikss..hiks”


“kamu semangat hidup bunda, sayang…hikss…hiks” bunda Lidya menangis sambil menggosok-gosok telapak


tangan Dayana agar tetap hangat. Sesekali ia menciumi tangan putrinya itu.

__ADS_1


Mang Darman, yang seorang lelaki saja menitikkan airmata menyaksikan adegan pedih itu. Jika sekarang yang berada disampingnya adalah majikan jahat, takkan ia rela air matanya jatuh. Namun, Dayana dan keluarga Barata sangat baik, dan pengertianpada mereka meskipun hanya sebagai PRT. Tapi mereka dianggap sebagai keluarga sendiri.


Di rumah, Zahri yang tak berani keluar dari kamar karena mendengar keributan diluar akhirnya memberanikan diri bertanya pada mbak Susi yang kebetulan lewat saat ia membuka pintu.


“mbak, tadi ada apa ya ribut-ribut?’ tanya sopan.


“nona Dayana pingsan, kasihan nona Dayana. Tubuhnya udah mulai kurus akibat stress berat dengan penderitaannya sekarang. Padahal nona Dayana itu orangnya gak sekedar cantik, tapi juga baik hati, jago masak, dan gak pernah nyakiti hati orang lain” sindirnya kemudian berlalu dengan angkuh membuang muka pada Zahri. Sosok yang kini sangat ia benci.


Zahri berdecak kesal melihat tingkah PRT itu. Tapi ia tak bisa salah melangkah, bisa-bisa ayah Jo dan bunda Lidya, membuang Ronny begitu saja karena membelanya lagi. Zahri menelanpahit sindiran yang dilontarkan padanya.


 Setelah beberapa kali mencoba kembali menghubungi tuan Johan Barata, akhirnya panggilan itu terhubung.


“hallo…” suara ayah Jo sedikit berbisik karena masih ada meeting.


“maaf pak, nona Dayana pingsan dibawa ke Rumah sakit JA. Tuan diminta menyusul kesana begitu urusan tuan selesai” ujar mbak Susi singkat.


“a..aapa??? Baiklah. Terimakasih” jawab ayah Jo hampir terpekik.


Keringat dingin mulai membanjiri kening ayah Jo. Ia tak sabar untuk segera menyelesaikan meeting siang itu.Ronny yang sedang mempresentasikan produk melihat kegugupan sang ayah. Sehingga memutuskan untuk mempersingkat waktu.


Setelah urusan tanda tangan perjanjian MOU selesai, ayah Jo segera memanggil Ronny.


“Ronny…” panggil ayah Jo


“ada apa ayah, dari tadi Ronny perhatikan ayah mencemaskan sesuatu” tanya Ronny kemudian setelah menahan cukup lama rasa penasarannya.


“urus sisanya, dan jamu mereka dengan baik” perintah ayah Jo tanpa menjawab Ronny.


Ayah Jo berpamitan kepada koleganya sebelum ia pergi meninggalkan sisa acara pada putranya. Ia sangat khawatir pada kedua wanita yang dikasihinya itu. Ayah Jo memanggil taxi online dan menunggu sejenak didepan kantornya.


Di rumah sakit…


“bu…tolong tenang dulu”


“kalo ibu drop juga, kasihan bapak kewalahan” nasihat mang Darman.


“ini ibu minum dulu”tawar mang Darman menyodorkan sebotol air mineral.


“terimakasih mang Darman” Bunda Lidya bersyukur karena mempekerjakan mang Darman, tak salah suaminya menilai orang lain.


Pintu ruang UGD terbuka, dokter yang menangani Dayana keluar bersama dengan seorang perawat. Bunda


Lidya langsung berdiri sigap begitu melihat dokter tersebut.


“dokter, bagaimana keadaan putri saya” bunda Lidya berusaha tenang, tapi matanya sudah berkaca-kaca


menahan tangis. Bibirnya pun ikut bergetar


“kondisi bu Dayana sudah sedikit stabil. Ia hanya hampir keguguran, sudah kami suntikkan obat penguat” terang dokter tersebut.


“Dayana hamil dokter???” ucap bunda Lidya seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar.


“benar, bu” dokter tersebut memastikannya.


“untuk keterangan selanjutnya, nanti dokter kandungan yang masih menangani bu Dayana di dalam akan


yang menjelaskan ya, bu” lanjut dokter tersebut.


 “iya baik dok.. terimakasih banyak bantuannya”


“terimakasih..” ucap bunda Lidya berulang kali.

__ADS_1


“sama-sama bu, sudah menjadi tugas kami” dokter muda tersebut pun menampilkan senyumnya yang ramah sambil pamit mengundurkan diri untuk memeriksa pasien diruangan lain.


 Kini Dayana telah dipindahkan keruang rawat inap. Bunda duduk disamping Dayana, mengelus-elus lembut


kepala Dayana. Karena merasakan pergerakan disekitar kepalanya, Dayana pun kembali siuman.


“bun..”sapanya lemah


“iya sayang. Ada yang sakit? Atau kamu lapar?” tanya bunda lembut.


Dayana menggeleng pelan


“haus bun” balasnya.


“ohh.. bentar ya bunda ambilkan” bunda Lidya bergeser sedikit meraih gelas dan botol air minum.


“ini sayang, minum pelan-pelan ya” intruksi bunda pada Dayana.


Dayana bersusah payah untuk duduk, tapi bunda melarang. Bunda menekan salah satu tombol disisi ranjang pasien agar sandaran kepala berubah posisi tegak.


 Krrriieeekkkk….


Bunda Lidya dan Dayana melihat kearah pintu yang dibuka seseorang bersamaan. Ayah Jo sudah sampai dengan tergesah-gesa setengah berlari menuju kamar rawat Dayana.


“ayah…” bunda kaget saat ayah Jo terduduk didepan pintu mengatur kembali irama nafasnya.


“da…dayana…gi..gimana kondisinya bund” tanya ayah Jo dengan nafas yang masih tersengal-sengal.


“mmphh…awkwkawkaa” bunda Lidya menjawab pertanyaan ayah Jo dengan ketawa terbahak-bahak. Membuat suaminya membulatkan matanya antara kesal dan bingung.


Melihat reaksi suaminya yang sudah melotot itu, bunda Lidya akhirnya menghentikan tawanya.


Disamping itu,Dayana yang masih lemah tak mampu bersuara lebih kuat. Ia memperhatikan keduanya dengan senyuman. Ayah Jo masih tidak menyadari Dayana yang melihat ke arah mereka berdua.


“Dayana baik-baik saja sekarang. Kenapa ayah sebegitu paniknya sih…” jelas bunda Lidya sambil menarik suaminya berdiri.


“ayo bunda mau tunjukin sesuatu” ajak bunda.


Ketika bunda dan ayah Jo berjalan ke aras ranjang pasien, saat itu pula ayah Jo baru sadar, jika Dayana sudah siuman.


 “disini… akan sedang tumbuh dan akan lahir penerus keluarga Johan barata. Cucu kita, yah” bunda Lidya mengelus pelan perut Dayana yang sedikit menonjol. Lebih rata dibanding usia kandungan 16 minggu


yang semestinya.


Ayah Jo berkaca-kaca matanya, mengelus kepala Dayana dengan tatapan sayang.


“selamat ya nak. Kamu jangan khawatirkan hal lain. Kamu harus menjaga kondisi kamu saat ini” nasihat


ayah Jo diangguki oleh Dayana


Makan malam bagian Dayana sudah tiba saat mereka sedang asyik bersenda gurau untuk menghibur hati Dayana. Mereka sampai melupakan untuk memberi kabar Ronny.


Bunda dengan telaten menyuapi makan Dayana yang harus bedrest untuk waktu 1 bulan. Kondisi


kandungannya yang lemah, serta janin yang tidak berkembang dengan baik akibat


mall nutrisi, Dayana yang terbaring lemah terpaksa harus menerima perlakuan


khusus itu dari ibu mertuanya.


*pliiizzz....dukung Author dengan like dan komen ya Readers. terimakasih..

__ADS_1


__ADS_2