Madu Manis Milik Suamiku

Madu Manis Milik Suamiku
Episode 23


__ADS_3

Hari libur yang telah direncanakan pun tiba. Untuk saat ini ayah Jo tak bisa ikut serta dalam liburan mereka. Banyak pekerjaan yang tidak mungkin ditinggalkan tanggungjawabnya pada pegawai perusahaan mereka.


Lagipula, ada hal yang lebih penting yang harus ayah Jo kerjakan sendiri, demi keamanan dan kebahagiaan keluarganya.


Diperjalanan, Lala yang masih demam tinggi pun tak mau lepas dari pelukan bundanya. Berulang kali Lala menengadahkan wajah tembamnya untuk sekedar menatap paras bundanya yang lembut. Berulang kali pula ia menghelas nafasnya.


"Ada apa Lala, kenapa kamu liatin bunda terus?" Dayana melihat cermat kecemasan di mata putrinya itu.


Lala menggelengkan kepalanya, lalu menangkupkkan kepalanya lagi dipelukan bundanya yang nyaman.


"Kamu masih takut sayang..hmmm?"


"Kamu tenang aja ya, Bunda ada disini selalu untuk menjagamu" kecup Dayana di kepala Lala.


Ronny menepikan mobil di rest area. Mereka beristirahat sejenak untuk meluruskan pinggang yang sudah 8 jam duduk. Masih sisa kira-kira 4 jam perjalanan.


Danta dan Ronny mampir ke mini market di rest area tersebut untuk membeli beberapa cemilan.


Dayana, bunda Lidya, Lala mbak Susi dan Mang Darman memesan bakso untuk mengisi perut mereka yang lapar.


Mbak Susi diajak serta untuk membantu keperluan mereka nanti disana, dan mang Darman sebagai supir pengganti jika Ronny kelelahan. Bagaimana pun mereka berdua tetap menganggap kali ini adalah liburan keluarga.


Mbak Ita yang mabuk kendaraan tak sanggup pergi jauh. Ia memilih tetap dirumah menjaga gawang.


"Baksonya enak ya, non. Gak kalah sama bakso wak Karyo" ujar mbak Susi pada nona kecilnya.


Lala yang memang penggemar bakso mengangguk angguk memakan lahap habis semangkok bola daging dengan kuah pedasnya itu.


Sejak Lala sudah bisa makan, mbak Susi selalu membagi bakso yang ia beli untuk Lala kecil. Hampir setiap sore mereka menunggu gerobak bakso wak Karyo lewat.


"Bunda...." Lala menunjukkan mangkoknya yang sudah kosong pada Dayana.


"Cepat bener habisnya. Kamu mau lapar apa doyan?" Dayana tersenyum geli melihat bibir gadis ciliknya itu memerah karena kepedasan.


"Rakus, bun " sela Danta cuek


Lala melirik tajam kakaknya yang sedang mengatainya. Danta pun yang sadar dengan tatapan permusuhan adiknya malah semakin menyalakan api. Ia menjulurkan lidah pada Lala agar adiknya itu bereaksi untuk melupakan traumanya kemarin.


"Bunda..." Lala mulai mewek menatap bundanya dengan tatapan imut gadis kecil yang tak berdosa.


"Lala mau lagi?" Tawar bunda pada Lala, lebih tepatnya untuk membujuk si gadis cilik agar tangisnya tak meledak di tempat umum begitu.


"Ummmhh.." Lala mengangguk cepat.


Dayana pun memesan bakso tanpa mie seporsi lagi untuk Lala. Untuk kali ini Dayana akan menuruti keinginan Lala. Dan membiarkan Lala menyantap makanan favoritenya, meskipun berlebihan itu tetap tidak baik.


"Ronny, mana pil masuk angin yang buda pesan" bunda Lidya sepertinya sedikit tak enak badan. Di usianya yang sudah cukup tua itu memang kurang baik untuk melakukan perjalanan jauh seperti ini.


Apalagi hampir sepajang jalan perbukitan yang mereka lewati bunda Lidya menurunkan kaca jendela mobil untuk menghirup udara segar.


"Ini bun" Ronny mengeluarkan 1 strip pil tersebut pada bundanya.

__ADS_1


Sudah 50 menit mereka beristirahat duduk di lesehan yang disediakan di rest area. Bahkan sangkin nyamannya, mbak Susi udah ketiduran setelah kenyang menyantap makanannya.


Mereka melanjutkan perjalanannya ke kampung halaman bunda Lidya. Setelah sampai di gapura perbatasan wilayah yang tak asing bagi Ronny, ia membangunkan anggota keluarganya yang sudah tertidur selama sisa perjalanan.


Hari sudah sore saat mereka sampai. Perkiraan waktu yang cukup tepat, mereka berangkat dari rumah pukul 4 pagi dan diperkirakan sore hari akan sampai disana.


Desa tersebut sudah ada sedikit perkembangan. sepanjang jalan sudah di aspal dan tiap lima meter diberi tiang lampu untuk penerang jalan pada malam hari.


Bunda Lidya mulai sedikit mengenang masa kecilnya di kampung itu. Ia bercerita satu persatu kisahnya ditiap lokasi yang berbeda pada Dayana dan kedua cucunya. Mereka asyik mendengar kisah lucu perjalanan hidup seorang Lidya Sumitra sampai ia dipersunting oleh Johan Barata.


"Loh, itu bukannya..." Mbak Susi yang sedang asyik melihat pemandangan yang berlawanan arah dengan majikannya ia menangkap sosok yang mirip dengan seseorang dimasa lalu.


"Apa aku salah lihat ya...eh tunggu, waktu itu kan mas Ronny bilang sudah pindah, jangan-jangan pindah ke sini"


mbak Susi bergelut sendiri dengan pikirannya. Sampai-sampai ia tak sadar kalau mereka sudah tiba ditujuan.


Di rumah mendiang ayah bunda Lidya, sudah menunggu bibi yang selama ini sering diceritakan oleh bunda Lidya pada Dayana.


"Bibi... Lidya kangen banget" bunda Lidya langsung memeluk erat bibinya yang sudah lama tak ia kunjungi.


Biasanya ia akan datang 2 tahun sekali. Tapi kejadian belakangan ini ditambah stroke yang ia derita, tak memungkinkannya untuk pulang.


"Sudah 8 tahun kita gak ketemu ya"


"Kamu tampak lebih tua dari bibi" ucap bibi Lidya menggoda


"Iihh..bibi. gak lucu" bunda Lidya pun menampakkan wajah cemberutnya


"Apakabar nek?" Ronny memberi salam terlebih dahulu kemudian menyusul Dayana.


"Ini pasti Dayana, cucu mantu nenek" bibi Lidya yang bernama Mirna itu tersenyum menatap wajah istri dari cucunya tersebut.


"Iya nek. Maaf, Dayana baru bisa berkunjung sekarang" ucap Dayana sopan.


"Kamu sangat cantik dan sopan. Persis seperti apa yang ibu mertua judes mu itu katakan" ungkap nenek Mirna tulis tapi sedikit melebih lebihkan.


"Bibi, Lidya gak pernah judes ya sama Dayana. Tanya aja orangnya langsung" sungut bunda Lidya.


"Ehh ..masaaa" nenek Mirna membalas mencemoh.


Bunda Lidya pun mendengus kesal. Baru saja sampai sudah diajak perang oleh bibinya sendiri.


Memang sedari kecil Lidya dididik keras oleh bibinya agar kelak tidak mudah ditindas orang lain. Mulai dari belajar mandiri, beradu argument jika hal yang dikatakan orang lain salah tentangnya. Ia harus bisa membela dirinya sendiri ketika ia tumbuh dewasa.


Semua orang tertawa disana kecuali bunda Lidya dan tentu saja si comel Lala.


"Nenek, ini Danta"


"Dan ini Lala" Dayana mendorong maju anaknya satu persatu untuk memperkenalkan diri.


"Oohh manis-manisnya cicit nenek" nenek Mirna sedikit membungkuk memeluk kedua cicitnya itu.

__ADS_1


Mereka semua melanjutkan ngobrol didalam rumah sebelum makan malam yang disiapkan oleh menantu nenek Mirna yang bernama Lastri.


Lastri adalah sepupu dekat bunda Lidya. Usia mereka berbeda 11 tahun. Lastri adalah adik kesayangan bunda Lidya. Nenek Mirna hanya punya 2 anak. Satu laki-laki dan satu perempuan.


Lastri menikah dengan petani setempat dan memiliki 3 orang anak yang 1 diantaranya bekerja di kantor lurah dan 2 orang lagi masih kuliah.


Sewaktu anak sulung Lastri kuliah, bunda Lidya membiayainya hingga lulus dan menjadi sarjana.


Namun untuk dua anaknya yang lain, menolak untuk dibiayai. Mereka lebih senang jika dibiarkan mandiri dengan bekerja part time disela waktu pendidikan.


Setelah selesai makan mereka masuk ke kamar masing-masing yang telah disediakan. Bunda Lidya dengan mbak Susi, Dayana dan anak-anak, Ronny dengan mang Darman.


Saat mbak Susi dan mang Darman menutup semua pintu dan jendela, mbak Susi melihat kembali orang yang sore tadi ia lihat.


"Mang...sini mang. Cepat" mbak Susi memanggil, mang Darman pun terburu-buru ke arah mbak Susi sampai ia tak sengaja menabrak kaki kursi yang terbuat dari kayu jati itu.


"Aduuhhhh....awww....sakitt"


Mang Darman menahan pekikan sakitnya agar tak terdengar para majikan yang sudah istirahat.


"Iiihh mang Darman gak usah lebay deh. Cepetan sini...nanti ilang lagi orangnya"


Seru mbak Susi tak sabaran.


"Apa sih...sakit ini tau.." mang Darman terpaksa melanjutkan langkah dengan kaki yang pincang karena masih berdenyut sakit.


"Liat tuh..itu ibu ibu yang berdiri di sana" mbak Susi menunjuk ke arah warung kecil seberang rumah bunda Lidya.


"Lah terus...kenapa?" Mang Darman masih tak mengerti maksud mbak Susi.


"Aduuhh, mang Darman ini. Lihat donk baik-baik wajah ibu itu yang pakai baju merah" tunjuk mbak Susi kembali.


"Ehh...loh..itu kan" mang Darman adu tatap dengan mbak Susi.


"Ikutin mang" ide Mbak Susi.


"Siiiiappp...baju merah jangan sampai lepas" mang Darman dan mbak Susi pun berubah mode on detektif dadakan.


Mereka berjingkat-jingkat mengikuti si wanita baju merah bidikan mereka. Sesekali mereka bersembunyi dibalik pohon atau tiang listrik. Bahkan tong sampah pun menjadi tempat sembunyi mereka saat wanita berbaju merah tersebut berjalan.


Ketika wanita tersebut berhenti disebuah rumah ukuran 54 yang ditata cukup mewah, mbak Susi merekam gerak gerik wanita yang mereka curigai.


Setelah memastikan wanita itu masuk, mbak Susi dan mang Darman berjalan pulang. Namun ada masalah baru yang muncul.


"Duhh ..gimana sih mang Darman. Kok bisa lupa jalan pulang sih".


"Kita udah muter-muter disini 3 kali loh" sungut mbak Susi.


"Eh..jangan nyalahin manh Darman terus donk, mbak Susi juga harusnya ingat jalan pulang" balas mang Darman tak mau kalah.


Lima belas menit mereka terus mendebatkan masalah yang sama. Dan ujung-ujungnya muter muter disitu juga. Akhirnya mereka terpaksa menelepon Ronny, si majikan untuk menjemput mereka.

__ADS_1


Siapa wanita yang mereka maksud ya? Intip lagi ya kelanjutan ceritanya besok.


haiii semua... dukung karya aku ya dengan vote, like n komen. pintu kritik dan saran terbuka lebar gaaeess.. love u all 😘😘😘


__ADS_2