Madu Manis Milik Suamiku

Madu Manis Milik Suamiku
Episode 33


__ADS_3

“Zahri…ada apa pagi-pagi gini udah teriak-teriak” bu Mitha langsung memarahi Zahri begitu ia masuk ke kamar putri semata wayangnya tersebut.


“ibu, aku udah bilang kan tadi malam. Banguni aku lebih awal, kenapa gak ibu banguni sih” Zahri ngamuk sembari membuka selimutnya kasar.


“siang apa, ini masih pagi” balas ibunya gak mau kalah.


“jam 10 itu siang ibuuuu…sejak kapan jadi pagi sih” bentaknya pada sang ibu sambil masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka.


Bu Mitha yang masih berdiri dipintu kamar Zahri menengok ke belakang, ke ruang keluarga yang tepat berada di tengah rumah mereka. Jam yang menempel  di dinding ruangan itu menunjukkan pukul 10 lewat.


Bu Mitha tercengang sudah jelas ia memasang alarm pukul 6 pagi, tapi kenapa ia tak mendengarnya, ia berfikir keras mencoba mengingat kembali.


Zahri keluar dari kamar mandi melemparkan handuknya ke sembarang arah.


“gara-gara ibu aku jadi telat ketemu klienku” ucap Zahri kesal


“hehhh… anak kurang ajar. Kenapa ibu yang kamu salahkan..hah?”


“memangnya ibu ini babu kamu? Salah kamu sendiri kenapa gak pasang alarm” hardik bu Mitha kembali dengan intonasi nada keras.


Zahri tampak tidak memperdulikan perkataaan ibunya, kemudian ia memakai bajunya buru – buru, Sambil mendumel tak jelas.


Wajah bu Mitha berubah masam dengan tingkah putri yang ia lahirkan, wanita paruh baya tersebut kesal karena Zahri sekarang terlalu kasar pada dirinya. 


"Minggir bu, jangan buat aku makin telat" ketusnya menyuruh ibunya bergeser agar tak menutupi jalan Zahri.


Nisa si babysitter Lala yang menyaksikan keributan ibu dan anak tak jauh dari kamar Zahri langsung kabur ke halaman rumah untuk membuka pagar saat melihat Zahri hendak keluar dari kamarnya.


Saat Nisa tersebut mencari kunci di kotak yang menempel di dinding samping pintu utama, ia ingin panik karena tak menemukan kunci tersebut.


Zahri yang berjalan setengah berlari menuju pintu utama melihat kepanikan Nisa.


"kenapa Nisa?" alis Zahri mengkerut menatap Nisa salah tingkah.


"eh anu bu, ini...kuncinya gak ada" Jawab Nisa sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"apaaaa...? kenapa bisa hilang sih???"


"aku gak mau tau, kamu cari ampe dapat" Zahri berteriak pada Nisa menunjuk-nunjuk wajah Nisa.


"ba..baik bu. Saya cari sekarang?" jawab Nisa ketakutan.


"ada apa lagi sih?" tanya bu Mitha masih kesal


Zahri melirik ibunya lalu memutar bola matanya malas, kemudian membuka pintu rumah.

__ADS_1


Zahri mengambil ponselnya kemudian duduk diteras rumah. Ia membuka aplikasi taxi online untuk mengantarnya ke tujuan.


sepuluh menit berlalu akan tetapi kunci pagar yang bersatu dengan kunci garasi tak juga ditemukan.


Zahri semakin kesal, ia mondar mandir diteras rumahnya seraya berusaha untuk menghubungi kliennya kembali.


Sudah beberapa kali dicoba, tapi si investor asing tersebut tak mengangkat panggilan Zahri.


"gawat...aku rasa si bule itu marah"


pikir Zahri sembari menggigit gigit ujung kukunya.


Tak lama kemudian, taxi online yang dipesan Zahri pun tiba. Karena Nisa belum menemukan kunci tersebut, Zahri memutuskan untuk lompat dari pagar saja.


Syukurnya saat itu ia menggunakan celana panjang berbahan jeans elastis. Sehingga memudahkannya untuk memanjat naik ke atas pagar yang terbuat dari setengah dinding bata yang dihiasi terali bercat putih dibagian atasnya.


Bu Mitha hanya geleng-geleng kepala saja dengan aksi Zahri saat itu. Kemudian bu Mitha kembali masuk ke rumah mencari Nisa.


"Nisaa....Nisa.. kamu dimana" panggil bu Mitha


"iya bu, saya di belakang" seru Nisa menjawab panggilan majikannya.


"kamu ngapain bongkarin sampah?" tanya bi Mitha heran.


"ini bu, nyari kunci. mana tau terbuang" ucapnya tanpa menghentikan pencariannya di kantong sampah yang sudah terbungkus rapi malam sebelumnya.


Beberapa saat kemudian, Nisa memasukkan kembali sampah - sampah yang ia serakkan tadi.


"bu...gak ketemu" ucapnya pasrah.


"kamu yakin udah masukkan ke kotak?" tanya bu Mitha lagi.


"yakin bu... bahkan sebelum tidur saya cek lagi pintu dan jendela udah ketutup semua atau belum" jawab Nisa sambil mencuci tangannya yang kotor dengan sabun anti kuman.


"terus kemana hilangnya kunci itu ya?" bu Mitha dan Nisa berfikir berat mengingat ingat apa saja yang mereka lakukan sebelum mengunci pagar rumah.


"bu, kayaknya habis makan kita langsung tidur kan ya?" tanya Nisa memastikan.


"iya...terus?" tanya bu Mitha penasaran.


"saya langsung tidur pulas bu, baru terbangun tadi" aku Nisa.


"atau non Zahri ada keluar lagi mungkin bu, dan lupa letak kuncinya dimana" terka Nisa


"ahhhh gak tau deh. kita cari barengan aja yok" ajak bu Mitha.

__ADS_1


"hayookk bu, mulai dari kamar non Zahri aja" Nisa menyetujui.


Saat mereka akan melangkah masuk kamar Zahri, Lala berteriak dari kamar memanggil bu Mitha.


"neneeeekkkk......" panggilnya kuat.


"ehh.. Lala cucuku" bu Mitha panik mendengar teriakan Lala.


Bu Mitha dan Nisa babysitter Lala berlomba lari ke kamar Lala untuk melihat kenapa ia bocah cilik tersebut berteriak.


"Lala...kamu kenapa sayang" bu Mitha duduk disamping Lala yang terduduk di tengah ranjangnya ia mengelus rambutnya.


Lala menurunkan kedua tangan mungilnya yang menutupi wajah tembam yang manis itu.


"loohh ..kamu kenapa nangis, sayang" bu Mitha mengambil Lala ke dalam pelukannya.


"Lala mimpi buruk nek...huuwaa...hiks.." aktingnya pun dimulai.


"aduuhh kasian kamu. mimpi apa sih sayang?" tanya bu Mitha lembut.


"Lala mimpi kuntilanak manjat pagar...huaaaa...hiks" kembali Lala menutup wajahnya tersenyum nakal.


"udah..udah. cuma mimpi kok. kamu gak usah takut ya sayang...cup..cup" bujuk bu Mitha tanpa rasa curiga pada Lala.


Lala mengangguk kecil kemudian menurunkan tangan dari wajahnya kembali.


"nek...Lala lapar" ucapnya jujur.


"oohh iya nenek juga belum makan. ayo kita masak mie rebus aja dulu ya" ujar bu Mitha.


"iya bu, saya juga lapar. nanti habis makan aja kita lanjutin nyari kuncinya ya?" pinta Nisa pada ibu kandung Zahri tersebut.


"ya udah" jawab bu Mitha ringan.


"entar ya non, mbak masakin dulu mie nya" ujar Nisa sambil keluar kamar menuju dapur.


"ayok Lala, kita ke dapur" ajak bu Mitha.


"nenek pergi duluan, Lala mau cuci muka dulu" katanya.


Bu Mitha pun pergi menyusul Nisa yang sudah mulai merebus mie untuk makan mereka siang itu.


Pagi itu, Lala benar benar sangat puas telah berhasil mengerjai Zahri. Lala tersenyum senyum sendiri.


"tante kunti, jangan salahkan Lala gak punya

__ADS_1


perasaan, siapa suruh tante kunti kejam mau nyakitin bunda Lala 😏" gumam Lala tertawa nakal.


haiii semua... dukung karya aku ya dengan like n komen. pintu kritik dan saran terbuka lebar gaaeess.. love u all 😘😘😘


__ADS_2