
"Hemm, Day" sapa Ronny kikuk, tak tau harus berkata apa.
Dayana menatap datar lurus pada Ronny. Ketika Ronny bergerak mengambil langkah pertama untuk mendekati istri pertamanya itu, Dayana langsung mengangkat telapak tangannya kepada Ronny, membuat suaminya tersebut langsung hentikan langkah.
Zahri yang melihat adegan tersebut merasa semakin gugup dan takut jika Dayana tiba-tiba murka dan menerjang dirinya. Suasana seperti itu, apakah ia akan sanggup tinggal di rumah itu. Zahri menundukkan kepala saat mata Dayana tertuju padanya. Ia tak tau harus bagaimana menghadapi Dayana.
Kemudian Dayana bangkit begitu saja dari sofa menuju kamarnya di lantai atas. Setelah menjejakkan kaki di tangga terakhir lantai dua, ayah Jo yang baru saja keluar dari kamar segera memanggil Dayana yang terlihat sedih.
"Dayana..." Seru ayah Jo.
"Ayah ingin bicara denganmu. Ayo masuk ke kamar, ada bunda yang juga menunggu"
Dayana memberi anggukan ringan pada ayah Jo. Pintu kamar ditutup oleh ayah Jo karena mereka bertiga akan membicarakan hal yang penting.
Sementara itu, di bawah Ronny tanpa basa basi membawa Zahri ke kamar tamu di lantai satu dekat ruang tamu. Sesampainya di dalam kamar, Ronny menyusun pakaian Zahri di dalam lemari agar lebih memudahkannya berganti pakaian.
"Mas, kamu lihat mbak Dayana begitu membenci aku" ujarnya dengan mimik sayu di wajahnya.
"Hmmm... Kami tenang saja. Dayana itu wanita yang sangat baik. Dia hanya butuh waktu untuk menerima kamu sebagai madunya" jawab Ronny berusaha memberi Zahri kekuatan untuk tetap optimis. Ronny juga tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya, ia hanya memberi jawaban positif untuk menenangkan pikiran Zahri agar tak berefek buruk pada kandungannya.
"Bagaimana aku menjelaskan situasiku pada istri pertamamu mas. Aku terperangkap dalam cintamu yang pernah aku coba buang. Tapi semakin aku mencoba, semakin aku terjerat" Zahri bermonolog sendiri.
Ronny telah menyelesaikan aktifitasnya menyusun pakaian Zahri. Kemudian ia keluar kamar sebentar untuk meminta PRT mengirim cemilan sehat ke kamar Zahri.
Setelah beberapa saat, cemilan sore itu sampai di tangan Zahri. Ia memakannya dengan rasa pahit dikerongkongan. Dengan susah payah Zahri menghabiskan cemilan itu demi membuat suaminya tenang tak menambah beban pikiran Ronny.
Ronny memberikan vitamin untuk Zahri, kemudian menyuruhnya untuk tidur sementara ia menemui anggota keluarganya di lantai dua.
Secara bersamaan, percakapan antara 3 orang sebelumnya juga sudah selesai. Ayah Jo keluar dari kamarnya meninggalkan istri dan menantunya berdua saja.
"Ckk.. bunda tak menyangka. Perempuan itu berani menampakkan wajah pelakornya pada kita dengan tak tau malunya" cela bunda Lidya tertuju pada Zahri.
Dayana tersenyum kecut mendengar bunda Lidya memaki-maki seseorang. Ini pertama kali bagi Dayana mendengar ibu mertua tersayangnya berkata seburuk itu.
"Kamu lihat saja, Day. Bunda gak akan biarkan pelakor itu hidup tenang di rumah kita" sumpah bunda Lidya bersungguh-sungguh.
"Ya udah, klo bunda memang mau bertindak seperti itu. Bunda harus pulih terlebih dahulu kan. Jadi bundaku ini yang bakal berubah jadi mertua kejam harus memiliki energi yang banyak kan untuk menindas menantunya" canda Dayana sembarangan hanya untuk membuat sang ibu mertua mau makan.
__ADS_1
Sejak bunda Lidya masuk ke rumah sakit. Ia tak pernah menghabiskan makanannya. Hanya 3 suapan nasi saja yang mampu Dayana masukkan, selebihnya bunda menolak untuk makan. Lalu, bagaimana bisa bunda Lidya cepat pulih jika gizi yang masuk tak cukup untuk mendukung pemulihannya.
"Aahhh, iya Day. Kamu benar"
"Baiklah, malam ini bunda akan makan yang banyak biar cepat sembuh" ucap bunda Lidya berapi-api.
Dayana terkekeh geli melihat ibu mertuanya yang lebih agresif saat hatinya tersakiti. Tak seperti dirinya yang tak mampu mengutarakan rasa sakit dan beban yang dipikulnya.
Di ruang kerja...
"Ayah, bagaimana"
"Sudah bicara dengan bunda dan Dayana?" Tanya Ronny tak sabar begitu mereka masuk menutup pintu ke ruang kerja.
"Ayah sudah berbicara dengan mereka berdua. Tapi Dayana mengajukan tiga syarat" ayah Jo menyandarkan tubuhnya ke bangku dengan kedua tangannya yang dilipat di atas perut. Melihat dengan seksama lawan bicaranya yang sangat mengecewakan hati keluarga, Khususnya Dayana.
"Apa itu ayah" Jo siap tak siap harus menerima syarat dari Dayana agar Zahri bisa tinggal sementara bersama mereka.
"Yang pertama, kau tak di izinkan masuk ke kamarnya, kedua wanita itu tak di izinkan untuk berada dalam satu ruangan dengan Dayana. Artinya, jika Dayana sedang berada diruang makan. Zahri tak boleh terlihat disekitarnya, lalu yang kedua, begitu anak itu lahir, saat itu juga wanita itu harus keluar dari rumah ini. Jika kau tak penuhi syarat itu, maka sebaiknya bawa kembali wanita itu pergi dari rumah ini. Ketenangan dan kebahagiaan Dayana menjadi prioritas utama bagi ayah ". Tegas Ayah Jo menuturkan syarat yang Dayana beri
Ronny menelan pahit salivanya mendengar kata-kata yang ayahnya sampaikan. Bagaimana ia bisa mendekatkan Zahri dengan Dayana jika istri pertamanya itu tak mau berada satu ruangan dengannya. Lalu, bagaimana aku bisa memiliki waktu dengannya untuk meminta maaf dan membujuk Dayana untuk menerima istri barunya.
Ronny tampak frustasi memikirkan tiga syarat yang Dayana ajukan. Meskipun hal tersebut sebenarnya syarat yang sederhana, namun Ronny sudah begitu terasing di dalam hubungan antara istri dan suami, juga anak dan orang tua. Ia tak punya pilihan lain, tak ada solusi lain yang bisa ia pikirkan saat itu.
Seminggu setelah Zahri pertama kali tinggal di rumah keluarga Barata. Suasana rumah terasa dingin. Kehadiran Zahri membuat seisi rumah canggung. Termasuk PRT yang bekerja disana. Mereka lebih memilih menghindari Zahri tanpa banyak mengobrol seperti saat mereka bersama Dayana. Tugas mereka hanya memberitahu Zahri bahwa makanan untuknya sudah disajikan di atas meja. Atau sekedar mengantar cemilan sore ke kamarnya.
3 PRT yang bekerja disana, merasa sungguh kasihan pada Dayana. Mereka juga tidak menyukai kehadiran Zahri dirumah itu. Namun, mereka memilih diam tak ikut campur atau memusuhi Zahri. Bagaimanapun Zahri dinikahi oleh majikan mereka secara sah sesuai hukum yang berlaku. Ronny sudah merasa tenang meninggalkan Zahri dirumah. Kondisi Zahri sudah stabil saat diperiksa oleh dokter kandungan yang tinggal tak jauh dari rumah mereka.
Zahri siang itu sedang mengidam rujak. Ia keluar kamar menuju dapur mencari beberapa buah dan bumbu praktis rujak yang dibeli Ronny di supermarket kemarin.
Melihat buah pir, jambu air dan mangga muda membuat air liurnya tak berhenti menetes. Ia tak sabar untuk segera mencicipi buah-buahan segar ditangannya itu.
Saat itu bunda Lidya ingin minum hijau buatan Dayana. Beberapa kali bunda Lidya mengetuk pintu kamar Dayana, tak ada jawaban di dalam. Sehingga bunda memutuskan untuk membuatnya sendiri.
"Kenapa Dayana g jawab y? Apa putriku itu sedang tidur? Y udah deh buat sendiri saja" gumamnya sendiri
"Aduuuhh, tubuh tua sepertinya ini perlu sedikit berolah raga" imbuh bunda Lidya berkata pada dirinya sendiri sambil menggerak gerakkan otot tangan dan tubuhnya yang sedikit kaku karena menghabiskan masa pemulihan di kamar dan balkon rumah saja saat berjemur di bawah mentari pagi.
__ADS_1
Ketika sampai diruang makan, bunda mendengar suara seseorang sedang memotong-motong sesuatu dari arah dapur. Bunda Lidya berjalan mendekati dapur mengira bahwa itu salah satu PRT mereka.
Bunda tersenyum horor melihat seorang wanita yang ia benci ternyata berada didapur miliknya.
"Heiii... Kau pelakor" bentak bunda Lidya pada Zahri yang langsung menghentikan pekerjaannya. Dan berbalik badan menghadap ibu mertuanya yang baru kali itu ia bertemu.
"Berani-beraninya kau masuk ke dapurku"
"Kau juga ingin merebut dapurku? Setelah itu apalagi yang mau kau rebut? Rumah ini?ooohhhh... Aku tau setelah itu kau mau merebut suamiku dan perusahaanku"
"Kau dididik orangtuamu untuk merebut suami orang kan" caci maki keluar dengan lancar dari mulut bunda Lidya dengan matanya yang melotot dan berkacak pinggang.
Zahri menangis menggelengkan kepalanya yang menunduk dengan cepat. Kata-kata buruk yang keluar dari bibir ibu kandung suaminya itu, begitu menusuk di telinga dan hati Zahri.
Plaaakkk...
Tamparan keras mendarat sempurna di pipi Zahri. Ia yang tak siap menerima tamparan itu sedikit terhuyung ke samping. Zahri menatap nanar ibu mertuanya yang sangat berbanding terbalik dengan apa yang Ronny pernah ceritakan padanya.
Sementara itu di kamar Dayana, ia baru saja menyelesaikan aktifitas buang air besar.
"Kayaknya tadi bunda ngetuk-ngetuk pintu deh"
"Mungkin bunda butuh sesuatu" ujar Dayana sendiri.
Ketika Dayana berjalan menuju kamar bunda Lidya, ia mendengar suara berteriak - teriak marah dari bawah. Dayana pun bergegas menuju asal suara teriakan amarah itu.
Praaannggg....praaaanngg...
"Aku tak sudi memakai barang-barang di rumahku ini yang sudah kau sentuh"
"Lebih baik kuhancurkan saja seperti kau menghancurkan hati putriku" cecar bunda Lidya dengan emosinya yang bertubi-tubi.
"Sekarang juga kau bersihkan semua ini" bunda Lidya menarik rambut Zahri ke bawah secara kasar membuat tubuh Zahri tersungkur.
Beruntung Zahri tak sampai jatuh ke tumpukan pecahan piring yang dipakainya tadi untuk bumbu rujak dan buah.
Dayana hanya diam terpaku ketika ia melihat mertuanya memarahi Zahri habis-habisan ketika Ronny sedang berada di kantor siang itu. Bunda Lidya membanting semua perlengkapan makan yang terbuat dari keramik itu karena telah disentuh oleh Zahri. Ada rasa iba di hati Dayana saat Zahri memunguti pecahan piring itu. Namun, rasa sakit hatinya menghalangi moralitasnya untuk sekedar memperdulikan.
__ADS_1