
Diperjalanan menuju panti setelah menjemput Ronny dikantor, Dayana menceritakan kejadian saat Danta melindungi Lala dari orang asing yang akan mengajaknya pergi.
Dayana sekarang mengkhawatirkan Kondisi Lala yang sejak tadi diam saja. Anak-anak panti pun sudah berusaha menghibur Lala, tapi ia menolak untuk berinteraksi, terus bersembunyi dibelakang tubuh Dayana.
Malam harinya saat Dayana menemani Lala tidur. Gadis kecil itu tak ingin jauh dari dari bundanya.
"Ya ampun, kamu demam Lala. Minum obat dulu ya" Dayana mengambil obat penurun panas dari nakas dekat kasur Lala.
Dayana selalu menyediakan obat penurun panas dan plaster kompres dinakas kamar anak-anak untuk berjaga-jaga.
Setelah menempelkan palster kompres, Dayana membelai lembut puncak kepala Lala hingga ia tertidur.
Tadinya ia akan kembali ke kamarnya setelah memastikan Lala terlelap, tapi tak disangka, Lala didalam tidurnya pun tak melepaskan genggaman tangan kecilnya di ujung baju yang Dayana kenakan.
"Kamu pasti masih takut ya, bunda akan jagain kamu malam ini" bisik batinnya.
Entah jam berapa Dayana benar-benar terlelap sampai ia tersentak bangun saat mendengar suara Lala.
"Bundaaa....larii"
"Larii kakak larii, bawa bunda pergii" Lala mangigau, ia bermimpi buruk malam itu.
"Lala...kamu kenapa nak"
"Sayang...ini bunda. Bangun Lala" Dayana panik saat memeluk Lala yang suhu badannya semakin panas.
"Bunda...Lala kenapa" Danta yang sekamar dengan Lala juga terbangun mendengar jeritan Lala.
"Danta ... Panggil ayah. Bunda mau bawa Lala ke rumah sakit" titahnya pada sang putra.
Danta bergegas lari ke kamar ayahnya. Tanpa menggedor langsung naik ke ranjang menggoncang tubuh sang ayah.
"Ayah...bangun..bangun cepat" Danta menarik piyama Ronny
"Ada apa Danta, kenapa kamu panik gitu" Ronny mengucek-ngucek matanya yang masih mengantuk.
"Bawa Lala ke rumah sakit, ayah. Sekarang" Danta menarik tangan Ronny mengajaknya keluar dari kamar.
"Lala, sakit? Sebentar ayah ambil dompet dan jaket bunda dulu" Ronny membuka lemari bajunya kemudian mengambil 2 buah jaket untuk mereka pakai agar tetap hangat.
"Day...ayo" Ronny mengangkat tubuh kecil gadis ciliknya yang sedang demam tinggi itu keluar.
"Danta, kamu gak apa-apa kan ditinggal sendiri. Kalo kamu takut, tidur sama oma saja ya" ujar Dayana sembari memasukkan dua buah pakaian ganti ke dalam ransel milik Lala.
"Danta berani sendirian, bun" tegasnya.
"Jagoan bunda hebat, bunda pergi dulu ya, sayang" Dayana pamit tak lupa mengecup kening putranya.
"Bye bunda, hati-hati" Danta melambaikan tangannya saat Dayana sudah menuruni anak tangga.
Danta kembali ke kasurnya untuk melanjutkan tidur. Namun, entah apa yang membuat bocah cilik tersebut tak bisa tidur. Berkali-kali keningnya berkerut seperti memikirkan sesuatu.
Dirumah sakit, Lala sudah mendapat penanganan dari tenaga medis. Lala diinfus dan diberi suntikan penurun panas.
Ronny menerangkan sedikit kejadian yang menimpa Lala kemarin siang. Dan dokter pun berasumsi jika demamnya itu terjadi akibat syok.
"Kenapa bisa begitu, dok?" Tanya Ronny
__ADS_1
"Begini pak, Saat stres, otak akan melepaskan hormon kortisol dan adrenalin. Kondisi tersebut memicu keluarnya keringat, pusing, jantung berdebar-debar, sampai stres".
"meskipun sama-sama menyebabkan kenaikan suhu tubuh di atas normal, demam saat stres dan tubuh terinfeksi bakteri atau virus gejalanya juga berbeda". Jelasnya yakin.
"Demam karena stres atau iatilah medisnya demam Psikogenik biasanya ditandai dengan gejala demam tinggi yang terjadi secara tiba-tiba". Dokter anak tersebut berhenti sejenak mengambil nafas.
"Demam jenis ini tidak gampang turun kendari sudah diberi obat penurun demam yang dijual secara bebas di pasaran".
"Sementara pada demam biasa, umumnya suhu tubuh dapat kembali normal begitu sudah diberi obat penurun panas".
"Lalu, gimana cara mengobati demam karena stres, dok?" Dayana serius memperhatikan setiap penjelasan dokter.
"Demam karena stres bisa hilang dengan sendirinya, beberapa saat setelah stres mereda".
"Cara terbaik untuk mengatasi demam psikogenik bukanlah dengan obat. Melainkan mengatasi sumber stres atau kecemasan".
"Anda bisa membawa pasien untuk liburan ke tempat yang ia suka. Hiburan bagi anak-anak adalah cara yang efektif untuk menghilangkan traumanya". Jelas dokter itu kembali.
"Baiklah dokter, kami akan membawa putri kami berlibur" ujar Ronny.
"Baiklah pak, bu. Si kecil tidak perlu rawat inap. Setelah infus ini habis, bapak dan ibu bisa membawanya pulang ke rumah. Berikan suasanya rumah yang rileks dan ceria ya bu"
"Ya dokter, terimakasih banyak bantuannya" Ronny menjabat tangan dokter hormat.
"Sama-sama" balas dokter tersebut berlalu
Pagi harinya di rumah keluarga Barata.
"Danta..."
"Kamu kok sendirian disini. Mana yang lain" tanya opa nya saat menemukan Danta duduk manis menunggu sarapannya sendiri.
"Lala sakit? Kenapa gak banguni oma dan opa?" Tanya oma Lidya nimbrung
"Lala demam tinggi, oma. Kan opa udah kerja seharian pasti lelah, Harus tidur yang cukup biar sehat, kalo sehat bisa cari uang buat bangun panti asuhan Danta" ungkapnya tersenyum polos.
"Haa..haa..kamu ini sudah pintar cari alasan". Opa Johan tertawa gemas.
"Oma hubungi bunda kamu dulu. Mana tau ada yang diperlukan biar opa sekalian mampir" bunda Lidya mengambil ponselnya dan menekan tombol panggil.
"Hmmm" ayah Jo mengangguk setuju.
"Hallo Day... Danta bilang kalian ke rumah sakit?"
"Iya.. bun. Ini kami juga udah sampai didepan rumah" sahut Dayana diseberang sana
"Eh...loh. hahahha.. ya udah kita ngobrol langsung deh" bunda Lidya mematikan ponselnya tersenyum sendiri.
"Kenapa bun?" Ayah Jo bertanya bingung
"Tuh.. orangnya udah didepan" jawab bunda.
"Pagi bun, pagi ayah" sapa Dayana.
"Pagi sayang. Yok sarapan dulu kita" ajak bunda.
"Iya bun.."
__ADS_1
"Dudukkan disini mas, anaknya" Dayana menggeser kursi makan untuk Lala.
"Mbak, Ita. Sup nya udah siap belum?" Tanya Dayana sedikit mengeraskan suara.
"Sudah non. Ini mbak Ita baru mau sajikan" sahut mbak Ita dari dapur.
"Gimana kondisi Lala, Ron?" Ayah Jo cemas.
"Demam biasa, ayah" jawabnya ringan
"Besok juga udah sembuh, ya kan Lala?" Ronny mengelus pipi tembam Lala yang pucat.
"Cepat sembuh ya, sayang oma" bunda Lidya mengecup kening Lala yang masih panas.
"Aduuhh, panas banget. Bisa masak telur ceplok nih dijidat Lala" canda bunda Lidya memancing Lala.
Lala " 😑 "
"Ssttt...kayaknya inces Lala lagi gak mood, bu" bisik mbak Susi.
"Hmm...iya juga. Bisa ngalahin aktris film nih akting nangisnya nanti". Bunda Lidya juga balas berbisik.
Lala "😡 "
"Bunda...udah ah. Kita sarapan dulu" ayah Jo menyela agar tak semakin memanas - manasi Lala.
Sarapan pagi telah selesai, ayah Jo mengantar Danta ke sekolah sekalian ia berangkat bekerja. Ronny hari ini mengambil libur untuk merawat Lala.
Setelah Lala dibawa masuk ke kamar nya oleh Ronny, Dayana mulai bercerita tentang apa yang terjadi dengan Lala sebenarnya pada bunda Lidya.
"Jadi gitu...toh" bunda Lidya mengangguk anggukkan kepalanya mengerti.
"Kalau gitu kita bawa Lala ke kampung bunda saja. Di sana banyak pemandangan indah. Ada perbukitan, Ada sungai yang airnya sejuk dan jernih. Di sungai itu kita bisa mancing ikan juga, terus ada air terjunnya juga. Pokoknya suasananya adem banget deh". Jelasnya
"Bunda udah lama tak pulang kampung. Waktu bunda kecil sering main disungai dan perkebunan sayur milik ayah nya bunda. Kangen banget bunda suasana disana" ucap bunda Lidya sendu.
Orang tua bunda Lidya keduanya sudah meninggal sejak bunda kecil. Ibu kandungnya meninggal saat melahirkannya. Ayahnya juga meninggal karena sakit keras. Bunda Lidya dibesarkan oleh bibi dan neneknya.
Sekarang rumah milik mendiang ayah bunda Lidya dirawat oleh bibinya. Rumah itu kosong, tapi sebulan sekali bibinya bunda Lidya akan menyuruh orang untuk membersihkannya.
Bunda Lidya juga setiap bulannya mengirimi bibinya di desa uang jajan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Begitulah bentuk kasih sayang bunda Lidya pada bibinya, adik paling bungsu mendiang ayahnya.
" Baiklah, kita putuskan bawa Lala liburan ke kampung bunda saja ya"
"Kebetulan jum'at dan sabtu ini libur nasional. Kita akan pergi hari kamisnya. Gimana bun?" Anjur Dayana
"Oh iya ya. Bagus juga itu ide kamu. Biar lebih lama disana. Lagi pula, butuh 12 jam perjalanan darat untuk sampai ke kampung bunda" ujar bunda senang.
"Ok deh. Kita siap-siapin pakaian yang dibawa sekarang saja, bunda"
"Besok kan udah hari rabu" imbuh Dayana.
"Hayukk ah.. bunda jadi gak sabar, hehe" terpancar raut bahagia bunda Lidya dari matanya yang berbinar.
Bunda Lidya masuk ke kamarnya memulai persiapan liburan mereka. Dayana menuju kamar anak-anak untuk menyiapkan keperluan mereka liburan.
Dikamar itu, Lala sedang tertidur dipelukan Ronny. Sambil memasukkan perlengkapan yang akan dibawa, Dayana menceritakan rencana liburan mereka nanti pada Ronny.
__ADS_1
Bagaimana keseruan liburan mereka, besok intip lagi yah ceritanya 😉
haiii semua... dukung karya aku ya dengan vote, like n komen. pintu kritik dan saran terbuka lebar gaaeess.. love u all 😘😘😘