Madu Mantan Dulu

Madu Mantan Dulu
Bab 10 Pergi


__ADS_3

POV Nindi.


Aku memang sudah menyiapkan hatiku. Untuk tidak bersedih mendengar semua cerita, yang di rahasiakan oleh Mas Rendra selama ini. Tapi nyatanya, aku tetap bersedih mengetahui itu semua dari mulut Mas Rendra.


Apalagi saat Mas Rendra mengatakan tidak bisa menceraikan Marsya, yang sedang hamil Mawar saat itu. Aku merasa ada sedikit cinta Mas Rendra untuknya, buktinya Mas Rendra bisa menyembunyikan semua ini dariku selama 11 tahun.


Aku menggelengkan kepala, sambil menyunggingkan senyuman dan menatap sinis pada Mas Rendra. Ketika aku mendengar ucapan Mas Rendra, yang mengatakan cuman aku istrinya yang ia cintai. Aku yang sangat muak mendengar ucapannya itu, mendorong tubuhnya.


"Mas bilang cuman aku, istri yang Mas cintai. Tapi selama 11 tahun, aku tidak pernah mengetahui. Bahwa aku telah memiliki seorang madu, dan sekarang ini dia sedang hamil anak keduamu. Itu maksudnya Mas, yang bilang cuman aku istri yang Mas cintai?" aku mengungkapkan isi hatiku, yang kesal mendengar ucapannya itu.


Tapi Mas Rendra tidak sadar, bahwa sekarang ini Marsya sedang mengandung anak keduanya. Dan itu berarti, ucapannya itu hanya omong kosong. Agar aku percaya dengan semua ucapannya.


"Marsya memang benar sedang hamil, tapi itu ..."


"Jangan Mas bilang! Kalau itu bukan anaknya Mas, aku tidak percaya itu. Sudahlah Mas, jangan bohongi aku terus. Belum cukupkah? Selama sebelas tahun ini Mas membohongiku," aku segera memotong ucapan Mas Rendra, yang sudah pasti mau membohongiku lagi.


Setelah selesai mengatakan itu semua, aku segera pergi meninggalkan Mas Rendra yang sedang berada di dalam kamar.


"Nindi maafkan, Mas. Kamu jangan pergi meninggalkanku," ucap Mas Rendra yang menarik satu tanganku, dan ia berusaha mencegahku yang akan pergi meninggalkannya.

__ADS_1


"Berikan aku waktu, Mas. Untuk memikirkan semua keputusan yang akan aku ambil," sahutku sambil melepaskan tanganku yang di pegang oleh Mas Rendra.


Aku berhasil melepaskan tanganku, tapi Mas Rendra memeluk tubuhku dari belakang.


"Kamu jangan bilang seperti itu, Sayang. Mas sangat mencintaimu, dan Mas tidak mau kamu pergi meninggalkan Mas. Tolong mengertilah keadaan Mas,  yang belum bisa menceraikan Marsya. Karena keadaan dia sedang hamil, dan Mas pastikan! Kalau kamu dan kedua anak kita, akan tetap menjadi prioritas utama Mas dan ...."


"Aku tidak mau mendengar apapun darimu lagi, Mas. Perhatian dan kasih sayang yang kamu berikan itu, hanya untuk menutupi rahasiamu. Jadi aku mohon, biarkan aku pergi untuk memikirkan semua keputusan yang akan aku ambil," aku lagi-lagi memotong ucapannya. Karena aku ingin memikirkan keputusan, yang akan aku ambil. Setelah mengetahui semua rahasia Mas Rendra selama ini.


"Mas akan mengijinkan kamu pergi, tapi Mas harap! Kamu jangan pernah berpikir untuk pergi meninggalkan Mas,"


Aku menganggukkan kepala, dan berusaha mengiyakan ucapannya. Meski aku sendiri belum tahu, dengan apa yang akan aku ambil. Karena yang aku pikirkan saat ini, hanya ingin menenangkan hati dan pikiranku. Agar aku tetap waras menjalani hari-hariku, yang kini sudah aku ketahui semuanya. Bahwa aku memiliki seorang madu, dan harus berbagi suami dengan Marsya.


"Nindi, dengarkan ucapan Mas. Jangan kamu potong lagi, kamu harus tahu. Kalau selama ini Mas selalu bersama kalian, dan jarang bertemu dengan Marsya dan Mawar. Bertemu dengan mereka berdua sebulan sekali pun tidak, Mas hanya mengirimkan uang sebagai rasa tanggung jawab Mas terhadap mereka berdua. Kamu harus percaya dengan ucapan, Mas. Kalian bertiga tetap prioritas utama, buktinya selama ini Mas selalu ada untuk kalian," ucap Mas Rendra yang melanjutkan ucapannya, yang sempat aku potong dan ia berusaha membuatku untuk percaya dengan ucapannya.


"Haruskah aku percaya dengan ucapanmu itu, Mas? Kamu begitu pandai menyembunyikan rahasiamu, sampai aku tidak pernah curiga sama sekali. Kalau ternyata selama ini, kamu memiliki istri selain diriku. Meski  selama ini aku merasakan, kalau aku dan anak-anak tidak pernah kekurangan perhatian dan kasih sayang darimu. Tapi di balik itu semua, perhatian dan kasih sayang yang kamu berikan. Menyimpan rahasia yang tidak aku ketahui, dan itu menyakiti perasaanku. Aku kecewa, dengan sikapmu yang membohongiku selama ini," sahutku dengan nada penuh kekecewaan. Karena Mas Rendra sudah membohongiku selama ini.


"Maafkan Mas, Sayang. Sudah membohongimu selama ini, Mas memilih merahasiakan semua ini. Agar tidak terjadi hal seperti ini, yang akan membuatmu terluka dan menyakiti perasaanmu. Mas belum siap memberitahukan semua ini, dan lebih baik kamu tidak perlu tahu ..."


"Jadi Mas mau merahasiakan semua ini selamanya? Begitu maksudmu, Mas?"

__ADS_1


"Ya itu pun kalau Mas bisa, tapi suatu saat nanti. Jika Mas sudah merasa siap, Mas pasti akan memberitahukan semuanya padamu. Tapi nyatanya, kamu sudah tahu lebih dulu. Sebelum Mas memberitahukan semuanya padamu. Mas minta maaf," timpalnya yang meminta maaf lagi, dan ucapannya itu membuatku geleng-geleng kepala sambil tersenyum kecut.


"Apa bedanya nanti dan sekarang? Toh ujung-ujungnya aku pasti akan mengetahui semua ini, dan itu sudah pasti membuatku merasa kecewa atas sikapmu yang menduakanku. Lepaskan tanganku! Aku tidak mau di sentuh olehmu. Sebelum aku mendapatkan keputusan yang akan aku pilih," aku berusaha melepaskan tanganku, yang masih di pegang oleh Mas Rendra.


Kini aku berhasil melepaskan tanganku, dan segera pergi meninggalkannya. Akan tetapi Mas Rendra mengikutiku, dan aku buru-buru pergi. Agar Mas Rendra tidak mencegah kepergianku lagi.


"Nin, Nindi ..." Mas Rendra berteriak memanggilku, yang akan turun ke lantai bawah. Tapi aku menghiraukan suara teriakannya, dan tetap melanjutkan langkahku yang akan pergi meninggalkan rumah ini. Karena aku tidak mau melihatnya, yang telah membohongiku selama ini.


"Nindi, kamu tidak usah pergi meninggalkan rumah. Biar Mas saja yang pergi," teriak Mas Rendra yang kembali mencegah kepergianku, dan ia memilih untuk pergi dari rumah ini.


Teriakannya kali ini, membuatku menghentikan langkah kakiku.


"Tapi kamu harus ingat, dengan pesan yang Mas berikan padamu. Jangan pernah kamu berpikir, untuk mengakhiri pernikahan yang sudah lama kita jalani. Mas tidak mau sampai itu terjadi, dan Mas lebih memilih mengakhiri pernikahan Mas dengan Marsya.  Jaga dirimu baik-baik, dan Mas titip anak-anak padamu. Hubungi Mas, jika kamu sudah mendapat keputusan yang akan kamu pilih," sambung Mas Rendra, yang memberikan pesan kepadaku. Agar aku tetap mempertahankan pernikahan ini.


Saat Mas Rendra akan pergi meninggalkan rumah, kedua anakku keluar dari dalam kamarnya. Pasti mereka berdua mendengar suaraku, yang berbicara dengan Mas Rendra.


"Ayah ..." teriak kedua anakku yang berlari menghampiri ayahnya, yang akan pergi meninggalkan rumah ini.


Kedua anakku memang dekat dengan ayahnya, dan apakah aku harus mempertahankan pernikahan ini demi anak-anak?

__ADS_1


__ADS_2