Madu Mantan Dulu

Madu Mantan Dulu
Bab 34 Di tuduh selingkuh


__ADS_3

POV Nindi.


"Pasti Rendra sedang sibuk, yah. Sehingga dia tidak ikut pergi bersama kamu dan kedua anakmu," sambung Marsel. Karena aku tidak langsung menjawab pertanyaannya, sebab pertanyaannya itu  membuatku bingung harus menjawab apa? Apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya pada Marsel, atau tidak.


Ku anggukan kepala, untuk mengiyakan ucapannya. Karena aku memutuskan, untuk tidak memberitahukan tentang hubunganku dengan Mas Rendra yang tidak baik-baik saja.


Saat aku tengah berbicara dengan Marsel, deringan ponselku menghentikan pembicaraanku dengannya. Aku pun segera mengambil handphonenku, untuk menerima panggilan telepon dari ibunya Mas Rendra.


"Kamu lagi di mana, Nin?" Ibu langsung bertanya, saat aku sudah menerima panggilan telepon darinya.


"Aku dan anak-anak sedang di mall, Bu."


"Suami lagi sakit, kamu dan kedua anakmu malah asyik-asyikan pergi ke mall. Tadi katanya pamit pulang duluan, mau merapikan tempat tidur untuk Rendra. Tapi saat Ibu dan Rendra sudah sampai di rumah, kamu dan anakmu tidak ada di rumah. Bagaimana Ibu dan Rendra mau masuk ke dalam rumah, kalau pintunya saja di kunci," ucap Ibu yang marah kepadaku.


"Nanti aku akan hubungi Bi Narsih, Bu. Untuk memberikan kunci rumah pada Ibu, sebentar lagi aku dan anak-anak akan pulang ke rumah," sahutku.


Ibu tidak menanggapi ucapanku, ia langsung mematikan panggilan teleponnya begitu saja.


Aku pun segera menghubungi nomor telepon Bi Narsih, untuk memberikan kunci rumah pada ibu mertuaku yang sudah berada di depan rumah. Beruntung rumah Bi Narsih, jaraknya tidak jauh dari rumahku. Sehingga ia bisa cepat sampai di rumahku, dan tidak membuat ibu dan Mas Rendra menunggu kedatanganku terlalu lama di depan rumah.


Setelah selesai berbicara dengan Bi Narsih di telepon, aku dan anak-anak berpamitan pulang dengan Marsel dan anaknya.


Akan tetapi, saat aku akan pergi meninggalkan Marsel dan anaknya. Handphoneku kembali berdering, dan kali ini panggilan telepon dari Mang Narno supirku.


"Ada apa, Mang?" tanyaku.


"Nyonya, Mamang pinjam mobilnya sebentar ya. Soalnya anak perempuan Mamang mau melahirkan, dan sekarang ini Mamang lagi di jalan mau mengantar anak Mamang pergi ke rumah sakit menggunakan mobil Nyonya. Maaf Nyonya, Mamang tidak langsung memberitahukan pada Nyonya dulu," jawabnya.

__ADS_1


"Ya sudah Mang, tidak apa-apa. Nanti aku dan anak-anak bisa pulang ke rumah dengan menggunakan taksi. Semoga anak Mamang di berikan kemudahan dalam proses persalinannya," sahutku.


"Aamiin. Terima kasih Nyonya atas doanya, saya matikan panggilan teleponnya ya," balas Mang Narno sambil mematikan panggilan teleponnya.


"Ayo, Sayang. Kita pulang ke rumah," ujarku yang mengajak kedua anakku pulang ke rumah.


"Nindi." Marsel memanggilku.


"Iya, Sel. Ada apa?" tanyaku sambil menengok ke arahnya.


"Biarkan aku mengantar kalian pulang ke rumah," jawabnya.


"Hore, pulang bareng Alvin dan Papanya," sorak Arsen dan Rara yang mendengar jawaban Marsel. Aku jadi tidak bisa menolak ajakannya, sebab kedua anakku ingin pulang bersama Marsel dan anaknya.


Sesampainya di rumah, aku melihat ibu mertuaku yang berkacak pinggang melihat kepulanganku bersama anak-anak dan Marsel serta Alvin anaknya.


"Sepertinya ibu salah paham dengan kedatangan saya ke sini, saya cuman mengantar Nindi dan anaknya pulang ke rumah. Jadi ibu jangan menuduh saya dan Nindi seperti itu," sahut Marsel yang berusaha meluruskan kesalahpahaman ini.


"Salah paham bagaimana? Memangnya saya tidak tahu hubungan kalian berdua dulu seperti apa? Jadi kamu mau membalas sakit hatimu, dengan cara ikut berselingkuh juga? Apakah kamu tidak malu, Nin? Dengan hijab yang kamu kenakan." Ibu mengatakan itu sambil datang menghampiriku, yang berada di dekat kedua anakku. Aku yakin sekali, kalau sekarang ini Marsel sudah mengetahui hubunganku dengan Mas Rendra yang tidak baik-baik saja.


"Jangan menuduhku seperti itu, Bu. Apalagi menyalahkan hijab yang aku kenakan, aku dan Marsel tidak sengaja bertemu di mall bukan seperti yang ibu tuduhkan," aku pun berusaha menjelaskan semuanya pada Ibu. Agar ia tidak terus salah paham denganku dan Marsel. Meski dulu itu, aku memiliki hubungan dengan Marsel.


"Alah, alasan saja!"


"Yang di katakan Bunda dan papanya Alvin benar, Oma. Jadi Oma jangan menuduh Bunda dan papanya Alvin seperti itu," ucap Arsen yang ikut membenarkan ucapanku dan juga Marsel.


Sedangkan Rara, ia menarik tanganku sambil berkata, "Bun, kita pulang ke rumah Nenek saja. Aku tidak mau tinggal di sini bersama Ayah dan juga Oma, pasti nanti Mawar dan mamanya akan datang ke sini."

__ADS_1


"Aku juga tidak mau tinggal di sini. Ayo, Bun. Kita ke rumah Kakek dan Nenek saja," timpal Arsen yang sependapat dengan ucapan Rara.


"Iya, Sayang." aku menimpali ucapan kedua anakku, yang ingin pergi ke rumah orang tuaku.


Saat aku mengatakan itu, ibu mertuaku datang menghampiri Arsen dan Rara sambil memegang tangan mereka berdua. Pasti Ibu mau mencegah kepergian kedua anakku, yang akan pergi dari rumah ini.


"Kalian berdua jangan pergi dari sini, Oma minta maaf sudah menuduh Bunda kalian berdua," ucapannya itu sudah bisa aku tebak.


Aku menggelengkan kepala sambil tersenyum kecut, mendengar ucapan ibu mertuaku yang meminta maaf. Mengucapkan kata maaf itu mudah, tapi tuduhannya itu tidak benar sama sekali.


Luka yang di torehkan oleh Mas Rendra saja masih sakit. Sekarang ini, ibunya pun ikut menorehkan luka di hatiku dengan tuduhannya yang tidak benar.


"Sudah aku bilang, kalau aku itu tidak mau tinggal di sini. Karena Oma sudah menuduh Bunda berselingkuh dengan papanya Alvin, padahal Papanya Alvin dan Bunda sudah menjelaskan. Tapi Omah tidak percaya," sahut Arsen.


"Oma kan sudah minta maaf, yuk kita masuk ke dalam. Memangnya kalian berdua tidak rindu dengan Ayah?"


"Tentu saja aku rindu dan ingin bertemu dengan Ayah, Oma." Rara menghentikan ucapannya sejenak, dan ucapannya itu membuat Ibu tersenyum.


"Tapi rasa rinduku itu ada, sebelum aku pergi menjenguk Ayah ke rumah sakit. Tapi sekarang ini, rasa rinduku dengan Ayah sudah hilang. Saat aku melihat kedekatan Ayah dengan Mawar dan mamanya di rumah sakit," sambung Rara yang mengungkapkan isi hatinya, dan aku melihat air mata membasahi pipinya.


Aku segera menghapus air mata Rara, dan kemudian aku memeluknya. Aku bisa merasakan kesedihan hati putriku, aku pun memutuskan untuk mengajak kedua anakku pergi dari rumah ini.


"Ayo, Sayang. Kita pergi dari sini,"


Rara menanggapi ajakanku dengan cara mengagukkan kepalanya, dan ia malah berlari masuk ke dalam mobil Marsel. Arsen dan Alvin pun mengikuti Rara, yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil Marsel.


"Nindi, maafkan Ibu yang sudah menuduh kamu berselingkuh dengan Marsel. Ibu mohon kamu dan kedua anakmu jangan pergi dari sini, nanti siapa yang akan mengurus Rendra. Dia sedang sakit, dan kehilangan ingatannya." Ibu mencegah kepergianku, yang akan menghampiri kedua anakku yang sudah masuk ke dalam mobil Marsel.

__ADS_1


__ADS_2