Madu Mantan Dulu

Madu Mantan Dulu
Bab 12 Pertengkaran


__ADS_3

Rendra segera datang menghampiri Nindi dan kedua anaknya, yang datang ke rumah orang tuanya.


"Ayah kok ada di rumah Omah? Bukannya kemarin Ayah bilang mau pergi bekerja ke luar kota, kok ada di sini? Ayah bohong yah?" cerca Rara dan Arsen secara bersamaan. Karena mereka berdua melihat Rendra ayahnya, berada di dalam rumah neneknya.


"Ayah sudah pulang tadi pagi, Sayang. Kan Ayah sudah bilang, kalau Ayah pergi bekerja ke luar kotanya tidak lama," kilah Rendra yang mencari alasan.


"Kenapa Ayah tidak pulang ke rumah? Tapi malah langsung pulang ke rumah Omah?" tanya Arsen yang ingin mengetahui, tujuan ayahnya yang pulang ke rumah neneknya.


"Omah yang menyuruh ayahmu datang ke sini dulu, soalnya Omah lagi kurang sehat." Gita yang menjawab pertanyaan Arsen cucunya. Karena ia melihat raut wajah Rendra anaknya, yang bingung menjawab pertanyaan dari Arsen cucunya.


"Oh begitu,"


"Omah sakit apa?" tanya Rara sambil datang menghampiri Gita neneknya.


"Kepala Omah pusing," jawabnya sambil memijat pelipisnya.


"Kalian berdua bawa apa itu?" tanya Rendra yang mengalihkan pembicaraan kedua anaknya dengan Gita ibunya. Karena ia melihat kedua anaknya membawa kantong plastik.


"Ini aku dan kak Arsen beli roti bakar di depan, yah." Rara yang menjawab pertanyaan ayahnya, sambil memperlihatkan bungkusan plastik yang berisi roti bakar.


"Kalian berdua makan roti bakarnya, di samping rumah Omah ya. Di sana ada Dira dan mamanya," ucap Gita yang menyuruh kedua cucunya. Untuk pergi ke samping rumahnya. Karena ia ingin berbicara dengan Nindi menantunya, yang dari tadi hanya diam saja tanpa ikut berbicara.


"Iya Omah," balasnya.


Rara dan Arsen pun segera pergi ke samping rumah neneknya, untuk bertemu dengan Dira anak dari kakaknya Rendra yang bernama Kresna.

__ADS_1


Setelah kepergian Arsen dan Rara. Nindi yang dari tadi diam, ia kini berbicara mengeluarkan isi hatinya.


"Aku pikir, ibu tidak mengetahui hubungan Mas Rendra dengan Marsya. Tapi ternyata dugaanku itu salah, ternyata Ibu sudah mengetahui tentang Mas Rendra yang menikah dengan Marsya. Kenapa Ibu ikut menyembunyikan semua ini dariku, Bu?"


"Maafkan Ibu, Nak. Karena Ibu sudah ikut merahasiakan semua ini darimu, bukannya Ibu tidak mau memberitahukan semua ini kepadamu. Ibu hanya ingin Rendra yang memberitahukan semuanya padamu, tapi ternyata ...


Belum sempat Rendra memberitahukan semuanya padamu, kamu sudah tahu lebih dulu. Sekali lagi Ibu minta maaf, Nak." Gita yang merasa bersalah, ia langsung meminta maaf kepada Nindi sambil memegang kedua tangannya. Berharap Nindi mau memaafkannya, yang sudah ikut menyembunyikan rahasia Rendra dari Nindi.


Nindi melepaskan tangannya, yang di pegang oleh Gita mertuanya dengan kasar. Lalu ia berkata, "Aku kecewa dengan sikap Ibu dan juga kamu, Mas." Nindi mengatakan itu sambil menunjuk ke arah Rendra dan juga Gita ibunya.


"Kalian berdua bertahun-tahun lamanya, menyembunyikan semua ini dariku. Ibu yang ku anggap mertua yang baik, tapi mendukung poligami. Bagaimana perasaan Ibu? Sebagai seorang wanita. Jika berada di posisiku, Bu?" sambung Nindi yang bertanya pada Gita mertuanya.


Gita terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Nindi, yang terdengar hanya suara isak tangisnya.


"Ya tentu saja, aku tidak mau. Aku tidak rela, harus berbagi suami dengan perempuan lain." Nindi memotong ucapan Rendra, yang belum selesai berbicara.


"Ya itulah, alasanku memilih merahasiakan semua ini darimu," sahut Rendra sambil menghentikan sejenak ucapannya, ia menarik nafas dalam-dalam. Sebelum melanjutkan kembali ucapannya.


"Aku terpaksa menikah dengan Marsya, Nin. Kamu sudah dengarkan semua ceritaku, tidak ada yang aku tutupi semuanya aku ceritakan padamu. Sejujurnya, aku juga tidak mau berpoligami. Tapi keadaan yang membuatku, harus berpoligami. Aku tahu diri! Kalau aku itu, tidak pantas mendapat maaf darimu. Karena aku telah menyembunyikan semua ini darimu, tapi aku mohon kepadamu. Tolong maafkan ibuku, Nin. Karena Ibu sudah berkali-kali menyuruhku, agar aku jujur kepadamu soal pernikahanku dengan Marsya. Tapi aku yang belum siap memberitahukan semuanya padamu. Jika kamu tidak bisa memaafkan semua kesalahanku, tidak apa-apa. Tapi aku berharap, kamu mau memaafkan Ibu," sambung Rendra yang menjelaskan semuanya, dan ia meminta Nindi. Agar mau memaafkan ibunya, yang ikut menyembunyikan rahasianya dari Nindi selama ini.


"Mengucapkan kata maaf dan memaafkan itu mudah, Mas. Semudah membalikkan telapak tangan. Tapi kamu sudah menorehkan luka di hatiku ini, rasanya sakit Mas. Maaf, aku belum bisa memaafkan sepenuhnya kebohongan yang kamu buat, dan untuk Ibu. Apapun alasannya, aku tetap tidak suka di bohongi. Apalagi ibu sudah ikut merahasiakan semua ini dariku, itu berarti Ibu setuju dengan pernikahan Mas Rendra dan Marsya," timpal Nindi yang belum bisa memaafkan Rendra dan juga Gita ibunya.


"Aku yang bersalah dalam hal ini, Nin. Kamu jangan menuduh Ibu seperti itu, sekali lagi aku jelaskan padamu. Kalau Ibu itu tidak pernah setuju aku menikah dengan Marsya, aku harus menjelaskan berapa kali? Agar kamu percaya dengan ucapanku. Yang bersalah itu aku, bukan Ibu. Jadi aku mohon, maafkan ibuku," pinta Rendra yang menginginkan Nindi memaafkan ibunya.


"Maaf, untuk saat ini aku belum bisa memaafkan ibu. Apalagi kamu, Mas." Nindi tetap dengan pendiriannya, yang belum bisa memaafkan kesalahan Rendra dan ibunya.

__ADS_1


"Aku memang tidak pantas mendapat maaf darimu. Karena aku yang salah, tapi aku mau kamu memaafkan ibuku." Rendra terus menerus meminta maaf pada Nindi. Agar mau memaafkan ibunya.


"Tidak ... sudah aku bilang. Kalau aku tidak bisa memaafkan semua kesalahanmu dan juga Ibu, begitu saja. Kamu dan juga Ibu sudah membuatku kecewa dengan sikap kalian selama ini, yang sudah membohongiku. Sehingga membuat hati dan pikiranku, akan teringat terus dengan semua kebohonganmu. Kamu dan ibumu sama saja, pandai sekali membohongiku selama 11 tahun lamanya," geram Nindi dengan Rendra, yang terus meminta maaf kepadanya.


Rendra yang mendengar itu, ia mengepalkan tangannya dan kemudian berkata, "Kamu tinggal bilang memaafkan saja, apa susahnya sih? Kalau kamu tidak mau memaafkan aku, tidak kenapa-kenapa tapi ..."


"Seperti ini caramu meminta maaf, sudah salah tapi memaksaku untuk memaafkan kesalahan ibumu," potong Nindi yang mulai terbawa emosi, dengan ucapan Rendra yang memaksanya untuk memaafkan ibunya.


"Astaghfirullah," batin Gita yang mengusap dadanya. Karena ia melihat Rendra yang ingin Nindi memaafkannya, tapi Nindi yang masih sakit hati sulit memaafkannya.


"Kamu jadi istri dan menantu yang baik itu, harus bisa memaafkan ..."


"Jika memang aku bukan istri dan menantu yang baik ceraikan saja aku dari dulu. Jadi kamu tidak perlu merahasiakan pernikahanmu dengan Marsya," cetus Nindi yang lagi-lagi memotong ucapan Rendra. Kini emosinya tidak bisa di kontrol lagi.


"Kamu ..."


"Stop ... kalian berdua jangan bertengkar," teriak Gita yang ikut memotong ucapan Rendra anaknya. Karena ia berusaha memisahkan anak dan menantunya, yang tengah bertengkar.


"Ibu tidak mau sampai kedua anakmu, yang berada di samping rumah mendengar Ayah dan bundanya bertengkar di sini. Kita harus membicarakan semua ini, dengan kepala dingin dan baik-baik. Jangan seperti ini, apalagi sampai mengambil keputusan yang salah. Ibu tidak mau kalian berdua berpisah ...


Prang.


Suara pecahan menghentikan ucapannya Gita, dan membuatnya menengok ke arah suara pecahan gelas.


"Rara ..."

__ADS_1


__ADS_2