
"Apakah yang di katakan kedua anakmu itu benar, Nin?" tanya Namira yang ingin memastikan kebenarannya tentang ucapan kedua cucunya pada Nindi.
Karena Nindi tidak memberitahukan soal itu kepadanya. Nindi malah menanyakan tentang dirinya, yang melihat kedatangan Nindi dan kedua anaknya yang di antar pulang oleh Marsel. Sedangkan kedua anaknya Nindi, langsung memberitahukan semua itu kepadanya.
"Iya, Mah. Apa yang di katakan Rara dan Arsen memang benar." Nindi menjawab pertanyaan Namira sambil mengagukkan kepalanya, dan ia juga membenarkan ucapan kedua anaknya, yang menceritakan kejadian di rumah sakit dan juga di rumahnya yang bertemu dengan Gita mertuanya.
"Bisa-bisanya, Gita berbicara seperti itu di depan kedua cucuku. Tentu saja kedua cucuku akan marah, dan tidak terima dengan tuduhannya itu. Aku pun juga pasti akan marah dengan ucapannya itu, sebab aku tahu. Kalau Nindi itu tidak mungkin berselingkuh dengan Marsel," batin Namira yang benar-benar kesal dengan ucapan Gita, yang menuduh Nindi berselingkuh dengan Marsel di depan kedua cucunya.
"Tapi ... sikap Gita yang seperti itu, ada bagusnya juga. Karena itu membuat kedua cucuku jadi membenci Rendra dan juga Gita, dan memutuskan tinggal bersamaku," sambungnya sambil tersenyum senang.
"Nenek kenapa? Kok, senyum-senyum seperti itu?" tanya Arsen yang heran melihat Namira neneknya, yang tiba-tiba saja tersenyum. Setelah mendengar ucapan Nindi, yang membenarkan ucapannya.
"Nenek itu senang, melihat kedua cucu Nenek mau tinggal di sini. Jadi rumah Nenek akan ramai dengan kedatangan kalian," jawab Namira yang berkilah. Sebab ia tidak mau memberitahukan pada kedua cucunya, tentang penyebab dirinya yang tiba-tiba saja tersenyum senang.
Namira menghela nafas panjang, sebelum ia menyuruh kedua cucunya untuk masuk ke kamar. Karena ia ingin berbicara dengan Nindi. Akan tetapi, saat ia akan mengatakan itu. Rara sudah lebih dulu memanggilnya.
"Nek," ucap Rara yang memanggil Namira.
"Iya, Sayang. Apakah masih ada yang mau Rara dan Arsen bicarakan dengan Nenek?" tanya Gita pada kedua cucunya.
Rara dan Arsen menanggapi pertanyaan Namira, dengan mengagukkan kepalanya secara bersamaan.
"Kalau begitu, kita berbicaranya di ruang tamu saja. Jangan berdiri seperti ini, yuk kita pergi ke ruang tamu." Namira yang melihat anggukkan kepala Arsen dan Rara, ia langsung mengajak kedua cucunya dan juga Nindi pergi ke ruang tamu.
__ADS_1
Namira tidak jadi menyuruh kedua cucunya pergi ke dalam kamar, sebab ia ingin mendengar apa yang akan di bicarakan oleh kedua cucunya.
Sesampainya di ruang tamu. Rara langsung mengatakan, apa yang mau ia bicarakan dengan Namira sambil memegang tangan Namira.
"Nenek harus tahu. Kalau sekarang ini aku dan kak Arsen sudah setuju. Jika keputusan Bunda ingin berpisah dengan Ayah. Sebab aku dan kak Arsen yang melihat kedekatan Ayah dengan kak Mawar dan mamanya saja kesal, pasti Bunda juga seperti itu. Iyakan, Bun?" Rara melirik ke arah Nindi, yang duduk tidak jauh di dekatnya.
Belum sempat Nindi menjawab pertanyaan Rara. Arsen sudah lebih dulu menjawabnya, sambil menyenggol lengan Rara.
"Tanpa kamu mengatakan seperti itu, tentu saja Bunda kesal. Kamu bagaimana sih, Ra? Kan tadi waktu di mobil kita sudah mengatakan itu sama Bunda,"
"Hehehe... Oh iya, Rara lupa." Rara mengatakan itu sambil tersenyum, dan kemudian ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tapi Rara tetap mau menanyakan itu sama Bunda. Biar Nenek tahu dengan jawaban Bunda, apakah Bunda juga kesal melihat kedekatan Ayah dengan mamanya Mawar?" sambung Rara yang bertanya sekali lagi pada Nindi. Sebab Nindi belum menjawab pertanyaannya.
Rara dan Arsen yang melihat Nindi mengagukkan kepala, mereka berdua segera menghampiri Nindi dan langsung memeluknya.
"Aku bisa merasakan apa yang Bunda rasakan. Sebab aku juga merasakannya, Bun. Betapa kecewa dan sedih hatiku, saat aku mengetahui semuanya. Apalagi saat aku melihat Ayah berdekatan dengan Mawar dan mamanya, itu membuatku sadar. Betapa egoisnya aku, jika terus menyuruh Bunda untuk mempertahankan hubungan Bunda dengan Ayah." Rara mengatakan itu di dalam hatinya, dan ia memeluk erat bundanya.
Namira yang melihat itu, ia pun ikut berpelukan. Sebelum ia menyuruh Nindi dan kedua anaknya untuk makan siang bersama.
"Sudah pelukannya, kita makan siang dulu. Pasti kalian belum makan siang," ucap Namira. Saat ia sudah melepaskan pelukannya, yang ikut memeluk Nindi bersama kedua cucunya.
"Iya, Nek. Aku belum makan siang, soalnya tadi di mall Bunda langsung mengajak pulang tanpa mengajak makan siang," sahut Arsen.
__ADS_1
"Iya, nih. Aku juga belum makan siang, Nek. Ayo kita pergi ke meja makan, aku ingin segera makan siang." Rara menimpali ucapan Arsen kakaknya, dan mengajak Namira pergi ke meja makan.
"Maafkan Bunda yah, Sayang. Sudah membuat kalian berdua kelaparan seperti ini. Bunda bukannya tidak mau mengajak kalian berdua makan dulu. Tapi tadi itu Bunda di telepon sama Oma, yang sudah berada di depan rumah. Makanya Bunda langsung mengajak kalian berdua pulang, tanpa mengajak makan dulu. Maafkan Bunda yah, Nak." Nindi langsung meminta maaf pada kedua anaknya.
Karena ia tidak mengajak kedua anaknya pergi ke tempat makan. Setelah kedua anaknya selesai bermain Timezone, tapi Nindi malah mengajak kedua anaknya untuk segera pulang ke rumah. Sebab Kedatangan Gita dan Rendra yang sudah berada di depan rumahnya.
"Iya, tidak apa-apa kok, Bun." Arsen dan Rara mengatakan itu secara bersamaan sambil tersenyum manis, dan mereka berdua pun mengajak Nindi pergi ke meja makan. Untuk makan siang bersama.
______________
Malam harinya.
Saat Nindi sedang melihat kedua anaknya, yang sudah terlelap dalam tidur. Ia mendengar suara ketukan pintu, yang mengetuk pintu kamarnya dengan pelan.
Nindi pun segera membuka pintu kamarnya, dan ia melihat Namira yang ternyata mengetuk pintu kamarnya.
"Ada apa, Mah?" tanya Nindi yang penasaran dengan kedatangan Namira, yang mengetuk pintu kamarnya.
"Anak-anak sudah tidur belum, Nin?" Namira tidak langsung menjawab pertanyaan Nindi. Tapi ia malah menanyakan kedua cucunya pada Nindi.
"Sudah, Mah. Apakah ada yang mau Mama bicarakan dengan anak-anak?" Nindi kembali bertanya sekali lagi pada Namira.
"Mama hanya menanyakan anak-anak, tapi bukan berarti ingin berbicara dengan mereka. Ayo kita pergi menemui Papa di ruang keluarga, ada yang ingin Papa dan Mama bicarakan denganmu." Namira mengatakan itu sambil menarik tangan Nindi, dan kemudian ia menutup pintu kamar Nindi dengan pelan-pelan.
__ADS_1
Nindi pun segera mengikuti ajakan dari mamanya, sambil berbicara di dalam hatinya, "Apa yang mau Papa dan Mama bicarakan denganku?"