Madu Mantan Dulu

Madu Mantan Dulu
Bab 16 Berterus terang


__ADS_3

"Rumah siapa itu Rendra?" tanya Darmawan lagi.


Tapi Rendra masih diam, dan tidak langsung menjawab pertanyaan dari mertuanya. Karena ia belum siap, memberitahukan yang sebenarnya pada kedua orang tuanya Nindi.


"Memangnya itu rumah siapa, sih? Kok kamu seperti ragu begitu, menjawab pertanyaan dari Mama dan Papa? Padahal tinggal menjawab saja, apa susahnya sih," timpal Namira yang melihat raut wajah Rendra, yang bingung menjawab pertanyaan dirinya dan juga suaminya.


"I___itu  ru____rumah ..."


"Istrinya Mas Rendra Mah, Pah.'' Nindi yang menjawab pertanyaan kedua orang tuanya, dan ia menyela ucapan Rendra, yang gugup menjawab pertanyaan dari kedua orang tuanya.


Degh.


"Dari mana Nindi bisa tahu? Kalau rumah itu adalah rumah Marsya?" batin Rendra, yang lagi-lagi di buat kaget. Karena mendengar ucapan Nindi yang mengetahui tentang rumah Marsya, yang jaraknya tidak jauh dari rumah kedua orang tuanya.


"Bukan begitu, Mas?" sambung Nindi sambil menyunggingkan senyuman. Nindi sengaja mengatakan itu, karena ia menginginkan kedua orang tuanya mengetahui rahasia Rendra.


"Maksudnya bagaimana?"


"Apakah Rendra memiliki istri selain kamu?"


Cerca kedua orang tuanya Nindi, yang belum mengetahui tentang pernikahan Rendra dengan Marsya.


"Untuk masalah ini. Biar Mas Rendra saja yang menjawabnya Mah, Pah." Nindi mengatakan itu, sambil melirik ke arah Rendra yang duduk tidak jauh di dekatnya.


"Kamu jangan diam saja, Rendra! Jawab pertanyaan Papa dan Mama! Apakah kamu memiliki istri selain Nindi putriku?" Darmawan sedikit meninggikan ucapannya. Karena Rendra tidak menjawab pertanyaannya.


"Cepat jawab Rendra! Jangan diam terus, kamu harus menjawab dengan jujur," timpal Namira yang kesal melihat Rendra menantunya, yang menundukkan kepala tanpa menjawab pertanyaannya.


"Lebih baik, kamu ceritakan semuanya pada kedua orang tuaku Mas. Jangan kamu tutupi lagi, kedua orang tuaku berhak mengetahui semuanya. Aku bisa saja langsung memberitahukan tentang kebohongan kamu dan juga keluargamu, yang selama ini telah membohongiku dan juga kedua orang tuaku. Tapi aku ingin kamu yang menceritakan itu semua, pada kedua orang tuaku," sahut Nindi yang menginginkan Rendra berkata jujur pada kedua orang tuanya.


"Kebohongan apalagi ini, Nindi?" tanya Darmawan lagi, sambil melirik ke arah Nindi dan Rendra secara bergantian.


Karena ia dan istrinya tidak mengetahui kebohongan, yang di lakukan oleh Rendra selama ini.

__ADS_1


Rendra masih saja tutup mulut, dan ia belum siap memberitahukan semuanya kepada mertuanya.


Nindi yang melihat itu, ia semakin kesal dengan Rendra yang masih diam. Ia pun memutuskan untuk memberitahukan yang sebenarnya terjadi pada kedua orang tuanya.


"Mama dan Papa harus tahu. Kalau Mas Rendra dan keluarganya sudah membohongi kita selama ini Pah, Mah. Dia sudah menduakan aku," jawab Nindi yang berusaha tetap tegar di hadapan kedua orang tuanya, meski di dalam hatinya menyimpan luka. Karena lelaki yang di jodohkan oleh kedua orang tuanya, telah menduakan dirinya selama ini.


"Apa!"


Kedua orang tuanya Nindi yang mendengar jawaban Nindi, mereka berdua kaget dan langsung menatap tajam ke arah Rendra.


"Apakah yang di katakan oleh Nindi itu benar, Rendra?" tanya Darmawan yang datang menghampiri Rendra. Karena ia ingin memastikan kebenarannya, dari mulut Rendra. Sebab dirinyalah yang berusaha menjodohkan Nindi dengan Rendra.


Rendra yang melihat Darmawan datang menghampirinya, ia pun terpaksa harus memberitahukan yang sebenarnya. Sebab Nindi sudah memberitahukan pada kedua orang tuanya, tentang dirinya yang sudah menduakan Nindi selama ini.


Sebelum menjawab pertanyaan mertuanya. Rendra menghela nafas panjang, dan membuangnya secara kasar.


"Ya____yang di__katakan Nindi benar. Maafkan aku Mah, Pah. Aku sudah menduakan Nindi, tanpa sepengetahuan Nindi dan juga Mama, Papa."


Darmawan yang mendengar jawaban dari Rendra, ia benar-benar murka dan marah kepada Rendra. Darmawan langsung memberikan tamparan di pipi Rendra, dan kemudian memukul Rendra dengan kedua tangannya.


Plak.


Plak.


Big.


Bug.


Bruk.


Rendra tersungkur jatuh ke bawah lantai.


"Berani-beraninya kamu menduakan putriku selama ini," geram Darmawan pada Rendra menantunya, dan ia membuat Rendra tidak bisa mengelak dari pukulan yang ia layangkan.

__ADS_1


Nindi dan mamanya hanya melihat tanpa membantu memisahkan Rendra, yang sedang di pukul oleh Darmawan.


"Maafkan aku, Pah. Aku tahu, aku salah. Karena sudah merahasiakan semua ini, sekali lagi aku minta maaf," ucap Rendra yang meminta maaf pada Darmawan mertuanya.


"Sudah berapa lama kamu menduakan putriku?" tanya Darmawan lagi.


"Wa____waktu se___sebulan pernikahanku dengan Nindi, aku menikah lagi dengan Marsya." Rendra berterus terang, dan menjawabnya dengan suara gugup.


Namira yang mendengar itu, ia memeluk Nindi putrinya. Ia bisa merasakan kesedihan hati Nindi, yang  harus berbagi suami dengan perempuan lain, selama 11 tahun pernikahan mereka berdua. Ia juga menyesal telah ikut menjodohkan Nindi dengan Rendra, yang sudah menduakan putrinya tanpa ia ketahui.


"Maafkan Mama dan Papa, Nak." Namira hanya mampu mengatakan maaf kepada Nindi putrinya.


Nindi menganggukkan kepalanya, ia bisa melihat penyesalan di wajah mamanya, yang sudah salah memilih suami untuk dirinya.


Sedangkan Darmawan ia kembali melayangkan tangannya ke arah Rendra, tapi kali ini Rendra bisa mencegah tangan Darmawan yang akan memukulnya.


"Pah, cukup! Aku sudah mengakui kesalahanku, dan aku mohon sama Papa. Tolong dengarkan ucapanku dulu, kita harus membicarakan semua ini dengan baik-baik. Masalah ini tidak akan selesai. Jika terus seperti ini, Pah. Aku sudah mengatakan dengan jujur, dan aku juga sudah mengakui kesalahanku," ucap Rendra yang berusaha meredam amarah Darmawan mertuanya.


"Aku tidak mau berbicara baik-baik denganmu, aku benar-benar menyesal telah menjodohkan putriku dengan kamu," sahut Darmawan yang menyesal. Karena ia sudah salah memilih suami untuk Nindi putrinya.


"Maafkan aku Pah," lirih Rendra yang meminta maaf lagi pada Darmawan mertuanya.


"Kata maaf yang kamu ucapkan, tidak bisa merubah keadaan. Kamu sudah melukai perasaan putriku, dan kamu juga tidak bisa menepati janjimu ..."


"Aku tahu aku salah, tapi aku ingin membicarakan semua ini dengan baik-baik, Pah." Rendra memotong ucapan Darmawan mertuanya. Karena ia ingin membicarakan semua ini dengan baik-baik, tanpa terjadi keributan di rumahnya.


"Yang di katakan Rendra benar, Pah. Kita harus membicarakan semua ini dengan baik-baik," timpal Namira yang membenarkan ucapan Rendra, yang memotong ucapan Darmawan suaminya.


"Tapi Mah, dia sudah menyakiti perasaan putri kita. Papa tidak mau ...


"Mama tahu, Papa kesal sama Rendra. Tapi masalah ini harus  segera di selesaikan, tidak bisa terus menerus meluapkan kekesalan dengan emosi. Apalagi sampai terdengar oleh kedua cucu kita." Namira segera menyela ucapan Darmawan suaminya. Karena ia tidak mau sampai pertengkaran ini terdengar oleh kedua cucunya, yang sedang tidur di dalam kamar.


"Pah, sudah duduk. Aku tidak mau sampai terdengar keributan di sini, oleh kedua anakku," ujar Nindi yang datang menghampiri Darmawan papanya.

__ADS_1


Dengan wajah yang masih menyimpan kekesalan pada Rendra. Darmawan mengikuti Nindi putrinya, yang mengajaknya duduk. Untuk membicarakan semuanya dengan baik-baik.


"Sekarang Mama tanya sama kamu, Nin. Apakah kamu sudah mendapatkan keputusan yang akan kamu pilih? Setelah mengetahui semuanya?" tanya Namira pada Nindi.


__ADS_2