Madu Mantan Dulu

Madu Mantan Dulu
Bab 29 Kebingungan Hati Nindi


__ADS_3

"Ra, ayo kita pergi ke ruang tamu. Itu Bunda dan Nenek sudah pergi ke ruang tamu, kamu kenapa berdiam diri di sini?" tanya Arsen yang melihat Rara adiknya, tidak mengikuti kepergian Bunda dan neneknya yang sudah pergi lebih dulu ke ruang tamu.


"I____iya, Kak. Ini aku juga mau pergi ke ruang tamu kok," jawab Rara gugup.


"Ayo kita cepat pergi ke sana, pasti Bunda dan Nenek sudah menunggu kita," sambungnya sambil menarik satu tangan Arsen kakaknya, dan mengajaknya pergi ke ruang tamu.


"Iya, Ra. Tapi jalannya pelan-pelan saja, nanti jatuh nangis lagi," ujar Arsen yang mengingatkan Rara. Karena Rara terburu-buru mengajaknya pergi ke ruang tamu.


"Iya," timpal Rara singkat dan melepaskan tangannya, yang memegang tangan Arsen.


"Kamu jangan marah seperti itu, Ra. Ayo kita pergi bersama-sama," kata Arsen sambil memegang tangan Rara, dan mengajaknya pergi menghampiri Bunda dan neneknya, yang menunggu kedatangan mereka berdua di ruang tamu.


Sesampainya mereka berdua di ruang tamu, mereka berdua segera menghampiri Nindi dan Namira yang sedang duduk di ruang tamu. Sedangkan mereka berdua berdiri di hadapan Nindi dan Namira.


"Bunda dan Nenek mau bicara soal apa?" tanya Rara dan Arsen secara bersamaan. Karena mereka berdua penasaran, dengan apa yang akan di bicarakan oleh Bunda dan neneknya.


"Kalian berdua duduk dulu," jawab Nindi yang menyuruh kedua anaknya untuk duduk.


"Sini duduknya di dekat Nenek," ucap Namira sambil melambaikan tangannya ke arah Arsen dan Rara cucunya. Agar kedua cucunya itu duduk di dekatnya.


"Iya, Nek."

__ADS_1


Arsen dan Rara pun segera duduk di dekat Namira. Arsen duduk di samping kiri, sedangkan Rara di samping kanan dan Namira berada di tengahnya.


Nindi yang melihat kedua anaknya sudah duduk di ruang tamu, ia menghela nafas panjang. Sebelum ia memberitahukan semuanya pada kedua anaknya.


"Arsen dan Rara kan, sering menanyakan tentang Mawar yang selalu memanggil Ayah dengan panggilan Papa. Sebenarnya ... Mawar itu anak Ayah juga," ucap Nindi yang memberitahukan tentang Mawar, yang merupakan saudara kedua anaknya.


Degh.


Rara terhenyak mendengar ucapan Nindi, yang memberitahukan hal itu kepadanya dan juga Arsen kakaknya.


"Apa! Ja____jadi kak Mawar itu adalah saudaraku? Dan perdebatan di rumah Omah yang aku dengar itu, pasti karena masalah ini. Aku benci dengan Mawar dan mamanya. Karena kehadiran mereka berdua, membuat Bunda dan Ayah mau berpisah," batin Rara yang kesal dengan Mawar dan juga mamanya.


"Iya, Nak. Maaf, Bunda baru bisa memberitahukan semuanya pada kalian berdua sekarang. Karena Bunda juga belum lama mengetahui tentang itu," jawab Nindi yang meminta maaf pada kedua anaknya, dan ia pun memberitahukan kepada Arsen dan Rara tentang dirinya yang belum lama mengetahui tentang pernikahan Rendra dengan Marsya.


"Jadi keributan yang aku dengar di rumah Omah itu, semuanya benar. Kalau Bunda dan Ayah akan berpisah?" ungkap Rara yang memberitahukan tentang apa yang ia dengar di rumah Gita neneknya.


"Kamu sudah mengetahui itu, Ra?" tanya Namira yang kaget mendengar ucapan Rara. Sedangkan Nindi, ia sudah mengetahui tentang ucapan Rara. Karena ia mendengar pembicaraan Rara, yang mau memberitahukan pada Arsen tentang apa yang Rara dengar di rumah Gita neneknya.


"Iya, Nek. Aku tidak mendengar semuanya, sih. Tapi, aku mendengar ucapan Omah yang bilang. Kalau Bunda dan Ayah akan berpisah. Apakah itu benar, Bun?" jawab Rara sambil melirik ke arah Nindi, dan ia berharap Nindi akan memberitahukan yang sebenarnya.


"Apakah kalian berdua menginginkan Bunda dan Ayah berpisah? Setelah mengetahui semuanya?" Nindi tidak menjawab pertanyaan Rara, tapi ia malah bertanya balik pada kedua anaknya. Sebab ia menginginkan pendapat dari kedua anaknya, meski ia sudah memiliki keputusan yang sudah ia pilih.

__ADS_1


"Tidak ada anak yang menginginkan kedua orang tuanya berpisah, Bun. Sejujurnya, aku kecewa dengan Ayah yang memiliki istri selain Bunda. Apalagi saat Ayah pulang ke rumah bersama Mawar, dari situ aku sudah tidak suka melihat kedekatan Ayah dengan Mawar. Aku hanya berharap, keluarga kita tetap utuh. Jadi aku mohon, Bunda dan Ayah jangan sampai berpisah, biarkan Mawar dan mamanya yang menjauh dari kehidupan kita," jawab Arsen yang berterus terang.


Namira yang mendengar jawaban Arsen, ia memeluk kedua cucunya yang duduk di dekatnya. Karena ia memahami perasaan kedua cucunya, yang tidak menginginkan kedua orang tuanya berpisah.


"Aku juga tidak mau sampai Bunda dan Ayah berpisah, Nek." Rara mengatakan itu dalam pelukan Namira, dan tanpa terasa air mata membasahi pipinya.


"Apakah aku ini ibu yang egois, yang hanya memikirkan perasaanku saja? Kedua anakku tidak menginginkan aku berpisah dengan Mas Rendra, tapi kebohongan Mas Rendra membuat hatiku terluka. Aku sudah yakin dengan keputusanku, tapi keadaan Mas Rendra yang mengalami hilang ingatan membuatku menunda memberikan berkas gugatan perceraian ke pengadilan. Tapi sekarang ini, mendengar jawaban dari kedua anakku membuatku jadi bingung dengan keadaan ini, aku harus bagaimana?" batin Nindi yang bingung dengan semua ini, dia harus mengambil keputusan yang tepat, tanpa menyakiti perasaan kedua anaknya dan perasaannya juga.


"Bunda, aku tidak mau mempunyai saudara tiri seperti kak Mawar. Aku jadi menyesal, menggambar seorang kakak perempuan dan ternyata gambar yang aku buat menjadi kenyataan," sambung Rara sambil melepaskan pelukan dari Namira, dan ia segera menghapus air matanya kemudian ia menundukkan kepalanya. Karena ia jadi teringat dengan gambar yang pernah ia buat, dan ia tunjukkan pada kedua orang tuanya dan juga Arsen kakaknya.


Nindi yang mendengar itu, ia mendekati kedua anaknya yang duduk di dekat Namira mamanya. Nindi berjongkok di depan Mama dan kedua anaknya, sambil memegang tangan kedua anaknya dan berkata, "Bunda sayang kalian berdua, dan Bunda juga mengerti dengan perasaan kalian berdua yang berharap Bunda dan Ayah tetap bersama Tapi ..."


"Aku juga sayang Bunda, dan Ayah. Aku hanya ingin Mawar dan mamanya tidak menggangu hubungan Bunda dan Ayah. Apalagi sekarang ini Ayah tidak ingat dengan siapapun, dan aku berharap Ayah tidak ingat dengan Mawar dan mamanya. Maka dari itu aku mengingatkan Bunda, yang sudah berjanji akan mengajakku dan kak Arsen pergi ke rumah sakit. Agar Ayah bisa mengingat kita, dan tidak mengingat Mawar dan mamanya." Rara sengaja menyela perkataan Nindi yang belum selesai berbicara. Karena menurutnya, ucapan Nindi hanya ingin memberi pengertian kepadanya dan juga Arsen.


"Yang Rara katakan benar, Bun. Ayo kita pergi ke rumah sakit sekarang, jangan sampai kita ke duluan Mawar dan mamanya lagi," timpal Arsen yang membenarkan ucapan Rara, dan ia langsung mengajak Nindi pergi ke rumah sakit.


"Bunda mengerti, dengan apa yang kalian berdua katakan barusan. Tapi semua itu, tidak bisa merubah keadaan. Bagaimanapun juga, Mawar sudah menjadi saudara kalian berdua dan itu berarti ..."


Ting-tong.


Nindi tidak jadi meneruskan ucapannya. Karena mendengar suara bel yang berbunyi.

__ADS_1


__ADS_2