
POV Nindi.
Aku membiarkan Mas Rendra pergi dari rumah, dan tidak bertanya langsung kepadanya. Saat Merlin dan Mawar sudah pergi ke rumah sakit. Apalagi saat Merlin tidak meneruskan ucapannya, yang belum selesai berbicara. Karena di potong oleh Mas Rendra, yang tiba-tiba pulang ke rumah.
Aku memang penasaran, dengan ucapan Merlin yang di potong oleh Mas Rendra. Dan aku bisa saja, bertanya pada Mas Rendra secara langsung. Tapi aku rasa, itu semuanya akan percuma saja. Sebab aku tahu! Kalau Mas Rendra tidak akan memberitahukan semuanya padaku dengan jujur, lebih baik aku mencari tahu dan menyelidiki kebenarannya tanpa harus bertanya kepada Mas Rendra.
Aku sangat berharap sekali, Tomi bisa mendapatkan informasi. Ketika dirinya pergi ke rumah sakit, untuk menyelidiki rahasia Mas Rendra yang tidak aku ketahui.
Saat aku sedang menunggu informasi dari Tomi, sambil memegang handphone. Tiba-tiba handphoneku berdering, dan aku segera menerima panggilan telepon dari Ayu temanku.
"Ada apa Yu?" tanyaku penasaran. Karena tumben sekali, dia menghubungiku jam segini.
"Aku mau mengundang anakmu ke acara ulang tahun anakku, yang akan di adakan minggu besok. Maaf ya Nin, aku mengundangnya lewat telepon," jawab Ayu yang mengundang kedua anakku. Untuk datang ke acara ulang tahun anaknya.
"Oh iya tidak apa-apa kok, Yu. Ingsya Allah, nanti aku dan anakku akan datang ke acara ulang tahun anakmu," sahutku.
"Terima kasih Nin, atas pengertiannya. Sekali lagi aku minta maaf ya, tidak bisa mengundangmu secara langsung, dan aku juga minta maaf. Karena sudah menggangu waktumu,"
"Lebaran masih lama, Yu. Dari tadi bilang maaf terus, kaya sama siapa aja," timpalku yang sedikit bercanda dengan Ayu.
"Hehehe ... pokoknya aku tunggu kedatanganmu dan juga anakmu ke acara ulang tahun anakku. See you," ucap Ayu yang mengakhiri panggilan teleponnya.
Aku yang sudah selesai berbicara dengan Ayu di telepon.
Tring.
Terdengar suara notifikasi pesan dari handphoneku, aku pun segera membuka pesan yang di kirim oleh Tomi.
[Aku sudah berhasil mendapatkan informasinya,]
Tomi mengirimkan pesan teks itu dan juga video, aku yang penasaran dengan video yang di kirim oleh Tomi segera melihatnya tanpa membalas pesan dari Tomi.
Di rekaman video itu. Aku melihat Mas Rendra yang keluar dari kamar rawat Marsya sambil menarik tangan Merlin, hingga membuat Merlin terjatuh ke bawah lantai.
__ADS_1
Aku benar-benar kaget, mendengar ucapan Mas Rendra dan juga Merlin. Ketika aku sudah selesai melihat video yang di kirim oleh Tomi.
Degh.
"Ja___jadi Mawar adalah anaknya Mas Rendra dan Marsya, berarti ini rahasia yang di sembunyikan Mas Rendra selama ini dariku. Dia berhasil menyembunyikan semua ini dariku selama 11 tahun lamanya, dan ternyata bukan cuman aku istri satu-satunya Mas Rendra. Tapi ada Marsya yang baru aku tahu. Kalau dia juga istrinya Mas Rendra," batinku sambil menitikkan air mata. Karena aku baru mengetahui rahasia, yang di tutupi Mas Rendra selama 11 tahun pernikahanku dengannya.
"Mas Rendra sangat pintar sekali menyembunyikan rahasianya, sampai aku tidak mengetahui penghianatan yang dia lakukan selama ini. Kenapa aku tidak pernah curiga dan selalu percaya dengan ucapannya? Ketika Mas Rendra pamit pergi ke luar kota, dan itu semuanya pasti cuman alasannya saja. Agar dia bisa bertemu dengan Marsya dan Mawar. Dan yang aku lihat di mimpiku itu, ternyata bukan cuman sekedar mimpi biasa. Tapi seperti petunjuk dari Allah, agar aku bisa mengetahui kebohongan Mas Rendra selama ini," lirihku yang terlalu percaya dengan ucapan, yang di katakan oleh Mas Rendra.
Aku yakin sekali dengan bukti ini. Mas Rendra tidak bisa mengelak lagi, aku akan menanyakan kejadian 11 tahun yang lalu pada Mas Rendra. Ketika ia sudah pulang ke rumah.
___________
POV Rendra.
Aku begitu menyesal mengajak Mawar tinggal bersamaku. Sehingga membuat dia memberitahukan kepada Nindi, tentang Marsya yang dirawat di rumah sakit kasih ibu. Tapi beruntung Marsya tidak mengatakan apapun pada Nindi, akan tetapi! Kedatangan Merlin ke rumahku mengacaukan suasana hatiku. Karena dia mau memberitahukan kepada Nindi tentang status Mawar, yang merupakan anak kandungku.
Jika sampai Merlin berani memberitahukan kepada Nindi, aku tidak akan menyakitinya saja. Marsya adiknya pun harus merasakannya, meski dia istriku.
Karena aku mencintai Nindi dan kedua anakku, serta Mawar putriku. Tapi tidak sedikitpun aku mencintai Marsya, meski dia istriku juga.
Pernikahanku dengannya tidak pernah aku inginkan, tapi itu semuanya harus terjadi. Karena aku sudah merenggut kesuciannya, sampai dia hamil Mawar. Kejadian 11 tahun yang lalu tidak mau aku ingat lagi, dan berharap rahasia itu tidak sampai ketahuan oleh Nindi istriku.
Tok-tok.
"Masuk," teriakku.
"Ini ada beberapa berkas yang harus di periksa. Sebelum di tanda tangani," ucap Adit yang memberikan berkas kepadaku.
"Iya taruh saja di situ, nanti aku periksa semuanya," sahutku.
"Oh ya Ren, aku mau tahu kabar Marsya. Bagaimana kabarnya?" tanya Adit yang begitu perhatian kepada Marsya. Maka dari itu, aku memberitahukan kepada Nindi. Kalau Mawar itu anaknya Adit. Karena di kantor ini cuman dia yang mengetahui hubunganku dengan Marsya, dan dia juga dekat dengan Mawar. Saat aku tidak bisa menemani Mawar dan Marsya.
"Datang saja ke rumah sakit. Jika kamu mau tahu kabarnya," jawabku ketus sambil tersenyum miring.
__ADS_1
"Aku menanyakan kabar Marsya kepadamu. Karena kamu baru saja menjenguknya, kamu jangan cemburu dengan kedekatanku dengan Marsya ..."
"Ya aku tahu. Kalau kamu dan Marsya itu cuman teman, dan aku tegaskan sekali lagi. Aku tidak pernah cemburu melihat kedekatanmu dengan Marsya istriku," aku segera menyela ucapannya. Karena aku sudah bosan mendengar ucapannya, yang menganggapku cemburu melihat kedekatannya dengan Marsya.
Aku melihat Adit menghela nafas, dan membuangnya secara kasar. Sebelum ia pergi meninggalkan ruanganku, tanpa berpamitan kepadaku.
Beberapa jam kemudian.
Pekerjaanku sudah selesai, dan waktu pulang pun sudah tiba. Aku segera pergi meninggalkan ruanganku, dan pergi menuju mobilku yang terparkir di depan kantor.
"Rendra ..."
Aku mendengar suara teriakan Adit, yang memanggilku. Saat aku akan masuk ke dalam mobil.
"Ada apa?" tanyaku.
"Aku cuman mau bilang kepadamu. Kalau aku mau menjenguk Marsya ke rumah sakit," jawabnya.
"Ya silahkan saja,'' sahutku yang segera masuk ke dalam mobil, dan tidak perduli dengan jawabannya yang mau menjenguk Marsya.
Aku segera menyalakan mesin mobil, dan pergi meninggalkan kantor.
Perjalanan menuju rumah tidak mendapatkan macet, yang begitu panjang. Aku yang sudah sampai di rumah, langsung masuk ke dalam kamar. Karena aku tidak melihat Nindi, yang biasanya selalu menungguku pulang dari kantor.
"Sayang, kamu sakit?" tanyaku yang melihatnya duduk di atas tempat tidur sambil menangis.
Nindi menjawab pertanyaanku dengan menggelengkan kepalanya, aku segera datang menghampirinya.
"Kamu kenapa menangis? Apa yang membuatmu menangis seperti ini, Sayang?" tanyaku lagi.
"Kamu," jawabnya singkat sambil menghapus air matanya, dan kemudian dia menatapku dengan tatapan tajam.
"Apa jangan-jangan! Merlin memberitahukan semuanya pada Nindi. Sehingga membuatnya menangis seperti ini?" batinku yang takut Nindi mengetahui semua rahasiaku.
__ADS_1