
Ketika Rendra sudah keluar dari rumah, kedua orang tuanya Nindi langsung memeluknya.
"Maafkan Papa, Nak. Papa tidak tahu, kalau selama ini Rendra sudah menduakanmu," ucap Darmawan yang meminta maaf kepada Nindi. Karena ia tidak mengetahui tentang Rendra, yang memiliki istri selain Nindi putrinya.
"Mama juga minta maaf, sudah ikut menjodohkan kamu dengan Rendra. Sehingga kamu harus mengalami nasib seperti ini," timpal Namira yang meminta maaf juga pada Nindi.
"Mama dan Papa tidak perlu meminta maaf, dan merasa bersalah seperti itu. Karena dalam hal ini, Mama dan Papa tidak bersalah. Mungkin ini semua sudah menjadi garis takdir yang harus aku jalani," sahut Nindi sambil mengukir senyum manis di wajahnya. Karena ia tidak mau membuat kedua orang tuanya, terus merasa bersalah kepadanya.
"Senyuman manis di wajahmu, itu semuanya demi menutupi kesedihan hatimu. Maafkan Mama, Nak." Namira mengatakan itu di dalam hatinya. Karena ia mengetahui perasaan Nindi, yang tidak mau membuat dirinya dan Darmawan suaminya kecewa dan terus merasa bersalah kepada Nindi.
"Kenapa kamu menyimpan semua ini, dan tidak memberitahukan semuanya pada Papa dan Mama dari dulu?" tanya Darmawan pada Nindi, yang tidak memberitahukan tentang Rendra yang sudah memiliki istri selain Nindi putrinya.
"Nindi juga baru tahu kemarin Pah, Mah. Mas Rendra dan keluarganya, begitu pandai menyembunyikan semua ini dariku. Kalau saja Mas Rendra pulang ke rumah tidak mengajak Mawar, aku tidak akan pernah tahu tentang Mas Rendra yang sudah menduakan aku selama ini," jawab Nindi menjelaskan tentang dirinya, yang belum lama mengetahui tentang pernikahan Rendra dengan Marsya.
"Mawar itu siapa lagi, Nak? Bukannya istri kedua Rendra itu Marsya? Apa Mawar juga istrinya Rendra lagi?" cerca Namira yang belum mengetahui tentang Mawar, yang merupakan anaknya Rendra.
"Mawar itu anak Mas Rendra dan Marsya, Mah. Dan sekarang ini, Marsya tengah hamil anak keduanya Mas Rendra. Jika aku tidak menyuruh Tomi, untuk menyelidiki Mawar yang di ajak pulang oleh Mas Rendra. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah tahu, soal pernikahan Mas Rendra dengan Marsya."
Darmawan yang mendengar jawaban Nindi, ia mengepalkan kedua tangannya dan kemudian berbicara di dalam hatinya, "Aku kira Nindi sudah tahu dari dulu, dan baru sekarang memberitahukan semuanya padaku. Tapi ternyata Rendra dan keluarganya, sudah lama menyembunyikan semua ini dariku. Aku tidak menyangka sama sekali. Kalau mereka semua seperti ini, lihat saja nanti! Akan ku beri pelajaran pada mereka semua, yang telah menyakiti perasaan putriku."
"Keluarga pak Hendri benar-benar keterlaluan, Pah. Dia sudah menyakiti perasaan Nindi, dan menyembunyikan semua ini dari kita. Mama tidak terima, mereka semua bukan menyakiti perasaan putriku saja. Tapi perasaanku juga," ujar Namira yang kesal dengan Hendri ayahnya Rendra dan juga keluarganya.
"Papa pun sama, Mah. Besok urus surat gugatan perceraian kamu, Papa dukung keputusan kamu yang mau bercerai dengan Rendra," sahut Darmawan yang mendukung keputusan Nindi.
"Iya Pah," balasnya.
__ADS_1
"Untuk sementara waktu, Mama mau kamu dan kedua anakmu tidak tinggal di rumah ini dulu. Karena pasti Rendra dan keluarganya akan datang ke sini. Lebih baik kamu tidak perlu bertemu dengan mereka semua, sampai resmi berpisah dengan Rendra," tutur Namira yang menyuruh Nindi pergi dari rumahnya.
"Tapi ..."
"Yang di katakan oleh Mamamu benar, Nin. Sekarang kamu kemasi semua pakaianmu dan juga anak-anakmu, mumpung kedua anakmu masih tidur. Nanti Papa akan menyuruh orang, untuk mengganti kunci pintu rumah ini." Darmawan menyela ucapan Nindi, dan menyuruhnya untuk pergi mengemasi pakaiannya dan juga pakaian kedua anaknya. Karena Darmawan sependapat dengan ucapan Namira istrinya, yang menyuruh Nindi tinggal di rumahnya.
"Iya Pah," sahutnya.
Nindi pun mengikuti ucapan kedua orang tuanya, dan ia segera masuk ke dalam kamarnya. Untuk mengemasi pakaiannya terlebih dahulu, sebelum mengemasi pakaian anaknya.
Saat Nindi sedang mengemasi pakaiannya. Nindi tidak sengaja menyenggol foto pernikahan dirinya dengan Rendra, yang ia taruh di atas meja. Sehingga membuat foto itu terjatuh ke bawah lantai.
Prang.
Suara pecahan bingkai foto, yang terjatuh ke bawah lantai.
Nindi hanya melihat tanpa membersihkan pecahan foto pernikahannya, yang terjatuh ke bawah lantai. Ia tetap melanjutkan mengemasi pakaiannya.
Setelah Nindi selesai mengemasi pakaiannya, ia memanggil Bi Narsih pembantunya. Untuk membersihkan pecahan bingkai foto yang terjatuh di bawah lantai.
"Bi tolong bersihkan pecahan bingkai foto yang terjatuh di kamarku, terus nanti fotonya di buang atau di bakar juga tidak apa-apa," ucapnya.
"Iya Nyonya," sahut Bi Narsih yang segera masuk ke dalam kamar Nindi, untuk membersihkan pecahan bingkai foto yang terjatuh di bawah lantai.
Sedangkan Nindi masuk ke dalam kamar kedua anaknya, untuk mengemasi pakaian kedua anaknya.
__ADS_1
"Bunda kok bajuku di masukin ke dalam koper, memangnya kita mau pergi ke mana?" tanya Arsen yang sudah bangun dari tidurnya. Karena ia mendengar suara Nindi, yang sedang mengemasi pakaiannya.
"Untuk sementara waktu, kita akan menginap di rumah Kakek dan Nenek. Mumpung kak Arsen sudah bangun, jadi kak Arsen bisa pilih pakaian yang mau di bawa ke rumah Kakek dan Nenek," jawab Nindi yang menyuruh Arsen membantunya, mengemasi pakaian yang akan di bawa oleh Arsen.
"Iya Bun."
Arsen pun segera bangun dari tempat tidur, dan memilih beberapa pakaian yang akan di masukkan ke dalam koper. Nindi yang melihat itu, ia memutuskan untuk mengemasi pakaian Rara dan berkata, "Bunda mau memasukan pakaian Rara ke dalam koper dulu, yah."
Arsen menanggapi perkataan Nindi, dengan cara mengagukkan kepalanya.
"Sayang bangun," ucap Nindi yang membangunkan Rara. Ketika ia dan Arsen sudah selesai mengemasi pakaian Arsen dan juga Rara.
"Iya Bun," sahut Rara sambil menguap dan mengucek matanya. Sebelum ia duduk di atas tempat tidurnya.
"Ayo Ra, bangun dari tempat tidurmu. Karena kita mau menginap di rumah Kakek dan Nenek," ujar Arsen yang menyuruh Rara, untuk segera bangun dari tempat tidurnya.
"Kenapa kita harus menginap di rumah Kakek dan Nenek, Kak?" tanya Rara.
"Kata Bunda. Untuk sementara waktu ini, kita menginap di rumah Kakek dan Nenek dulu. Sudah kamu cepat bangun, Kakek dan Nenek sedang menunggu kita di ruang tamu," jawab Arsen.
"Yang di katakan oleh kak Arsen benar, Sayang. Yuk kita turun ke lantai bawah, jangan buat Kakek dan Nenek lama menunggu kita." Nindi pun membenarkan ucapan Arsen, dan mengajak Rara turun ke lantai bawah. Karena kedua orang tuanya sedang menunggu mereka di ruang tamu.
Rara pun segera bangun dari tempat tidurnya, dan mengikuti langkah kaki Bunda dan kakaknya yang akan pergi menemui Kakek dan Neneknya.
Saat mereka semua keluar dari rumah. Rara melihat foto pernikahan kedua orang tuanya, yang berada di tempat sampah.
__ADS_1
"Bunda, itu bukannya foto pernikahan Ayah dan Bunda. Kenapa bisa berada di tempat sampah?" tanya Rara penasaran.
Belum sempat Nindi menjawab pertanyaan Rara. Arsen pun ikut bertanya pada Nindi, "Kenapa Bunda membuang foto itu? Memangnya Bunda sudah tidak sayang sama Ayah lagi?"