
"Sa___salah aku apa, Sayang? Sampai kamu menangis seperti ini?" tanya Rendra dengan gugup. Karena ia takut Nindi mengetahui semua rahasia, yang ia tutupi selama ini.
"Mawar dan Marsya itu siapa kamu, Mas?" jawab Nindi yang menanyakan tentang Mawar dan Marsya pada Rendra suaminya. Meski ia sudah mengetahui rahasia, yang di tutupi oleh Rendra selama ini.
Degh.
"Pasti Nindi sudah mengetahui rahasiaku dari Merlin, aku menyesal sudah memberikan sejumlah uang kepadanya. Tapi dia masih saja berani memberitahukan kepada Nindi," batin Rendra yang geram dengan Merlin. Karena ia menuduh Merlin yang memberitahukan rahasianya pada Nindi.
"Kenapa Mas diam saja? Siapa Mawar dan Marsya itu, Mas?" Nindi kembali bertanya sekali lagi pada Rendra, yang tidak langsung menjawab pertanyaannya. Karena Nindi menginginkan Rendra berkata jujur, tentang semua hal yang di tutupi Rendra selama ini.
"Marsya itu nama mamanya Mawar. Masa kamu sudah lupa? Padahal Mas sudah memberitahukan tentang Mawar padamu. Kalau dia itu ..."
"Anakmu, iyakan!" Nindy menyela ucapan Rendra, yang tidak berkata jujur kepadanya.
Rendra hanya diam, mendengar ucapan Nindi yang menyela ucapannya.
"Aku belum siap menceritakan semua ini pada Nindi, lebih baik aku pergi meninggalkannya," batin Rendra yang memilih pergi meninggalkan Nindi. Karena ia belum siap memberitahukan yang sebenarnya terjadi pada Nindi istrinya.
"Jangan pergi dulu, Mas. Jawab pertanyaanku!" Nindi berusaha mencegah kepergian Rendra, yang akan pergi meninggalkannya.
Rendra tetap melanjutkan langkahnya, yang akan pergi meninggalkan Nindi.
Nindi yang kesal dengan sikap Rendra, yang mengabaikan pertanyaannya. Ia segera mengambil handphonenya, dan memutar rekaman video yang ia dapatkan dari Tomi.
Degh.
"Siapa yang merekam pembicaraanku dengan Merlin?" gumam Rendra di dalam hatinya. Karena ia mendengar suara rekaman video, yang di putar oleh Nindi. Sehingga membuatnya tidak meneruskan langkahnya, yang akan pergi meninggalkan Nindi.
"Aku harap Mas berkata jujur, meski semua itu akan menyakiti perasaanku. Setidaknya, aku bisa mendengar langsung dari suamiku sendiri, tanpa menyuruh orang lain. Untuk menyelidiki rahasia yang Mas tutupi selama 11 tahun pernikahan kita," ucap Nindi yang menginginkan Rendra berkata jujur, dan mau menceritakan semua rahasia yang di tutupi Rendra selama ini.
Rendra menghela nafas berat. Sebelum ia berbalik ke arah Nindi, yang berada di belakangnya.
"Mungkin iniĀ sudah waktunya. Mas harus berkata jujur kepadamu, tentang kejadian sebelas tahun yang lalu. Ayo kita bicara di dalam kamar," sahut Rendra yang mengajak Nindi masuk ke dalam kamarnya. Karena ia akan menceritakan kejadian 11 tahun yang lalu.
__ADS_1
Rendra yang tidak mau mengingat kejadian sebelas tahun yang lalu, kini ia terpaksa mulai mengingat kejadian itu lagi. Saat ia dan Nindi sudah kembali masuk ke dalam kamar.
Rendra pun mulai menceritakan kepada Nindi, tentang pertemuan pertamanya dengan Marsya.
Rendra yang baru sebulan menikah dengan Nindi, ia mendapatkan tugas dari bosnya. Untuk pergi ke luar kota, dan di saat itulah awal mula pertemuan Rendra dengan Marsya.
~Sebelas tahun yang lalu~
Rendra yang seharian penuh melakukan pekerjaan di luar kota, ia datang ke sebuah kafe. Untuk menghilangkan rasa penatnya, dan ia melihat Marsya yang sedang menyanyikan sebuah lagu yang membuatnya tersenyum senang. Karena mendengar suara Marsya yang merdu, dan ia pun datang menghampiri Marsya yang turun dari panggung. Mereka berdua terlibat obrolan ringan, dan kemudian Rendra mengajak Marsya makan bersamanya.
"Aku antar kamu pulang, ini sudah malam," ucap Rendra yang mau memberi tumpangan pada Marsya. Ketika ia dan Marsya sudah selesai makan.
"Tidak usah, Mas. Aku bawa motor sendiri, toh jarak kafe sama rumahku tidak jauh dari sini," sahut Marsya yang menolak ajakan Rendra, yang mau mengantarnya pulang ke rumah.
"Oh ya sudah, kamu hati-hati di jalannya. Aku pulang duluan," pamit Rendra pada Marsya.
Rendra pun segera pergi meninggalkan Marsya, dan pergi menuju mobilnya yang terparkir di depan kafe.
"Kenapa mobil ini tidak bisa menyala? Padahal tadi tidak kenapa-kenapa?" lirih Rendra yang heran dan bingung dengan kondisi mobilnya, yang tidak bisa menyala.
"Mobilnya rusak, dari tadi tidak bisa menyala," jawabnya.
"Ya sudah, mobilnya taruh saja di situ. Biar aku yang mengantar Mas Rendra pulang ke hotel," ujar Marsya yang memberi tumpangan pada Rendra.
"Hehehe, tadinya aku yang mau mengantar kamu pulang. Tapi sekarang, malah aku yang di antar pulang sama kamu," sahut Rendra sambil tertawa. Karena ia akan di antara pulang oleh Marsya, padahal tadi dia yang ingin mengajak Marsya pulang bersamanya.
"Hehe. Ya tidak apa-apa Mas. Aku ambil motornya dulu," pamit Marsya yang segera pergi menuju motornya, yang terparkir di depan kafe. Karena ia mau mengantar Rendra pulang ke hotel.
Di saat mereka berdua akan pergi ke hotel, tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya. Marsya pun menyuruh Rendra, untuk pergi ke rumahnya yang jaraknya tidak jauh dari kafe.
Mereka berdua yang sudah berada di dalam rumah Marsya, yang keadaan rumahnya sangat sepi. Karena orang tua dan saudaranya Marsya sedang tidak ada di rumahnya, mereka semua sedang pergi ke rumah neneknya Marsya.
"Ini Mas handuknya," ucap Marsya yang memberikan handuk pada Rendra. Untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
__ADS_1
"Terima kasih," balasnya.
"Aku ganti baju dulu ya, Mas."
"Iya,"
Rendra pun menunggu Marsya, yang akan berganti baju di dalam kamarnya. Hujan yang tidak berhenti, membuat suasana malam semakin dingin. Pikiran liar Rendra terus merasuk ke dalam pikirannya, entah mulai dari mana? Mereka berdua mulai hanyut dalam keadaan seperti ini. Hingga terjadilah kejadian Rendra merenggut kesucian Marsya.
"Marsya ..." Merlin berteriak memanggil nama Marsya adiknya. Karena saat ia masuk ke dalam kamar Marsya, ia melihat Marsya tidur bersama Rendra.
"Siapa lelaki yang tidur bersamamu?" sambung Merlin yang bertanya pada Marsya, yang sudah bangun dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Marsya dan Rendra yang kaget melihat kedatangan Merlin, membuat mereka berdua tidak ada yang menjawab pertanyaan Merlin. Karena mereka berdua masih kaget dengan keadaan mereka berdua, yang tidak mengenakan pakaian.
"Ibu, Bapak sini." Merlin berteriak memanggil kedua orang tuanya. Karena Marsya dan Rendra tidak menjawab pertanyaannya.
"Kak, jangan panggil ..."
"Ada apa Mer?" tanya Amir ayahnya Marsya dan Merlin, yang datang menghampiri Merlin yang berteriak memanggilnya.
"Astaghfirullah. Marsya apa yang kamu lakukan di rumah ini? Selama bapak tidak ada di rumah?" sambung Amir yang baru melihat kondisi putrinya, yang tidur bersama Rendra yang bukan suaminya. Tapi bukan hanya Amir saja yang kaget, Aryati ibunya Marsya pun kaget.
"Ma____maafkan aku." Marsya hanya mampu mengatakan maaf pada kedua orang tuanya, yang melihat kondisinya seperti ini.
Rendra juga meminta maaf kepada kedua orang tuanya Marsya, dan Merlin kakaknya. Tapi Amir bapaknya Marsya, yang tersulut emosi melihat putrinya tidur bersama Rendra. Ia tidak mau memaafkan Rendra, jika Rendra tidak menikah dengan Marsya putrinya.
Dengan berat hati Rendra bersedia menikah dengan Marsya, dan ia juga memberitahukan tentang statusnya yang sudah mempunyai istri. Kedua orang tuanya Marsya tidak mempermasalahkan hal itu, mereka berdua hanya meminta Rendra bertanggung jawab atas perbuatannya, yang merenggut kesucian Marsya putrinya.
_______
"Dua bulan kemudian. Marsya positif hamil Mawar, dan aku tidak bisa menceraikannya begitu saja. Karena dia sedang mengandung, dan kamu juga sedang mengandung Arsen waktu itu. Jadi aku memutuskan, untuk merahasiakan semua ini darimu. Maafkan aku," ucap Rendra yang sudah selesai menceritakan kejadian 11 tahun yang lalu.
"Kamu hebat sekali, bisa merahasiakan hubunganmu dengan Marsya. Sampai aku tidak tahu selama ini, aku kira cuman aku satu-satunya istrimu tapi nyatanya ..."
__ADS_1
"Cuman kamu istriku yang aku cintai, dan cuman kamu dan anak kita yang aku utamakan. Marsya dan Mawar jarang aku temui, dan mendapatkan perhatian dariku." Rendra segera menyela ucapan Nindi istrinya, yang bersedih mendengar semua rahasia yang di tutupi oleh dirinya selama ini.