
POV Nindi.
Aku kaget mendengar ucapan kedua anakku, yang melihat foto pernikahanku dengan Mas Rendra yang berada di tempat sampah. Karena foto itu, aku yang menyuruh Bi Narsih. Untuk membuangnya, dan bila perlu foto itu di bakar. Tapi Bi Narsih malah membuangnya di tempat sampah, yang berada di depan rumahku. Sehingga membuat kedua anakku yang mau masuk ke dalam mobil, melihat foto itu berada di tempat sampah.
"Kenapa Bunda membuang foto itu?" tanya Rara lagi. Karena aku tadi tidak langsung menjawab pertanyaannya.
"Iya nih, kenapa Bunda malah membuang fotonya?" Arsen pun kembali bertanya kepadaku.
Aku menghela nafas panjang. Sebelum menjawab pertanyaan kedua anakku, belum sempat aku menjawab. Bi Narsih sudah lebih dulu memberitahukan pada kedua anakku.
"Maafkan Bibi Non Rara, dan Den Arsen. Bibi yang sudah membuang foto itu," jawab Bi Narsih yang meminta maaf pada kedua anakku.
Rara dan Arsen yang mendengar jawaban Bi Narsih, mereka berdua yang tadinya mau masuk ke dalam mobil. Kini mereka berdua langsung pergi, sambil berlari menghampiri tempat sampah yang berada di depan rumah.
"Bibi gimana sih, inikan cuman bingkai fotonya saja yang pecah. Kenapa malah di buang sama fotonya juga?" gerutu Arsen yang menyalahkan Bi Narsih.
"Iya nih, Bibi bagaimana sih?" timpal Rara yang ikut menyalahkan Bi Narsih juga.
"Maafin Bibi Non, Den." Bi Narsih kembali meminta maaf pada kedua anakku.
"Jangan menyalahkan Bi Narsih, Sayang. Itu Bunda yang menyuruh Bi Narsih, untuk membuang bingkai dan foto itu," sahutku yang berusaha menjelaskan. Karena aku tidak mau kedua anakku terus menyalahkan Bi Narsih, sebab akulah orang yang menyuruh Bi Narsih.
"Seharusnya bingkainya saja yang di buang, Bun. Jangan fotonya ikut di buang juga," kata Rara, yang sekarang ini ia terlihat marah kepadaku.
"Yang di katakan Rara benar, Bun. Yang di buang itu bingkainya saja, Bunda kan bisa menyimpan foto itu. Jadi foto itu, jangan ikut di buang juga." Arsen pun membenarkan perkataan Rara, dan ia menyuruhku. Untuk menyimpan foto itu.
__ADS_1
Aku terdiam, dan tidak menanggapi ucapan kedua anakku. Karena memang itu salahku, yang menyuruh Bi Narsih membuang foto itu.
"Biarkan saja foto itu di buang ke tempat sampah, foto itu sudah lama. Nanti kita bisa foto lagi, dengan foto yang baru," sahut Mama yang berusaha meredam kekesalan kedua anakku. Karena mereka berdua kesal padaku, sebab akulah yang menyuruh Bi Narsih. Untuk membuang foto pernikahanku dengan Mas Rendra ke tempat sampah, dan bahkan aku menyuruh Bi Narsih membakar foto itu.
"Jangan di buang dan di ganti foto yang baru, Nek. Itu tidak akan sama dengan foto ini, lebih baik di ganti bingkai fotonya saja. Jadi fotonya bisa di simpan lagi," ujar Arsen.
"Yang di katakan kak Arsen benar. Walaupun fotonya sudah lama. Tapi jangan di buang seperti itu dong, Nek. Foto ini memiliki kenangan yang indah antara Bunda dan Ayah, jadi sebaiknya foto ini di simpan. Jangan di buang," timpal Rara yang membenarkan ucapan Arsen, dan ia tidak setuju dengan ucapan Mama.
Rara yang memegang foto itu, kini ia segera menyimpan foto itu ke dalam tas yang sedang ia pakai.
"Andai saja kedua anakku bisa mengerti dengan perasaanku, yang tidak bisa menyimpan atau melihat foto itu lagi. Karena hubunganku dengan Mas Rendra, tidak lama lagi akan berakhir di meja hijau. Aku sudah mantap dengan keputusan ini, dan berharap kedua anakku bisa menerima keputusanku," batinku yang berharap kedua anakku bisa menerima keputusan, yang sudah aku pilih.
"Maafin Bunda yah, Nak. Karena tidak menyimpan foto itu, dan malah menyuruh Bi Narsih membuangnya. Sekali lagi Bunda minta maaf yah," ucapku yang meminta maaf pada kedua anakku.
"Iya Bun," sahut Rara dan Arsen secara bersamaan.
"Foto ini biar Rara saja yang menyimpannya, Bun. Yuk kak, kita masuk ke dalam mobil," kata Rara sambil menarik tangan Arsen, dan mengajaknya masuk ke dalam mobil.
Rara dan Arsen masih terlihat kesal padaku. Karena masalah foto itu, dan membuat mereka berdua terdiam sepanjang perjalanan menuju rumah kedua orang tuaku. Aku jadi merasa bersalah, dan menyesal telah membuang foto pernikahanku dengan Mas Rendra. Sehingga membuat kedua anakku mendiamkan aku seperti ini.
_________
Sesampainya di rumah Mama dan Papa, kedua anakku langsung masuk ke dalam kamarku. Mama yang melihat itu, mengusap punggungku dan berkata, "Sabar ya, Nin. Mereka berdua belum mengerti dengan keadaanmu, nanti kita bicara dengan mereka berdua secara pelan-pelan. Semoga saja kedua anakmu bisa mengerti,"
"Iya Mah,'' balasku.
__ADS_1
"Sudah kamu jangan bersedih seperti itu. Sebaiknya kamu juga masuk ke dalam kamar, untuk ikut beristirahat bersama kedua anakmu. Mama mau menyuruh Bi Siti, untuk menyiapkan makan malam," ucap Mama yang menyuruhku, untuk masuk ke dalam kamarku. Sebelum Mama pergi meninggalkanku.
Ku anggukan kepala, dan melangkah masuk ke dalam kamar. Akan tetapi, saat aku akan membuka pintu kamar. Aku mendengar pembicaraan antara Arsen dan Rara di dalam kamarku.
"Kamu jangan bersedih, Ra. Bunda kan sudah meminta maaf sama kita, kamu jangan marah terus sama Bunda. Cuman gara-gara foto pernikahan Bunda dan Ayah, yang di buang Bunda ke tempat sampah," ucap Arsen sambil menghapus air mata Rara.
"Apakah benar? Rara bersedih. Karena masalah foto itu?" batinku.
Aku pun mengurungkan niatku yang mau masuk ke dalam kamar. Karena aku ingin mengetahui penyebab Rara bersedih, dan aku juga ingin mendengar pembicaraan kedua anakku tanpa mereka ketahui.
"Rara memang kesal sama Bunda, Kak. Karena Bunda menyuruh Bibi membuang foto itu ke tempat sampah. Tapi ... bukan cuman masalah itu saja yang membuat Rara kesal, Kak." Rara menggantungkan ucapannya, dan ia menundukkan kepalanya ke bawah.
"Terus masalah apa lagi memangnya, Ra?" tanya Arsen penasaran.
"Ada yang belum kak Arsen ketahui, saat kita berada di rumah Omah ..."
"Memangnya apa, Ra? Coba kamu ceritakan sama kakak." Arsen memotong jawaban Rara, yang belum selesai berbicara. Karena ia menginginkan Rara, agar segera menceritakan semua itu kepadanya.
"Bagaimana Rara mau menceritakan semuanya? Kalau kak Arsen malah memotong ucapanku," sahut Rara sambil melipat kedua tangannya di atas perut.
"Hehehe... Maaf, Ra. Sudah kamu cepat ceritakan, kak Arsen janji tidak akan memotong ucapanmu lagi, dan akan mendengarkan semuanya." Arsen mengatakan itu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Baiklah, aku akan menceritakan semuanya. Saat aku pergi mengambil air minum ke dapur Omah, aku tidak sengaja mendengar ucapan Omah yang bilang. Kalau Bunda dan Ayah akan berpisah,"
Degh.
__ADS_1
"Ja____jadi Rara mendengar ucapan itu," batinku yang kaget mendengar ucapan Rara.
Aku pikir, Rara beneran tidak mendengar itu. Tapi ternyata dia berpura-pura tidak mendengarnya.