Madu Mantan Dulu

Madu Mantan Dulu
Bab 15 Bertemu Marsel lagi


__ADS_3

"Astaghfirullah. Pasti Mas Rendra akan mengetahui keberadaanku yang ada di sini," batin Nindi yang baru menyadarinya. Saat ia melihat mobil Rendra, yang berhenti di depan rumah Marsya. Karena Rendra pasti akan mengenali mobilnya, yang berhenti tidak jauh dari rumah Marsya.


"Tante aku pamit mau pergi, menghampiri Papaku dulu. Kalau Tante mau mampir ke rumah, ayo bareng sama aku," ajak Mawar pada Nindi.


"Tante ..."


Deringan ponsel milik Nindi menghentikan ucapannya. Karena ia melihat panggilan telepon dari mamanya.


"Astaghfirullah. Mama dan Papa pasti sedang menungguku di rumah," batin Nindi yang baru teringat dengan kedua orang tuanya, yang berada di dalam rumahnya.


"Tante, kenapa? Mau ikut bareng sama aku tidak?" tanya Mawar pada Nindi, yang belum sempat menjawab pertanyaannya.


"Maaf, lain waktu saja yah. Tante harus segera pulang ke rumah, terima kasih ya Mawar. Karena kamu mau di ajak berbicara dengan Tante di sini," jawab Nindi yang tidak bisa pergi ke rumah Mawar. Karena ia teringat dengan kedua orang tuanya, yang sedang menunggunya.


"Iya sama-sama Tante," balasnya. Sebelum turun dari mobil Nindi.


"Oh iya! Kamu jangan bilang sama Mama dan Papamu serta Tante Merlin, yah. Kalau Tante mengajak kamu berbicara di sini," kata Nindi yang mengingatkan Mawar. Sebelum Mawar turun dari mobilnya. Karena ia tidak mau sampai Rendra dan Marsya serta Merlin, mengetahui tentang pembicaraannya dengan Mawar.


"Tenang saja, Tante. Aku tidak akan memberitahukan pada siapapun, kalau begitu aku pamit pergi ke rumah dulu ya Tante," sahut Mawar yang berpamitan dengan Nindi, ia pun segera keluar dari dalam mobil Nindi.


"Dah Tante," sambungnya sambil melambaikan tangannya ke arah Nindi.


Mawar pun segera pergi menghampiri mobil Rendra, yang belum keluar dari dalam mobilnya.


"Ayo Mang, kita pulang ke rumah." Nindi menyuruh Mang Narno, untuk segera pergi dari sini. Selain kedua orang tuanya, yang sedang menunggu kedatangannya di rumah.


"Iya Nyonya." Mang Narno pun segera menyalakan mesin mobilnya.


Akan tetapi, saat mobil yang di kendarai oleh Mang Narno akan pergi meninggalkan rumah Marsya. Nindi melihat orang yang keluar dari dalam mobil Rendra. Karena Mawar dari tadi, terus mengetuk pintu mobilnya.


"Ternyata yang keluar dari mobil Mas Rendra bukanlah dia, tapi adiknya Yoga. Pantas saja, saat aku sampai di depan rumah Ibu tidak melihat mobil Mas Rendra, ternyata mobilnya di pinjam Yoga. Tapi ...


Mau apa Yoga datang ke rumah Marsya?" batin Nindi yang bertanya pada dirinya sendiri. Karena ia penasaran dengan Yoga adiknya Rendra, yang datang ke rumah Marsya.


Nindi hanya bisa penasaran saja, tanpa bisa menyelidiki semua yang belum ia ketahui selama ini. Karena ia tidak bisa pergi ke rumah Marsya, dan berbicara dengannya secara langsung. Sebab kedua orang tuanya, sedang menunggu kedatangan Nindi di rumahnya.


Perjalanan menuju rumah pun sedikit terhambat. Karena mobil yang di kendarai Mang Narno tidak sengaja menyerempet anak kecil, yang menyebrang jalan tidak hati-hati.

__ADS_1


Bruk.


"Ada apa Mang?" tanya Nindi yang kaget. Karena Mang Narno tiba-tiba saja mengerem mobil.


"Maaf Nyonya, itu di depan ada anak kecil yang tidak sengaja saya serempet Nyonya," jawab Mang Narno.


Nindi yang mendengar itu, ia segera keluar dari dalam mobilnya. Untuk menolong anak kecil itu.


"Hiks, hiks."


Terdengar suara isak tangis anak kecil itu, yang mengalami sedikit luka di bagian lengan dan kakinya.


"Adek. Tante minta maaf, yuk kita pergi berobat ke ..."


"Alvin ..."


Nindi menghentikan ucapannya, dan segera menengok ke arah suara orang yang berteriak memanggil Alvin. Karena suara teriakannya itu tidak asing lagi baginya.


"Marsel ..." lirih Nindi yang bertemu kembali dengan Marsel mantan kekasihnya.


"Kamu tidak apa-apa Vin?" tanya Marsel pada Alvin.


"Maafkan supirku, Sel. Karena tidak berhati-hati mengendarai mobilnya, sehingga membuat anakmu terluka. Ayo kita bawa anakmu pergi ke rumah sakit terdekat," ucap Nindi yang meminta maaf pada Marsel, dan mengajak anaknya berobat.


"Kamu tidak perlu meminta maaf, Nin. Ini juga kesalahan Alvin. Karena dia langsung menyeberang jalan, tanpa menengok ke arah kiri dan kanan dulu. Aku bawa obat P3K, jadi tidak usah di bawa ke rumah sakit, " sahut Marsel yang menolak ajakan Nindi, yang mengajak anaknya berobat ke dokter.


"Ini nomor teleponku. Jika terjadi sesuatu dengan anakmu, kamu hubungi saja nomor itu." Nindi memberikan kartu namanya, yang sudah ada nomor teleponnya kepada Marsel. Ia juga memberikan beberapa lembar uang kepada Alvin, sebelum ia masuk ke dalam mobil.


"Nin tidak ..."


"Tolong di terima, Sel. Jangan di tolak,'' kata Nindi yang memotong ucapan Marsel. Setelah mengatakan itu, ia berpamitan pergi kepada Marsel.


_________


Sesampainya Nindi di rumahnya, kedua orang tuanya sedang menunggu kedatangan dirinya di ruang tamu.


Nindi yang melihat itu, ia segera datang menghampiri kedua orang tuanya untuk bersalaman.

__ADS_1


"Maaf lama, Mah. Pah," ucapnya.


"Iya gak apa-apa, kok. Oh iya, ada yang mau Mama dan Papa tanyakan padamu," sahut Namira mamanya Nindi, yang ingin bertanya pada Nindi yang baru saja sampai di rumah.


"Mama mau bicara soal apa?" tanya Nindi penasaran.


"Kemarin malam itu, saat Mama dan Papa melewati jalan rumah mertuamu. Mama dan Papa melihat Rendra berada di depan rumah, yang jaraknya tidak jauh dari rumah mertuamu. Apakah kamu dan Rendra berencana pindah ke rumah itu?" jawab Namira yang menanyakan tentang Rendra, yang berada di rumah Marsya.


Degh.


"Kenapa bisa, Mama dan Papa melihat Mas Rendra masuk ke rumah Marsya? Apakah aku harus memberitahukan yang sebenarnya pada kedua orang tuaku?" batin Nindi yang kaget mendengar ucapan Namira mamanya.


"Kamu kenapa diam saja, Nin? Itu rumah kalian berdua bukan?" tanya Namira sekali lagi sambil menepuk tangan Nindi, yang duduk di dekatnya.


Nindi yang mendengar itu, ia kaget dan berkata, "Haah!"


"Di tanya bukannya di jawab yang benar, ini malah kayak orang kaget seperti itu?" ujar Darmawan papanya Nindi.


"Itu rumah kalian berdua, apa rumah orang lain?" timpal Namira yang kembali bertanya. Karena Namira ingin mengetahui rumah, yang ia dan suaminya lihat kemarin malam.


"Itu rumah Marsya istrinya Mas ..."


"Nenek, Kakek. " Rara dan Arsen berteriak memanggil kedua orang tuanya Nindi, dan membuat Nindi menghentikan ucapannya.


"Eh, cucu Nenek dan Kakek sudah datang."


Namira dan Darmawan menyambut kedatangan kedua cucunya, yang datang menghampirinya. Rendra yang datang bersama kedua anaknya, ia pun menghampiri kedua mertuanya untuk bersalaman.


Mereka semua pun terlibat obrolan ringan, dan pertanyaan Namira dan Darmawan belum sempat di jawab oleh Nindi.


"Sayang, ini sudah waktunya kalian berdua tidur siang. Sana masuk ke kamar," titah Nindi pada kedua anaknya, yang terlihat sudah mengantuk.


"Iya Bun," sahut Rara dan Arsen secara bersamaan, dan mereka berdua segera pergi ke dalam kamarnya.


"Rendra. Semalam itu Papa dan Mama habis melewati jalan arah rumah orang tuamu, dan tidak sengaja melihat kamu masuk ke dalam rumah, yang jaraknya tidak jauh dari rumah orang tuamu. Apakah kamu dan Nindi akan berencana pindah ke rumah itu?" tanya Darmawan. Ketika kedua cucunya sudah masuk ke dalam kamar.


"Itu rumah kalian berdua, bukan sih? Soalnya Mama lihat kamu bisa membuka pintu rumah itu? Apakah itu rumah baru kamu dan Nindi?" timpal Namira yang ikut bertanya juga kepada Rendra.

__ADS_1


Degh.


"Apa? Mama dan Papa melihatku di rumah Marsya? Bagaimana ini? Tidak mungkin aku memberitahukan yang sebenarnya," batin Rendra yang kaget, mendengar pertanyaan dari kedua mertuanya.


__ADS_2