
Nindi yang sedang mendengar pembicaraan kedua anaknya, yang sedang berbicara di dalam kamar. Deringan ponsel miliknya, membuat kedua anaknya mengetahui keberadaan Nindi yang berada di dekat pintu kamar.
"Bunda ..." Rara kaget melihat Nindi. Karena ia takut Nindi mendengar pembicaraannya dengan Arsen kakaknya.
"Kenapa Bunda ada di situ?" tanya Rara.
"Bunda mau ikut beristirahat bersama kalian berdua," jawabnya.
"Itu handphone Bunda dari tadi berdering terus. Kenapa tidak di angkat, Bun?" Arsen pun bertanya pada Nindi. Karena Nindi tidak menerima panggilan telepon, yang dari tadi terus berdering.
"Iya, Sayang. Ini baru mau Bunda angkat," sahut Nindi yang menjawab pertanyaan Arsen sambil tersenyum tipis.
Nindi yang tadinya, tidak mau menerima panggilan telepon dari Rendra. Ia pun terpaksa menerima panggilan teleponnya, sebab kedua anaknya mendengar deringan ponsel miliknya yang terus berdering.
"Halo Bu Nindi, ini saya pak RT Umar, mau memberitahukan tentang pak Rendra suaminya Bu Nindi, yang mengalami kecelakaan di dekat jalan arah rumah orang tuanya, dan sekarang ini mau dibawa ke rumah sakit," ucap pak RT Umar yang menghubungi Nindi dengan menggunakan handphone milik Rendra, dan pak RT Umar langsung memberitahukan pada Nindi, tentang kecelakaan yang menimpa Rendra.
Degh.
"Innalilahi. Mas Rendra mengalami kecelakaan, saat dia mau pulang ke rumah orang tuanya," batin Nindi yang kaget mendengar kabar Rendra dari pak RT Umar.
"Bu Nindi cepat datang ke rumah sakit ya. Soalnya keluarga pak Hendri sedang tidak ada di rumah, makanya saya menghubungi Bu Nindi," sambung pak RT Umar. Karena Nindi tidak menanggapi ucapannya.
"Iya pak, terima kasih atas informasinya. Nanti saya akan pergi ke rumah sakit," sahut Nindi. Sebelum ia mematikan panggilan telepon dari pak RT Umar yang menghubunginya.
"Siapa yang sakit, Bun?" tanya Rara dan Arsen secara bersamaan. Karena mereka berdua mendengar ucapan Nindi, yang akan pergi ke rumah sakit.
"Apakah aku harus memberitahukan pada kedua anakku tentang kondisi ayahnya, yang mengalami kecelakaan?" batin Nindi yang bingung menjawab pertanyaan anaknya.
"Bunda kok, diam saja. Emangnya siapa yang sakit?" Arsen pun ikut bertanya. Karena Nindi tidak menjawab pertanyaan Rara adiknya.
"Ayah mengalami kecelakaan, dan sekarang berada di rumah sakit," jawab Nindi yang akhirnya memutuskan, untuk berterus terang pada kedua anaknya.
"Ayah ..."
Arsen dan Rara kaget mendengar kabar ayahnya, yang mengalami kecelakaan. Air mata pun membasahi pipi mereka berdua, yang bersedih mendengar kabar ayahnya yang mengalami kecelakaan.
"Ayo Bun, kita pergi ke rumah sakit sekarang juga. Aku ingin melihat keadaan Ayah," ujar Rara yang merengek, meminta Nindi mengajaknya pergi ke rumah sakit.
__ADS_1
"Iya, Bun. Aku juga ingin melihat keadaan Ayah," timpal Arsen.
"Iya, Sayang. Nanti kita pergi ke rumah sakit, untuk menengok keadaan Ayah yang ..."
"Sekarang Bunda! Aku maunya sekarang pergi ke rumah sakitnya, tidak mau nanti." Rara menyela ucapan Nindi. Karena ia bersikeras ingin segera pergi ke rumah sakit, sekarang juga.
"Iya, kita pergi sekarang. Tapi pamit dulu sama Kakek dan Nenek dulu yah," ucap Nindi yang menuruti keinginan anaknya.
Kedua anaknya Nindi menganggukkan kepalanya, pertanda mereka berdua setuju dengan ucapan Nindi.
Mereka semua pun segera keluar dari kamar, dan pergi menghampiri kedua orang tuanya Nindi untuk berpamitan.
Tok-tok.
Nindi mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya. Karena ia mau berpamitan terlebih dahulu pada kedua orang tuanya, sebelum pergi ke rumah sakit.
"Kenapa kalian tidak beristirahat? Apakah dua cucu Nenek ini sudah lapar?" tanya Namira pada Nindi dan kedua anaknya, yang mengetuk pintu kamarnya.
"Aku dan anak-anak mau pamit pergi ke rumah sakit, Mah." Nindi yang menjawab pertanyaan mamanya.
"Ayahku mengalami kecelakaan, Nek. Aku mau pergi ke rumah sakit, untuk melihat keadaan Ayah. Nenek mau ikut pergi bersama kita tidak?" jawab Arsen yang memberitahukan tentang ayahnya, yang mengalami kecelakaan pada neneknya. Dan ia pun mengajak Namira neneknya pergi ke rumah sakit.
"Innalilahi. Apakah benar itu, Nin?"
"Iya Mah, Mas Rendra mengalami kecelakaan di dekat jalan arah rumah orang tuanya," sahut Nindi menjelaskan.
Namira yang mendengar itu, ia menarik tangan Nindi. Agar menjauh dari kedua anaknya.
"Kamu kenapa memberitahukan tentang kecelakaan Rendra pada kedua anakmu, Nin? Toh kecelakaan itu terjadi di dekat jalan rumah orang tuanya, pasti orang tuanya Rendra dan juga istri keduanya akan mengurusinya," ucap Namira pelan. Karena ia tidak mau sampai kedua cucunya mendengar ucapannya. Sebab ia tidak mau Nindi dan kedua anaknya bertemu dengan Rendra dan juga keluarganya, ia masih sakit hati dengan Rendra dan juga keluarganya yang sudah menutupi pernikahan Rendra dengan Marsya.
"Orang tuanya Mas Rendra sedang tidak ada di rumahnya, Mah. Tadi yang menghubungiku pak RT Umar, dan kemungkinan pak RT Umar tidak mengetahui tentang Marsya yang menjadi istrinya Mas Rendra juga," tutur Nindi menceritakan semuanya pada Namira mamanya.
"Oh begitu, ya sudah Mama ikut pergi bersama kalian. Papamu sedang beristirahat di dalam kamar," sahut Namira yang memutuskan ikut pergi bersama Nindi dan kedua anaknya.
"Ayo Sayang, kita pergi ke rumah sakit," sambung Namira yang datang menghampiri kedua cucunya.
"Nenek mau ikut pergi ke rumah sakit juga?" tanya kedua anaknya Nindi secara bersamaan.
__ADS_1
"Iya, yuk kita pergi sekarang," balasnya.
Mereka semua pun segera pergi ke rumah sakit, untuk melihat keadaan Rendra yang mengalami kecelakaan.
__________
Sesampainya di rumah sakit.
Nindi dan kedua anaknya serta Namira mamanya, mereka semua segera pergi ke ruang IGD. Untuk melihat Rendra yang sedang di tangani oleh dokter.
Akan tetapi, saat mereka semua akan sampai di depan pintu ruang IGD. Mereka semua melihat Marsya dan Mawar, yang sedang menunggu Rendra keluar dari ruang IGD. Sehingga membuat Nindi dan kedua anaknya menghentikan langkah kakinya, mereka tidak jadi meneruskan perjalanan menuju ruang IGD. Sedangkan Namira yang tidak mengenal Marsya dan Mawar, ia tetap melangkah pergi menuju ruang IGD.
"Bun, kok di situ ada kak Mawar sih? Bukannya kak Mawar itu sudah pulang ke rumahnya? Apa jangan-jangan! Papanya juga sedang dirawat di rumah sakit ini?" cerca Rara yang bertanya pada Nindi.
"Yang kamu katakan benar, Nak." Nindi mengatakan itu di dalam hatinya, tanpa memberitahukan yang sebenarnya pada kedua anaknya.
Belum sempat Nindi menjawab pertanyaan Rara. Namira sedikit berteriak, memanggil Nindi dan kedua anaknya yang tidak mengikutinya pergi ke ruang IGD.
"Kalian semua kenapa berhenti di situ? Ayo sini," ucapnya sambil melambaikan tangannya, ke arah Nindi dan kedua cucunya.
"Iya Mah," sahut Nindi.
"Ayo Sayang, kita pergi ke sana," sambung Nindi yang mengajak kedua anaknya pergi ke ruang IGD.
Kedua anaknya Nindi, menanggapi ajakan Nindi dengan cara mengagukkan kepalanya. Dan mereka berdua tidak menanyakan lagi tentang Mawar, yang berada di ruang IGD bersama Marsya mamanya.
Saat Nindi akan sampai di depan pintu ruang IGD. Dokter dan suster keluar dari dalam ruang IGD.
"Dengan keluarga pasien Rendra Anggara Atmajaya?" ucap suster yang bertanya pada mereka semua.
"Iya sus," sahutnya.
"Saya mau berbicara dengan istrinya. Siapa di sini istrinya?" tanya Dokter Erdianto yang menangani Rendra.
"Saya Dok," jawab Nindi dan Marsya secara bersamaan.
"Loh, kok mamanya Mawar mengaku sebagai istrinya Ayah sih?" tanya Rara dan Arsen yang mendengar jawaban Marsya, yang mengaku sebagai istri dari ayahnya.
__ADS_1