Madu Mantan Dulu

Madu Mantan Dulu
Bab 14 Penasaran


__ADS_3

POV Nindi.


"Mang Narno tolong berhenti sebentar di sini," ucapku yang menghentikan mobil yang sedang di kendarai oleh Mang Narno supirku. Karena aku melihat Mawar dan Merlin berada di luar rumah, yang jaraknya tidak jauh dengan rumah ibu mertuaku.


"Iya Nyonya," sahutnya yang menuruti perintahku.


Aku terus memperhatikan mereka berdua di dalam mobilku, ingin rasanya menanyakan itu pada mereka secara langsung.


Apakah rumah itu adalah tempat tinggal mereka berdua selama ini?


Tapi aku rasa ...


Mereka berdua tidak akan mengatakan dengan jujur padaku. Sepertinya, aku harus kembali meminta bantuan kepada Tomi. Untuk menyelidiki tempat tinggal Marsya dan Mawar selama ini.


Aku segera mengetik pesan ke nomor telepon Tomi, dan memberinya tugas. Untuk menyelidiki tempat tinggal Marsya dan Mawar selama ini.


[Siap bos,]


Itu isi balasan pesan dari Tomi, ia lagi-lagi mau membantuku.


Saat aku akan menyuruh Mang Narno melanjutkan kembali perjalanan menuju rumah, tiba-tiba saja handphoneku berdering. Aku pun mengurungkan niatku itu, aku memilih menerima panggilan telepon dari Mama terlebih dahulu. Sebelum aku pergi dari sini. Karena aku ingin melihat Mawar dan Merlin, yang masih berada di depan rumah itu.


"Halo Mah, ada apa?" tanyaku.


"Kamu dan anak-anak lagi di mana? Ini Mama dan Papa sudah berada di rumahmu," jawab Mamaku yang menanyakan keberadaanku dan anak-anak.


"Aku dan anak-anak habis dari rumah ibunya Mas Rendra, Mah. Ini aku lagi di jalan arah mau pulang, tapi anak-anak sama Mas Rendra masih di sana. Mama dan Papa istirahat saja di rumah. Sebentar lagi aku akan sampai rumah," sahutku menjelaskan.


"Ya sudah, kamu hati-hati di jalannya," ucap Mama sebelum mengakhiri panggilan teleponnya.


"Mang Narno, ayo kita pergi ..."

__ADS_1


Aku menggantungkan ucapanku. Karena aku melihat sebuah mobil, yang berhenti di depan rumah itu.


"Kita mau langsung pulang ke rumah Nyonya? Apa pergi ke rumah mertua Nyonya lagi?" tanya Mang Narno kepadaku. Karena aku tadi, tidak meneruskan ucapanku.


"Tunggu di sini dulu, Mang. Nanti kita perginya," jawabku yang menyuruh Mang Narno, untuk tetap berhenti di sini.


Karena aku melihat Mawar dan Merlin yang berada di luar rumah itu, mereka berdua langsung berlari menghampiri mobil yang berhenti tepat di depan rumah itu.


"Marsya ..."


Aku kaget melihat Marsya yang turun dari mobil, dan itu berarti! Rumah itu adalah rumahnya.


Aku menghela nafas panjang, ini semua membuatku benar-benar tidak habis pikir dengan Mas Rendra dan juga ibunya. Lagi-lagi masih ada yang di tutupi oleh mereka berdua kepadaku. Kalau selama ini, tempat tinggal Marsya itu dekat dengan rumah mertuaku.


Pantas saja selama ini Mas Rendra sering pergi ke rumah orang tuanya, itu semua pasti cuman alasannya. Agar dia bisa pergi ke rumah Marsya, toh jarak rumahnya tidak jauh dari rumah orang tuanya.


Semua ucapan Mas Rendra yang bilang kepadaku, itu semuanya hanya sebuah kebohongan yang diucapkannya. Apalagi saat Mas Rendra bilang jarang bertemu dengan Marsya dan Mawar. Pasti semua itu, hanya ingin membuatku. Agar tetap percaya dengan semua ucapannya, yang penuh dengan kebohongan. Dan ucapan Mas Rendra yang bilang cuman aku wanita yang ia cintai, pasti semua itu tidak benar.


Karena buktinya selama ini, pernikahan Mas Rendra dengan Marsya baik-baik saja. Apalagi sekarang ini, Marsya tengah mengandung anak keduanya Mas Rendra.


Kenapa aku tidak pernah menyadari itu dari dulu? Bahwa selama ini Mas Rendra dan keluarganya,  sudah merahasiakan semua ini dan membohongiku.


Kini aku tidak akan percaya lagi dengan semua, yang di ucapkan oleh Mas Rendra dan juga keluarganya.


"Mang tunggu di sini yah, aku mau pergi ke rumah itu dulu," ucapku yang berpamitan pada Mang Narno. Karena aku memutuskan pergi ke rumah Marsya, sebab aku ingin berbicara dengannya. Meski aku tahu, kalau dia itu baru pulang dari rumah sakit. Tapi hatiku ini juga sakit, melebihi rasa sakit yang ia rasakan. Karena lagi-lagi,  aku baru mendapatkan kenyataan yang selama ini di tutupi oleh Mas Rendra dan keluarganya.


"Iya Nyonya," sahutnya.


Aku pun segera turun dari mobil, dan pergi ke rumah Marsya. Aku yang sudah sampai di depan rumahnya, segera menekan bel yang ada di rumahnya.


Ting-tong.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, pintu pun terbuka.


"Tante Nindi kok tahu rumahku di sini?" tanya Mawar padaku.


Ternyata benar, kalau rumah ini adalah rumahnya.


"Oh, jadi ini rumah kamu?" jawabku yang bertanya balik kepadanya.


"Iya, Tante. Ayo masuk ke dalam, mamaku baru pulang dari rumah sakit." Mawar mempersilahkan aku, untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Sepertinya, aku harus berbicara dengan Mawar terlebih dahulu. Karena dia pasti akan jujur kepadaku," batinku yang mendapatkan ide. Sebelum berbicara dengan Marsya di dalam rumahnya.


"Mawar, Tante mau mengajakmu berbicara di sana," aku menunjuk ke arah mobilku, yang terparkir tidak jauh dari rumahnya.


"Iya boleh Tante, aku bilang dulu sama Mama dan Tante Mer yah."


"Tante cuman mau berbicara sebentar saja, kok. Jadi kamu tidak perlu bilang," aku segera mencegah Mawar yang akan masuk ke dalam rumahnya, dan mengajaknya masuk ke dalam mobilku.


Di dalam mobil, aku langsung bertanya dengan inti tujuanku.


"Apakah selama ini Papamu jarang bertemu denganmu dan juga Mamamu?"


"Ya benar Tante, aku juga tidak tahu. Kenapa Papaku jarang menemuiku dan Mama? Padahal menurutku, rumah Papa dan Tante tidak jauh dari sini. Hanya Opah Hendri dan Omah Gita dan saudara-saudara Papa, yang selalu datang ke rumah dan mengajakku bermain. Aku juga bisa bertemu dengan Papa cuman di rumah Omah Gita, itu pun tidak lama. Papa jarang sekali menginap di rumahku, aku harus merengek dulu meminta Papa tidur bersamaku, baru di turuti kemauanku," jawabnya sambil menundukkan kepalanya. Aku yang mendengar jawabannya, bisa melihat butiran kecil yang keluar dari matanya, yang bersedih menceritakan semuanya kepadaku.


"Jadi Mas Rendra berkata jujur kepadaku, tentang dirinya yang jarang bertemu dengan Marsya dan Mawar. Tapi kenapa dia masih mempertahankan pernikahannya, dengan Marsya selama ini? Jika Mas Rendra  memang tidak pernah mencintainya, harusnya Mas Rendra bisa menceraikan Marsya," batinku yang bertanya-tanya tentang semua, yang belum aku ketahui.


"Maaf Mawar, pertanyaan Tante sudah membuatmu menangis seperti ini," kataku sambil mengusap air matanya.


"Kenapa Tante menanyakan itu padaku?" tanyanya padaku.


"Tante hanya ingin tahu saja. Soalnya ..."

__ADS_1


"Itu mobil Papa Tante," ucapan Mawar menghentikan ucapanku. Karena Mawar menunjuk ke arah mobil Mas Rendra, dan aku juga melihat mobil Mas Rendra yang berhenti di depan rumah Marsya.


Pasti Mas Rendra datang ke sini, mau menjenguk Marsya yang baru pulang dari rumah sakit.


__ADS_2