
"Kamu di sini saja, Nin. Biar Mama yang membuka pintunya," ucap Namira yang mencegah Nindi, yang akan bangun untuk membukakan pintu.
Nindi menanggapi ucapan mamanya, dengan cara menganggukkan kepala. Nindi pun segera duduk di tempat duduk Namira, saat Namira sudah pergi membuka pintu rumahnya. Nindi pun melanjutkan kembali ucapannya yang sempat terhenti, karena mendengar suara bel yang berbunyi.
"Arsen, Rara. Sekarangkan, kalian berdua sudah mengetahui semuanya. Bunda tahu, kalian berdua tidak menyukai Mawar dan mamanya. Tapi bagaimanapun, mamanya Mawar itu sudah menjadi istrinya Ayah. Dan itu berarti, Mawar itu sudah menjadi saudara kalian berdua."
"Kenapa sih Ayah harus menikah dengan mamanya Mawar? Aku kan tidak mau mempunyai saudara tiri seperti kak Mawar," tanya Rara sambil melipat tangannya di atas perutnya.
Nindi menghela nafas, sebelum menjawab pertanyaan Rara yang membuatnya bingung untuk menjawabnya.
"Entahlah, Bunda juga tidak tahu. Yang terpenting kalian berdua sudah mengetahui semuanya, Bunda hanya berharap. Jika keputusan Bunda tidak sesuai dengan keinginan kalian berdua. Jangan marah sama Bunda yah,"
"Memangnya apa keputusan Bunda?" tanya Rara lagi. Karena ia penasaran dengan keputusan bundanya.
"Apakah keputusan Bunda itu adalah ingin berpisah dengan Ayah?" Arsen pun ikut bertanya sambil menatap ke arah Nindi.
"Bunda belum bisa memastikannya, Nak. Tapi apapun keputusannya, kalian berdua akan tetap menjadi anak kesayangannya Bunda dan Ayah," jawab Nindi sambil tersenyum manis.
"Nindi ..."
Suara teriakan Namira, yang memanggil nama Nindi.
"Itu Nenek kenapa, Bun?" tanya Arsen yang kaget mendengar suara teriakan Namira neneknya.
"Bunda juga tidak tahu. Ayo kita pergi menghampiri Nenek," jawab Nindi yang mengajak kedua anaknya pergi menghampiri Namira, yang masih berada di depan pintu rumahnya.
"Iya Bun," balasnya.
Mereka semua pun segera pergi menghampiri Namira. Saat mereka sampai di depan pintu rumah. Nindi dan kedua anaknya melihat Namira yang berdiam diri di depan pintu, sambil memegang sebuah kertas.
"Mah, ada apa?" tanya Nindi yang ingin mengetahui, tentang suara teriakan Namira yang memanggil namanya.
__ADS_1
Namira tidak langsung menjawab pertanyaan Nindi, ia memilih segera menengok ke arah Nindi yang sedang berdiri di dekat kedua anaknya.
"Mama kenapa?" Nindi kembali bertanya sekali lagi. Karena ia melihat tangan mamanya, yang bergetar memegang kertas yang berada di tangannya.
Akan tetapi, Namira masih saja diam dan tidak menjawab pertanyaan Nindi yang terus bertanya kepadanya. Nindi yang penasaran, ia segera mendekati Namira.
"Itu surat apa, Mah?" tanya Nindi yang ingin mengetahui isi surat yang di pegang oleh Namira mamanya.
"Ka___kamu ba____baca saja," jawab Namira gugup sambil memberikan surat itu kepada Nindi.
Nindi yang penasaran, ia segera mengambil kertas yang di pegang oleh mamanya.
[Keluarga kalian akan hancur]
Nindi membaca isi tulisan itu di dalam hatinya, ia pun kaget melihat tulisan yang berada di kertas itu yang berlumuran darah. Dan itulah penyebab Namira kaget, saat ia membuka pintu rumahnya.
"Siapa yang mengirim surat ini, Mah?" tanya Nindi penasaran.
"Siapa yah? Yang mengirim surat ini ke rumah Mama?" batin Nindi yang bertanya-tanya pada dirinya sendiri, tentang penemuan surat di depan pintu rumah kedua orang tuanya.
"Emangnya isi suratnya apa sih Bun, Nek? Kok kelihatannya Bunda sama Nenek kaget seperti itu?" cerca Rara yang penasaran dengan isi suratnya.
"Coba sini suratnya, Bun. Aku juga mau lihat dan membacanya," pinta Arsen pada Nindi. Karena ia juga penasaran.
"Ini bukan surat apa-apa kok, Nak. Bagaimana kalau sekarang ini kita pergi ke rumah sakit, untuk menjenguk Ayah." Nindi mengalihkan pertanyaan kedua anaknya, yang ingin mengetahui isi surat tersebut.
"Ya sudah. Ayo Bun, kita cepat pergi ke rumah sakit. Aku sudah tidak sabar, ingin segera bertemu dengan Ayah." Arsen bersemangat sekali, mendengar ucapan Nindi yang mengajaknya pergi ke rumah sakit, sampai ia melupakan isi surat yang berada di tangan Nindi.
"Iya, Bun. Aku juga ingin segera menjenguk Ayah ke rumah sakit, dan berharap Ayah sudah mengingat kita semua," timpal Rara.
"Aamiin." Nindi dan Arsen serta Namira mengamini doa dari Rara, yang berharap Rendra cepat pulih dari ingatannya.
__ADS_1
"Aku juga sama, ingin Ayah cepat sembuh. Tapi ... aku berharapnya sih. Ayah ingat dengan kita saja, dengan Mawar dan mamanya tidak," ujar Arsen.
"Sayang, tidak boleh bilang seperti itu. Tadi kan Bunda sudah bilang, kalau mamanya Mawar itu sudah menjadi istrinya Ayah. Jadi Mawar itu saudara kalian berdua," sahut Nindi yang mengingatkan kedua anaknya, tentang status Mawar dan Marsya mamanya.
"Sudahlah, Nin. Tidak apa-apa, Mama mengerti dengan perasaan Arsen dan Rara, yang tidak mudah menerima kehadiran Mawar dan mamanya, yang terpenting sekarang ini. Rara dan Arsen sudah mengetahui semuanya," tutur Namira sambil mengusap punggung Nindi.
"Mama menyuruh kamu memberitahukan semuanya pada kedua anakmu. Soalnya, kemarin itu di rumah sakit. Merlin mengikuti kita pergi ke kamar rawat Rendra, dan ia berencana mau memberitahukan semuanya pada kedua anakmu. Lebih baik kedua anakmu mengetahui hal ini dari kamu, dari pada tahu dari orang lain," sambung Namira sambil berbisik di telinga Nindi. Karena ia tidak mau sampai terdengar oleh kedua cucunya, dan ia baru sempat memberitahukan tentang kejadian di rumah sakit pada Nindi.
"Jadi, waktu Mama tidak masuk ke dalam kamar rawat Mas Rendra. Mama pergi bersama Merlin?" lirih Nindi sambil menengok ke arah Namira mamanya.
Namira menanggapi ucapan Nindi, dengan cara mengagukkan kepalanya.
"Apa jangan-jangan! Yang mengirim surat ini adalah Merlin? Tapi ... Merlin tidak mungkin mengetahui rumah Mama, terus kira-kira siapa yang mengirim surat seperti ini?" batin Nindi yang bertanya-tanya tentang orang yang mengirim surat ke rumah mamanya.
"Bun, kapan kita pergi ke rumah sakitnya?" tanya Rara sambil menarik pakaian yang di kenakan Nindi. Karena Nindi masih berdiam diri di depan pintu rumah, tanpa mengajak kedua anaknya masuk ke dalam mobil. Untuk pergi ke rumah sakit.
"Kita pergi sekarang, Sayang. Kalian berdua masuk duluan ke mobil," jawab Nindi yang menyuruh kedua anaknya, untuk masuk ke dalam mobil duluan.
"Iya Bun," balasnya.
Rara dan Arsen pun segera masuk ke dalam mobil. Sedangkan Nindi mengambil handphonenya, untuk memfoto surat itu. Sebelum memberikan surat itu kepada Namira mamanya.
"Mah, aku dan anak-anak akan pergi ke rumah sakit dulu. Mama simpan surat ini, nanti Mama berikan kepada Papa. Saat Papa sudah pulang dari kantor," ucap Nindi sambil memberikan surat kepada Namira.
"Iya, Nin. Mama akan menyimpannya, dan akan memberitahukan semuanya sama Papa. Kamu dan anak-anak hati-hati di jalannya," sahutnya.
Nindi mengagukkan kepalanya, sebelum ia masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil, Nindi mengirimkan pesan pada Tomi. Untuk menyelidiki orang yang mengirim surat ke rumah kedua orang tuanya.
"Semoga saja, Tomi bisa menyelidiki orang yang mengirim surat ke rumah Mama dan Papa," batinnya penuh harap.
__ADS_1